
Ketika dia masuk ke ruang makan itu, saat aku menatapnya untuk pertama kali, wajahnya terlihat familier. Tetapi aku tidak ingat di mana pernah bertemu dengan wanita seperti dia. Aku sering menemani Dira menonton film asing, bisa jadi aku hanya teringat dengan pemeran film yang memiliki ciri fisik yang mirip seperti dia.
Hari ini dia berada di tempat ini dengan pria lain yang kelihatan jauh lebih tua darinya. Duduk begitu mesra, berjalan sambil berangkulan, lalu mengapa malah berakhir dengan bertengkar di tangga darurat? Yang paling aneh, mengapa dia menyakiti pria itu dan melarangnya untuk menyentuhnya? Mereka bertingkah layaknya sepasang kekasih di mal, tetapi orang asing di tangga itu.
Aku tahu bahwa rambut pirang dan mata biru itu adalah fisik aslinya. Lalu mengapa dia mengubah penampilannya saat bersama pria tadi? Bahkan cara bicara dan berjalannya pun berubah. Siapa sebenarnya perempuan itu?
Colin tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku, termasuk mengenai perempuan yang dia suka. Sampai kemarin yang dia bahas dan tanyakan adalah Dira, Dira, Dira. Jika dia pikir aku bisa ditipu dengan datang bersama gadis lain, memperkenalkan dia sebagai kekasihnya, maka dia bodoh. Aku tidak percaya dengan aktingnya itu.
Apalagi saat dia menjadi orang pertama yang lari untuk menolong adikku dan fotografer itu dari tiang besi yang jatuh ke arahnya. Aku sebagai kakaknya saja tidak memerhatikan adikku dan keadaan di sekitarnya setajam itu. Dia jelas-jelas mencintai Dira. Tetapi mengapa dia mengakhiri hubungan mereka dengan cara itu?
Kalau benar gadis bernama Mila itu adalah pacarnya, lalu mengapa dia bersama pria lain di tempat ini? Apa Colin tahu mengenai hal ini? Jangan-jangan dia memakai rambut palsu dan lensa kontak agar Colin tidak tahu dia selingkuh. Tetapi yang paling mencurigakan, dia bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Dia tidak seperti gadis Amerika asli.
“... di, Hadi, apa kamu mendengarkan aku?” Aku merasakan seseorang menyentuh tanganku. Aku mengangkat kepalaku dan bertemu pandang dengan Mama. “Kamu sedang memikirkan apa? Dari tadi kamu tidak mendengar pertanyaan nenekmu.”
“Oh. Maafkan aku.” Aku tersenyum, lalu menoleh ke arah ibu kandung Papa. “Iya, Nek?”
“Apa kamu sudah punya pacar?” tanya Nenek Naava. Mama dan Dira tertawa kecil. “Aku lihat kamu hanya sibuk belajar dan mengekori papamu di kantornya. Kalau kamu pergi bersama teman-teman, yang kamu bawa selalu Colin. Sesekali bawalah teman perempuanmu.”
“Mengapa kamu tidak bawa seorang dari teman kampusmu pada ulang tahun Dira minggu depan? Mamamu saja sudah berpacaran sejak SMU. Dan dia menikah muda dengan papamu. Lihat mereka sekarang, hidup bahagia walaupun masih sering bertengkar.” Nenek Anya mengedipkan matanya ke arah Nenek Naava.
“Mama!” protes Mama dengan wajah memerah.
“Nek, aku baru saja berusia dua puluh satu tahun. Masa depanku masih panjang. Setelah lulus kuliah, aku akan bekerja sambil menunggu lowongan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Aku mau mempersiapkan diri menjadi orang yang pantas untuk menggantikan Papa. Begitu aku menjadi orang penting, para wanita akan mengantri untuk menjadi istriku,” kataku dengan santai.
“Itu sangat benar.” Mama tersenyum manis. “Tetapi kamu lupa satu hal. Para wanita itu hanya mengincar uang dan kenyamanan hidup, bukan mencintai kamu.”
