
*Colin*
Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat di hadapanku. Dira mengembalikan warna natural rambutnya. Dia tidak lagi berambut cokelat. Hadi benar. Bagi Dira, hubungan kami sudah berakhir dan tidak ada harapan untuk kembali bersama.
Siapa yang sedang aku bohongi? Bukankah aku melakukan semua ini karena aku sudah yakin dengan keputusanku sendiri? Mengapa aku mendadak ragu setelah apa yang aku harapkan terjadi? Misiku berhasil, bukankah itu yang paling penting?
Hadi duduk di kursi bagian tepi sehingga dia menutupi tubuh Dira dari pandanganku. Kesempatan datang ketika dia berdiri dan menuju bagian belakang kafe. Aku segera menyiapkan ponselku dan mengambil beberapa foto Dira. Hasilnya tidak terlalu bagus karena jarak kami cukup jauh, tetapi siapa pun bisa melihat bahwa itu adalah dia.
Aku mengirim pesan kepada seorang wanita yang menunggu kabar baik dariku. Dia membalas dengan cepat dan memberikan waktu serta tempat bagi kami untuk bertemu pada malam ini. Aku melirik jam tanganku. Lokasinya cukup jauh, jadi aku akan butuh waktu untuk tiba di sana. Aku yakin kami tidak akan bicara banyak, jadi aku tidak akan ketinggalan jadwal perang dalam game malam ini.
“Kamu tidak apa-apa, Colin?” tanya teman yang duduk di sampingku. Aku mengangguk. “Kami tidak keberatan andai kamu mau duduk bersama pacarmu. Lagi pula kita hanya bersantai sambil bermain bersama, jadi jangan sungkan.”
Aku kembali hanya menganggukkan kepalaku. Kami datang bersama, maka kami duduk bersama. Lagi pula aku sudah berjanji pada Dira bahwa aku tidak akan muncul di hadapannya untuk beberapa hari ke depan. Kami sama-sama membutuhkan waktu untuk menjaga jarak setelah hubungan kami berakhir. Tetapi teman-temanku tidak tahu bahwa aku dan dia sudah tidak bersama lagi.
Hadi dan kedua adiknya pulang lebih dahulu. Dia dan Adi pamit kepadaku, hanya Dira yang melengos begitu saja menuju pintu keluar. Sikap yang pantas untuk aku dapatkan. Teman-teman kemudian mengajak bubar yang aku sambut dengan senang hati. Aku perlu menemui seseorang segera.
“Kamu seharusnya tidak melakukan itu pada Dira,” ucap Wendy yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sisiku, bersiap untuk membersihkan meja yang kami gunakan. “Kamu akan menyesal sudah melepas dia begitu saja. Dan sebagai pemberitahuan untukmu, ada banyak pemuda yang mengantri untuk menjadi pacarnya.” Wendy mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
“Aku pergi,” kataku tanpa meresponsi ucapannya itu.
Dia tidak perlu menambah garam pada lukaku yang masih menganga lebar. Aku tahu bahwa aku telah melakukan kesalahan dengan melepas dia. Aku juga tahu bahwa ada banyak pemuda yang akan segera memanfaatkan situasi ini untuk menjadi pacarnya. Tetapi aku melakukan ini untuk kebaikannya sendiri. Aku tidak sejahat yang orang-orang duga.
Tiba di restoran yang dimaksud, aku memarkirkan sepeda motor, lalu menitipkan helmku pada pos yang telah disediakan. Aku mencari-cari mereka di dalam restoran. Melihat seorang pria mengangkat tangannya, aku mendekati meja tersebut.
“Apa kabarmu, Colin? Silakan pesan makananmu, lalu kita bicara,” ucap wanita berambut pendek sebahu itu saat aku duduk di seberang mereka.
“Tidak, terima kasih. Aku tidak bisa lama-lama.” Aku mengeluarkan ponselku dari saku celanaku dan menunjukkan bukti yang mereka minta.
