
Daniel mengamati Fahad dari waktu ke waktu. Daniel harus melaporkan kepada Aldi jika Fahad sudah tidak lagi sibuk menelepon orang seperti sebelumnya. Hasilnya, ternyata Fahad sudah berhenti berbicara dengan orang lain via telepon sejak kedatangan resepsionis yang membawakan makanan yang dipesan untuk nyonya Bos. fahad tampak menatap ke arah lift dari waktu ke waktu. Maka dari itu, Daniel mengirimkan laporannya kepada Aldi untuk mengkonfirmasi pertemuan Fahad dengan bos Aldi.
Usai mendapat konfirmasi dari Aldi, Daniel pun mendekati Fahad untuk memberitahu bahwa penantiannya untuk bertemu pak Bos telah usai.
"Permisi, pak Fahad. Mari silahkan ikut saya ke ruang Presdir. Pak Aldi sudah bisa bertemu dengan bapak." Dengan kesopanan yang wajar, Daniel menyampaikan berita ini. Tapi anehnya Daniel malah melihat wajah Fahad yang tampak terkejut. Daniel mengharapkan wajah senang klien bosnya ini. Tapi ini di luar harapan Daniel.
Daniel terus terbebani dengan kejanggalan yang dia rasakan barusan. Sambil berjalan kenruang Presdir diikuti oleh Fahad, Daniel terus saja memikirkannya. Fahad telah menanti lama di sini dan meninggalkan berbagai urusan kantornya. Dia sampai harus berkoordinasi dengan beberapa orang via telepon. Dia pasti punya tujuan penting di atas pekerjaannya. Tapi ketika penantiannya bertemu bos Aldi usai, tidak ada suka cita maupun ekspresi senang karena penantiannya telah usai.
Daniel dan Fahad pun disambut oleh Aldi yang duduk tenang di kursi Presdir dengan tangan terlipat di atas meja. Ketika Fahad mendekat, Aldi berdiri lalu mengulurkan tangan kepada Fahad. Profesionalisme Aldi tanpa cela. Tidak ada ekspresi apapun yang tampak selain ketenangan di wajahnya. a
Keduanya saling sapa dan bertukar senyuman beserta kalimat basa-basi singkat. Tidak tampak sedikit pun jika salah satunya telah lelah menunggu lama, maupun salah satu lainnya yang menampakkan kelelahan bekerja cepat dengan ditemani komputer super cepatnya.
"Saya sungguh memohon maaf telah mengganggu kesibukan pak Aldi." Kalimat Fahad ini membuatkan pikiran Daniel.
"Tidak sama sekali pak Fahad. Justru saya yang merasa sungkan sudah membuat klien penting BLue Corp membuang waktu berharganya untuk menunggu saya."
"Itu bukan sebuah kesalahan. Saya lah yang memang sudah salah. Saya telah lalai dengan datang terburu-buru tanpa membuat janji temu terlebih dahulu."
"Itu sama sekalia tidak masalah. Klien penting seperti pak Fahad bebas bertemu saya kapan saja. Hanya saja tadi memang saya tidak bisa menghentikan pekerjaan saya. Semoga pak Fahad sudi untuk memahami. Pimpinan perusahaan besar seperti bapak pasti akan memahami kesibukan pemilik perusahaan seperti kita berdua."
Daniel muak mendengar ungkapan maaf yang terus saja dilemparkan di antara kedua bos ini. Tapi dia harus bisa menahan diri dan memperhatikan dengan cermat isi pembicaraan sang bos.
"Tentu. Saya juga memahami kesibukan pak Aldi. Karena itulah saya bersedia menunggu pak Aldi hingga usai mengerjakan apapun yang menjadi kesibukan."
"Terima kasih atas pengertian pak Fahad." Sebuah senyum yang tampak tidak tulus di mata Daniel maupun Fahad terbingkai di wajah Aldi.
"Baiklah, mari kita langsung ke topik yang menjadi tujuan pak Fahad kemari. Saya yakin ini adalah sebuah alasan penting yang tidak bisa ditunda hingga pak Fahad bersedia menunggu lama." Aldi tampaknya sudah ingin mengakhiri lempar-lemparan maaf dan terimakasih di antara mereka.
__ADS_1
Fahad sendiri tiba-tiba berubah tegang. Daniel bisa merasakan tubuh Fahad yang tiba-tiba kaku. Ada apa ini? Daniel menjadi semakin penasaran.
"Pak Aldi, saya yakin bapak tidak asing dengan wajah saya." Fahad memasang wajah tegang.
"Tentu, saya mengenal seseorang dengan wajah yang sama persis dengan bapak." Aldi menjawab dengan tenang. Sorot mata Aldi masih saja menatap tajam ke arah Fahad.
