
Aku meringis kesakitan. “Sayang? Apa yang terjadi? Di mana yang sakit?” tanya Colin yang segera memeluk tubuhku dan membawa aku mendekati salah satu kursi.
“Lutut kamu sampai merah begini masa kamu tidak merasakan sakit dari tadi?” ucap Vikal khawatir. “Apakah kamu jatuh di panggung? Kamu memakai sepatu yang biasa, ‘kan? Apa karena lama tidak berjalan di catwalk, makanya kamu terpeleset?”
“Tidak.” Aku menggeleng pelan. Karena kulitku yang pucat, warna memar pada lututku terlihat jelas. Padahal sakitnya tidak separah kelihatannya.
“Jika dia terpeleset, maka dia akan jatuh terduduk dan menyakiti bokongnya. Bukan lututnya yang terantuk lantai.” Aku mengaduh kesakitan saat Colin menyentuh lututku. “Dira, apa tatapan mereka di dalam yang membuat kamu tidak konsentrasi?” Aku menggelengkan kepalaku.
“Permisi.” Seorang pria menginterupsi kami. Aku menoleh dan melihat laki-laki muda berpakaian putih membawa sebuah kotak P3K. “Apa kamu peserta yang tadi jatuh di panggung?”
“Iya,” jawabku pelan. Sepertinya dia petugas medis yang memang sengaja disiapkan oleh panitia andai ada peserta yang membutuhkan pertolongan medis.
“Baik.” Dia berlutut di depanku dan meletakkan kotak itu di sisinya. “Maaf, tolong, beri saya ruang.” Dia melihat ke arah Colin yang tidak mau bergerak dari tempatnya.
“Memangnya kamu mau melakukan apa sampai aku harus menjauh dari pacarku?” ucap Colin tidak suka. Aku mendesah pelan melihat dia cemburu pada waktu dan tempat yang tidak tepat.
“Saya hanya butuh ruang untuk bisa memeriksa keadaan lututnya dan memberi obat yang tepat,” kata pria itu dengan sabar. “Tetapi kalau Anda tidak mau, tidak apa-apa.”
Laki-laki itu memeriksa keadaan lututku, kemudian mencari sesuatu di dalam kotak obat. Setelah menemukan apa yang dia cari, dia membuka sebuah salep dan mengeluarkan sedikit ke jarinya. Sebelum dia mengoleskan salep itu ke lututku, Colin mencegahnya.
“Biar aku saja. Cukup oleskan ke lututnya yang memerah, ‘kan?” Colin mengambil salep itu dari tangan petugas medis tersebut.
“Iya.” Pria itu hanya tertawa. Aku tidak tahu harus meletakkan wajahku ke mana karena malu dengan sikap Colin. Sejak kapan dia punya sifat ini? Sebelumnya dia tidak pernah peduli dengan tingkah orang yang lain yang dekat dan akrab denganku.
“Maafkan sikap pacarku. Biasanya dia tidak begini,” ucapku kepada pria itu dengan segan.
Dia tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Aku juga kalau punya pacar secantik Anda tidak akan membiarkan laki-laki mana pun menyentuhnya.” Dia mengedipkan sebelah matanya kepadaku.
Mendengar itu, aku hanya tertawa seadanya. Yang benar saja. Itu gombalan terbaik yang bisa dia ucapkan? Apa dia pikir karena aku masih muda, maka aku akan tergoda dengan rangkaian kata-kata murahan begitu? Untung saja Colin bertindak lebih cepat. Kalau tidak, aku bisa muntah merasakan tangannya yang sedang mengoleskan salep di lututku.
Setelah pria itu pergi, Colin dan Vikal menarik kursi agar mereka bisa duduk di dekatku. “Tidak. Kita sebaiknya jangan bicara di sini,” kataku, mengerti ekspresi wajah mereka. Aku tidak mau peserta lain atau panitia mendengarkan apa yang akan aku sampaikan.
__ADS_1
“Lutut kamu sedang sakit. Kita tidak mungkin pindah ke tempat lain untuk bicara, Dira,” ucap Colin sambil melihat ke sekeliling kami.
