Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Bima kembali Menyusun Rencana


__ADS_3

Bima sedang berada di luar kamar Bella. Setelah membuat Bella menitikkan air mata kali ini, Bima menjadi gamang dengan rencananya. Ada sedikit keraguan dalam hati Bima.


Bella sendiri ditinggal di kamarnya bersama dokter dan perawat. Kedua dokter dan perawat yang di ruangan Bella itu sempat menyaksikan kemarahan Bima terhadap Bella. Mereka ingin melarang Bima memarahi Bella yang baru sadar. Tapi keduanya tidak memiliki keberanian menyela Bima, apalagi menyela Bima yang sedang marah.


"Dok, apa benar saya hamil?" Bella masih saja susah mempercayai hasil pemeriksaan yang barusan dia baca.


"Benar, nona Bella. Sebaiknya nona menjaga kandungan dengan baik. Yang ada di kandungan nona adalah pewaris Atmaja. Nyonya Diandra Atmaja berpesan supaya kami menjaga nona dengan baik. Banyak urusan perusahaan yang membuat nyonya Diandra sulit meluangkan waktu mengunjungi nona Bella. Mohon nona Bella menjaga perasaannya agar tidak memperngaruhi kehamilan nona." Sang dokter bicara dengan perlahan.


Bella bisa memahami bahwa dokter ini adalah utusan mommy Diandra, mertuanya. Hubungannya dengan Diandra merenggang sejak menikah dengan Bima. Dulu sebelum menikah, Diandra begitu baik dan bersikap hangat kepadanya. Tapi semakin ke sini, Diandra semakin menjaga jarak dengan dirinya. Rumah besar keluarga Atmaja semakin sepi. Bella sering merasa sendiri.


"Dok, bagaimana saya bisa berada di rumah sakit?" Bella tadi masih kesakitan di kamar seorang diri. Bella masih ingat betul akan hal itu.


"Tuan Bima yang membawa nona ketika dalam keadaan tidak sadarkan diri." Jawab sang dokter.


"Tuan Bima memarah-marahi kami ketika kami tidak berhasil membuat nona sadar. Tapi ketika membaca laporan medis yang ada di pangkuan nona, tuan Bima pergi begitu saja dengan amarahnya." Perawat yang berada di samping dokter itu menambahkan. Mimik wajahnya nampak ketakutan ketika menyebut Bima yang marah.


Bella menatap perawat itu dengan penuh pengertian, " Ya, Bima memang sangat menakutkan ketika marah. Saya saja juga selalu takut kletika menghadapi kemarahannya."


"Benar, nona. Pak Bima membuat saya sangat takut ketika beliau sedang marah tadi."


Bella hanya tersenyum menanggapi kalimat perawat yang tempak lebih tua dari dirinya itu.


'Tidak hanya aku yang takut dengan Bima yang marah. Tapi anehnya tadi aku tidak merasa takut sama sekali ketika Bima membentakku. Apa karena aku tahu keberadaan kamu, nak' Bella mengelus perutnya sambil memikirkan hal ini.

__ADS_1


Sebelumnya Bella selalu merasa sendiri. Hanya Bima yang dia harapkan untuk mencintainya. Tapi kini ada seorang anak yang akan hadir di tengah-tengah Bima dan dirinya. Biarpun Bima masih belum berubah mencintainya, Bella akan bertahan dengan lebih baik karena anak ini. Bella akan hidup lebih baik dan demi anak ini. Bella harus lebih memperhatikan kesehatannya agar anaknya lahir dengan sehat nantinya.


🌸🌸🌸🌸


Di saat Bella mulai menyadari kenyataannya dan mulai merasa bahagia, Bima malah merasakan sebaliknya. Keberadaan anak di antara dirinya dan Bella membuat Bima bimbang dalam bersikap. Bima kini harus memperhitungkan perasaan Bella. Tidak bisa lagi mengabaikan Bella atau menyakiti perasaannya. Apa yang sudah dia rencanakan saat ini akan menyakiti Bella. Bisa saja Bima akan meninggalkan Bella dengan anaknya jika rencananya berhasil.


Ketika memikirkan permasalahan yang rumit begini, Bima tidak tahan untuk tidak merokok. Bima keluar dari area rumah sakit untuk merokok. Atap rumah sakit menjadi pilihan Bima untuk menyendiri dengan rokok di tangannya. Kepulan asap putih dari bibir Bima. Kecepatan bertambahnya asap yang membumbung tinggi dalam langit malam itu menunjukkan bagaimana pikirannya yang begitu cepat memikirkan banyak hal.


