Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 130 - Kesepakatan Semula


__ADS_3

“Waah!!” seru Charlotte saat keluar dari mobil. “Akhirnya, kita sampai juga! Aku tidak sabar untuk berenang dan makan masakan koki kalian yang enak.”


“Kamu harus sering-sering mengajak kami bersantai di sini, Hadi. Apalagi lokasinya tidak jauh dari kota.” Wyatt melihat-lihat ke sekelilingnya.


Hadi menolong aku keluar dari mobil, kemudian bersama para pria mengeluarkan koper kami dan membawanya ke vila. Seorang pria dan wanita yang sudah berumur menyambut kedatangan kami. Rombongan Dira yang tiba lebih dahulu masuk ke rumah dan kami menyusul kemudian.


Vila itu terlihat kecil dari luar, ternyata masih ada ruangan yang luas sampai ke belakang. Ruang depan diisi dengan sofa, meja, bufet, dan lemari kecil untuk tempat alas kaki. Ada lemari dengan televisi, sofa, meja, dan bufet di ruang tengah. Ada satu kamar di sebelah kananku, lalu dua kamar lainnya di depanku. Di antara kamar utama dan dua kamar itu ada ruang makan dan dapur. Di sebelah kiriku ada pintu kaca yang memperlihatkan kolam renang di samping rumah.


Walaupun tidak sebesar rumah mereka di Jakarta, vila ini tidak bisa dikatakan kecil. Apalagi saat Hadi menunjuk kamar di sebelah kananku sebagai kamar kami para perempuan. Tempat tidurnya besar, ada satu set sofa lengkap dengan meja, lemari pakaian, dan sebuah pintu yang aku yakin ada kamar mandi di baliknya. Ini pasti kamar yang digunakan Om Hendra dan Tante Zahara bila menginap.


“Cepat, ganti pakaian kalian kalau mau ikut berenang!” Charlotte mengambil pakaian renangnya dari koper, lalu melesat menuju kamar mandi. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.


Lily ikut berenang bersamanya, sedangkan aku hanya duduk di kursi santai melihat mereka. Wyatt, Adi dan Luca sudah lebih dahulu berada di kolam. Colin duduk bersama Dira tidak jauh dariku. Seorang wanita datang membawa sebuah baki dengan piring berisi pisang dan singkong goreng, disusul oleh Hadi yang membawa wadah air berisi teh hangat dan beberapa gelas kosong.


Setelah meletakkan piring, dia kembali ke dalam rumah dengan membawa dua baki yang sudah kosong. Hadi memberikan sebuah gelas kepadaku, lalu duduk di kursi yang sama denganku. Aku tahu bahwa kami sedang berpura-pura, tetapi aku baru tahu dia akan seberani ini berakting di depan semua orang. Bukan hanya Luca yang ada di tempat ini, tetapi juga saudara kami.


Aku menegakkan dudukku dan menurunkan kedua kakiku agar kami bisa duduk bersisian. Dengan posisi ini, maka Luca tidak akan bisa melihat ekspresi wajah Hadi. Hanya wajahku. Jadi, aku tidak perlu khawatir bagaimana Hadi berekspresi selama aku bisa mempertahankan wajah bahagiaku.


“Karena kamu mencium aku semalam dan adikmu tidak sabar untuk memberi tahu semua orang, Mama histeris dan berpikir kita akan segera menikah,” bisik Hadi.


Aku menatapnya tidak percaya. “Kamu bohong.” Karena dia harus mendekatkan dirinya untuk bisa berbisik kepadaku, mataku melirik ke arah bibirnya. Konsentrasi, Clarissa. Tatap matanya, bukan bibirnya, atau kamu akan melakukan kesalahan lagi seperti semalam.


“Ciuman dari bibir ke bibir adalah sebuah hal besar bagi keluarga kami. Karena itu Dira dan Colin menunggu sampai mereka menikah untuk melakukannya. Seharusnya kamu bertanya kepadaku, bukannya mengejutkan aku dengan ciumanmu itu,” protes Hadi.


“Kamu juga melakukan hal yang sama. Kalau kamu tidak suka, kamu cukup beri tahu aku, bukan menciumku lagi,” kataku tidak mau kalah.