"Orang yang memiliki wajah yang sama dengan saya itu adalah saudara kembar saya." Fahad mengamati reaksi Aldi yang masihs aja datar.
"Saya kembali ke Indonesia demi dia, tapi sayangnya dia menghilang. Menurut informasi yang saya kumpulkan, pak Aldi kemungkinan besar megetahui keberadaan saudara kembar saya."
"Saya memang tahu. Tapi untuk saat ini saya tidak bisa memberitahu pak Fahad."
Fahad terdiam menahan amarahnya. Dia tidak menyangka Aldi akan mengakui dengan mudah begini. Tapi tidak menyangka keterus-terangan Aldi untuk menolak keinginannya.
"Kalau begitu apa saya bisa tahu alasan dari penolakan ini?" Fahad masih berusaha mendapatkan informasi sebanyak mungkin yang mau Aldi ceritakan.
"Saya masih tidak memahami maksud dan alasan pak Aldi."
"Saya akan mengembalikan saudara pak Fahad setelah beberapa waktu. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Saya masih ada perlu dengan dia. Ada hal yang perlu dia pertanggungjawabkan atas tindakannya kepada keluarga saya."
"Apa kesalahan saudara saya?" sahut Fahad.
"Tentu saja tidak sedikit kesalahannya. Dia telah melakukan penculikan terhadap istri saya dua kali. Dia juga telah menyekap istri saya dan membuat psikologis maupun fisiknya terluka dalam penyekapannya. Dia juga telah melukai beberapa orang lain. Dan itu semua dia lakukan hanya demi cintanya kepada seorang wanita yang umurnya jauh di atasnya." Aldi kini mulai meninggikan suaranya. Tatapan Aldi terhadap Fahad semakin dingin.
"Setelah urusan saya dengan saudara anda selesai, saya akan menyerahkannya kepada Anda. Tapi tidak untuk sekarang." Tambah Aldi.
Fahad terdiam menatap Aldi. Sepertinya Fahad tidak bisa mengubah keputusan Aldi. Fahad hanya bisa memegang perkataan Aldi bahwa Ferdi akan Aldi serahkan kepadanya.
__ADS_1
"Baiklah pak Aldi, apa boleh saya tahu kira-kira berapa lama lagi pak Aldi baru akan mau melepaskan saudara saya?"
"Satu bulan." Jawab Aldi singkat.
Fahad diam memikirkan keputusan Aldi ini. Fahad mempertimbangkan untuk menawar keputusannya atau tidak. Tapi melihat betapa dingin sikap Aldi, maka Fahad memutuskan untuk tidak membantah.
"Bailah, pak Aldi. Satu bulan lagi saya tunggu kembalinya saudara saya ke sisi saya. Saya yakin pak Aldi tidak akan menyakitinya setelah tahu bahwa saya menunggu saudara saya."
"Saya tidak akan menambah penyiksaannya." sahut Aldi.
"Terima kasih untuk tidak menyiksanya lagi. Lalu bagaimana dengan kerjasama kita? Apa hubungan bisnis kita masih akan tetap pak Aldi lanjutkan?"
"Jika pak Fahad tidak masalah dengan hubungan kerjasama ini, tentu saja saya akan tetap melanjutkan hubungan kerjasama kita. Tapi saya punya syarat mutlak yang tidak bisa pak Fahad bantah."
"Silahkan diungkapkan, pak Aldi." sahut Fahad.
"Jangan muncul lagi di hadapan istri saya maupun asisten pribadi saya. Keduanya memiliki trauma dengan wajah anda."
Mendengar syarat Aldi ini, baik Daniel maupun Fahad yang ada di ruangan itu tercengang. Keduanya paham jika Aldi melarang Fahad bertemu Kiara, istrinya. Tapi barusan Aldi melarang Fahad muncul di hadapan asisten pribadinya juga.
"Baik. Saya akan segera meninggalkan kantor ini agar tidak sampai bertemu dengan nyonya Aldi." Fahad hanya bisa menuruti syarat ini. Aldi telah mengkonfirmasi keberadaan Ferdi di tangannya. Fahad tidak mungkin bisa melakukan hal yang macam-macam jika ingin menyelamatkan saudaranya.
"Anytarkan tamu kita hingga tiba di lobby, Daniel." Dengan perintah terakhir itu, Aldi beranjak dari kursinya menuju ruang isirahat dimana Kiara berada.
Usai mengantarkan Fahad hingga lobby, Daniel mendapatkan pesan dari Aldi yang berisi perintah pemecatan asisten yang membantu Fahad. Daniel hanya bisa menghela nafas berat membaca pesan itu sebelum menjalankan perintahnya.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
_Dinda^^