Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 79 - Ibu yang Baik


__ADS_3

*Colin*


Aku sangat mengagumi ibuku. Walaupun dia bukan ibu kandungku, dia menyayangi aku sama seperti dia mengasihi putrinya sendiri. Bahkan dalam banyak kesempatan, dia lebih memilih untuk berpihak kepadaku daripada Lily. Dan adikku tidak pernah cemburu dengan itu.


Ibu kandungku meninggal karena menderita kanker. Aku tidak punya banyak kenangan tentang dia karena aku masih sangat kecil saat dia pergi untuk selamanya. Tetapi dari cerita Dad, aku tahu bahwa dia adalah seorang wanita yang baik dan pejuang. Sampai napas terakhirnya, dia tidak berhenti melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya tersebut demi aku.


Dad menyimpan semua foto dia bersama ibu dalam beberapa album. Fotonya bersama aku yang masih kecil juga tersimpan dengan baik. Setiap kali Dad ingin bercerita, maka dia menggunakan semua album itu untuk memperkenalkan ibuku kepadaku.


Wajah Mom sangat mirip dengan kakak perempuannya. Bahkan tubuh mereka mirip, hanya sifat mereka saja yang berbeda menurut orang-orang yang mengenal mereka, termasuk Dad. Jadi, aku sering membayangkan Mom saat melihat bibiku itu.


Dari bisik-bisik yang aku dengar dari orang dewasa di sekitar keluargaku, Aunt Chelsea menyukai Dad. Sayangnya, Dad tidak punya perasaan apa-apa kepadanya selain hormat dan sayang kepada kakak dari mendiang istrinya. Karena itu bibiku adalah salah satu orang yang menentang pernikahan Dad dengan Mama. Untungnya, keluarga Dad mendukung penuh keputusan Dad tersebut.


Aku sangat beruntung Dad tidak menyerah dan memberikan aku seorang ibu yang sangat baik. Di tengah kesibukannya sebagai sekretaris Uncle Hendra, Mama berusaha memenuhi kebutuhanku akan kasih sayang seorang ibu. Dia bahkan memberi aku seorang adik yang aku damba-dambakan. Aku tidak lagi cemburu pada Hadi yang punya adik perempuan sejak aku memiliki Lily.


“Ada apa kamu melihat aku seperti itu, Colin? Cepat habiskan sarapanmu, aku tidak mau terlambat tiba di tempat kerja.” Mama melirik jam tangannya. Aku hanya tertawa kecil.


“Mengapa Mama takut terlambat? Aku sedang libur, biar aku saja yang mencuci piring. Mama bisa pergi ke kantor dan menyerahkan urusan apartemen padaku,” kata Lily dengan santai.


“Ah, iya. Aku lupa. Kamu yakin kamu bisa membereskan rumah hari ini? Bukankah kamu perlu belajar untuk persiapan ujian minggu depan?” tanya Mama memastikan.


“Aku tidak mungkin belajar terus sepanjang hari, Ma. Aku juga perlu mengistirahatkan mata dan otakku.” Lily mengambil satu potong roti isi lagi dari atas piring saji.


“Sepertinya sudah saatnya kita berlibur lagi, darling. Kamu terlihat sangat tertekan belakangan ini. Masa kamu lupa dengan putri kita yang sedang libur?” Dad memijat pelan leher Mama.


“Aku ingin sekali berlibur bersama kalian, tetapi Pak Mahendra sudah meminta agar aku menunda rencana libur dalam waktu dekat. Dia punya kesepakatan bisnis bernilai miliaran rupiah yang harus ditangani dengan hati-hati. Aku tidak mungkin mendelegasikan hal sepenting ini pada orang lain. Jadi, aku yang harus membantunya secara langsung.” Mama mendesah pelan.


“Tidak apa-apa, Ma. Kita bisa berlibur setelah aku selesai ujian. Atau kita bisa menunggu sampai liburan musim panas agar bisa berkunjung ke rumah Grandpa dan Grandma lagi,” usul Lily.

