Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Verlita yang Berpengalaman


__ADS_3

Verlita dan Aldi kini sudah berada di ruang istirahat Bima yang berada di dalam ruang kantor Bima.


Ruang istirahat Bima dilengkapi dengan ranjang dan kamar mandi. Persis seperti kamar di hotel Marriott yang biasanya disewa para tamu dengan harga mahal. Hanya ukuran kamarnya saja yang tidak seluas suite room hotel ini.


Bima sendiri jarang memanfaatkan kamar ini untuk beristirahat. Bima bukan tipe bos besar yang suka memanfaatkan waktu istirahat siangnya untuk sekedar tidur siang.


Verlita sudah dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk pendek yang dililitkan ke dadanya.


Bima menelan air liurnya melihat tampilan Verlita yang seperti ini. Kulitnya halus dan tampak berkilau.


Bima masih belum meninggalkan kamar istirahat dimana Aldi dan Verlita kini berada. Sebab Bima memiliki tugas mendokumentasikan Aldi dengan Verlita.


"Lebih baik kamu hapus air liur kamu ketika melihat tubuhku," Perintah Verlita seolah tidak senang. Padahal dalam hati Verlita sangat senang melihat Bima terpukau melihat dirinya dalam tampilan seperti ini.


"Maaf. Kamu memiliki tubuh yang terlalu menggoda, Verli" panggilan Verli terdengar bagus di telinga Bima.


"Aku tidak mau jadi selingkuhan kamu."


"Kamu sudah berhenti jadi teman tidur para bos berperut buncit itu?" Penolakan Verlita sejak awal ini melukai ego Bima. Membuat Bima semakin ingin menaklukkan wanita ini.


"Kamu." Verlita berpura-pura terkejut dan kehabisan kata-kata. "Kamu menyelidiki aku sampai mana?"


"Tidak banyak. Hanya beberapa poin pentingnya saja,"


"Aku bisa kasih kamu apa yang kamu dapatkan dari mereka kalau kamu melayani aku,"


"Pak Bima, bukankah kita di sini supaya bapak bisa mendapatkan kembali Kiara? Kok bapak ingin menggaet saya!" Verlita penasaran dengan karakter pewaris Atmaja Grup ini.


Bima terdiam dan berpikir. Berusaha menekan gejolak hatinya untuk menarik handuk Verlita hingga menunjukkan tubuh polosnya.


Bima menggelengkan kepalanya dan mengenyahkan bayangan Verlita. Bima berusaha mengingat senyum manis Kiara yang menenangkan. Ya, Bima harus fokus mendapatkan Kiara kembali.


"Ayo, Verlita. lakukan apa yang sudah kamu rencanakan. Jika hasilnya enggak bagus, kamu harus tidur dengan Aldi dan aku yang memvideokan!" Bima sedikit menunjukkan sikap mengancam


"Okey, watch me!" Verlita melenggang ke ranjang dimana Aldi sedang tidur dengan tenang.


"Fokuskan kamera kamu ke adegan yang aku buat. Jangan sampai hasil fotonya kurang fokus menangkap wajah kami berdua" Tambah Kiara.


Verlita berada di sisi Aldi yang terlelap. Membuka kancing baju Aldi satu per satu dalam kondisi dirinya hanya mengenakan handuk. Jas Aldi dibiarkan terjatuh di atas ranjang bagian kaki mereka.


Bima memfokuskan kamera menangkap adegan Verlita membuka kancing baju dari belakang Verlita. Tampak bentuk tubuh Verlita dari belakang yang sangat menggoda. Wajah Aldi dan Verlita tak terlihat. Tapi tangan Verlita yang membuka kancing baju Aldi sangat jelas.

__ADS_1


Setelah Aldi telanjang dada. Adegan berikutnya berlanjut. Tangan Verlita berada di dada Aldi. Sementara keduanya menautkan bibir mereka sambil memejamkan mata. Seolah sedang melakukan ciuman yang panas. Dalam foto kedua ini wajah Aldi dan Verlita tampak jelas sedang memejamkan mata.


Tinggal satu foto pamungkas.


Verlita dalam posisi tidur. Handuk yang melilit tubuhnya telah diturunkan sepinggang. Bima sedikit tidak bisa fokus menyaksikannya.


"Fokus, Bima. Ini demi adegan terakhir. Ayo bantu aku memosisikan Aldi!" Perintah Verlita.


"Maaf, Verli. Ukuran kamu memang di atas rata-rata dengan bentuk yang menggoda. Membuatku paham kenapa para bos itu mau memakai kamu berulang kali."


Kalimat Bima terdengar menghina bagi Verlita. Tapi sebenarnya Bima ingin memuji kualitas tubuh Verlita.


"Kamu masih mau melanjutkan ini apa cukup dengan dua adegan tadi?" Verlita berusaha menahan emosi.


"Oke, Verli. Aku akan melakukannya"


Bima mengangkat Aldi yang masih terlentang di atas ranjang dalam posisi tak sadarkan diri. Aldi mengenakan kalung dengan liontin bulat yang tak pernah Verlita lihat sebelumnya ketika mereka masih bersama.