“Aku akan menyerahkan urusan itu kepada Mama dan kedua nenekku yang luar biasa. Kalian bisa membantu aku menyeleksi gadis mana yang tulus dan yang mana mata duitan.” Mereka tertawa kecil mendengar kalimatku itu. “Lagi pula ada Dira yang akan menikah dengan Colin tahun depan. Mama dan Nenek tidak perlu khawatirkan aku.”
“Dira sudah cerita bahwa tidak akan ada pernikahan pada tahun depan. Kami anggap ini sebagai cara Tuhan untuk memberi tahu bahwa kamu yang seharusnya menikah lebih dahulu. Bukan adikmu. Apalagi kamu berniat lulus pada akhir tahun ini. Maka kamu masih punya banyak waktu untuk bergaul dan mencari pasangan yang tepat.” Nenek Naava menatapku penuh harap.
“Aku baru tahu Dira dan Colin sepakat untuk tidak menikah,” kataku berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan. Dira melotot kepadaku yang hanya aku abaikan. “Mereka hanya bertengkar seperti layaknya pasangan lain. Sebentar lagi juga mereka baikan lagi.”
__ADS_1
“Kalau benar begitu, maka kita bisa mengadakan dua pernikahan sekaligus!” sorak Nenek Anya.
“Iya! Itu ide yang bagus. Oh, aku sudah tidak sabar ingin sibuk lagi mempersiapkan pakaian, memilih tempat, dekorasi, menu makanan … kita akan menikmati semua proses itu. Iya, ‘kan, Anya?” timpal Nenek Naava dengan wajah berseri-seri.
Dira menatapku penuh protes, lalu mendesah pelan. Bukan salahku mereka membahas tentang pernikahan. Ini adalah kesalahannya yang menyinggung tentang dia tidak jadi menikah dengan Colin pada tahun depan. Mereka pasti membicarakan itu saat memilih pakaian.
“Mengapa Nenek mendadak mendesak aku untuk menikah? Biasanya kalian membebaskan aku juga adik-adik untuk melakukan apa yang kami mau.” Aku menyesap kopiku.
“Tentu saja karena kami ingin menimang cicit,” ucap Nenek Anya dan Naava serentak. Aku tersedak kopi hangat hingga terbatuk-batuk.
Papa memeluk Mama dan menciumnya dengan mesra saat kami tiba di rumah. Nenek mulai berebut bercerita apa saja yang mereka lakukan saat berbelanja kepada kedua kakekku. Pak Liando dan Sakti membantu membawa semua kantong dan tas belanjaan ke dalam rumah. Aku meminta mereka untuk meletakkan semuanya di kamar Dira.
Kami duduk bersama di ruang keluarga. Aku hanya mendengarkan ketika mereka mendiskusikan persiapan acara ulang tahun Dira. Hal yang biasa kami lakukan setiap kali merayakan ulang tahun salah satu dari cucu kedua kakek dan nenekku.
Pada ulang tahunku bulan lalu, aku meminta acara yang sederhana yang dihadiri oleh keluarga kami. Tentu saja acaranya tidak sesimpel yang aku harapkan. Om Zach, ketiga sahabat baik Mama, Colin dan keluarga mereka juga datang untuk makan malam bersama. Ada dua puluh orang lebih yang merayakan ulang tahunku bersamaku. Jumlah yang sama juga akan hadir pada ulang tahun Dira, mungkin lebih karena dia pasti akan mengundang sahabat baik dan asistennya yang ceroboh itu.
Setelah mengantar kedua adikku ke sekolah mereka, aku menuju kampus. Sejak semalam pikiranku tidak bisa jauh dari gadis bernama Mila itu. Dia menolak untuk menjawab pertanyaanku mengenai siapa dirinya yang sebenarnya. Aku tidak bisa mencegah dia pergi karena aku tidak mau orang-orang salah paham dan mengira aku berniat menyakiti dia.
Sebagai anak pertama, aku sadar bahwa aku harus menyiapkan diri untuk menggantikan Papa kelak. Papa memang tidak pernah mengatakan apa pun yang ada hubungannya dengan perusahaan. Dia memberi aku kebebasan untuk menentukan jalan hidupku sendiri. Tetapi aku sudah lama memilih. Aku ingin menjadi pengusaha hebat seperti Papa.