__ADS_1


Matanya turun menatap bibirku, tetapi dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke mataku. Aku tersenyum melihatnya. “Apa lagi yang bisa aku lakukan dengan kehadiran Luca di dekat kita? Aku tidak mungkin membongkar sandiwara kita sendiri, ‘kan?”


“Kita sama-sama tahu, bukan itu alasan kamu membalas ciumanku, Hadi,” kataku pelan.


“Aku menyetujui usul Papa untuk menemani Dira ke tempat ini supaya kamu tidak bertemu dengan Mama. Aku yakin kamu tidak akan bisa menjawab pertanyaan Mama dengan tegas. Bisa-bisa aku dipaksa menikah denganmu dalam waktu dekat dan kamu hanya akan menjawab iya.”


“Itu bukan ide yang buruk. Mengapa kamu tidak mau menikah denganku? Bukankah kamu pernah mengatakan cinta kepadaku? Aku yakin, kamu masih menyimpan perasaan yang sama untukku.” Aku sedang berbuat nekat, aku tahu. Tetapi dia yang membuka topik ini, aku hanya memanfaatkannya.


“Aku tidak mencintai kamu lagi, Clarissa,” katanya dengan wajah dingin. Aku merasakan jantungku begitu sakit bagai ada yang meremasnya dengan kuat. Sakit sekali. “Aku sudah memberi kamu satu kesempatan dan kamu membuangnya begitu saja. Jangan harap aku mau kembali lagi kepadamu.”


“Aku mengaku aku sudah melakukan kesalahan besar dengan melepaskan kamu tanpa memberi kesempatan pada hubungan kita. Aku menyesal sudah menyakiti kamu, Hadi. Aku meminta maaf untuk itu. Tetapi aku akan jujur saja kepadamu sekarang. Bagimu, kita hanya berpura-pura. Tidak bagiku. Apa yang kita jalani saat ini adalah serius dan aku tidak berakting menjadi pacarmu.”


Dia tertegun sejenak. “Jangan membohongi aku, Clarissa. Aku mau kita tetap pada kesepakatan semula. Kita hanya berpura-pura dan begitu mereka pulang, kita kembali menjadi orang asing yang tidak saling mengenal. Apa kamu mengerti?” katanya dengan tegas. “Aku tidak mau menjalani hubungan dengan seorang gadis yang mudah saja mengakhirinya tanpa perasaan.”


“Charlotte!” tegurku dengan suara tertahan. Dia hanya tertawa.


“Apa kamu senang sekarang? Seluruh keluargaku ribut membicarakan pernikahan karena ulahmu,” kata Hadi setengah berbisik. Dia pasti tidak mau kalimatnya itu didengar oleh Luca.


“Hei, jangan salahkan sweety-ku. Dia hanya berbagi kebahagiaan dengan sahabatnya. Jadi, salahkan Dira kalau kamu butuh pelampiasan,” kata Wyatt membela Charlotte.


Mereka berdua terus saja bicara menggoda aku dan Hadi. Pembicaraan kami terpotong justru pada bagian yang membutuhkan penjelasan dariku. Aku tidak memutuskan hubungan kami karena aku tidak punya perasaan. Aku justru melakukannya untuk menyelamatkan reputasinya dan keluarganya. Iya, aku sadar bahwa yang aku lakukan itu salah. Aku mengambil keputusan secara sepihak tanpa memikirkan perasaannya. Tetapi aku tidak melakukan itu demi diriku sendiri.


Mengapa dia tega sekali menyebut kami berdua sebagai orang asing yang tidak saling mengenal? Apa maksudnya? Apakah perbuatanku tidak bisa dia maafkan sama sekali sehingga dia tidak mau lagi dekat denganku? Tidak mau memberi aku kesempatan untuk memperbaiki keadaan? Apakah rasa cinta yang pernah dia miliki untukku sudah berubah menjadi benci?


Wyatt dan Adi begitu bersemangat memasang tenda begitu matahari terbenam. Aku dan Charlotte bertukar pandang melihatnya. Dira yang duduk di sisi adikku itu mengerang pelan. Hadi berdiri dan membantu mereka sampai tenda itu berdiri dengan tegak.