Aku cemberut mendengarnya. “Kamu bisa bersikap romantis tadi, lalu sekarang kamu tidak tahu harus bagaimana melihat kekasihmu sedang terluka?”
Colin tertegun sejenak. Dia melihat ke sekeliling kami. “Kamu yakin mau melakukan itu di sini? Di depan banyak orang?”
“Ya, sudah, kalau kamu tidak mau.” Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku.
“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Vikal bingung. “Mau bicara saja mengapa harus ada acara merajuk begini? Ayo, Dira, cepat katakan. Apa yang terjadi di dalam tadi?”
Aku hanya diam seribu bahasa. Colin mengerang pelan. “Tolong, kamu bawakan tas ini,” katanya memberikan tasku kepada Vikal. “Ayo, cepat. Sebelum aku berubah pikiran.”
Aku segera melingkarkan tanganku di lehernya, lalu Colin mengangkat tubuhku. Vikal memutar bola matanya begitu mengerti apa yang kami ributkan. Colin membopong aku keluar dari hotel sampai kami kembali ke kedai kopi tadi. Aku tidak peduli dengan tatapan orang yang tertuju kepada kami. Apa yang salah dengan membopong pacar yang kakinya sakit ke sana kemari?
Vikal memesankan minuman dan makanan ringan untuk kami, ketika aku menceritakan apa yang aku alami selama berada di dalam. Mereka merasa kecewa, karena aku tidak menyempatkan diri untuk melihat apa yang terjadi sehingga aku terjatuh.
“Setiap peserta audisi masuk dan berjalan di panggung satu per satu. Tidak ada peserta yang saling bertemu agar tidak membingungkan juri saat memberi penilaian. Jadi, tidak mungkin mereka yang melakukannya. Lalu bagaimana bisa ada undangan atau panitia yang berusaha untuk menggugurkan kamu?” tanya Vikal pelan.
“Karena aku sudah bertanya dan tidak ada satu peserta pun yang jatuh selain kamu. Itu artinya yang terjadi padamu disengaja. Aku tidak bisa masuk ke dalam untuk bertanya langsung kepada panitia atau tamu undangan. Seandainya bisa, aku pasti tahu siapa pelakunya.” Vikal menggigit kukunya, kebiasaannya ketika merasa gugup.
“Mengapa kamu harus tahu siapa pelakunya? Panitia pasti akan mendiskualifikasi dia bila dia berbuat curang di depan banyak orang. Dengan sistem gugur, kita tidak akan tahu peserta mana yang tidak lulus dan mana yang didiskualifikasi,” kataku santai.
“Apa kamu lupa dengan papa kamu?” Wajah Vikal memucat. “Tidak akan ada model dan artis yang akan mau mempekerjakan aku kalau sampai papamu memecat aku. Memar pada lututmu itu tidak akan bisa kamu sembunyikan darinya, Dira.”
Oh. Tuhan. Vikal berkata benar. Ketakutan yang dia tunjukkan itu sangat wajar. Papa akan marah besar kalau sampai tahu aku mengalami hal buruk pada saat mengikuti audisi. Bukan hanya karier Vikal saja yang tamat. Karierku juga sedang berada di ujung tanduk.
Aku tidak bisa menyembunyikan memar pada lututku ketika aku tiba di rumah. Mama berteriak panik melihatnya. Padahal aku sudah berusaha secepat mungkin menuju kamar. Colin yang berdiri di sisiku membantu aku berjalan menuju ruang keluarga atas permintaan Mama.
Detik Mama mengetahui keadaan lututku, pada detik itu juga Papa akan mengetahuinya. Mama tidak pernah menunda untuk memberi tahu Papa mengenai hal buruk yang menimpa kami. Aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini dari Papa. Tetapi aku berharap bisa menunggu sampai besok agar lebih siap mendengar amarahnya.
Kakak dan Adi yang kemudian masuk ke ruang keluarga tersenyum penuh arti. Mereka berdua untuk apa masuk ke ruangan ini? Apa mau menonton hal yang akan segera terjadi? Menyebalkan sekali. Hanya merekalah saudara yang tega berbahagia di atas penderitaan saudaranya sendiri. Mereka pasti mendengar deru mobil Papa sehingga serentak datang ke sini.
