
Selasa. Kami bahkan belum dua puluh empat jam resmi kembali bersama dan dia sudah bersama wanita lain di sebuah kamar. Aku tidak bisa marah atau bertanya, karena dia sendiri tidak ingat apa yang terjadi dengan mereka di balik pintu tersebut. Mengapa masalah selalu saja datang dalam hubungan kami? Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Aku sangat mencintai Hadi dan berpisah dengannya akan lebih menyakitkan daripada menghadapi masalah bersama. Aku tidak mau jauh darinya lagi. Tetapi bagaimana kalau perempuan itu datang dan meminta dia bertanggung jawab atas dirinya? Aku terpaksa melepas dia lagi.
“Siapa perempuan itu? Apakah aku mengenalnya?” tanyaku pelan. Dia menjawab tidak. “Jadi, dia adalah teman lama kamu dari sekolah?”
“Bukan. Aku tidak tahu siapa yang sudah tidur bersamaku. Karena saat aku bangun, aku seorang diri.” Hadi diam, lalu mendesah pelan. “Aku memang bodoh. Bagaimana bisa aku tidak tahu apa yang aku makan dan minum sampai tertidur begitu.”
“Seseorang pasti memasukkan obat ke dalam makanan atau minumanmu di tempat kamu bertemu dengan Colin. Kamu menggunakan istirahat makan siang bersamanya, ‘kan?” tanyaku menolong mencari tahu apa yang terjadi.
Dia mengiyakan. “Tetapi tidak ada satu orang pun yang aku kenal di kafe itu. Aku maupun Colin juga tidak pernah meninggalkan kursi kami.”
“Bisa jadi pelayan yang membuat minuman atau makanan yang melakukannya.” Aku mengangkat kedua bahuku. “Siapa menurut kamu yang punya niat buruk terhadap kamu?”
“Sayang, ada banyak gadis muda sampai wanita berumur di luar sana yang ingin menikah denganku. Daftarnya terlalu panjang untuk ditelusuri satu per satu,” ucap Hadi frustrasi.
“Kalau begitu, kamu masih punya satu cara terakhir. Memeriksa CCTV hotel di mana kamu berada. Mereka pasti tahu siapa yang membawa kamu ke sana,” kataku memberi usul. “Aku tahu kamu tidak punya wewenang untuk melakukan itu. Tetapi Om Hendra bisa.”
Hadi tiba-tiba saja mencium pipiku. “Kamu yang terbaik, sayang!” Dia bergerak melakukan sesuatu, tetapi aku tidak tahu apa. “Aku akan menghubungi Papa dan—” Dia mendadak terdiam.
“Ada apa, Hadi?” tanyaku heran. Dia berhenti bergerak, tetapi juga tidak mengatakan apa pun. “Jangan hanya diam saja. Katakan, apa yang kamu pikirkan?”
“Papa pasti sudah tahu apa yang terjadi. Dia sengaja membiarkan aku bingung sendiri. Tetapi siapa yang sudah menjebak aku sehingga Papa hanya diam saja?” Hadi terdengar serius. “Aku akan bicara dengan Papa sekarang. Sampai besok, ya, sayang.”
Aku segera menahan tangannya ketika dia berniat berdiri. “Kamu punya banyak waktu dengan Om Hendra nanti. Kamu sudah datang ke sini, jangan pergi secepat ini,” pintaku setengah membujuk.
“Baiklah, sayang.” Dia kembali duduk di sisiku. Aku memeluk lengannya itu agar dia tidak bisa pergi. Dia tertawa kecil. “Aku hampir lupa. Bagaimana dengan kita? Apa kamu tidak keberatan aku sudah tidur dengan orang lain?”
“Aku sangat keberatan, tetapi kamu tidak merencanakan itu.” Aku menghela napas panjang. “Aku tidak mau kita berpisah lagi, Hadi. Kamu sudah membuktikan cintamu dengan menerima aku apa adanya. Aku tidak mau kalah darimu. Bila perempuan itu sampai berani datang dan meminta kamu untuk bertanggung jawab, kita akan laporkan dia ke polisi.”
“Melaporkan dia ke polisi?” tanya Hadi dengan bingung. “Atas tuduhan apa?”
