
Aku dan Hadi serentak menoleh ke arah pintu. Dira berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam. Salah satu tangannya memegang ponsel, sedangkan tangan yang lain menggenggam kenop pintu dengan erat hingga tangannya memucat.
“Gadis yang sopan tidak menguping percakapan orang lain, apalagi memotongnya, Dira,” tegur Hadi. “Kamu juga tidak mengetuk pintu kamarku. Bagaimana kalau aku sedang berganti pakaian?”
“Kakak selalu ganti baju di ruang pakaian.” Dia menatap ke arahku dengan tajam. “Kamu belum menjawab pertanyaanku. Siapa Valeria?”
“Apa hubungannya denganmu? Kita bukan teman, bukan siapa-siapa, jadi untuk apa aku memberi tahu kamu siapa dia?” Dira merapatkan bibirnya, menahan amarahnya. “Ada apa, Dira? Jangan bilang kamu cemburu.”
Dia tertawa kecil. “Cemburu? Untuk apa aku cemburu denganmu? Kamu mau dekat dengan gadis mana pun, aku tidak peduli.” Dia menoleh ke arah Hadi. “Kak, Papa bertanya. Kita makan malam di luar malam ini atau besok? Untuk merayakan kelulusanku. Karena Kakak besok akan seminar, Papa bilang, aku harus bertanya pendapat Kakak.”
“Malam ini juga boleh. Aku tidak perlu persiapan khusus untuk acara besok. Aku sudah siap,” jawab Hadi dengan enteng, dia mengangkat kedua alisnya kepadaku. Dasar sombong.
“Oke! Kalau begitu, malam ini saja,” sorak Dira senang. Dia melirik ke arahku, lalu membuang muka. Aku hanya tertawa kecil saat dia menutup pintu kamar kembali.
“Apakah segalanya akan berubah lebih baik jika aku menemukan kekurangan dalam hubungan kami?” tanyaku pada Hadi. Dia menatapku tanpa ekspresi. “Baiklah. Walaupun aku tidak sependapat dengan kalian semua.”
“Aku dan Clarissa juga punya kekurangan yang sama. Itu sebabnya, dia tidak mau berjuang untuk hubungan kami. Apa kamu masih belum bisa menebak apa itu?” Hadi mencoba memberi petunjuk, tetapi kepalaku kosong. Aku tidak bisa memahami kalimatnya itu.
“Bicara tentang Clarissa. Dia yang akan seminar pada hari Rabu nanti. Siapa tahu kamu tertarik untuk memberi dukungan padanya.”
“Aku tidak tertarik. Dia wanita yang kuat, dia bisa menjalani hidupnya sendiri tanpa aku,” ucap Hadi yang kembali memasang ekspresi dingin.
Seharusnya hubungan asmara tidak rumit begini. Bila dua orang anak manusia ingin bersama dan saling membahagiakan, mengapa harus berpura-pura tidak peduli? Hadi jelas-jelas masih sayang pada Clarissa. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya itu selama kami berlibur bersama di Bali. Lalu untuk apa dia menyiksa dirinya sendiri dengan menjauh darinya?
Clarissa tidak akan berani bertindak lebih dahulu. Gadis itu punya banyak ketakutan dan keraguan yang menahan dirinya untuk meraih apa yang dia mau. Aku hanya tahu dia disia-siakan oleh keluarga angkatnya, dikhianati oleh rekan kerjanya, dan dia tumbuh besar di tengah-tengah orang yang mengkhianatinya setelah dia memberikan rasa percayanya.
Bagaimana bisa gadis dengan banyak luka itu berani mendekati Hadi yang bila dilihat dari luar sangat sempurna. Dia tampan, cerdas, berbakat, disukai banyak gadis, dan berasal dari keluarga yang kaya dan terpandang. Hanya mereka yang dekat dengan keluarga Hadi yang tahu berbagai masalah yang pernah mencobai keutuhan keluarga ini.
