Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 125 - Pantang Mundur


__ADS_3

“Sayang,” ucap Colin yang menahan tanganku agar tidak terus berjalan mundur. “Kamu sudah sampai di sini. Jangan berhenti hanya karena mereka menatapmu seperti itu.”


“Tidak. Ti-tidak, Colin. Aku tidak bisa melakukan ini.” Aku menoleh ke belakang dan melihat pintu keluarku satu-satunya dari tempat ini.


“Dira,” panggil Colin lagi, tetapi aku tidak memedulikannya. “Mereka semua sainganmu, jadi mereka akan melakukan apa saja untuk membuat kamu menyerah. Ketiga orang jahat itu sudah dipenjara untuk waktu yang lama. Kamu tidak bersalah, berhenti menghukum dirimu sendiri, sayang.”


“Tidak, aku tidak bisa. Biar saja mereka yang mendapatkan pekerjaan itu. Aku tidak bisa.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat.


“Sayang, bila kamu mundur sekarang, kamu tidak akan pernah bisa maju lagi. Apa itu yang kamu inginkan? Kamu sudah siap untuk melepaskan impianmu ini? Kamu sudah terbiasa dengan tatapan mereka yang dahulu sering merendahkanmu, meragukan kamu bisa menjadi model hebat tanpa pengaruh nama Uncle Hendra. Lalu apa bedanya dengan sikap mereka sekarang?” ucap Colin lagi.


Aku berhenti menarik tanganku darinya mendengar kalimat itu. Iya, ini adalah impianku sejak kecil. Aku suka tampil dan berpose di depan kamera, memperkenalkan produk baru atau memakai baju desain terkini kepada banyak orang. Posisiku saat ini aku raih dengan keringat dan air mata. Colin benar. Ini bukan pertama kalinya aku berhadapan dengan tatapan mereka yang menghakimi aku. Kami semua yang ada di tempat ini adalah saingan.


“Dahulu mereka mengejek kamu karena menggunakan kuasa Uncle untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi kamu berhasil menunjukkan bahwa tuduhan mereka itu tidak benar. Sekarang kamu harus lebih kuat, sayang. Tunjukkan kepada mereka bahwa kamu tidak kalah akibat ulah tiga orang jahat itu.” Colin menyeka rambut yang menutupi wajahku ke belakang telinga.


Aku menatapnya, lalu melirik Vikal yang tersenyum kepadaku sebelum melihat Colin lagi. “Kamu benar. Aku tidak boleh kalah. Vivaldo dan Nora tidak berhasil menghancurkan aku.”


“Ini baru sayangku!” Dia mencium keningku. Aku tersenyum merasakan cinta dan kepeduliannya kepadaku. “Jangan lupa apa yang kita bahas semalam. Bila juri merendahkanmu di dalam sana. Tunjukkan kepada mereka siapa Erendira Bella Perkasa yang sebenarnya.”


Aku memeluk tubuhnya, menghirup dalam-dalam aroma parfumnya yang aku pilih untuk memberi kekuatan kepadaku. Dia membalas pelukanku dan terus mengucapkan kata-kata untuk menghibur aku. Ketika mendengar ucapan cintanya, aku membuka mata dan tersenyum.


Iya, aku mencintai pekerjaan ini. Aku tidak akan mengizinkan siapa pun merebutnya dariku. Banyak orang yang sudah mendukung aku sejak awal aku mengikuti audisi demi audisi hingga ada satu desainer yang mau menggunakan jasaku. Sampai satu per satu produk pun meminta aku menjadi model iklan mereka. Aku tidak mau mundur sekarang.

__ADS_1


“Nomor peserta dua ratus satu hingga tiga ratus, harap bersiap-siap.” Terdengar pengumuman lewat pengeras suara. Ada banyak orang yang semula duduk berdiri, lalu berjalan mengikuti arahan panitia.


“Dira, ini nomormu. Ayo, giliran kamu untuk unjuk gigi.” Vikal memberikan sebuah kartu dengan angka dua ratus lima puluh enam di salah satu sisinya. Dia membantu memasangkan nomor itu di kausku tepat di bagian bawah dadaku.


Mereka mengantarku sampai memasuki antrian sesuai nomorku. “Aku akan tunggu di sini. Semoga sukses.” Colin memberiku semangat. Aku mengangguk cepat.


“Sukses untukmu, sayang,” ucap Vikal tidak mau kalah. Colin mendelik ke arahnya mendengar kata sayang tersebut. Aku tertawa melihat tingkah mereka.


Dalam memilih model untuk peragaan busana, juri hanya akan meminta kami untuk berjalan di atas catwalk. Tetapi tidak jarang, salah satu dari mereka akan meminta kami berhenti dan menjawab apa pun pertanyaan dari mereka. Hal itu hanya terjadi pada awal aku memulai modeling. Begitu mereka mengenal siapa aku, mereka berhenti mencari tahu segala hal mengenai diriku.