__ADS_1
“Apa benar yang aku dengar?” kata Papa yang memasuki ruang keluarga dengan wajah merah. Dia melihat ke arah lututku, lalu melotot kepada Colin. “Inikah yang kamu sebut dengan akan menjaga putriku sekuat tenagamu? Apa itu? Bagaimana bisa putriku sampai terluka?”
“Pa, dengarkan penjelasanku. Jangan marah begitu,” ucapku pelan. “Colin tidak bersalah. Aku jatuh pada saat berjalan di panggung.”
“Lalu dia ada di mana? Mengapa dia tidak menjaga kamu?” tanya Papa masih berang.
“Tidak ada yang boleh berada di sekitar panggung, kecuali juri, panitia, dan undangan, Pa. Kalau semua keluarga peserta diizinkan masuk, maka juri akan terganggu dengan sorakan mereka pada peserta audisi tertentu,” kataku memberi penjelasan.
“Kamu tahu siapa yang melakukan ini?” tanya Papa tidak sabar. Dia mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Papa mengirim pesan kepada siapa? “Dira?”
“Ah, ti-tidak, Pa. Setelah jatuh, aku langsung berdiri dan lanjut berjalan ke belakang panggung. Aku tidak tahu apa atau siapa yang menyebabkan aku terjatuh,” jawabku dengan jujur.
Papa meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku sudah meminta Irwan untuk memeriksa apa ada foto, video atau rekaman CCTV yang bisa membantu kita untuk tahu siapa pelakunya. Mengapa orang-orang tidak bisa sehari saja tidak mengganggu kalian?”
“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, sayang. Setiap hari selalu saja ada orang yang berbuat jahat. Itu hal yang biasa. Mereka mengalami ini bukan karena mereka anak-anak kamu,” kata Mama menghibur Papa. “Kalian semua pasti sudah lapar, ayo, kita makan sekarang.”
“Untuk sementara, kamu tidak boleh keluar rumah,” ujar Papa kepadaku. “Andreas akan memeriksa lututmu dan kamu harus menuruti apa pun yang dia sarankan.”
“Sampai kapan aku tidak boleh keluar rumah, Pa?” tanyaku ingin tahu.
“Sampai lutu kamu pulih. Memangnya kamu mau jalan-jalan memamerkan memar itu ke semua orang?” Papa mengerutkan keningnya. “Aku juga perlu tahu siapa yang melakukan itu agar dia tidak bisa menyakiti kamu lagi.”
“Tetapi, Pa, aku akan mengikuti audisi lusa nanti,” kataku memberi tahu. Aku sudah lama cuti, masa aku harus mengorbankan semua rencanaku untuk kembali ke dunia modeling?
“Batalkan. Memangnya kamu bisa berjalan dengan normal di atas panggung dengan lutut begitu?” Papa melirik ke arah lututku. Aku membuka mulut ingin mengatakan sesuatu. “Kalau kamu masih membantah, aku akan memecat Vikal.”
“Papa! Itu tidak adil!” protesku keras.
“Apa begitu caramu bicara dengan papamu? Dengan menaikkan intonasi suaramu?” tanya Papa dengan nada tidak suka. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku. “Mengapa kamu malah menangis? Dira, cukup. Aku hanya memikirkan yang terbaik untukmu. Kamu tidak boleh keluar rumah sampai lututmu pulih.”
Namun aku tidak berhenti menangis. Papa akhirnya berhenti bicara. Dia mengerang pelan, lalu berpindah duduk di sisiku. Dia merangkul bahuku dan aku meletakkan kepalaku di dadanya. Apa yang tidak bisa aku dapatkan dari Papa, maka air mataku yang akan mendapatkannya. Kelemahan Papa yang tidak akan aku sia-siakan.
__ADS_1
Mama hanya menggeleng pelan sambil mengulum senyum, sedangkan Kak Hadi dan Adi serentak menyilangkan tangan di depan dada mereka sambil mendengus kesal. Aku menjulurkan lidahku ke arah saudaraku. Tontonan yang mereka harap-harapkan tidak terjadi.