Namun aku tidak bisa membujuk Hadi untuk memberi gadis itu kesempatan yang kedua. Dia terlalu terluka untuk memaafkan gadis itu dan menerimanya lagi. Sayang sekali, cinta pertamanya justru menyakiti dia sedalam itu.
__ADS_1
“Itu kabar yang sangat baik, Colin!” pekik Mama senang saat aku memberi tahu bahwa aku sudah bisa maju seminar. “Kerja yang sangat bagus!” Aku berterima kasih padanya.
“Apa ada yang bisa kami bantu untuk memperlancar persiapanmu?” tanya Dad.
“Tidak, Dad. Terima kasih. Aku sudah siap untuk diuji,” jawabku dengan sedikit rasa gugup.
“Bagus. Yang penting kamu bersikap tenang selama sesi pertanyaan nanti. Anggap saja ini ujian biasa yang dilakukan secara lisan, bukan tulisan.” Dad menepuk bahuku. Aku mengangguk. Dia menoleh ke arah Lily. “Kalian berdua adalah anak-anak kebanggaan kami.”
“Hasil ujianku belum keluar, Dad. Kita belum tahu apakah aku lulus atau tidak,” gumam Lily.
“Kamu pasti lulus, sayang. Jangan khawatirkan soal nilai, kami tidak peduli dengan itu. Kami sudah saksikan sendiri kamu berusaha keras menyiapkan dirimu selama kamu sekolah.” Dad mengusap-usap puncak kepala adikku.
Suasana kantor jurusan kami tidak seperti hari biasanya. Ada banyak perempuan yang tidak aku kenal berdiri mengintip ke arah ruang ujian melalui jendela. Mereka membawa sesuatu pada tangan mereka. Ada yang membawa buket bunga atau tas kertas yang aku yakin berisi hadiah. Hari ini Hadi hanya mengikuti seminar proposal. Bagaimana lagi pada hari wisudanya nanti?
Meskipun ada banyak orang, situasi di sekitarku cukup sunyi. Pasti dosen sudah memberi tahu agar mereka bersikap tenang. Ruangan itu kedap suara, tetapi koridor di mana kami berada dekat dengan ruang kerja dosen. Jadi, suara kami bisa mengganggu mereka yang tidak ikut menjadi penguji.
“Apa yang sedang terjadi di sini?” Terdengar suara Dira dari sebelah kananku. Aku menoleh dan melihat dia mengerutkan keningnya sambil menyapukan pandangannya ke sekitar kami. “Apa ada konser atau artis yang datang berkunjung?”
“Kalau kamu masih tidak percaya bahwa Hadi digandrungi banyak perempuan, kamu sudah melihat buktinya sekarang,” kataku menjawab pertanyaannya. “Kamu dari mana? Bukannya kamu dan Hadi berangkat bersama dari rumah?”
“Charlotte dan Wyatt juga ingin datang, jadi mereka meminta aku menunggu di dekat gerbang masuk. Mereka tidak tahu ruang mana ruang ujiannya.” Dia menoleh ke arah sepasang sejoli yang berdiri begitu dekat, asyik dengan dunia mereka sendiri, tidak jauh dari tempat kami berdiri.
“Bukankah ada Clarissa yang bisa mengantar mereka ke sini?” tanyaku bingung.
“Bukankah kalian ada jadwal kuliah? Mengapa kamu berada di sini?” Dia balik bertanya.
“Kami tidak ada jadwal kuliah pada hari Selasa. Hari ini biasanya Hadi pergi ke kantor Uncle untuk membantu proyeknya. Kamu pasti lupa,” ejekku. Dia menepuk keningnya.
Berbeda dengan sikapnya padaku sehari sebelumnya, Dira sedikit santai dan tidak terlihat kesal denganku. Kami berbincang dengan santai mengenai apa yang terjadi di dalam ruang ujian pada saat ini. Dia juga banyak bertanya mengenai jurusan kami. Aku tahu bahwa dia akan mengikuti jejak kakaknya dan kuliah di kampus ini. Mereka bertiga ingin menjadi pengusaha seperti Uncle Hendra.