__ADS_1


Dilihat dari ukurannya, kami bisa saja berada di dalam, tetapi dalam posisi duduk. Tenda itu tidak akan bisa menampung kami sembilan orang dalam keadaan berbaring. Apalagi kami rata-rata bertubuh besar dan tinggi. Mungkin kami hanya duduk sambil berbincang, lalu tidur di kamar kami masing-masing ketika tiba waktunya untuk beristirahat.


“Sayang, lututku sedang sakit, aku tidak yakin akan nyaman duduk bersila di lantai,” ucap Dira saat Colin menolongnya untuk berpindah dari sofa ke tenda.


“Siapa bilang kamu akan duduk bersila. Ada kursi khusus untukmu, sayang,” kata Colin yang segera membuat Dira tersenyum senang.


Wyatt mengeluarkan alat pemanggang dibantu oleh penjaga vila, lalu mereka menyalakan kayu bakar untuk memanggang. Adi dan Luca membawa semua bahan untuk dimasak dan meletakkannya di atas meja. Charlotte membantu mengatur bahan mana yang akan dipanggang lebih dahulu, mana yang belakangan. Aku ikut membantu dan melihat bahwa semua daging dan sayuran sudah dibubuhi bumbu. Aroma sedap bumbu itu membuat perutku lapar.


Kami makan bersama di dalam tenda begitu sebagian besar makanan sudah matang. Hanya tinggal beberapa sayuran yang baru dimasukkan ke dalam pemanggang. Aku, Charlotte, dan Lily membuat burger dari roti yang tersedia, sayuran segar, dan daging panggang.


“Berada pada usia tanggung tidak enak, ya?” ucap Wyatt pelan. Kami semua menoleh ke arahnya. “Kita dituntut untuk mandiri sekaligus menentukan masa depan ketika kita belum siap.”


“Orang tuamu lepas tanggung jawab karena kamu sudah delapan belas tahun?” tebak Colin.


Wyatt menggeleng pelan. “Aku adalah anak mereka satu-satunya, mereka tidak mau membiarkan aku memenuhi kebutuhan hidupku sendiri saat aku masih belajar. Maksudku, kadang-kadang aku berpikir, apakah begitu aku selesai kuliah nanti, aku cukup siap menggantikan papaku.”


“Jangan khawatir, honey. Kamu tidak sendiri. Hadi juga mengkhawatirkan hal yang sama walaupun dia selalu berakting tenang.” Charlotte melirik ke arah Hadi.


Orang yang dimaksud tertawa kecil. “Belajar saja dengan baik di kampusmu. Kuliahmu ini hanya persiapan awal. Kalau kamu ingin menambah pengetahuan, kamu bisa melanjutkan studi nanti. Aku juga berencana begitu. Papa bilang, semakin banyak tahu akan menambah rasa percaya diri.” Hadi melirik Charlotte. “Semoga saja kamu belum siap dalam hal menggantikan papamu, tetapi sudah yakin dengan pilihan teman hidupmu.”


“Sweety-ku adalah satu-satunya pilihan yang paling aku yakini. Aku tidak tahu apa aku bisa menjadi pasangan yang terbaik, tetapi aku akan berusaha.” Wyatt merangkul Charlotte. “Kalau tidak, aku tidak akan repot-repot membuat acara besar agar semua orang tahu bahwa dia adalah milikku.”


“Kamu dengar itu, Colin?” Dira menoleh ke arah pacarnya. “Itu baru namanya laki-laki. Beri tahu semua orang bahwa pacarmu adalah milikmu.” Colin hanya tertawa.


“Bila kamu merasa tidak layak memiliki sesuatu, maka kamu tidak pantas untuk memilikinya, Wyatt. Jefferson perlu berpikir ulang untuk memilih orang lain menjadi penggantinya. Begitu juga dengan ayahmu, Hadi. Orang yang pantas memiliki sebuah posisi atau apa pun akan melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan hak atau keinginannya itu.” Luca menoleh ke arahku saat mengucapkan kalimat yang terakhir.

__ADS_1


__ADS_2