Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Staycation - Keluar!


__ADS_3

Aldi sama sekali tidak menduga Kiara akan menjadi sedih begini. Aldi juga terkejut dengan kemarahan Kiara kepadanya. Aldi berusaha berfokus kepada Kiara yang memasang wajah garangnya kepada dirinya tapi masih saja menangis. Air mata tak berhenti mengalir ke pipi Kiara yang semakin pucat. Kiara tampak telah menangis cukup lama. Hati Aldi begitu sakit seolah teriris-iris. Hal ini membuat Aldi tidak memperhatikan bahwa Kiara sedang menggenggam ponsel milik Aldi.


"Ra, aku kira kamu bakal masih akan tidur Sampek besok pagi. Jadi aku mandi dulu sebelum nemenin kamu tidur. Kamu habis mimpi buruk kah Ra?" Aldi begitu merasa hancur dan gagal karena lalai hingga membuat Kiara menangis seperti ini. Tapi Aldi berusaha tetap berkomunikasi dengan Kiara. Aldi harus tahu penyebab dari tangisan Kiara kali ini.


Kiara yang mendengar kalimat demi kalimat yang dari bibir Aldi tidak menghiraukan betapa lembut cara Aldi mengucapkannya. Kiara malah ingin berteriak dan memakai pria ini.


"Menjauh! Jangan dekati aku lagi. Siapa juga yang butuh kamu temani!" Kiara mengucapkan dengan suaranya yang masih saja serak. Tapi Kiara berusaha agar kalimatnya terdengar jelas.


Aldi pun diam untuk sejenak. Aldi memikirkan keinginan Kiara ini. Aldi bisa saja langsung menjauh. Tapi apakah meninggalkan Kiara dalam kondisi sedih begini bisa mengurangi kesedihannya? Ataukah malah membuat Kiara merasa tidak dipedulikan dan tidak diperhatikan?


Wanita terkadang menginginkan kekasihnya bersama dengannya, tapi yang terucap dari mulutnya malah kalimat pengusiran seperti yang dilakukan oleh Kiara saat ini.


*Oke, Ra. Aku akan biarkan kamu menenangkan diri di kamar seorang diri. Aku akan menjauh." Aldi mengucapkannya tapi malah berjalan perlahan mendekati Kiara. Akibatnya Kiara malah kembali meneriaki Aldi.


"Menjauh apanya! Kamu malah berjalan mendekat ke sini!" Kiara kini marah. Air mata yang tadinya terus saja mengalir malah berhenti karena kemarahan yang menciptakan rasa panas di dadanya.


"Iya. Aku butuh ambil jubah mandi yang ada di lemari baju di samping kamu, Ra. Aku bakal kedinginan kalo keluar dari kamar dengan mengenakan handuk sepinggang ini saja." Aldi menunduk ke arah handuk yang melilit ke bagian bawah tubuhnya.


Kiara mengikuti arah pandang Aldi dan baru menyadari bahwa Aldi sedang bertelanjang dada. Kiara berhenti menatap di bagian dada Aldi yang bidang. Tatapan Kiara juga menelusuri otot perut Aldi yang bergerak-gerak ketika berjalan mendekat ke arahnya. Tapi Kiara malah semakin sakit hati melihatnya.


...'Aku tahu kamu selama ini menghindari tidur bersama istrimu.'...

__ADS_1


Kiara teringat akan pesan menyakitkan yang dia baca. Debaran yang selama ini selalu ia rasakan setiap melihat tubuh Aldi pun tidak bisa lagi Kiara rasakan. Dia malah merasa sesak melihat itu semua.


"Menjauh dari ku Aldi!" Kiara berusaha sekuat tenaga berteriak. Dengan kondisi sesak begini, Kiara tak punya tenaga lagi untuk bicara. Tapi semakin Aldi mendekatinya dengan kondisi seperti ini membuat hatinya semakin nyeri.


Aldi terperanjat melihat Kiara yang tampak begitu tersiksa. Dengan seketika Aldi berbalik dan berjalan menjauh. Sebaiknya dia tidak mendekati Kiara dulu. Aldi pun melihat ke arah meja nakas dimana ponselnya dia tinggalkan tapi Aldi terdiam karena ponselnya tidak ada.