__ADS_1
“Sayang, apa kamu tidak mengerti apa yang sedang terjadi padamu?” Aku balik bertanya. Dia hanya diam. “Bila seorang perempuan yang mengalami apa yang kamu alami, kamu menyebutnya apa?”
Cukup lama, dia hanya diam saja. Aku menunggu dengan sabar sampai dia menjawabnya. Lalu aku mendengar dia tertawa terkejut. “Tidak, Rissa. Apa maksudmu menyamakan aku dengan seorang perempuan? Tidak. Bukan itu yang terjadi padaku.”
“Laki-laki dan perempuan sama saja, sayang,” ucapku dengan lembut, menjaga agar tidak menyakiti harga dirinya. “Bukan hanya perempuan yang bisa diperkosa, laki-laki juga. Sudah banyak kasusnya, tetapi korban yang tidak mau melaporkan dengan alasan malu.”
“Kamu jangan bicara sembarangan.” Hadi melepaskan pegangan tangannya dariku. Aku menahan dengan menggenggam tangannya dengan erat.
“Hadi, kamu tidak perlu merasa malu. Perempuan atau siapa pun mereka yang seharusnya merasa malu. Dia dan rekannya sudah memberi kamu obat tidur, lalu menggauli kamu saat kamu sedang tidak sadar. Sayang, mereka yang seharusnya merasa bersalah, bukan kamu.” Aku berusaha untuk meyakinkan dia bahwa dia tidak menjadi lebih rendah, karena hal itu.
Hadi hanya diam. Aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, jadi aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Aku mengangkat salah satu tanganku dan mencari pipinya. Sebuah tangan memegangnya, menghalangi aku melakukan niatku tadi. “Bila dia berani menunjukkan dirinya di depanku suatu hari nanti. Tolong, jangan halangi aku untuk memukul wajahnya.”
“Tidak. Aku yang akan melakukannya. Kamu sebaiknya tidak memberi dia kepuasan lagi dengan menyentuh bagian tubuhnya yang mana pun. Biar aku yang memberi dia pelajaran,” kataku dengan tegas. “Lalu kita serahkan dia kepada Om Zach supaya dihukum seberat mungkin.”
Kami berdua hanya diam. Sesaat kemudian, Hadi memeluk tubuhku. Dia hanya diam, tidak bicara. Tetapi dia tidak perlu mengatakan apa pun, aku tahu apa yang sedang berkecamuk di kepalanya. Jahat sekali yang mereka lakukan terhadap dia. Hadi adalah laki-laki berharga diri tinggi. Kejadian ini tidak hanya melukai perasaannya, tetapi terlebih lagi harga dirinya sebagai seorang pria.
Dia menolak untuk makan malam bersama kami, jadi aku tidak menahannya. Aku sudah puas bisa bersamanya selama beberapa saat. Dia pasti mau berdiskusi dengan Om Hendra dan memikirkan langkah yang perlu mereka lakukan selanjutnya. Aku tidak bisa membantu dia dengan keadaanku, apalagi penglihatanku belum pulih benar.
Aku bisa kembali bersama Hadi bukanlah hal yang mudah. Aku jatuh bangun memperjuangkan yang kami miliki sekarang. Tega sekali dia menggunakan cara sekotor itu untuk mendapatkan perhatian pemuda yang aku sayangi. Hadi adalah laki-laki terhormat, bukan penjahat.
Luka yang terdengar dari suaranya menghantui aku. Seharusnya aku tidak mengatakan itu, tetapi lebih baik dia terluka sekarang agar aku yang menjadi sandarannya. Dia perlu tahu bahwa apa yang terjadi padanya itu sebuah kejahatan sadis. Dia telah dilecehkan di luar kemauannya.
Kesibukannya bekerja, menyelesaikan skripsi, dan memerhatikan aku pasti sudah membuat dia tidak menyadari hal buruk yang sudah menimpanya. Dia bahkan tidak berpikir bahwa dia bisa tahu siapa pelakunya dengan memeriksa CCTV di lobi hotel. Seperti bukan Hadi yang aku kenal. Kasihan dia. Entah siapa yang telah berbuat jahat kepadanya.
“Clarissa?” Terdengar suara seseorang dari sisi kananku. Dia segera duduk di sisiku. “Ada apa? Apa yang terjadi sampai kamu menangis?” tanya Charlotte dengan nada khawatir. “Apakah kamu dan Hadi bertengkar lagi? Itukah sebabnya dia tidak mau makan malam bersama kita?”
