Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 45 - Hasil Tes


__ADS_3

Ketika dia tersenyum, jantungku rasanya berhenti berdetak. “Kamu dan Aunt Claudia adalah cucu dan nenek kandung. Mereka juga membandingkan hasil dari sampelmu dengan milik Om Matias dan Aunt Abby. Mereka adalah orang tua kandungmu.”


Aku berteriak histeris mendengarnya, lalu memeluk tubuhnya sambil melompat bahagia. Oh, Tuhan. Terima kasih! Pencarianku berakhir sampai di sini. Aku adalah Clarissa, bukan Mila yang tidak jelas asal-usulnya. Aku punya orang tua. Aku punya keluarga.


Perasaan bahagia yang meluap-luap itu tidak sanggup untuk aku tanggung sehingga aku begitu emosional dengan tertawa sambil menangis. Setelah waswas karena hasil tes pertama negatif, aku sempat berpikir bahwa ditundanya hasil tes kedua adalah karena hasilnya sama. Aku sudah sempat khawatir bahwa pencarianku masih panjang.


“Hei, kita masih ada di kampus dan semua orang yang lewat memerhatikan kita,” ucap Hadi pelan. Menyadari bahwa wajahku pasti basah dengan air mata, aku tidak mau melepaskan pelukanku. “Mila, aku tidak bisa berjalan ke mobilku kalau kamu terus memeluk aku seperti ini.” Aku tetap tidak mau melepaskan pelukanku.


“Perempuan yang sedang emosional memang selalu merepotkan,” gerutunya. Dia merangkul bahuku, lalu mengajak aku berjalan bersamanya. Setelah menolong aku masuk ke mobilnya, dia menutup pintu di sisiku.


Aku tahu di mana terletak tisu, maka aku meraihnya tanpa menjauhkan tanganku dari wajahku dan mengambil beberapa lembar untuk mengeringkan mukaku yang basah. Tidak peduli dengan Hadi yang duduk di sisiku, aku membuang ingus pada tisu tersebut. Dia tertawa kecil.


“Mengapa kamu tertawa?” tanyaku dengan suara hidung. Aku lebih baik dilihat orang melakukan hal yang paling memalukan sekalipun daripada menunjukkan sisi lemahku yang sedang menangis.


“Aku baru kali ini bertemu seorang gadis yang tidak peduli harus mengeluarkan bunyi itu saat ada orang lain di dekatnya.” Dia kembali tertawa.


“Hidungku tersumbat. Aku lebih baik menahan malu daripada menahan napas,” ucapku tidak mau kalah. Aku membersihkan hidungku sekali lagi sebelum menyimpan tisu bekas itu ke tasku.


“Kita ke apartemen kamu?” tanyanya sambil mengendarai mobil keluar dari pekarangan fakultas kami. Aku menjawab iya. “Apa kamu perlu kardus atau tas lain untuk membawa sisa barangmu?”


“Ng, tidak. Barangku tidak banyak. Hanya ada satu koper pakaian dan satu kardus keperluan kuliah saja yang ada di apartemen.” Aku mengeluarkan botol berisi air dan meminumnya.


“Bagaimana dengan sepatu, sandal, tas?”

__ADS_1


“Aku hanya punya satu sepatu kets yang aku pakai, selebihnya tidak pernah aku keluarkan dari koper sejak pindah. Tas dan sandal juga masih ada di koper.” Aku memasukkan botol itu kembali ke tasku. “Aku hanya perlu bicara dengan pengurus gedung mengenai penghentian sewa unit. Kalau mereka tidak mau memberi uangku kembali, maka aku akan kembalikan kuncinya setelah satu bulan berlalu.”


Sampai di apartemen, aku memasukkan semua peralatan mandi ke sebuah tas plastik kecil. Lalu mengambil handuk yang aku jemur di balkon dan memasukkan kedua benda itu ke ransel yang aku bawa. Hadi membantu membawa kardus yang lebih berat, sedangkan aku menyeret koperku.