Melihat liontin itu, Verlita merasa kalung itu ada hubungannya dengan Kiara. Jika dugaannya benar bahwa Kiara yang memberikan liontin ini, maka liontin ini dapat berguna dalam adegan ini.


Menonjolkan liontin itu dalam foto adegan berikutnya akan membuat Kiara langsung hancur melihatnya.


"Hati-hati, Pak Bima. Jangan sampai dia bangun" Bima sedang membuat Aldi terduduk.


Kedua tangan Aldi dalam posisi menyentuh dada Verli. Kepala Aldi tertunduk sambil terpejam seolah sedang menikmati apa yang dia jalani.


Sementara bagian bawah Aldi yang masih memakai celana ditutupi oleh selimut tebal yang juga membungkus bagian bawah Verlita. Tidak menampakkan hal terlarang yang mereka sedang lakukan.


Foto adegan ketiga pun diambil oleh Bima. Lebih dari satu foto berhasil Bima abadikan tanpa cela. Komposisi warna dalam fotonya tampak estetik.


Foto adegan ini ada yang Verlita berwajah senyum. Lalu juga ada foto dengan wajah Verlita seolah merintih dan menahan perih. Ada juga Verlita yang berwajah biasa tapi liontin di leher Aldi menjuntai ke depan menampakkan keberadaannya.


Sementara wajah Aldi dalam foto adegan terakhir hanya tertunduk dengan mata terpejam seolah sedang merasakan kenikmatan dari apa yang sedang dilakukan.


"Oke. Tiga adegan yang bagus. Kamu cocok jadi model majalah dewasa, Verli. Mau aku rekomendasikan ke majalah dewasa berskala internasional?"


Bima berniat mencairkan suasana dan memuji kehebatan Verlita. Namun Verlita lagi-lagi merasa sedang dihina.


"Hentikan omong kosong Anda, pak Bima. Bantu saya membenahi Aldi yang masih berantakan. Saya mau ganti baju."


Verlita turun dari ranjang dan hendak ke kamar mandi. Tapi tangannya ditarik oleh Bima.

__ADS_1


"Aku masih ingin mencicipi kamu, Verli. Kamu memiliki kualitas dan pengalaman menyenangkan kami para penyuka wanita cantik."


"Sadarlah, pak. Tujuan pak Bima adalah Kiara." Verlita hanya bergantung pada nama Kiara untuk menyadarkan Bima.


"Tenang saja. Aku tidak mengkhianati hatiku kepada Kiara. Aku hanya ingin melakukan apa yang Aldi lakukan barusan ke kamu. Seperti ini," Bima mendaratkan bibirnya ke bibir Verlita.


Bima juga meletakkan kedua tangannya  di tempat Aldi meletakkan tangannya dalam foto.                          Merasakannya dari balik handuk masih tidak menyenangkan. Bima memasukkan kedua tangannya ke dalam handuk dan meraih apa yang dia inginkan.


Dengan tetap mencium bibir Verlita, tangannya juga ikut bergerak. Verlita terbuai dan tergoda untuk sejenak. Sudah lama juga Verlita tidak melakukan ini.


"Kamu memang manis, Verli." Bima menjauhkan diri dari Verlita.


"Cepatlah ganti baju sebelum aku berubah pikiran!" Bima menahan diri dan berbalik dari Verlita yang berantakan.


Bima berjalan ke arah Aldi yang dari tadi tidur dalam posisi menyamping. Seolah sudah menyaksikan adegan yang Bima buat dengan Verlita barusan.


Bima memakaikan baju Aldi dengan cepat. Setelah itu memapah Aldi kembali ke sofa kantornya dimana keduanya berbincang tadinya.


Sementara menanti Aldi terbangun, Bima sudah menyimpan dengan baik foto-foto adegan Aldi dengan Verlita. Siap dikirimkan kepada Kiara.


Dalam 1 jam berikutnya Aldi sadar.


"Apa aku tertidur?" Tanya Aldi ketika menatap Bima begitu membuka mata.


"Kamu tidur ketika mendengar aku berbicara. Sepertinya yang ku sampaikan terlalu membosankan."


"Oh, ya. Kalau begitu sebaiknya aku permisi."


"Baiklah pak Aldi. Semoga kerja sama kita akan tetap lancar." Bima mengulurkan tangan.


Dengan enggan, Aldi menjabat tangannya dan pergi.


"Bagaimana?" Aldi melakukan panggilan telepon begitu sudah di mobilnya.


"Sesuai dugaan kamu, Al. Bima melakukannya. Verlita yang membantunya." Suara Daniel berada di ujung telepon.


"Kirimkan detail penyadapannya ke Drive ku sekarang juga." Perintah Aldi.


"Tunggu, apa mereka sudah mengirimkannya ke Kiara?"


"Baru dikirimkan, pak."

__ADS_1


Aldi terdiam. Mengecek panggilan dari Kiara berkali-kali sejak siang tadi.


'Apa kamu bisa merasa akan terjadi sesuatu, Ra? Sejak tadi kamu sudah dapat firasat, kah?' Ucap Aldi dalam hati dengan tetap menatap nama Kiara di layar ponselnya.


__ADS_2