__ADS_1


“Kita tidak akan pergi ke rumah orang tuaku saat berlibur nanti. Aku ingin membawa kalian ke tempat yang sangat indah. Kita berempat saja menikmati waktu bersama.” Dad menatap kami sambil tersenyum penuh arti.


“Ke mana, Dad?” tanya Lily antusias. “Apakah kita akan ke kota besar, tempat terpencil, pantai, atau ke gunung? Tempatnya di luar negeri atau di Indonesia?”


Kami semua tertawa melihat wajahnya yang sangat ceria. “Kamu harus menunggu sampai kita tiba di sana, karena aku tidak akan mengatakan apa pun sampai harinya tiba. Ini kejutan untuk kalian.”


“Aku benar-benar akan terlambat bila aku tidak berangkat sekarang.” Mama melirik jam tangannya lagi. “Jaga dirimu baik-baik, Lily. Jangan terlalu banyak belajar, oke? Apa pun hasil ujianmu nanti, kami tetap bangga padamu.” Mama berdiri, lalu mencium puncak kepala adikku.


Dad meneguk kopinya hingga habis dan ikut berdiri bersama Mama. “Jangan khawatir. Kamu tidak akan terlambat. Lalu lintas belum terlalu padat pada jam ini.” Dad mengambil kunci mobilnya yang ada di konter dapur. “Kami berangkat, jaga diri kalian baik-baik.”


Aku dan Lily serentak membalas ucapannya. Kami menghabiskan sarapan kami sebelum aku juga pamit untuk berangkat ke kampusku.


Selama tiga hari ini, Lily tidak sekolah karena ruang belajarnya digunakan untuk pelaksanaan ujian akhir siswa kelas tiga SMU. Dia dan Adi sama-sama kelas tiga SLTP, maka giliran mereka mengikuti ujian adalah minggu berikutnya.


Lily adalah gadis yang cerdas, jadi kami tidak khawatir dengan hasil belajarnya. Apalagi sekolahnya sudah mengadakan les tambahan khusus agar semua murid kelas tiga bisa mempersiapkan diri menjelang hari ujian besar tersebut. Punya ayah seorang pendidik memang memberi keuntungan tersendiri bagi kami berdua. Dia memberi kami banyak tips belajar yang efisien.


Tiba di ruang kuliah, aku merasakan hawa tidak nyaman datang dari Hadi. Sudah beberapa minggu ini suasana hatinya sangat buruk. Ada saat di mana dia tertawa lepas tidak peduli dengan orang yang menatapnya dengan bingung. Ada juga saat di mana dia marah-marah tanpa sebab persis seperti Mama dan Lily yang sedang datang bulan.


“Kamu bisa berhenti menatap aku seperti itu. Aku menyukai kamu, tetapi hanya sebatas sahabat. Tidak lebih. Dan satu lagi, aku menyukai perempuan dan sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki,” semprotnya saat aku duduk di kursi di belakangnya.


“Ampun, Hadi. Masih pagi dan kamu sudah marah-marah begini? Apa kamu sudah sarapan sebelum berangkat ke sini?” tanyaku sambil berdecak pelan.


“Selamat pagi, Hadi, Colin,” sapa Valeria yang mendekati tempat duduk di samping Hadi. Aku segera berdiri dan menduduki kursi itu sehingga dia harus mencari kursi yang lain. “Colin, apa yang kamu lakukan? Kembali ke kursimu tadi. Aku yang lebih dulu ingin duduk di sini.”


“Percayalah, Valeria. Aku sedang menyelamatkan nyawamu dengan melakukan hal ini. Cari tempat duduk yang lain.” Aku menggerakkan tanganku seperti mengusir nyamuk.


“Tidak. Aku yang lebih dahulu ingin duduk di sini. Bangun, kembali ke kursimu tadi!” Valeria menarik tanganku agar aku berdiri, tetapi tenagaku jauh lebih kuat darinya. “Colin!”

__ADS_1


“Cari kursi yang lain, Valeria. Aku tidak akan berdiri dari tempat ini,” kataku dengan tegas. Gadis itu menghentakkan kakinya dengan kesal dan duduk di kursi yang tadi aku duduki.


