
“Colin datang bersama pacarnya,” jawabku jujur. Papa menatapku sesaat sebelum menoleh ke arah Mama. Aku kembali menggigit rotiku, ingin segera pergi dari tempat ini.
“Pacar apa? Bukankah kamu dan dia akan menikah tahun depan? Mengapa dia tiba-tiba punya pacar tanpa ada pemberitahuan sebelumnya?” tanya Mama bingung.
“Aku tidak tahu, Ma. Jangankan aku, Lily juga terkejut kakaknya mendadak punya pacar.” Aku mengangkat kedua bahuku.
“Aku sudah bilang padamu, aku tidak percaya kepada anak muda itu. Dia sudah membuat putriku menangis, jadi jangan halangi aku jika aku tidak sengaja mematahkan tangannya nanti,” kata Papa kepada Mama. Aku bergidik pelan. Kalau Papa sampai mematahkan tangannya, Colin tidak akan bisa melakukan hobinya lagi. Mama meletakkan tangannya di atas tangan Papa.
“Sayang, aku yakin ini hanya salah paham. Kita sering mengalami itu. Ini masalah antara Dira dan Colin, kita sebagai orang tua tidak boleh ikut campur. Dan kamu harus bisa menahan dirimu. Kamu tidak bisa terus mengancam akan menyakiti Colin setiap kali Dira kecewa dengan sikapnya. Apa kamu melihat papaku melakukan itu?” ucap Mama berusaha untuk menenangkan Papa.
“Aku bukan Papa, jadi aku mengatasi masalahku dengan caraku.” Papa kembali menoleh ke arahku. Aku menelan ludah dengan berat. “Jika Colin tidak serius denganmu, sebaiknya kamu pikirkan lagi rencana pernikahan kalian. Terlalu banyak yang akan kalian korbankan jika ada orang ketiga dalam hubungan kalian. Kamu sudah tahu itu.”
Pernikahan Papa dan Mama sangat sempurna. Mereka saling mencintai dan pernah melihat satu hari pun di mana Papa dan Mama sanggup berpisah dari satu sama lain. Setidaknya itu yang ada dalam pikiranku sampai suatu hari mereka mengatakan apa yang pernah mereka alami sampai pernikahan mereka menjadi taruhannya.
Kejujuran adalah hal yang sangat kami junjung tinggi dalam keluarga kami. Papa dan Mama selalu memastikan bahwa mereka adalah tempat paling aman bagi kami untuk berbagi rahasia dan setiap hal buruk yang kami alami. Mereka tidak pernah mengecewakan kami dalam hal itu. Mereka bahkan berbagi pengalaman buruk dalam pernikahan dan hidup mereka sebagai bukti mereka juga tidak menyimpan rahasia dari kami.
Itulah sebabnya, peristiwa semalam tidak akan bisa dirahasiakan dari mereka. Cepat atau lambat, Papa pasti akan mengetahuinya. Dia punya banyak mata dan telinga yang siap mengadukan semua hal yang kami alami kepadanya. Tetapi dia ingin mendengarnya langsung dari mulut kami.
“Aku akan bicara dengan Colin. Beri aku waktu karena aku masih sangat marah padanya saat ini. Kami tidak akan bisa bicara baik-baik dengan kepala dingin sekarang.” Aku menunduk dan tidak berani menatap mata Papa. “Aku yakin ini hanya salah paham.”
“Kamu tidak apa-apa, sayang? Aku bisa bicara dengannya kalau kamu tidak siap. Lagi pula dia yang meminta izin kepadaku secara khusus untuk menikah denganmu. Bila dia membatalkan rencananya, maka dia seharusnya bicara denganku juga mengenai itu,” kata Papa kini dengan suara yang lembut. Hilang sudah amarah yang tadi ada di matanya.
