Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 90 - Kunjungan


__ADS_3

Aku tidak tahu sudah berapa jam atau hari yang telah berlalu. Sejak pembicaraan kami yang penuh emosi, aku mengurung diri di dalam kamar. Aku tidak berani keluar sekadar menuju ruangan lain yang ada di rumah. Hanya keluargaku yang aku izinkan masuk ke kamarku.


Bertemu dengan pekerja di rumah kami terasa sangat berat bagiku. Kakek, Nenek, Om Zach, Tante Rasmi, Zeph, dan Zu sekalipun tidak aku izinkan masuk. Aku mengerti, sebagai keluarga, mereka ingin memberi dukungan kepadaku. Tetapi aku tidak butuh rasa kasihan dari siapa pun.


Untung saja setelah acara perpisahan, kami para siswa kelas tiga tidak harus datang ke sekolah setiap hari. Kami bisa datang kapan saja untuk mencari tahu info hasil ujian. Tetapi untuk tiga hari ke depan, kami seluruh siswa SMU libur karena ada ujian akhir murid SLTP. Lagipula aku tetap tidak akan datang ke sekolah bila guru mengharuskan kami datang.


Untuk menghindari tanggapan orang dan komentar mereka mengenai siaran itu, aku sengaja tidak memeriksa satu pun akun media sosialku. Aku bahkan memutus koneksi ponselku ke jaringan internet yang ada di rumah. Sekalipun aku penasaran, aku tahu aku tidak akan kuat membaca apa komentar orang di sosial media.


Pintu kamarku diketuk sebelum dibuka dari luar. Aku tidak perlu menoleh karena aku tahu Mama yang datang membawakan makan siang untukku. Langkah kakinya yang sudah sangat aku kenal mendekati balkon di mana aku berada.


“Karena kamu tidak menyebut secara khusus apa yang ingin kamu makan siang ini, maka Pak Fahri memasak semua makanan kesukaanmu. Hamburger, pizza, juga lasagna.” Mama meletakkan tiga piring yang berisi masing-masing makanan yang dia sebutkan. “Ada lagi yang kamu butuhkan?”


“Tidak, Ma. Ini sudah cukup.” Aku mengulurkan kedua tanganku. Mama tersenyum, duduk di sisiku, lalu membiarkan aku memeluknya dengan erat. “Maaf, aku sudah merepotkan Mama beberapa hari ini. Seharusnya Bu Yuyun yang mengantarkan makanan untukku.”


“Kamu adalah putriku, tentu saja aku senang kamu repotkan begini. Kalian sudah besar dan mandiri. Kadang-kadang aku rindu kalian bersikap manja padaku.” Mama mencium pipiku. “Makanlah. Aku harus kembali bekerja. Colin banyak membantu aku menyelesaikan proyek baruku, jadi aku harus menulis semua yang aku ingat sebelum ide itu pergi dari kepalaku.”


“Colin sedang ada di sini?” tanyaku pelan. Jantungku berdebar sedikit lebih kencang, tetapi aku segera mengabaikannya. Aku tidak mendengar suaranya. Ah, aku seharian berada di kamar, mana mungkin bisa mendengar siapa saja yang datang ke rumah kami.


“Tidak. Masih ada beberapa menit sebelum dia datang dari kampusnya. Aku harus cepat. Aku punya banyak pertanyaan yang harus aku tanyakan padanya nanti.” Mama mencium pipiku sekali lagi, lalu berdiri. “Kamu yakin kamu tidak membutuhkan hal lain lagi?”


“Tidak, Ma. Ini sudah cukup.” Aku menggeleng pelan.


Mama pergi dengan wajah tersenyum. Tetapi aku yakin begitu dia berada di balik pintu kamarku, dia akan kembali bersedih. Keluargaku melakukan yang terbaik yang mereka bisa untuk membantu aku melupakan kejadian yang sangat memalukan tersebut.


Bila Mama yang mengantar sarapan dan makan siang untukku, maka Kakak yang akan membawakan makan malam. Kami akan mengobrol sesaat atau hanya duduk diam sambil menatap langit malam. Papa akan datang beberapa saat sebelum aku tidur, sedangkan Adi mengganggu aku kapan saja ide iseng sedang muncul di kepalanya.