Meskipun aku hanya belajar di kampus dan belajar juga dari Papa di kantornya, Nenek tidak perlu khawatir mengenai calon istriku. Ada banyak mahasiswa di kampus yang tertarik kepadaku. Aku tahu beberapa dari mereka hanya tertarik dengan latar belakangku, tetapi ada juga yang tulus menyukai aku apa adanya. Aku bisa memilih mana yang aku suka.
“Selamat pagi, Hadi. Tidak biasanya kamu sendirian. Di mana Colin?” tanya Valeria, salah satu teman satu angkatan yang tidak mengerti kata tidak. Dia meletakkan tasnya dan duduk di kursi kosong di sampingku. Ada banyak teman-teman sekelas kami, tetapi dia menyebut aku sedang sendirian.
“Hei, apa kamu tidak mendengarkan aku?” Dia menepuk bahuku.
“Aku bukan pengasuh Cole. Bagaimana aku tahu dia ada di mana?” jawabku acuh tak acuh. Hal yang aku benci menjadi anak orang kaya adalah perempuan tidak menyerah untuk mendekati aku walau aku sudah menunjukkan sikap tidak tertarik.
“Aku bertanya karena kalian dekat. Lagipula ini adalah mata kuliah yang dia sukai, tidak biasanya dia belum datang.” Dia mengeluarkan buku dan peralatan menulis dari tasnya. “Ah, itu dia! Colin!”
Colin mengerutkan keningnya melihat aku sebelum mengangguk ke arah Valeria. Dia duduk di kursi yang ada di belakangku. Tidak lama kemudian, ponselku bergetar. Aku menyentuh jendela pesan yang muncul di layar atas ponselku dan membaca pesan yang datang dari Colin.
__ADS_1
Ada apa dengan dia? Mengapa dia duduk di sampingmu dan mendadak ramah padaku?
Mana aku tahu. Aku memutar bola mataku saat mengirim pesan itu.
Aku akan pulang malam. Bertengkar dengan Dad. Temani aku? Dia bertengkar dengan Uncle Will? Ah, Lily pasti sudah mengadukan tentang Mila kepada orang tua mereka.
Ajak Mila saja. Aku akan ke kantor Papa sepulang kuliah.
Pengkhianat.
Kamu yang pengkhianat. Mila bukan pacarmu. Kamu bohong. Kamu adalah satu-satunya sahabat baikku, hanya itu alasan yang membuat aku tidak membunuh kamu saat ini.
“Hadi, aku tidak berbohong padamu,” kata Colin dengan suaranya kali ini, tidak lagi lewat pesan.
Aku tidak terpancing dan menjawab lewat pesan. Ini adalah masalah pribadi dan aku tidak mau ada yang mendengar. Kalau begitu, jelaskan kepadaku. Bagaimana gadis yang lahir dan besar di Amerika bisa berbahasa Indonesia dengan fasih?
*******
Sementara itu di sebuah sekolah~
“Di-dira, selamat pagi,” sapa seorang siswa dengan wajah memerah. Dira menghentikan langkahnya karena pemuda itu menghalangi jalannya.
“Selamat pagi,” balasnya sambil berpikir siapa nama pemuda itu dan dari kelas mana. Dia tahu bahwa laki-laki itu kelas tiga, tetapi dia bukan teman sekelasnya.
“I-ini untuk kamu.” Pemuda itu menyodorkan sebuah amplop ke arahnya. Mereka mulai menarik perhatian siswa lain yang melewati koridor itu.
“Terima kasih. Tetapi aku sudah punya pacar, semua orang tahu itu.” Dira bergeming, tidak berusaha untuk mengambil amplop tersebut.
“Katanya, kalian sudah putus dan kamu sedang sendiri. Jadi, aku harap kamu akan memberi aku kesempatan untuk menjadi pacarmu.” Pemuda itu kini menundukkan kepalanya dengan tangan masih mengulurkan amplop itu ke arah Dira.
“Siapa yang bilang begitu?” tanya Dira dengan tatapan tajam ke arah pemuda di depannya. Pemuda itu mengangkat kepalanya, menatapnya dengan bingung. “Siapa yang berani bilang bahwa aku sudah putus dari pacarku?”
__ADS_1