Kami memeriksa setiap lemari, laci, bahkan kolong tempat tidur untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Aku bicara dengan karyawan yang bertugas di lobi dan dia menyambut baik niatku untuk mengakhiri sewa unit. Mereka punya antrian nama yang membutuhkan apartemen seukuran yang aku sewa, jadi mereka bersedia mengembalikan uang sisa sewaku.


“Aku akan tinggal di rumah kamu untuk berapa lama?” tanyaku begitu kami sudah berada di dalam mobil. Dia tersenyum. “Ada apa? Mengapa kamu tersenyum?”


“Kamu betah juga tinggal di rumah kami,” godanya. Wajahku memanas mendengar kalimat itu.


“Bu-bukan begitu,” ucapku gugup.


“Kita menuju rumah Tante Lindsey. Apa kamu pikir mereka akan mengizinkan aku membawa kamu ke rumah keluargaku? Mereka akan menceramahi aku habis-habisan jika aku melakukan itu. Apalagi mereka sudah mendapatkan kepastian bahwa kamu adalah cucu mereka.”


Jantungku mendadak berdebar lebih cepat mendengarnya. Aku akan bertemu dengan keluargaku yang telah lama terpisah. Ini bukan pertemuan pertama kami, tetapi rasanya sangat berbeda bila dibandingkan dengan pertemuan saat kami tidak tahu bahwa kami punya hubungan darah.


Charlotte tidak akan melakukan hal yang sama, ‘kan? Dia akan memperlakukan aku dengan baik sampai kapan pun? Mendadak kenyataan bahwa aku akan bertemu dengan keluargaku tidak seindah yang aku rasakan sebelumnya. Kini aku mulai takut bahwa kejadian yang sama akan terulang lagi. Aku akan diusir lagi dari rumah, tetapi kali ini oleh keluarga kandungku sendiri.


Bunyi yang memekakkan telinga serta sebuah tangan berada di depan bahuku, mengejutkan aku. Tubuhku tiba-tiba saja terdorong ke depan dengan keras, tetapi berhasil ditahan oleh tangan yang ada di depan tubuhku. Mobil pun berhenti secara mendadak. Aku menoleh ke arah Hadi, berniat mengatakan sesuatu. Melihat ekspresi wajahnya, aku mengurung niatku tersebut.


Ketika aku memandang ke arah yang dilihatnya, mataku membulat. Ada sebuah mobil berhenti di depan kami, menghalangi mobil, dan ada sekitar empat pria yang keluar dengan membawa pemukul. Tanpa mengatakan apa pun, salah satu dari mereka langsung memukul kap mobil. Aku berteriak terkejut. Seorang lagi memukul kaca jendela di sisiku.


“Sial.” Hadi memindahkan persneling, lalu dia menoleh ke belakang. Tetapi dia kembali menginjak pedal rem. Ada mobil lain yang menghadang lajunya mobil kami. Empat pria lain dengan membawa pemukul keluar dari mobil tersebut.

__ADS_1


“Siapa mereka, Hadi? Apa yang terjadi?” tanyaku panik. Aku melihat ke sekeliling mobil, mencari sesuatu yang bisa aku jadikan senjata.


“Aku tidak tahu dan aku sangat yakin aku tidak menyakiti hati siapa pun akhir-akhir ini.” Dia bergelut dengan ponselnya. Aku salut melihat sikap tenangnya ketika pria lain memukul kaca jendela di sisinya dengan keras. “Pa, aku sedang bersama Mila dan sekelompok orang menyerang kami. Hm. Aku melihat ada delapan orang dengan pemukul dari besi. Ya, itu bunyi besi yang mereka pukulkan ke kaca jendela di sisiku dan Mila.”