Aku menggelengkan kepalaku. Charlotte menggunakan sesuatu yang lembut untuk menyeka air mata yang membasahi pipiku. “A-aku takut kehilangan dia, Charlotte.” Aku terisak.
Merasakan dia memeluk aku, maka aku membalas pelukannya. “Apakah Hadi melakukan sesuatu sehingga kamu memutuskan hubungan kalian lagi?” Dia mengusap-usap punggungku.
“Tidak. Kami masih bersama.” Aku melepaskan pelukanku. “Aku belum bisa menceritakan kepadamu apa yang telah terjadi. Tetapi kamu akan segera mengetahuinya.”
__ADS_1
“Aku mengerti. Hubunganmu dengan Hadi adalah urusan kalian berdua, aku tidak akan memaksa kamu menceritakan segalanya.” Dia membelai pipiku. “Ada yang perlu Kakek sampaikan kepada kita semua.” Begitu Charlotte mengatakan kalimat itu, barulah aku menyadari ada orang lain yang di kamarku selain adikku.
“Kakek?” tanyaku sambil mengulurkan tangan. Sebah bayangan mendekat, tetapi merasakan tangan yang membalas uluran tanganku, itu bukan milik Kakek. “Nenek.”
“Iya, sayang.” Nenek duduk di sebelah kiriku. “Kami memeriksa apa yang terjadi kepadamu kemarin lewat CCTV di depan kamarmu. Kamu jatuh bukan karena keteledoranmu. Seorang pelayan kita yang mendorong kursi rodamu sampai terpeleset di puncak tangga.”
*******
Sementara itu di sebuah rumah~
“Di mana Papa, Ma?” tanya Hadi kepada Zahara yang hanya duduk sendirian di ruang keluarga.
“Sedang ke toilet,” jawab Zahara sambil menatap putranya itu dengan saksama. “Ada apa, Nak? Mengapa kamu terlihat risau? Apakah terjadi sesuatu lagi di rumah Clarissa?”
Hadi menggelengkan kepalanya. “Tidak, Ma. Rissa baik-baik saja. Aku perlu menanyakan hal yang sangat penting kepada Papa.”
“Pertanyaan apa?” tanya Hendra yang memasuki ruangan itu dengan santai. Dia duduk di sebelah istrinya dan meletakkan tangannya di sandaran sofa.
“Papa sudah tahu apa yang terjadi di kamar hotel itu,” ucap Hadi setengah menuduh. “Mengapa Papa hanya diam saja dan tidak mengatakan apa pun kepadaku?”
“Perempuan itu diam dan tidak menunjukkan dirinya kepadamu sampai hari ini. Dia pasti sudah punya rencananya sendiri. Aku juga diam untuk alasan yang sama,” jawab Hendra dengan tenang. “Aku tidak memberi tahu kamu agar kamu mengikuti rencananya.”
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Pa? Siapa perempuan kurang ajar itu?” desak Hadi.
“Kamu akan mengetahuinya ketika saatnya tiba. Aku tidak mau rencana mereka rusak begitu saja. Aku membutuhkan semua bukti dan pengakuan untuk memenjarakan mereka,” kata Hendra yang menolak permintaan putranya. “Percaya kepadaku, Nak. Aku tidak akan menyakiti kamu dengan sengaja. Kamu akan mengetahui semuanya pada saatnya nanti.”
“Apa Papa tahu apa yang sedang Papa pertaruhkan? Hubunganku dengan Rissa. Dia sudah punya banyak masalah, aku tidak mau membebani dia dengan ini. Tolong, Pa, beri tahu aku. Apa yang terjadi di kamar hotel itu.” Hendra hanya diam seribu bahasa.
“Sayang,” ucap Zahara ikut membujuk suaminya. Hendra masih menutup mulutnya.
“Papa egois! Yang Papa pikirkan hanya diri Papa sendiri. Bagaimana dengan nasibku dan Rissa?? Apa Papa tidak peduli dengan kekalutanku? Bagaimana kalau ternyata perempuan itu hamil dan aku dipaksa untuk menikahi dia? Padahal aku yang dilecehkan, bukan dia. Bagaimana nasibku nanti, Pa?”
__ADS_1