__ADS_1
“Wow, kamu berkata benar. Dia akan mengecat rambutnya dengan warna hitam begitu kalian putus hubungan. Apa foto ini asli? Kamu tidak sengaja mengubah warna rambutnya, ‘kan?” kata wanita itu curiga. Aku segera membuka video singkat yang ada di ponsel itu yang sempat aku ambil di kafe tadi.
“Lihat tanggal dan waktunya baik-baik. Seorang yang profesional pun butuh waktu untuk mengedit video sesempurna ini. Warna rambut itu asli, bukan editan,” kataku sedikit tersinggung. “Aku belajar ilmu manajemen, bukan komputer atau IT.”
Wanita itu tertawa. “Jangan marah-marah. Kita tidak saling mengenal, jadi wajar jika aku bersikap hati-hati. Baiklah. Kamu sudah menepati janjimu, giliran kami untuk menepati janji kami.” Dia menoleh ke arah pria yang duduk di sisinya setelah mengembalikan ponselku.
“Ini semua foto cetak dan berkas asli juga salinan dari semua foto dan video yang aku janjikan.” Pria itu meletakkan beberapa lembar foto, diska lepas, dan CD di atas meja.
“Apakah hanya ini? Bagaimana dengan semua berkas digital yang ada di laptop, komputer, atau ponsel Om? Ini foto lama, aku yakin bukan hanya ini berkas yang Om punya. Tolong, tepati janji kalian berdua,” kataku menuntut.
Pada akhir Januari lalu, mereka menyapa aku saat aku baru mengantar Dira pulang dari kencan kami. Karena aku tidak mengenal mereka, aku menolak untuk bicara. Pria di depanku ini menunjuk sebuah foto yang memperlihatkan dia dan Aunt Zahara sedang berciuman. Hari memang sudah malam, tetapi kami berdiri di bawah lampu jalan, jadi aku bisa melihat foto itu dengan jelas.
Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga Aunt Zahara melakukannya. Hubungannya dengan Uncle Hendra sangat harmonis. Mereka saling mencintai dan pada usia pernikahan yang tidak sebentar, mereka masih tergila-gila terhadap satu sama lain. Lalu bagaimana dia bisa berciuman dengan pria ini sangat tidak masuk akal bagiku.
Hadi maupun Dira tidak pernah membicarakan mengenai masa lalu orang tuanya. Aku tahu bahwa itu foto lama karena mereka berdua terlihat cukup muda pada foto tersebut. Mendengar mereka akan menyebarkan foto itu ke publik, aku memohon agar mereka tidak melakukannya. Keluarga itu sudah punya banyak masalah, aku tidak akan membiarkan mereka mengalami kesusahan lagi.
Namun aku terpaksa menurut. Bila foto itu sampai tersebar, Dira juga akan sangat menderita. Dia hanya tahu bahwa pernikahan orang tuanya baik-baik saja. Bila dia melihat foto itu, dia akan benci pada mamanya. Aunt Zahara adalah wanita baik, dia tidak pantas dipermalukan di depan umum.
Aku sudah mencari informasi sebanyak yang bisa aku dapatkan, tetapi tidak ada satu media pun yang memberitakan hal miring mengenai Aunt Zahara. Sebaliknya, berita mengenai kedua orang ini bertebaran lengkap dengan kejahatan yang telah mereka lakukan. Mereka adalah musuh keluarga Uncle Hendra. Jadi, aku tahu bahwa ancaman mereka tidak main-main.
Mengenal siapa Dira, maka aku tidak bisa menggunakan cara biasa untuk memutuskan hubungan kami. Karena itu aku memakai cara yang berbeda. Aku tahu bukti bahwa dia tidak akan menerima aku kembali adalah dengan mengembalikan penampilannya seperti semula. Hal itu sudah terjadi hari ini. Harga yang sangat mahal untuk menyelamatkan reputasi Aunt Zahara dan keluarganya. Aku bukan hanya kehilangan cinta pertamaku, tetapi juga istri masa depanku.