“Kaca jendela ini tidak akan bertahan lebih lama lagi, Hadi!” seruku saat retakan kaca semakin besar dan dalam satu pukulan yang keras. Kaca itu membentuk lubang sehingga pria itu bisa memasukkan tangannya, meraih tombol untuk membuka kunci. Aku memukul tangannya itu sekuat mungkin dengan buku kuliah paling tebal yang aku bawa.


“Aku akhiri teleponnya, Pa.” Hadi meletakkan ponselnya ke atas dasbor, lalu menarik tangan pria yang mencoba membuka kunci pintuku. Pria itu berteriak kesakitan. “Cepat, pindah ke belakang. Kita harus mengulur waktu sampai bantuan datang.”


Aku melepaskan sabuk pengamanku, lalu berusaha melewati tubuhnya untuk berpindah ke jok belakang. Hal yang tidak mudah, tetapi setelah berusaha keras, aku akhirnya bisa berpindah juga. Kaca jendela kanan depan juga berhasil dilubangi, maka Hadi segera menangkap tangan pria itu dan menariknya sekuat mungkin.


Dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika jendela di sisiku berhasil terbuka dan dengan mudahnya pria itu membuka pintu. Aku menjerit kesakitan saat dia memegang aku dengan erat. Hadi berteriak menyebut namaku, tetapi itu tidak bisa mencegah mereka untuk menarik aku keluar dari mobil.


“Siapa kalian? Siapa yang mengirim kalian untuk melakukan hal jahat ini?” tanyaku heran. Mengirim delapan laki-laki dewasa dengan membawa pemukul untuk mengatasi dua orang muda adalah hal yang sangat berlebihan.


“Kamu sudah terlalu lama lari dari rumah. Saatnya untuk kembali pulang pada ayahmu,” ucap salah satu dari mereka sambil menyeringai sinis. Oh. Jadi mereka adalah orang suruhan Finley Taylor.


“Mila, kamu tidak apa-apa?” tanya Hadi yang juga ikut keluar dari mobil. Dia membuka pintu dengan paksa sehingga orang yang menghalanginya terpukul mundur. Lalu dia menyentuh pundak pria yang memegang lenganku. “Hei, lepaskan dia!” Dua orang pria datang dari arah belakang, menahan Hadi dengan memegang kedua lengannya.


“Jangan macam-macam atau kepala cantik gadis ini akan hancur,” ancam pria yang memegang lenganku. Kalimat itu mampu membuat Hadi berhenti berusaha untuk mendekati aku. Melihat itu, aku mendesah pelan.


“Aku bosan dengan skenario yang kekanak-kanakan begini.” Pria ini hanya memegang satu lenganku, lalu tangannya yang lain memegang tongkat besi yang siap diarahkan ke kepalaku. Aku mengedipkan sebelah mata ke arah Hadi. Semoga saja tubuh besarnya itu bukan cuma pajangan.


Aku memutar tubuhku ke kanan dengan tiba-tiba sehingga pria yang memegang lenganku terkejut dan pegangannya pada tanganku melonggar. Tujuanku adalah tongkat besi yang dipegang oleh tangan kanannya. Begitu aku berhasil mengambil tongkat itu darinya, aku mengayunkannya sekuat tenaga ke arah perutnya. Dia menunduk kesakitan, maka targetku selanjutnya adalah punggungnya.

__ADS_1


Sebagai orang yang tenaganya lebih lemah, aku tahu bahwa kekuatanku terletak pada efek kejutan. Mereka pasti menduga bahwa aku tidak bisa apa-apa dengan teriakan panikku tadi selama berada di dalam mobil. Melihat Hadi juga hanya bengong ketika aku sudah berhasil memukul jatuh dua orang pria, aku meraih tangannya dan meletakkan besi yang aku ambil dari pria kedua.


“Aku mohon, jangan bilang kamu tidak bisa melindungi dirimu sendiri. Cepat, bantu aku melawan mereka atau kita akan mati konyol di sini!”


__ADS_2