“Aku bisa mengatasi ini sendiri, Pa,” kataku sambil melirik ke arah Mama. Dia tersenyum. “Aku janji akan memberi tahu Papa dan Mama hasil dari pembicaraan kami.”
“Baiklah.” Papa tersenyum. “Habiskan makananmu. Kamu ada pemotretan pada pagi ini, ‘kan?” Papa melirik jam tangannya. Aku tidak perlu bertanya bagaimana dia bisa mengetahui hal itu, karena dia selalu tahu semua aktivitas kami. “Apa kamu yang akan mengantarnya, Hadi?”
__ADS_1
“Iya, Pa. Aku ada janji dengan Colin dan teman-teman siang ini. Setelah kami selesai, aku juga yang akan menjemput Dira pulang,” jawab Kakak. Papa mengangguk lega.
“Aku dan Mama akan menghadiri pernikahan putri salah satu kolega kami, jadi beri tahu Yuyun apa kalian akan makan malam di rumah atau tidak. Adi, kamu ikut bersama kami?” tanya Papa. Adi menganggukkan kepalanya.
Kak Hadi menurunkan aku di depan sebuah taman. Setelah saling berjanji akan bertemu lagi di tempat ini, aku keluar dari mobil dan Kakak pergi menemui sahabatnya. Aku ingin sekali bisa ikut bersamanya dan bicara dengan Colin saat ini juga. Tetapi membicarakan apa? Aku pasti akan menangis melihat wajahnya nanti, lalu dia akan merasa kasihan padaku. Aku tidak butuh itu.
Vikal, asisten pribadiku, segera mendatangi aku. Dia mengajak aku menuju sebuah mobil. Di dalam telah tersedia pakaian yang perlu aku pakai dan penata rias yang membantu aku bersiap-siap. Aku mengenakan pakaian itu terlebih dahulu, kemudian membiarkan wanita muda itu memulas riasan ke wajahku dan menatap rambutku.
“Coba tebak siapa yang datang ke kantor pagi ini dan menyebabkan keributan,” kata Vikal saat aku keluar dari mobil menuju lokasi pemotretan. Aku tidak perlu menjawab karena dia akan menjawab sendiri pertanyaannya itu. “Reese Foster.”
“Kamu sudah bilang kepada Pak Billy bahwa aku tidak bisa menerima pekerjaan baru sampai tamat SMU, ‘kan?” tanyaku mengonfirmasi. Dia mengiyakan. “Lalu mengapa Reese bisa datang ke kantor?”
“Dia marah karena dianggap sebagai pilihan kedua. Perusahaan kosmetik itu memilih kamu, tetapi kamu menolak. Jadi, mereka menawarkan pekerjaan itu kepadanya melalui agennya. Dia pikir kamu sengaja melakukan itu untuk merendahkan dia,” jawab Vikal. “Tetapi jangan khawatir. Pak Billy sudah menangani segalanya dengan baik.”
Reese adalah seorang model senior, hanya satu tahun lebih tua dariku, tetapi dia merasa dia lebih baik dari semua orang. Meskipun kami dari agen yang berbeda, dia selalu mengikuti audisi yang sama denganku. Awalnya, dia selalu memenangi setiap pekerjaan tersebut sampai suatu hari aku yang mendapatkan kehormatan itu.
“Syukurlah setelah pemotretan ini berakhir, aku tidak perlu menghadapi drama itu selama beberapa bulan ke depan.” Aku mendesah lega.
“Apa kamu yakin kamu menunggu sampai pengumuman seleksi masuk PTN untuk mulai kerja lagi? Mengapa tidak setelah ujian saja?” Vikal masih berusaha untuk mengubah pikirannya.
“Aku yakin Pak Billy akan membuat aku membayar lima bulan cutiku dengan memberi aku banyak pekerjaan. Lebih baik aku bekerja saat masa depanku sudah pasti daripada masih dalam penantian. Masa depanku ada pada pendidikanku, Vikal,” kataku dengan serius.
