
Kiara dan Aldi sedang makan siang berdua di food court yang berada di lantai tujuh Mall. Kiara sukses mengajak Aldi pergi dari toko baju itu usai Aldi menghalangi jabat tangan perkenalan Kiara dengan Mike, teman Aldi.
Kiara menarik lengan Aldi keluar dari toko baju high end sebelumnya ketika tatapan tak bersahabat Aldi kepada Mike membuat Aldi lupa akan perdebatannya mengenai beli baju di toko itu. Aldi sendiri mau saja diajak keluar dari toko agar Kiara tidak usah berbasa-basi dengan Mike.
Aldi dan Kiara memesan chineese food dan makan dalam diam secara perlahan. Setelah makanan utama Kiara habis, Kiara lanjut memulai makan dessert manis yang dipesan dari outlet makanan di sekitar situ. Kini Kiara yang mulai kenyang dan juga senang dengan makanannya ingin memulai obrolan dengan Aldi. Kiara berencana membatalkan beli baju baru. Sebaiknya Kiara mengambil baju-baju lamanya yang ada di apartemen saja.
Belum juga sempat Kiara akan berbicara, Aldi sudah mendahuluinya. "Kita nggak usah ke toko baju lagi. Lanjut ke bagian bahan makanan dan perlengkapan rumah saja."
Betapa senang Kiara mendengar Aldi menginginkan hal yang sama. Kiara langsung menatap Aldi dengan senyum merekah di bibirnya. Hendak menyetujui rencana Aldi.
Tapi Aldi membuat Kiara tidak jadi membalas perkataannya, "Baju-baju kamu akan diantar langsung ke rumah seperti baju-baju saya biasanya. Saya sudah kasih ukuran kamu ke Mike."
Senyum Kiara membeku. Ingin rasanya mengomel kepada Aldi. Tapi Kiara hanya berkedip tiga kali dengan perlahan. Jelas Kiara shock. Di kedipan Kiara ketiga, Aldi memasang senyum menyeringai.
"Al, kok kamu jadi beli baju di sana. Kan terlalu mahal. Sayang banget uangnya kalo dipakai buat beli baju semahal itu. Mending uangnya kamu kasih ke aku buat beli yang lain aja." Kiara cemberut. Tapi Aldi berdecak senang. Aldi senang mendengar rayuan Kiara. Juga senang mendengar dipanggil "Al" untuk pertama kalinya. Seingat Aldi Kiara tidak pernah menyebut namanya dengan nada seperti barusan. Paling sering dipanggil 'kamu' oleh Kiara. Aldi hampir tidak ingat kapan Kiara pernah menyebut nama 'Aldi'.
"Nih" Aldi meletakkan kartu debit bank ke hadapan Kiara. "Ini uang yang aku kasih ke kamu buat beli yang lain."
Kiara yang hanya main-main dengan ucapannya tidak menyangka akan dianggap serius oleh Aldi. Tapi tentu saja Kiara tidak akan meloncat kegirangan dan lari memeluk Aldi karena senang. Kiara masih tidak terima Aldi membeli baju mahal di toko sebelumnya.
"Ini buat belanja keperluan rumah setelah ini kan?" Kiara berusaha memasang tampang polos.
"Boleh." Wajah Aldi nampak tenang sambil mulai memakan dessert bagiannya. Sama seperti Kiara yang juga masih makan dessert sambil tetap ngobrol.
"Gaji bulanan aku dari kantor otomatis masuk ke situ setiap bulan." Aldi menatap Kiara. Memperhatikan ekspresi wajah Kiara. "Kamu bebas menggunakannya untuk beli apapun."
"Emang gaji kamu berapa?" Kiara menyeletuk begitu saja. Tanpa ada rasa malu mempertanyakan gaji sang suami dengan terang terangan.
__ADS_1
Aldi merespon dengan menunjukkan kelima jari tangan kanannya.
Melihat itu, Kiara menebak dengan yakin, "Lima juta?"
Aldi seketika menggeleng. Membuat Kiara bingung.
"Lima belas?" Kiara merasa menebak dengan aneh. Dan tentu saja Aldi menggeleng kembali.
"Lima puluh juta" Ucapan Aldi sukses membuat Kiara tersedak. Kiara meminum segelas es teh miliknya.
Aldi juga ikut menyedot minuman dingin bersoda miliknya. Pura-pura tidak menyadari alasan Kiara tersedak.
