Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 21 - Bukan Kecelakaan


__ADS_3

*Hadi*


Aku tahu bahwa aku bicara terlalu tajam, tetapi mata Dira perlu dibuka. Dia mudah sekali percaya pada orang lain dan memberikan rasa setia tanpa syarat kepada mereka. Bila kecelakaan yang dia alami hanya satu kali, aku tidak akan curiga. Tetapi sudah terjadi lebih dari lima kecelakaan dalam satu bulan terakhir yang semuanya mengarah padanya, bukan kru yang lain.


Siapa yang melakukan semua itu bukanlah pertanyaan utamanya. Mengapa dia melakukan ini? Apa untungnya mencelakai adikku? Apakah ini ada hubungannya dengan kontrak besar yang baru dia terima atau perusahaan Papa? Meskipun keadaan sedang damai, ada beberapa orang yang tidak suka dengan Papa dan kesuksesannya.


Tiba di rumah, kami saling bertukar pandang melihat barisan mobil yang memenuhi pekarangan depan. Untuk apa para sahabat orang tua kami berkumpul malam-malam begini? Aku membiarkan Pak Sakti mengambil alih mobil untuk dimasukkan ke garasi dan berjalan bersama Dira menuju rumah. Pak Abdi menyambut kami dan membenarkan dugaanku mengenai siapa yang bertamu.


Aku mengetuk, lalu membuka pintu ruang depan. Para orang dewasa yang ada di dalam hening sejenak dan mengarahkan pandangan mereka kepada kami. Dira masuk lebih dahulu, lalu aku sambil menutup pintunya kembali. Adi juga ada di antara mereka, duduk di samping Mama.


“Ada apa ini, Pa, Ma?” tanya Dira bingung. “Apakah telah terjadi sesuatu?”


Semua orang terlihat kecewa sekaligus tertekan untuk suatu alasan. Hal apa yang membuat Papa, Mama, juga semua sahabat mereka terlihat tidak bahagia? Hari sudah malam, apa yang membuat mereka tidak bisa menunggu besok untuk bertemu dan bicara di sini?


“Ini mengenai hasil tes DNA Mila. Dia bukan putri kandung Matias dan Abigail,” jawab Mama pelan. Tante Lindsey terisak. Ruangan itu kembali senyap.


“Dilihat dari foto Almarhumah Aunt Abby dan Aunt Claudia, mustahil Mila bukan putri kandung mereka, Ma. Wajah mereka terlalu mirip. Apa kita tidak bisa melakukan tes lagi?” tanyaku belum mau percaya bahwa tes itu menunjukkan hasil yang benar.


“Claudia akan datang secepatnya untuk melakukan tes ulang. Dia sangat yakin bahwa Mila adalah Clarissa setelah dia melihat fotonya. Kebetulan Charlotte juga akan mengikuti ujian nasional agar bisa mendaftar menjadi mahasiswa di sini. Jadi, kita harus menunggu untuk mengetahui hasil kedua,” ucap Om Edu pelan, namun penuh harap.


Ini adalah pukulan besar untuk mereka berdua. Sedikit lagi saja, mereka akan menemukan cucu yang sudah belasan tahun hilang tanpa jejak. Tetapi hasil yang diharapkan akan membantu membuktikan bahwa dugaan kami semua benar malah memberi hasil yang mengecewakan.


Aku juga sangat mengharapkan hasil tes ini agar bisa mengakhiri penantian panjangku. Aku tidak akan melakukan yang Colin lakukan. Aku ingin memberi akhir yang benar mengenai hubungan aku dan Clarissa yang terjalin atas campur tangan orang tua kami.

__ADS_1


“Pa, bisa kita bicara sebentar?” tanyaku setelah semua orang pulang. Papa menoleh ke arah Mama. “Berdua saja.” Dira mendesah pelan, mengerti apa yang akan aku bicarakan dengan papa kami. Papa dan Mama memandang aku dan Dira secara bergantian.


“Baiklah. Aku akan menunggu kamu di kamar.” Mama menepuk pelan dada Papa. Ayahku mengecup bibir Mama sebelum melepasnya pergi ke kamar mereka.


Aku dan Papa berjalan menuju ruangan tadi. Bu Yuyun dan Sita sedang merapikan piring dan gelas yang ada di atas meja. Melihat mereka berhenti, Papa meminta mereka untuk meneruskannya dan menolak saat Bu Yuyun menawarkan minuman atau makanan ringan lagi.


Lima puluh tiga tahun, Papa masih terlihat gagah dan otaknya juga encer. Dia tidak terlihat seperti pria seusianya pada umumnya. Rambut putih yang mulai mewarnai rambut hitamnya juga tidak mengurangi karismanya. Tidak mengherankan Mama tergila-gila pada Papa.


Aku tahu bahwa pernikahan mereka tidak sempurna. Mereka pernah melakukan kesalahan yang berakibat buruk pada pernikahan mereka. Tetapi itu membuat aku semakin mengagumi mereka. Aku menghormati mereka yang tetap bertahan di tengah banyak hal yang menguji hubungan mereka. Dan aku mau memiliki pernikahan sekuat itu.


Karena itu aku tidak mau calon istriku tertarik kepadaku hanya karena latar belakang dan nama besar keluargaku. Pada saat ini kami memang memiliki segalanya. Tetapi bila aku sedikit saja salah langkah, maka apa yang sudah susah payah Kakek dan Papa pertahankan bisa hancur di tanganku.


Istri yang tidak mencintai aku melainkan hartaku sudah pasti akan meninggalkan aku dalam keadaan susah. Dia akan lebih memilih mencari pria lain yang bisa memberinya kenyamanan hidup. Aku lebih baik tidak menikah sama sekali daripada menjalani hubungan seperti itu.