__ADS_1
“Fan Hadi benar-benar banyak, ya. Lihat apa yang mereka bawa untuknya.” Valeria yang entah datang dari mana, berdiri di sisiku sambil melihat ke arah mahasiswi di sekitar kami. “Apa kamu tidak pernah merasa bahwa kamu hanya menjadi bayang-bayangnya, Colin?”
“Aku dan Hadi bersahabat baik. Tidak ada yang menjadi bayangan siapa pun.” Aku membela Hadi. Dia berkata seperti ini, apa maksudnya?
“Aku hanya mengatakan apa yang aku saksikan selama hampir empat tahun kita kuliah bersama. Kamu tidak punya teman selain dia dan tidak ada gadis yang tertarik padamu. Apa kamu tidak sadar? Semua itu karena kamu berteman akrab dengan Hadi,” kata Valeria lagi.
Hubungan aku dengan Dira memang tidak diketahui banyak orang. Beberapa percaya aku sudah punya kekasih, sedangkan sebagian lagi hanya bersikap skeptis. Lagi pula untuk apa aku pamer ke sana kemari bahwa aku berpacaran dengannya? Dira adalah seorang model, jadi aku tidak mau privasiku juga terganggu karena diincar wartawan.
“Dia yang selalu mendapatkan perhatian dari semua orang. Dosen menyukainya dan selalu memuji karena dia bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Teman-teman perempuan kita tertarik padanya dan aku yakin mereka sudah siap berlomba mendapatkan perhatiannya sebelum wisuda nanti. Lalu kamu? Tidak ada yang peduli atau tertarik padamu. Orang-orang hanya tahu kamu adalah teman yang mengekori dia ke mana pun dia pergi. Ironis, ‘kan?” ucap Valeria dengan nada prihatin.
“Ironis kepalamu gundul!” seru Dira dengan suara keras menarik perhatian semua orang. Rahangnya menegang, bibirnya terkatup rapat, dan aku melihat tangannya mengepal kuat, menahan amarah. “Ke sini kamu! Biar aku botaki kepalamu sekalian!” Dira mengulurkan tangannya ke rambut Valeria.
...*******
...
Sementara itu di sebuah ruang kuliah~
Clarissa memejamkan mata dan merapatkan bibirnya sambil menarik napas panjang saat sekali lagi, ponselnya bergetar pertanda ada pesan baru di kotak masuk. Dia sedang mengikuti mata kuliah penting dan adiknya tidak berhenti mengirim pesan padanya.
Isinya hampir sama. Charlotte memotret situasi di depan ruang ujian yang penuh dengan para gadis yang membawa buket bunga dan hadiah untuk peserta seminar. Clarissa tidak mau berasumsi bahwa mereka adalah mahasiswi yang menaksir Hadi, tetapi adiknya terus saja meracuni pikirannya dengan mengatakan hal yang sebaliknya. Dia membujuknya untuk datang dan menunggu sampai Hadi selesai ujian. Clarissa tidak memedulikan semua pesan itu.
Karena getar itu tidak berhenti juga, Clarissa mengeluarkan ponselnya dan menonaktifkan getarnya. Matanya tidak sengaja melihat pada foto terbaru yang dikirim oleh adiknya. Hadi sudah berada di luar ruang ujian dan para gadis mengerumuninya.
“Awas, kamu, Charlotte,” gumam Clarissa pelan.
Manda yang duduk di sebelahnya menoleh. “Apa kamu mengatakan sesuatu padaku?” tanyanya.
Clarissa segera menggelengkan kepalanya. Mereka diminta mengerjakan beberapa soal, jadi dosen tidak terlalu memerhatikan keadaan para mahasiswa. Selama mereka mengikuti diskusi sebelum perkuliahan berakhir nanti, dia tidak peduli mereka mengobrol untuk berdiskusi atau bergosip.
__ADS_1
Tetapi Clarissa tidak mengkhawatirkan diskusi mereka nanti. Dia mulai tidak konsentrasi sejak melihat foto ada banyak perempuan yang berada di dekat Hadi. Bagaimana kalau salah satu dari mereka berhasil menarik perhatiannya?