Minggu ini adalah gilirannya mengikuti ujian akhir di sekolah. Aku sangat berharap dia akan lulus dengan hasil yang baik. Dia sudah belajar sekeras mungkin sampai mengabaikan karakter game favoritnya selama satu bulan belakangan ini. Bila dia masih berniat masuk ke sekolahku, maka dia butuh nilai yang tinggi untuk lulus syarat masuk.


Pintu kamarku dibuka dari luar, tetapi tidak ada ketukan sebelumnya. Keluargaku atau pekerja di rumah kami tidak akan melakukan itu. Maka hanya ada satu orang yang berani bertindak selancang itu. Satu-satunya orang yang akan nekat memasuki rumahku walaupun Mama sudah melarangnya.

__ADS_1


“Apa aku bilang, dia baik-baik saja.” Charlotte berdiri di ambang pintu balkon. Aku memutar bola mataku mendengarnya. Dia duduk di sisiku, lalu meletakkan sebuah tas kotak makanan di atas meja. “Pastel daging dan sayuran buatan Nenek. Semuanya untukmu. Jadi, tolong, jangan bagikan ini pada Hadi dan Adi, juga tidak pada orang tuamu. Itu pesan Nenek.”


“Terima kasih.” Aku menggeleng pelan melihat dia mengeluarkan kotak makanan dari tas tersebut.


“Apa kamu baik-baik saja, Dira?” tanya Wyatt yang duduk di sisi kananku dan memberikan sebuah buket bunga kamomil. Aroma bunga itu segera memenuhi penciumanku. “Kata tukang bunga, juga dari riset kecil-kecilan yang aku lakukan di internet, aroma bunga ini bisa menyembuhkan patah hati.”


“Butuh usaha keras untuk mematahkan hatiku, Wyatt. Tetapi terima kasih untuk buket bunga ini. Semoga saja tidak ada yang cemburu karena aku mendapatkan perhatian darimu.” Aku sengaja melirik Charlotte yang sedang sibuk menuang sambal khusus pastel buatan Tante Lindsey. Dia tidak malu mengeluarkan suara mengorok seperti babi. Tawa Wyatt meledak mendengarnya.


“Dia masih bisa bercanda, jadi dia sudah baik-baik saja.” Wendy berjalan mendekati aku agar bisa memelukku sesaat. Dia memberikan sebuah gelas besar dengan label toko kopi tempatnya bekerja. “Teh kamomil. Karena Wyatt bilang ini bagus untuk patah hati, maka tehnya juga baik untukmu.”


“Apa tujuan kalian semua datang ke sini? Untuk memberi tahu aku apa obat patah hati?” tanyaku tidak percaya. “Tidak, Wyatt. Semua makanan ini untukku.” Aku menjauhkan piring berisi burger dan kentang ketika dia berusaha mencuri sepotong kentang goreng.


“Ya, ampun. Apa kamu belum kenyang juga? Kita sudah makan di rumah sebelum datang ke sini.” Charlotte menatap tajam ke arah Wyatt. “Kalau kamu masih lapar, minta makanan di bawah. Bu Yuyun akan memberikan menu yang sama yang Dira makan.”


“Kakiku bisa lelah kalau naik turun tangga terus. Apa kamu lupa aku yang menyetir?” Wyatt memijat-mijat kakinya sambil memasang wajah memelas.


Wyatt bersorak senang. “Kamu memang kakak ipar yang terbaik, Clarissa!” Dia segera mengambil sepiring burger dan kentang goreng yang diletakkan kakak kandung Charlotte di atas meja.


“Mengigau kamu. Clarissa bukan kakak iparmu!” protes Charlotte. Dia berterima kasih saat Clarissa memberi sepiring lasagna padanya.


“Aku tidak bisa lama-lama di sini.” Clarissa mendekat, lalu memelukku sebelum duduk di kursi kosong di samping adiknya. “Hadi akan pulang dan aku tidak mau dia melihat aku berada di sini.”