Rencana barunya akan mulai dieksekusi malam ini. Tapi kabar kehamilan Bella yang disembunyikan ini membuatnya ragu untuk melangkah.


Ketika memperhitungkan kelanjutan rencananya itu, ponsel di dalam sakunya bergetar. Asistennya menghubunginya.


"Ya, bagaimana." Jawab Bima begitu menerima telepon.


Bima diam sejenak. Dia ingin merubah beberapa rincian rencananya. Menemui orang itu tidak masuk dalam rencananya barunya.


"Tidak. Jangan sampai dia tahu bahwa aku lah yang menyelamatkannya. Kamu cukup membuat dia tahu bahwa Aldi akan pulang besok malam. Bisik kan kepadanya agar bergerak besok malam. Dia harus percaya bahwa waktu yang paling tepat untuk membalaskan dendamnya adalah besok malam." Bima memaparkan perintahnya.


Sang asisten yang berada di ujung telepon memahami apa yang diinginkan oleh sang bos. Awalnya sang asisten mengira Bima akan membatalkan rencana yang tidak masuk akal ini. Istri sang bos kabarnya sedang hamil. Pikiran baiknya tentu berharap si bos kembali ke jalan yang benar. Mau berubah karena akan ada anak di antara dia dan istrinya. Tapi ternyata rencana bos Bima yang sangat beresiko ini masih saja berlanjut.


Sang asisten hanya bisa menghela napas memikirkan rencana bodoh yang dibuat bosnya. Banyak yang akan dipertaruhkan jika sampai rencana ini bocor atau diketahui oleh orang lain. Dia sendiri bekerja dengan sangat hati-hati dan tidak melibatkan banyak orang. Dia menyewa orang luar yang terkenal paling profesional dalam mengerjakan hal beresiko tinggi begini.


"Baik, pak. Jika pak Bima sudah sangat yakin melanjutkan rencana ini, kami akan melanjutkan pergerakan rencananya. Saya akan mengabari bapak progresnya dalam satu jam. Estimasi yang diberikan oleh orang yang kita sewa adalah satu jam."

__ADS_1


"Ya, berikan akses uang dan apa pun yang dibutuhkan Ferdi untuk menjalankan rencana ini." Bima selama ini enggan menyebut nama itu.


Usai menyebut namanya, Bima merasakan keraguan lagi dalam hatinya. Tapi menghentikan semua ini sudah terlambat. Orang bayaran yang disewa untuk mengeluarkan Ferdi dari penjara telah memulai pekerjaan mereka. Bima sudah tidak mungkin membatalkan transaksi pembebasan pria itu.


🌸🌸🌸🌸


Agenda persidangan Ferdi dijadwalkan pada besok lusa. Aldi berencana menghadiri persidangan Ferdi keesokan harinya usai pulang dari berbulan madu. Aldi dan Kiara harus menghadiri sidang. Keduanya harus memberikan kesaksian mereka tentang kejahatan yang dilakukan Ferdi dan Adelia. Adelia masih dirawat di rumah sakit. Sehingga tidak memungkinkan menjadi saksi.


Adelia hanya menjadi saksi. Bukan tersangka seperti Ferdi, sebab Ferdi telah mengambil alih semua tuduhan untuk Adelia. Ferdi menjadi satu-satunya tersangka saat ini.


Tapi Ferdi berhasil melarikan diri malam ini. Padahal sidang akan digelar dalam dua hari ke depan.


Ferdi telah berada di sebuah rumah persembunyian yang telah diatur oleh sebuah kelompok yang menyelamatkannya dari penjara.


Ferdi tidak menyangka dia akan diselamatkan dari penjara. Dia sedang menatap bungkusan di tangannya. Orang yang mengeluarkannya dari penjara meninggalkan bungkusan paket yang saat ini ada di tangannya itu.


🌸🌸🌸🌸


Hai, readers


Kira-kira apa ya isi bungkusan di tangan Ferdi? Rencana Bima apaan ini kira-kira?


Like, Komen, Vote dan Gift-nya ya biar aku tambah semangat nulis...

__ADS_1


Big Love to You All.


__ADS_2