
Mendengar ucapan Laras yang tegas dan tidak bisa dibantah, Reese akhirnya diam. Dia pergi menuju pintu masuk hotel sambil menggerutu. Asisten dan teman-temannya mengikuti dia dengan langkah cepat. Aku dan Laras saling bertukar pandang, dia mendesah pelan.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Laras kepada Wendy. Sahabatku itu mengangguk pelan dengan wajah tetap menunduk. “Tidak apa-apa. Aku tahu ini bukan salahmu. Dan maafkan aku, semua minuman ini jadi terbuang sia-sia.”
“Saya juga minta maaf tidak berhati-hati tadi,” ucap Wendy. Dia berjongkok dan membantu rekan-rekannya mengumpulkan gelas kertas yang jatuh di rumput.
“Apakah masih ada kopi yang sama dengan pesanan kami tadi?” tanya Laras penuh harap.
Wendy menoleh ke arah temannya, pemuda itu mengangguk cepat. “Masih ada. Saya akan ambilkan sekarang. Enam gelas, benar?”
“Benar sekali,” kata Laras dengan riang. “Terima kasih.” Dia menoleh ke arahku setelah Wendy pergi. “Kamu kenal dengan dia?”
“Iya. Dia teman sekelasku di sekolah. Aku terkejut dia ada di sini. Ternyata kamu memesan kopi kesukaanmu dari tempatnya bekerja.” Aku melihat ke arah meja di mana noda kopi tadi berada. Pelayan hotel sudah menggantinya dengan taplak meja yang baru.
“Tentu saja. Pesta ini kurang meriah tanpa menyajikan makanan dan minuman kesukaan yang berulang tahun. Apalagi aku tidak akan berumur tujuh belas tahun selamanya.” Dia melirik ke arah orang tuanya yang tersenyum sambil menggelengkan kepala mereka.
“Terima kasih sudah membantu temanku. Kalau tidak, Reese akan terus mencecarnya tanpa henti.” Aku tersenyum kepadanya. Laras mengangguk pelan.
“Aku tidak mungkin tinggal diam melihat ada orang seenaknya merusak pestaku. Sudah jelas dia yang salah, malah dia yang marah-marah.” Laras mendesah pelan. “Kalau bukan karena Pak Billy yang meminta kita semua menjaga hubungan baik dengan model dari agensi lain, aku tidak sudi mengundangnya pada acaraku ini.”
“Baiklah.” Aku merasakan Kak Hadi menatapku dengan bosan dari sudut mataku, mengingatkan aku bahwa sudah saatnya kami pamit. “Aku dan kakakku pamit pulang, ya. Makanannya enak dan pesta ini sangat meriah. Sekali lagi, selamat ulang tahun untukmu.”
“Terima kasih, Dira.” Laras menerima uluran tanganku, lalu mengangkat tas pemberianku. “Juga terima kasih untuk kado yang indah ini. Aku sangat suka.” Dia menoleh ke sekitar kami. “Untung saja tidak ada Reese. Kalau tidak, dia akan cemburu mendengar aku memuji hadiah darimu.”
Aku tidak tahu harus berkata apa mengenai hubungan aku dan Reese. Sepertinya setiap yang aku lakukan salah di matanya. Atau dia akan menganggap bahwa aku berusaha menjadi yang lebih baik darinya. Entah sejak kapan dia mulai bersaing secara tidak sehat denganku.
__ADS_1
Vikal berjalan di sisiku saat kami menuju hotel. Kami tidak bisa menuju pintu keluar bila tidak melewati lobi. Kak Hadi berjalan di belakang kami dan menggerutu setiap kali ada yang mendekati dia dan mengajaknya bicara. Aku dan asistenku tertawa geli melihat tingkahnya.
“Berhenti! Kamu tidak bisa lari dari tanggung jawab! Bayar ganti rugi baju dan tasku!” pekik suara yang aku kenal, datang dari arah kanan depan kami.
Lagi-lagi Reese berjalan cepat mengikuti Wendy dengan wajah memerah karena amarah. Sebelum tangannya yang terulur berhasil mencengkeram rambut sahabatku dari belakang, Vikal dan Kak Hadi segera berdiri melindunginya. Melihat Wendy tidak membawa baki, aku mendesah lega. Dia bisa dimarahi atasannya bila sampai membuang minuman lagi.
“Minggir! Jangan halangi jalanku!” ucap Reese dengan sengit pada kedua pria yang menghalanginya untuk mendekati sahabatku.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku yang berdiri di dekat Wendy. Sahabatku itu menganggukkan kepala dan melihat ke arah gadis yang sedang berang itu dengan takut.
“Cepat suruh teman sialanmu membayar ganti rugi yang aku alami, Dira! Atau kamu akan menyesal telah membantu dia merusak gaunku!” Reese berusaha untuk melewati Vikal dan Kak Hadi.
“Sudah cukup, Reese.” Seorang pria berdiri di samping rivalku itu dan memegang tangannya. “Kamu sudah cukup mempermalukan dirimu sendiri malam ini.”
“Mempermalukan?? Aku tidak—” ucap Reese membela diri. Tetapi dia tidak berusaha melepaskan diri dari pria tersebut.
“Tapi aku harus melakukan sesuatu dengan baju ini. Pakaian ini rusak karena pelayan idiöt itu! Aku tidak mau membayar mahal untuk ganti rugi, Sam. Baju ini harganya sangat mahal!” pekik Reese panik. Apa? Jadi, keributan yang dia sebabkan ini hanya karena baju yang dia pakai adalah pinjaman?