“Aku butuh bantuan Papa untuk menyelidiki apa yang terjadi pada Dira.” Papa memasang wajah serius saat aku menyebut nama adikku. “Sebelumnya, aku minta maaf tidak memberi tahu hal ini kepada Papa. Dira sudah beberapa kali mengalami kecelakaan yang bisa membahayakan dirinya di lokasi pemotretan atau syuting. Vikal sudah membicarakan ini dengan Pak Billy dan menurut mereka itu hanya kecelakaan semata. Tidak ada tanda atau bukti bahwa ada yang ingin menyakiti Dira.”


“Pertama, kamu tidak perlu meminta maaf. Meskipun aku tidak setuju dengan mamamu, tetapi dia benar. Kami tidak bisa terus-menerus melindungi kalian. Jadi, setiap kali kalian memutuskan untuk mengatasi masalah kalian sendiri, kami menghargai keputusan tersebut,” kata Papa pelan.


“Mengenai kecelakaan yang menimpa Dira, aku akan bicara dengan Irwan. Kamu bisa fokus pada kuliahmu, biar aku yang ambil alih masalah ini.” Aku tahu bahwa aku akan bisa mengandalkan Papa dalam segala hal. Papa menatapku dengan saksama, menandakan dia ingin mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pembicaraan kami. “Apa kamu dan Colin baik-baik saja?”


“Apa maksud Papa?” tanyaku tidak mengerti. “Jika ini ada hubungan dengan Dira, maka kami baik-baik saja. Colin adalah teman yang baik dan setia. Urusan dia dengan Dira adalah urusan mereka, jadi aku tidak mau ikut campur.”


“Bukan itu maksudku.” Papa menatap aku penuh arti. Aku mengerutkan kening, mencoba mengerti apa maksud pertanyaannya mengenai aku dan Colin. “Kalian menyukai gadis yang sama. Walaupun hasil tes membuktikan yang sebaliknya, aku masih percaya bahwa gadis itu adalah Clarissa. Dia terlalu mirip dengan Abigail. Jika terbukti dia adalah cucu kandung Edu dan Lindsey, hubungan kamu dan Colin akan semakin rumit.”

__ADS_1


“Jangan khawatirkan itu, Pa. Colin tidak punya perasaan apa pun pada Mila.” Aku mengenal dia sejak kami masih kecil, jadi aku tahu seperti apa raut mukanya saat sedang jatuh cinta.


“Bagaimana kamu bisa seyakin itu? Walaupun aku tidak suka ini, tetapi hubungan Colin dan Dira sudah berakhir. Dia bahkan berani membawa gadis itu untuk diperkenalkan di depan kita semua.” Papa membukakan fakta yang menguatkan dugaannya.


“Karena Colin masih mencintai Dira. Aku tidak tahu apa yang membuat dia berbuat bodoh begitu. Tetapi bila dia sampai melihat Dira bersama pemuda lain, dia pasti akan terbakar api cemburu.” Aku menyatakan pendapatku. Papa mengangguk pelan.


“Sayang sekali mamamu tidak mengizinkan aku memberi pelajaran pada sahabatmu itu. Tanganku sudah gatal ingin mematahkan beberapa giginya,” kata Papa penuh arti. Aku tertawa bersamanya.


Meskipun kami jarang menyelesaikan masalah dengan kekerasan, keluarga adalah pengecualian. Kami tidak akan tinggal diam bila pasangan, saudara, atau orang tua kami disakiti. Sampai detik ini, aku belum pernah mendapat masalah. Lagi pula aku tidak akan pernah memukul mereka yang tidak bersalah. Papa dan Om Zach tahu itu. Jadi, mereka selalu siap sedia menolong ketika aku terlibat kasus hukum karena perkelahian.


“Bila kamu serius dengan gadis ini, jangan lupa,” kata Papa kini dengan nada serius. “Pastikan tidak ada mantan atau orang ketiga yang akan menghalangi masa depan kalian bersama. Apa yang aku dan mamamu alami, jangan sampai terulang lagi pada kalian.”


*******


Sementara itu di lantai dua~


“Ada apa, sayang? Kamu kelihatan gelisah,” tanya Zahara kepada putrinya. “Apa kamu khawatir dengan apa yang sedang dibahas papa dan kakakmu?”


“Sebenarnya ini bukan masalah besar. Tetapi Kakak tidak mau mendengarkan aku dan memutuskan untuk melibatkan Papa dalam urusan sepele.” Dira mendecak keras.


“Bila Hadi sampai melibatkan papa kalian, maka ini bukan urusan yang sepele. Ada apa, Nak?” tanya Zahara kini dengan nada khawatir. Dira menatap mamanya dengan wajah memelas. “Jangan pasang wajah itu, aku tidak akan terpengaruh. Ada apa? Jika kamu tidak mau cerita, aku tetap akan tahu cerita keseluruhannya dari papamu.”


“Aku mengalami beberapa kali kecelakaan saat pemotretan. Kakak meminta Vikal dan Pak Billy untuk menyelidiki apa yang terjadi. Kesimpulannya, itu murni hanya kecelakaan, tidak ada unsur kesengajaan. Tetapi Kakak tidak terima.”

__ADS_1


“Jadi, Hadi meminta Papa untuk terlibat dalam penyelidikan kecelakaan itu?” tanya Zahara. Dira mengangguk pelan. “Siapa yang ingin mencelakai kamu, sayang? Apa kamu punya masalah dengan seseorang akhir-akhir ini?”


__ADS_2