Aldi pun berbalik dan melihat Kiara menggenggam erat ponselnya. Buku-buku jari Kiara bahkan sudah memutih karena eratnya dia menggenggam ponselnya.


... 'Apa kelebihan istrimu yang hanya cantik itu dari pada aku yang bisa berkarir dan mendapatkan pria manapun yang aku inginkan. Tidak hanya pria lajang, bahkan yang beristri pun takluk kepadaku. Aku yakin kamu tadi terpesona kepadaku tapi menahannya di hadapan sekretaris mu.'...


Kiara menutup mata dan seolah mendengar Verlita memakinya.


... Kamu bahkan masih menyimpan fotoku di akun media sosial kamu. Fotoku dan puisimu untukku masih kamu abadikan dan kamu tunjukkan kepada dunia....


Kiara kembali menangis ketika matanya terpejam mengulang-ulang kalimat ini di benaknya.


Aldi yang masih menatap Kiara pun tetap di tempatnya dan tak bisa bergerak. Aldi yakin telah membuat kesalahan besar yang teramat menyakiti Kiara. Tapi apa?


Aldi melihat genggaman tangan Kiara ke ponsel milik Aldi. Kemudian Aldi melihat ke wajah Kiara yang masih saja menampakkan bulir air mata. Ada yang tidak benar dengan isi ponsel milik Aldi. Apa yang tidak benar?


Aldi ingat dengan kemarahannya sebelum mandi. Pesan dari Verlita. Aldi saja begitu marah membaca pesan Verlita. Jika Kiara membacanya, tentu hatinya akan hancur. 'Bodoh! bagaimana mungkin aku lupa menghapus pesan-pesan itu! Bodoh kamu Aldi!'

__ADS_1


Sambil memakai dirinya sendiri, Aldi pun berbalik ke kamar mandi dan memakai baju yang tadi dia kenakan sebelum mandi. Tapi hanya kemeja dan celananya saja. Jas kerjanya tidak dia kenakan.


"Ra, maafkan aku. Tolong jangan percaya apa yang ada dalam pesan di ponselku. Itu semua tidak benar, Kiara. Tolong berhentilah menangis."


Kiara yang tadinya masih memejamkan mata sambil menangis kini menatap Aldi. Ingin rasanya Kiara menanyakan banyak hal dan memaki pria di hadapannya. Tapi Kiara tidak memiliki tenaga untuk melakukannya.


Dengan tatapan amarahnya, Kiara hanya melempar ponsel Aldi yang semula ada di tangannya. Ponsel itu mendarat dengan baik di atas ranjang empuk hotel.


Kiara tidak mengatakan apapun tapi tidak menangis kembali. Kiara menatap ke arah Aldi dan juga ke arah ponselnya bergantian.


Aldi paham maksud Kiara. Aldi pun memungut ponselnya. Begitu kunci layar ponselnya terbuka, pesan Verlita terbaru dan terlama pun tampak. Aldi membaca setiap pesan dari bawah ke atas kemudian dari atas ke bawah. Aldi pun kembali tersulut amarah. Kali ini amarahnya lebih besar Dari sebelumnya. Tapi Aldi menatap Kiara yang masih memperhatikan ekspresi Aldi.


"Kiara. Sayang. Kamu nggak akan percaya begitu saja isi pesan ini, kan. Tolong dengarkan penjelasan aku dulu, Kiara." Aldi mencoba mendekat tapi ekspresi wajah Kiara begitu cepat.


"Keluar." Nada bicara Kiara kali ini begitu dingin.


"Oke. Aku akan keluar. Tapi kamu harus janji untuk nggak nangis lagi."


Kiara hanya diam menatap Aldi.


"Aku keluar ambil steak yang kamu sukai ya. Aku akan panasi buat kita makan malam. Atau aku pesankan menu makan malam di hotel ya Ra. Kamu makan dulu ya. Kamu juga butuh tenaga untuk memarahi aku. Aku janji akan bersedia kamu marahi, kamu bentak atau pun kamu pukul. Tapi makan dulu ya sayang. Isi dulu tenaga kamu buat melampiaskan kemarahan kamu sama aku." Aldi langsung buru-buru keluar sebelum mendengar penolakan Kiara.

__ADS_1


Aldi menggenggam ponselnya dengan erat. Kemarahan kembali menguasai hatinya. 'VERLITA!'


__ADS_2