“Aku akan membantu kamu bicara dengan pihak sponsor. Ayo, saatnya pamit pada Laras.” Pak Sam menarik lengannya, tetapi Reese menahan diri agar pria itu tidak bisa menyeretnya bersamanya.
“Janji?” tuntut Reese sedikit memaksa. Pria itu mendesah pelan, lalu menganggukkan kepalanya. Gadis menjengkelkan itu menatap tajam ke arah Wendy dan aku. Seolah-olah mengatakan bahwa masalah di antara kami belum selesai.
Vikal segera mendekati Wendy begitu Reese dan Pak Sam berada jauh dari kami. Dia memeriksa keadaan sahabatku itu. Aku menoleh ke arah Kak Hadi yang menggeleng pelan tidak percaya. Aku tersenyum tipis, merasa tidak enak sudah membuat dia harus menyaksikan semua itu.
Wendy harus kembali bekerja, tetapi dia berjanji akan menjauh dan menghindari Reese bila ternyata dia masih mengikuti acara. Kami bertiga melanjutkan tujuan kami ke tempat parkir dengan keluar melalui pintu utama. Suasana di depan hotel sudah sepi, tidak ada lagi wartawan yang berebut mengambil foto para undangan.
__ADS_1
“Colin tidak pernah mengeluh ada drama setiap kali dia menemani kamu menghadiri acara seperti ini. Mengapa selalu terjadi bila aku yang datang bersamamu?” keluh Kakak saat kami sudah berada di dalam mobil. “Lain kali kamu ajak temanmu yang lain saja. Atau asistenmu. Aku jera.”
“Maafkan aku, Kak. Tetapi aku tidak bisa memenuhi permintaan itu. Aku tidak mungkin mengajak Hadi karena dia masih di bawah umur. Sebelum dia genap tujuh belas tahun, Papa dan Mama tidak akan mengizinkan dia menemani aku menghadiri acara apa pun. Jadi, selama dua tahun ke depan, Kakak adalah pendamping utamaku.” Kakak menggeram pelan, tidak melanjutkan perdebatan kami. Dia tahu bahwa yang aku katakan itu benar.
Dia merogoh saku jasnya dan meletakkan sesuatu di telapak tanganku. Ketika dia mengangkat tangannya, aku melihat beberapa kartu nama di atas tanganku. Aku melihat nama pada kartu tersebut dan tertawa terbahak-bahak.
“Aku senang kamu bahagia atas penderitaanku,” ucap Kak Hadi sarkas.
“Tolonglah, Kak. Jangan mulai drama. Ini hanya kartu nama, apa yang Kakak takutkan? Kalau Kakak tidak mau menjadi model mereka, tolak saja. Aku yakin mereka tidak akan tersinggung.” Aku menyimpan semua kartu nama itu ke dalam tasku.
“Mudah bagimu untuk bicara. Aku yang harus menghadapi mereka yang memohon hingga nyaris berlutut agar aku menjawab iya.” Kakak mendesah kesal. “Aku tidak tertarik menjadi model. Mengapa mereka tidak juga mengerti?”
“Karena Kakak punya potensi. Apa Kakak tidak pernah memerhatikan cermin? Reese yang terkenal ketat dalam menyeleksi pemuda idamannya saja tertarik pada Kakak.” Aku tertawa mengingat raut muka rivalku itu saat melihat Kakak untuk pertama kalinya.
“Aku tidak merasa bangga sedikit pun disukai gadis pembuat kekacauan itu. Ada yang salah dengan kepalanya. Wendy yang banyak dirugikan, tetapi dia yang bertingkah layaknya korban.”
“Dia memang selalu begitu, tidak perlu terkejut.” Aku menoleh ke arah Kakak. “Ngomong-ngomong, ada apa antara Kakak dengan Vikal? Kalian sedang bertengkar?”
“Aku kecewa dengan sikapnya dan atasanmu. Kecelakaan yang kamu alami di lokasi pemotretan dan syuting bukanlah hal yang normal. Hal buruk itu terjadi lebih dari dua kali, jadi ini bukan kecelakaan biasa. Jelas sekali ada yang berusaha untuk mencelakai kamu dan mereka tidak serius menyelidiki hal ini. Aku sudah ada di ujung kesabaranku hingga hampir mengadukan ini pada Papa.” Aku melihat tangan Kakak menggenggam erat roda setir.
Aku selalu berpikir bahwa semua kejadian buruk itu hanya kecelakaan. Itu hal yang biasa terjadi, tetapi aku mulai memahami apa yang Kakak katakan. Rekan-rekanku sesama model tidak mengalami kecelakaan serupa. Hanya aku yang mengeluhkan kejadian tersebut. Bisa jadi memang ada orang yang sengaja merencanakan semua ini.
“Tetapi aku tidak punya musuh,” gumamku pelan.
Kakak mendengus keras. “Salah satunya tadi baru saja membuat drama tidak penting di hotel. Kamu punya musuh lebih banyak dari yang kamu duga, Dira. Kamu hanya terlalu baik untuk menyadarinya. Bahkan jika ternyata Wendy adalah musuh di dalam selimut, aku tidak akan terkejut.”
__ADS_1
“Wendy tidak akan melakukan itu, Kak,” kataku dengan tegas. “Iya, untuk temanku yang lain, tetapi tidak dengan Wendy. Kami telah melalui banyak hal bersama, dia tidak akan mengkhianati aku.”
“Colin yang kamu kenal dan cintai sejak kecil saja berkhianat. Apalagi Wendy yang baru kamu kenal saat kamu SMU.” Kalimat tajam Kakak itu membuat air mataku mendesak untuk keluar.