“Aku bersumpah bahwa semua berkas digital yang ada di gadget dan surelku sudah dihapus tanpa jejak. Aku maupun temanku tidak menyimpan berkas foto dan video ini lagi.” Pria itu berusaha untuk meyakinkan aku. “Kami adalah orang terhormat yang selalu menepati janji kami.” Tidak ada seorang penjahat pun yang akan menepati ucapan mereka sendiri.
“Baik. Aku juga minta kalian transfer uang yang aku gunakan untuk menyewa jasa gadis tersebut sekarang.” Aku menggeser secarik kertas ke depan mereka. “Ini nomor rekeningku.”
“Aku tidak mengerti mengapa kamu harus menggunakan cara ini untuk memutuskan hubungan kalian. Membayar jasamu jauh lebih mahal daripada kami yang mengerjakan semua ini sendiri,” gerutu pria tersebut. Tetapi dia mengeluarkan ponselnya, mengetikkan sesuatu pada layarnya, dan tidak lama kemudian, ponselku bergetar.
__ADS_1
“Apa kalian pikir mudah memutuskan hubungan yang sudah dijalin sejak kecil? Kalian hanya duduk santai menerima hasilnya, sedangkan aku harus menghadapi konsekuensi lanjutan dari keputusan besar yang aku lakukan. Jadi, jangan mengeluh.” Aku memasukkan semua barang yang ada di atas meja ke dalam tas ranselku. “Lagi pula kalian sudah setuju untuk menggunakan cara ini.”
“Colin benar. Kamu hanya mengeluarkan beberapa puluh juta saja sudah mengeluh. Yang penting tujuan kita sudah tercapai. Tinggal ke langkah selanjutnya,” ucap perempuan itu tidak sabar.
“Nora, tidak sekarang.” Pria itu menatap wanita di sisinya dengan tajam. Wanita itu merapatkan bibirnya, menyadari bahwa dia baru saja keceplosan.
“Langkah selanjutnya?” tanyaku sambil lalu, dengan menjaga intonasi suaraku agar tidak terkesan ingin tahu urusan mereka.
“Kamu bilang, kamu tidak bisa lama-lama. Silakan, kamu sudah bisa pergi. Urusan kita sudah selesai,” kata perempuan itu setengah mengusir aku. “Jangan lupa. Tidak boleh ada yang tahu mengenai ini.”
Mereka berdua pura-pura sibuk menyantap makanan mereka, sinyal bahwa mereka sudah tidak membutuhkan aku lagi. Karena urusan kami memang sudah selesai, aku berdiri dan pergi dari tempat itu. Tetapi saat aku sudah berada di luar restoran, aku menunggu dengan sabar di balik tembok pagar di ujung restoran tersebut.
Aku tidak percaya apa yang mereka berikan kepadaku adalah semua berkas yang mereka punya. Aku harus mengikuti pria itu dan mencari tahu di mana dia tinggal. Temanku yang mengerti mengenai IT pasti bisa menolong aku memeriksa semua gadget miliknya. Aku harus menghapus semua bukti perselingkuhannya dengan Aunt Zahara.
*******
Author’s Note~
Akhirnya, muncul lagi orang dari buku pertama. Teman-teman pasti sudah bisa menebak, dong, siapa pria dan wanita yang ditemui Colin. Duuh, jadi tidak sabar melihat bagaimana reaksi Hendra kesayanganku nanti saat tahu siapa yang berada di balik rusaknya hubungan putrinya dengan tunangannya. Go, go, Hendra.
Oh, iya. Salah. Buku ini bukan tentang dia lagi.
Bagaimana reaksi Hadi dan Dira saat mereka tahu alasan Colin memutuskan hubungan, ya? Dimaafkan atau dikerjai dahulu baru dimaafkan? Hihi … Lanjutannya akan aku publikasikan besok. Selamat berakhir pekan, teman-teman.
Salam sayang,
Meina H.
__ADS_1