“Kebetulan kamu mengatakan itu. Mengapa kamu ada di sini? Bukankah hari ini ada jadwal kuliah?” tanyaku bingung. Dan dia benar. Kak Hadi akan tiba di rumah sebentar lagi. Dia sudah lama tidak tinggal lebih lama di kampusnya sejak hubungannya dan Clarissa putus.


“Adikku—” Clarissa tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Charlotte menutup mulutnya dengan tangannya. Aku melihat mereka berdua dengan heran.


“Cepat habiskan makananmu, Dira. Pastel ini sudah menunggu untuk kamu nikmati.” Charlotte mendekatkan piringku kepadaku, lalu dia memakan lasagna bagiannya.


Wendy dan Wyatt tertawa geli membuat aku semakin bingung. Tetapi aku memutuskan untuk tidak mendesak Clarissa untuk menjawab pertanyaanku. Bila ini ada hubungannya dengan Charlotte, mungkin dia tidak ke kampus demi adiknya.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong apa yang terjadi pada Jordan? Keluargaku histeris setiap kali aku bertanya mengenai kejadian itu. Jadi, aku pikir aku lebih baik bertanya pada kalian.” Aku bisa melihat ada kekhawatiran di wajah teman-temanku mendengar pertanyaanku itu.


“Dia ditahan di kantor polisi bersama Vivaldo dan Nora. Pengacara Uncle Hendra memastikan agar polisi tidak melepas mereka sampai proses persidangan selesai.” Wyatt yang menjawab.


“Persidangan?” Aku merasakan darahku mendadak berhenti mengalir ke otakku.


“Dira? Kamu tidak apa-apa?” tanya Wendy yang segera mendekati aku. Charlotte mengambil piring dari tanganku sebelum aku menjatuhkannya.


“Tidak. Mereka pasti akan memanggil aku sebagai saksi, ‘kan? Tidak. Lebih baik mereka langsung dihukum saja. Aku tidak mau melewati proses persidangan!”


*******


Sementara itu di lantai dasar~


Hadi mendesah keras melihat banyaknya orang yang duduk atau berdiri di ruang depan dan ruang keluarga. Pekerja rumah mereka mondar-mandir memastikan makanan dan minuman yang ada di atas meja saji tetap tersedia.


Sudah tiga hari sejak kejadian buruk menimpa Dira, rumah mereka tidak pernah sepi. Rekan-rekan kerja sesama model, karyawan dan pimpinan agensi di mana adiknya bernaung, juga asistennya tidak berhenti berkunjung. Mereka tidak menyerah sekalipun keluarga Hadi belum mengizinkan mereka menemui Dira.


“Kamu seharusnya bangga karena adikmu dikelilingi oleh orang baik yang tidak berpaling darinya di masa-masa sulit.” Colin berjalan mendekatinya. “Mereka adalah orang yang menganggap Dira sebagai keluarga. Kalau tidak, mereka tidak mungkin repot-repot datang setiap hari ke sini.”


“Atau bisa jadi mereka hanya ingin melihat sehancur apa adikku setelah peristiwa nahas itu.” Hadi menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


“Clarissa ada di atas. Siapa tahu kamu rindu dia dan ingin bertemu dengannya.” Colin melihat ke arah tangga, menunjuk di mana gadis itu berada. Seolah-olah Hadi tidak mengenal rumahnya sendiri.


Saat Colin memasuki ruang khusus Zahara, Hadi menoleh ke arah tangga menuju lantai atas. Kakinya berniat melangkah menuju ruangan di mana gadis yang ingin sekali ditemuinya berada. Tetapi mengingat kalimat jahat yang Clarissa ucapkan, Hadi mengurungkan niatnya.


Dia kembali menoleh ke arah tangga mendengar langkah kaki yang terburu-buru menuruninya. Dan di sanalah gadis itu berada. Hadi khawatir saat melihat ekspresi wajahnya. “Clarissa, ada apa?” Hadi segera menaiki tangga agar bertemu gadis itu di pertengahan.


“Dira … dia histeris. Ka-kami tidak bisa menenangkan dia. Tolong, lakukan sesuatu.”

__ADS_1


__ADS_2