“Masa depanmu ada di depan matamu, Dira. Ini adalah masa depanmu.” Dia menunjuk ke sekeliling kami dengan melebarkan kedua tangannya. “Kamu masih muda dan aku yakin saat kamu pensiun, kamu sudah punya cukup uang untuk hidup nyaman di hari tua. Pendidikan tidak akan memberi kamu uang yang banyak.”
“Kamu sedang membicarakan tentang aku atau dirimu sendiri?” godaku. Dia membuka mulut untuk menjawab, lalu menutupnya lagi begitu mengerti maksud pertanyaanku.
__ADS_1
Pemotretan ini adalah rangkaian terakhir dari iklan sebuah parfum mahal yang mengontrak aku menjadi model utama mereka. Aku mendapat kehormatan menjadi orang pilihan mereka setelah melalui sebuah audisi yang ketat. Jadi, aku melakukan yang terbaik agar mereka tidak menyesal telah menjatuhkan pilihan padaku.
Tentu saja Reese juga ada dalam audisi tersebut. Aku masih ingat betapa terkejutnya dia saat namaku yang disebut sebagai pemenang kontrak dua tahun tersebut. Kalau bukan karena asistennya yang menahan tangannya, aku yakin dia sudah tantrum di depan semua orang, mempermalukan dirinya sendiri.
Namun aku mengerti saat membaca sendiri nilai kontrak yang mereka tawarkan. Uang sebesar itu akan membuat model mana pun rela melakukan segalanya untuk mendapatkannya. Om Zach yang selalu membantu aku mempelajari setiap kontrak sebelum membubuhi tanda tangan membulatkan mata membacanya. Bahkan dia sendiri terkejut melihat jumlahnya.
Empat jam lebih bergaya di depan kamera mengikuti arahan fotografer dan pengarah gaya, dua kali berganti pakaian, serta satu jam istirahat makan siang, akhirnya pemotretan itu selesai juga. Aku sangat senang melihat hasil foto yang ditunjukkan fotografer dari layar belakang kameranya.
“Dira, awas!!” teriak Vikal yang berlari ke arahku. Semua orang ikut berteriak memberi peringatan kepadaku dan fotografer yang berdiri di sisiku. Aku menoleh ke arah yang mereka lihat. Sebuah tiang besi jatuh ke arahku.
*****
Sementara itu di sebuah aula hotel~
Adi menatap wanita muda di depannya. Dia sangat cantik dengan riasan minimalis dan rambut digelung dengan jepitan di sisi kiri kepalanya. Sama seperti penerima tamu yang lain, dia mengenakan kebaya berwarna hijau pirus.
“Kamu tidak berbohong, kamu bukan remaja,” ucap Adi masih tidak percaya. “Kamu masih sempat main game? Apa kamu tidak bekerja?”
“Kita sudah berjanji tidak akan membahas kehidupan pribadi Adi.” Dia tersenyum manis. “Kamu datang bersama orang tuamu?” Adi mengiyakan. “Mereka sedang berjalan ke sini.”
“Oh.” Adi menoleh ke arah yang wanita itu lihat. “Mungkin mereka mau mengajak aku pulang. Kamu akan ikut pertemuan tim kita bulan ini?”
“Kalian selalu bertemu pada hari Sabtu malam. Aku tidak bisa.” Dia menggeleng pelan.
“Karena kamu kencan dengan pacarmu.” Adi mengangguk mengerti. Wanita itu tersenyum.
__ADS_1
“Adi, saatnya kita pulang.” Zahara melihat antara Adi dan wanita itu dengan tatapan ingin tahu. “Maaf, aku memotong pembicaraan kalian. Siapa gadis cantik ini, sayang?”
“Tidak apa-apa, Ma. Kami sudah selesai bicara.” Adi berdiri mendekati Zahara. “Ng, perkenalkan, Ma, Pa. Ini Diah Kahyang. Istriku di game.”