
Bella masih berjalan dengan sedikit gemetar ketika mereka berdua menjauh dari pria yang katanya saudara Ferdi itu.
Tepat ketika mereka berdua merasa sudah jauh dari pria itu, ponsel Bella berbunyi. Bima menelepon Bella. Karena terlalu gemetaran mengeluarkan ponsel itu dari tas tangannya, Kiara membantu mengambilkan dan menjawab telepon Bima.
"Sudah aku angkat, kak. Ngomong aja." Kiara memberikan ponsel itu kepada Bella. Tapi Bella memberi isyarat dengan tangannya supaya Kiara saja yang berbicara. Bella masih gemetar hingga tidak bisa menemukan suaranya.
"Halo, Bima. Ini Kiara. Kak Bella sedang nggak bisa ngomong." Kiara pun menjawab panggilan Bima untuk Bella.
"Ada apa dengan Bella, Ra? Apa dia nangis lagi? Sedih lagi hingga nggak bisa ngomong sama aku?" Suara Bima di ujung telepon terdengar khawatir.
"Bukan, tapi kak Bella masih gemetaran karena trauma ketemu orang yang wajahnya persis dengan Ferdi."
"Apa maksud kamu, Ra?" sahut Bima.
Kiara pun menjelaskan kejadian barusan dengan detail.
"Tunggu di situ. Aku jemput kalian. Tolong temani Bella dulu ya Ra." Bima langsung menutup telepon tanpa mau mendengar persetujuan atau penolakan Kiara. Bima meluncur ke Mall dimana mereka berdua berada.
Kiara mengakhiri teleponnya dengan Bima dan kembali berusaha menenangkan Bella.
"Kak. Dia bukan Ferdi. Aku bisa yakin dengan melihat tatapannya. Aku sudah hidup seminggu bersama Ferdi. Aku yakin yang barusan memang bukan Ferdi. Kakak jangan takut lagi, ya." Bella digenggam tangannya oleh Kiara.
"Aku tidak takut kepada pria tadi Ra. Aku hanya.. hanya..." Masih dengan gemetaran, Bella mencoba bercerita tapi tetap saja tidak bisa menceritakan apa yang dia rasakan kepada Kiara.
"Oke, kak. Nggak usah cerita lagi ya. Kakak tenang dulu." Kiara kembali menenangkan Bella. Tampaknya Bella memiliki trauma yang cukup dalam. Lebih dalam dari pada yang Kiara rasakan. Paling tidak Kiara masih tau apa yang menjadi pemicu rasa tidak nyamannya. Kiara tau apa yang dia takutkan. Tapi kak Bella tampak lebih rapuh darinya. Ini kah wanita yang dulu tega mengambil tunangannya dengan cara tak baik? Kemana Bella yang sanggup melakukan hal kejam tanpa berkedip itu?
Kiara memeluk Bella, tidak tega melihat betapa pucat nya wajah Bella karena ketakutan.
Ketika masih menunggu Bima datang menjemput Bella, Aldi melakukan panggilan Video kepada Kiara.
"Sayang. Dimana sekarang? Aku kebetulan lagi di luar." Aldi tidak sabar bertanya begitu melihat Kiara di layar ponsel nya.
"Aku di Mall yang sama dengan tempat kamu makan siang. Aku tadi liat kamu masuk ke salah satu restoran nya." Kiara dengan wajah tenang berusaha menyampaikan jawaban dari pertanyaan Bima dengan santai. Padahal di hatinya terasa geram mengingat Verlita yang bersamanya.
"Kamu di sebelah mana? Aku ke situ ya." Sahut Aldi.
__ADS_1
Kiara pun menyebutkan di lantai mana dia berada, juga posisi tepatnya saat ini yang mudah Aldi temukan.
Usai menutup teleponnya, Bima ternyata datang terlebih dahulu menjemput Bella.
"Bel, kamu sakit?" Bima tampak khawatir menatap wajah pucat Bella.
Bella yang dari tadi hanya diam pun langsung memeluk Bima dengan berurai air mata.
"Bel, kamu jangan membuat aku khawatir begini. Kenapa kamu begitu sedih seperti ini Bel. Tenanglah. Nggak akan ada yang berani jahat sama kamu lagi. Ada aku di sini."
Kiara mengamati dengan diam pembicaraan Bima dan Bella. Seperti yang Kiara duga, perasaannya kepada Bima memang sudah tidak bersisa. Sama sekali tidak ada rasa sakit di hatinya ketika melihat Bima begitu tampak perhatian kepada kakaknya. Cinta untuk Bima memang telah terkikis habis.
"Ra, apa Bella cerita sesuatu? Dia kenapa begitu sedih dan ketakutan seperti ini?" Bima yang menyadari tatapan Kiara pun berusaha mengetahui tentang apa pun yang terjadi selama Bima dalam perjalanan kemari.