"Kok gaji kamu lebih tinggi dari aku yang General Manager hotel Marriot?" Kiara tidak habis pikir.
"Kok tanya sama aku? Mana aku tahu kenapa gaji kamu nggak sebesar aku."
Memandang kartu debit yang masih berada di meja membuat Kiara ragu untuk mengambilnya. Meskipun ini termasuk nafkah dari seorang suami kepada istrinya, jumlahnya terlalu banyak untuk setiap bulan. Jika semua gaji diberikan kepada Kiara, Aldi tidak memegang uang sama sekali dong untuk keperluannya.
Aldi melihat arah pandangan Kiara ke kartu debit darinya. Terlihat Kiara juga sedang berpikir sambil memicingkan matanya ke arah kartu itu. Ingin rasanya Aldi tertawa membayangkan apa yang ada di otak kecil gadis mungil di hadapannya ini.
"Kok kartunya nggak kunjung diambil?" Aldi masih saja berbicara dengan nada dingin. Berusaha mengintimidasi Kiara agar mengambil kartu yang Aldi berikan.
"Gaji kamu masuk ke situ semua?" Kiara berusaha memastikan dugaannya.
"Iya. Kenapa memangnya?"
"Kamu kenapa baik banget ngasih semua gaji kamu ke istri kamu."
__ADS_1
"Nggak juga." Aldi menyedot minuman dingin bersoda di hadapannya lagi.
Kiara mengernyit. Menanti penjelasan Aldi.
"Itu semua hanya gaji bulanan. Jumlahnya tidak seberapa."
"Lima puluh juta satu bulan tidak seberapa bagi programmer!" Kiara menyahut dengan shock.
"Tentu saja. Setiap aku selesaikan proyek perusahaan, aku malah bisa dapat lebih dari itu. Bonus kegiatan aku kan lebih banyak." Aldi memandang Kiara dengan lekat. Memperhatikan setiap emosi dan keterkejutan Kiara. "Jadi aku tidak sebaik itu hingga mau memberikan semua uangku buat kamu."
"WS Tech sungguh perusahaan besar ya. Gaji pegawainya fantastis." Kiara tidak bisa berkomentar lebih banyak. Kiara masih tidak percaya dengan pernyataan Aldi mengenai gaji. Setau Kiara, Bella yang sama-sama bekerja di WS Tech juga tidak bergaji sebanyak itu. Bahkan dulu Bella terlihat berhemat dan masih kekurangan uang untuk kebutuhan sehari-harinya.
"Tidak semuanya lah bergaji besar. Jangan samakan programmer utama sekaligus ketua tim seperti aku dengan pegawai biasa lainnya." Kiara paham maksud pegawai lain yang Aldi maksud. Tidak menyebut nama Bella termasuk usaha Aldi menjaga perasaannya untuk tidak mengingat hal yang tidak menyenangkan.
"Ya... ya... Aku paham deh. Kalau begitu uang receh kamu ini aku terima. Aku akan menjaga harta dari suami aku ini. Aku juga akan menggunakannya untuk keperluan rumah tangga dengan sebaik mungkin. Tidak lupa nanti sepuluh persennya aku sumbangkan kepada yang membutuhkan ya. Bolehkan?"
"Terserah. Itu uang kamu. Kamu tinggal bilang saja kalau masih kurang. Nanti aku transfer lagi."
"Beneran? Kurang pun bakal ditambahin?" Kiara meledek.
"Mau dibuktikan sekarang?" Aldi tidak menerima tantangan.
"Jangan. Ini sudah lebih dari cukup. Aku kan cuma bercanda." Kiara menyimpan kartu itu ke dompetnya. Tapi Kiara terdiam, Kiara sepertinya belum diberi tahu nomor pin dari kartu ini.
"Nomor pinnya tanggal pernikahan kita." Aldi sengaja menunggu memberi tahu nomor pinnya begitu Kiara menerima kartunya.
Kiara terdiam kembali. Tanggal pernikahan mereka memang patut diabadikan. Perlu dikenang juga. Dengan begini, Kiara akan selalu ingat tanggal pernikahan mereka.
__ADS_1
Kiara kembali memandang Aldi yang sudah menghabiskan dessert miliknya. Pria tampan ini tidak hanya terlihat tampan hari ini. Tapi juga berlagak seperti orang kaya dengan gajinya yang besar dan suka barang-barang mahal. Dan yang lebih penting lagi, kenapa pria yang berstatus suaminya ini terlihat cerdas dan pintar sekali menanggapi ocehan Kiara?