Dua mata kuliah pertama berjalan dengan lancar. Kami mengumpulkan tugas yang diberikan dosen pada minggu lalu dan mendiskusikan topik itu pada mata kuliah terakhir. Tidak seperti kebiasaan Hadi sebelumnya, dia selalu pulang setiap kali kuliah selesai. Dia memilih untuk belajar di rumah daripada perpustakaan kampus.


Aku kadang-kadang melakukan hal yang sama. Tetapi Lily sedang belajar di apartemen, jadi aku lebih memilih untuk belajar di perpustakaan. Kami tidak akan bisa belajar tanpa pengawasan salah satu orang tua kami. Aku dan Lily akan saling mengganggu sampai tidak satu pun dari kami yang berhasil mempelajari buku yang kami baca.


Jujur saja, aku tergoda untuk melakukan itu. Sudah lama kami tidak bertengkar hebat, tetapi semester genap akan segera berakhir dan aku belum mendapatkan lampu hijau untuk proposal yang sudah aku ajukan. Setidaknya sebelum ujian semester, aku harus mengikuti ujian proposal.


“Aw!” Aku mendengar pekikan seorang perempuan saat melewati bagian belakang gedung jurusan menuju perpustakaan.


“Hei!” seru suara seorang gadis yang lain atau gadis yang sama, aku tidak tahu. Tetapi suaranya terdengar berbeda dengan suara yang pertama. “Kamu menabrak temanku, jangan langsung kabur tanpa meminta maaf.”


Aku memutar bola mataku, meniru kebiasaan Dira mendengar kalimat tersebut. Mereka pikir berapa usia mereka sekarang? Sepuluh tahun? Mengapa mereka memperbesar tabrakan kecil yang aku yakin dilakukan secara tidak sengaja? Bukan urusanku, jadi aku melanjutkan langkahku.


“Kamu lihat sendiri dia yang sengaja menabrak aku, bukan sebaliknya.” Suara itu menghentikan langkahku. Clarissa. Apa yang dilakukan para gadis itu kepada Clarissa?


“Sombong sekali kamu. Cepat, minta maaf pada temanku!” Suara gadis yang ketiga mendapatkan perhatianku sepenuhnya. Valeria? Apa yang dia lakukan pada Clarissa?


“Valeria, mungkin kamu perlu memberi tahu dia siapa yang sedang dilawannya.” Suara gadis kedua itu membenarkan tebakanku. Aku tidak tahu mengapa aku harus mendekati mereka dengan langkah terjingkat-jingkat, tetapi aku bersembunyi di balik tembok untuk mencari tahu apa yang terjadi.


“Mungkin dia berpikir bahwa dia bisa berbuat seenaknya di kampus ini karena Hadi melindunginya. Lihat saja, dia tidak tahu malu tetap kuliah di kampus ini setelah kedoknya sebagai ayam kampus terbongkar,” kata gadis yang aku yakin adalah gadis yang mengaduh kesakitan tadi.


Jadi, itu masalahnya. Valeria cemburu pada kedekatan Hadi dengan Clarissa sehingga dia melakukan ini. Sepertinya belum banyak orang yang tahu bahwa hubungan mereka sudah berakhir. Tetapi apa yang mereka lakukan sangat rendah. Tidak seharusnya mereka percaya saja pada media yang menyebar berita bukan dari sumber utama. Clarissa bukan ayam kampus.


“Minta maaf kepada temanku, sekarang!” desak Valeria.


“Mengapa bukan kamu saja yang membuat aku mengucapkan maaf?” tantang Clarissa.

__ADS_1


Wow. Aku mengacungkan jempol terhadap keberanian Valeria mencari masalah dengan Clarissa sebelum mencari tahu apa dia bisa melindungi diri sendiri atau tidak. Menarik. Aku keluar dari balik tembok agar bisa melihat kejadian itu dengan leluasa.


“Cepat, minta maaf!” Valeria mendorong bahu Clarissa dengan keras hingga dia mundur satu langkah. Clarissa hanya diam. “Baik. Kamu yang meminta aku melakukan ini.”


__ADS_2