"Kak Bella cuma sempat bilang bahwa dia jadi seperti ini bukan karena takut sama orang yang mirip Ferdi tadi. Hanya saja dia nggak sanggup cerita sama aku apa yang membuatnya seperti ini. Kak Bella memiliki trauma apa sih, Bim?"
"Trauma Bella?"
"Iya, aku rasa ketemu saudaranya Ferdi tadi memicu trauma terbesar kak Bella."
Kiara yakin Bima sudah tau jawabannya. Hanya saja Bima memilih diam tak bercerita. Kiara merasa harus menghormati kakaknya dan Bima jika memang tidak mau bercerita. Kiara sendiri tidak yakin mau menceritakan kepada siapapun mengenai traumanya dalam kejadian penculikan itu.
"Yasudah, kak Bella diajak pulang duluan saja. Barangkali suasana rumah bisa membuat kak Bella tenang. Yang dibutuhkan kak Bella sekarang ini kamu, Bim. Jaga dia, ya." Kiara ingin mengakhiri kediaman di antara mereka. Bella juga butuh suasana rileks dan istirahat.
🌸🌸🌸🌸
Tak berapa lama setelah Bella dan Bima pulang, Aldi akhirnya tiba. Kiara merasa waktu yang Aldi butuhkan untuk mencapai lokasinya lumayan lama. Hal ini membuat Kiara lumayan kesal lagi.
"Ra, kok sendirian. Mana Bella?" Sapaan Aldi membuat Kiara mengamati pria itu dengan lekat dari seluruh wajah hingga pakaian. Kiara mencari tanda-tanda jejak wanita lain dalam pakaian maupun wajahnya Aldi.
"Sudah balik sama Bima. Kamu sendiri sudah selse acara makan di restorannya?"
"Sudah. Kita pulang ya." Ajak Aldi. Perasaannya mengatakan ada yang aneh dengan Kiara. Tapi tidak tahu apa itu.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
"Bel, istirahatlah. Aku di samping kamu." Bima menidurkan Bella di ranjang mereka dan menyelimutinya. Bima lalu duduk di samping Bella yang berbaring.
"Iya." Hanya itu yang Bella ucapkan lalu berusaha memejamkan mata. Sebelumnya Bella telah minum obat yang diberikan Bima. Bella tidak tahu itu obat apa. Bella hanya menuruti apapun cara Bima merawatnya.
Meski kini Bella tidak ingin tidur, tapi berusaha memejamkan mata selama Bima di sampingnya bukanlah masalah. Tapi setelah lama memejamkan mata, Bella masih saja tak bisa tidur.
"Belum bisa tidur?" Tanya Bima.
"Belum bisa."
"Sudah nyaman dan rileks kan sekarang? Mau cerita sama aku?"
"Sudah."
"Aku akan nunggu kamu di sini hingga kamu siap cerita ada apa sebenarnya tadi, Bel?"
"Aku hanya..." Bella masih malu dan susah bercerita kepada Bima.
Bima melihat keengganan Bella untuk bercerita. Bima hanya bisa menenangkan Bella dengan memegang tangannya. Berharap Bella percaya kepadanya.
"Aku masih belum bisa menerima kehilangan anakku, Bim. Melihat pria tadi membuat aku kembali merasakan rasa perih dan sakit di malam itu." Setetes bulir air mata lolos dari mata kanan Bella. Sementara di mata kirinya air mata masih mengumpulkan diri hingga tak terbendung.
Bima seketika memeluk Bella. Bima ikut merasakan nyeri di dadanya. Semua ini karena dirinya, Bella seperti ini karena dirinya. Bima tak berdaya dan tak tahu harus bagaimana mengembalikan hidup dan kebahagiaan wanita yang ada di pelukannya ini. Luka Bella begitu dalam dan tak akan bisa sembuh. Belum ada satu pun opsi yang bisa Bima pikirkan.
🌸🌸🌸🌸
Kiara dan Aldi tiba di rumah mereka. Tapi sebelum Aldi mengurung diri di ruang kerja, Kiara bergerak cepat. Hubungannya dengan Aldi tidak bisa seperti ini terus. Ini salah. Mereka tidak seharusnya seperti ini. Ada sesuatu yang salah di antara Aldi dan dirinya. Meski Kiara tidak tahu dimana letak kesalahannya, tapi mereka perlu bicara. Malam ini Kiara harus memaksa Aldi membicarakan masalah di antara mereka.
Kelihatannya mereka berdua baik-baik saja dan ini hanya masalah sepele. Tapi melihat bagaimana Bima memperlakukan kakaknya dengan penuh kasih sayang, Kiara merindukan Aldi. Kiara merindukan Aldi yang menghilang dan mengurung diri di ruang kerja setiap malam.
"Al, kita perlu bicara." Ucap Kiara ketika mereka berdua hendak turun dari mobil.
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^
__ADS_1