Tidak ada istilah menang atau kalah dalam audisi ini. Desainer berhak untuk menentukan model mana yang sesuai dengan tema pakaian yang akan mereka pamerkan. Meskipun tinggi tubuhku di atas rata-rata, aku tidak selalu menjadi pilihan para desainer terkenal ini. Apalagi aku sengaja tidak menguruskan badanku agar pakaian yang aku kenakan bisa pas di tubuhku.


“Kamu pasti menang mudah. Para juri sudah melihat tubuh aslimu tanpa pakaian.” Seseorang di belakangku mengejek sambil tertawa. Aku kembali merasa tidak nyaman, tetapi aku mengucapkan mantra di kepalaku untuk menenangkan diri. Aku bisa melalui ini. Aku bisa melalui ini.


“Desainer ini tidak akan memilih dia. Kalian lihat saja. Dia terkenal sangat berintegritas dan hanya memilih model dengan latar belakang sempurna. Dira sudah tidak masuk dalam kriteria itu. Kita sama-sama tahu dia sengaja menyewa orang untuk membuat siaran langsung itu. Siapa yang tidak tahu Mahendra Perkasa? Pria itu akan melakukan apa saja untuk mendapatkan sebuah kesuksesan, termasuk mempertontonkan tubuh putrinya sendiri,” kata yang lain menambahkan.


“Heh!!” Kalimat itu sudah melewati batas. “Kamu boleh menghina aku. Caci maki saja aku sesuka kamu. Tetapi jangan bawa-bawa nama papaku. Dia pria yang terhormat yang tidak akan melakukan apa yang kamu tuduhkan itu. Sidang atas pelecehan yang dilakukan kepadaku itu disiarkan secara terbuka. Kalian tahu siapa yang bersalah, jadi berhenti menyalahkan korban.”


“Apa, sih, yang tidak bisa dilakukan kalau kamu punya uang? Sudahlah, Dira. Tidak semua orang bisa kamu bodohi. Kami tahu kamu hanya berpura-pura tidak sadar pada video itu. Kamu melakukannya untuk memuluskan jalanmu saat kembali ke dunia model, ‘kan? Pakai alasan akademik, tetapi kamu masih sempat shooting video pörno,” kata gadis di barisan depanku. Mereka semua tertawa.


“Semoga kalian semua tidak pernah mengalami hal yang menimpa aku,” kataku dengan suara keras agar mereka yang berdiri di dekatku mendengarnya. Mereka malah semakin tertawa. Aku tidak bisa melanjutkan kalimatku. Tetapi lebih baik begini. Karena apa pun yang aku katakan, mereka tidak akan peduli. Mereka hanya mau memercayai apa yang ada di kepala mereka, bukan fakta.

__ADS_1


“Sebaiknya kalian fokus pada audisi. Barisan di depan kalian sudah jalan. Jangan sampai aku gugur, karena ulah egois kalian,” kata salah satu peserta di belakangku.


Orang yang berada di barisan depanku panik dan melihat bahwa yang dikatakan gadis tadi benar. Barisan di depan mereka sudah berjalan masuk ke bagian dalam tenda. Aku menarik napas panjang dan mengeluarkan perlahan. Saatnya untuk unjuk gigi.


Satu per satu orang masuk ke catwalk dan kembali lagi dalam rentang waktu yang sama. Tetapi ketika giliranku tiba, orang yang di depanku tadi menggunakan waktu lebih lama untuk kembali. Pria yang ada di depanku bicara dengan temannya lewat mikrofon kecil yang ada di depan mulutnya. Dia pasti bicara dengan temannya sesama panitia audisi.


“Kamu masuk saja. Waktu terus berjalan. Jangan lupa dengan intruksi dari kami.” Pria itu bergeser agar aku bisa berjalan keluar dari belakang panggung.


Aku mengingat instruksi mereka dengan baik. Langkah-langkahnya mirip dengan audisi yang sudah biasa aku ikuti. Berjalan masuk ke panggung, lalu berpose sejenak di tengah spanduk panggung, lanjut berjalan ke ujung catwalk, kemudian berhenti di depan para juri.


Tidak ada banyak orang di dalam tenda tersebut selain panitia, tamu undangan, dan juri. Namun aku hanya fokus melihat ke arah depanku. Aku membalikkan badan dan berjalan menuju bagian tengah panggung untuk berbalik lagi menghadap para juri dan berpose untuk yang terakhir kalinya. Ketika aku membalikkan badan, sesuatu menghalangi langkahku sehingga aku kehilangan keseimbangan dan jatuh. Terdengar tarikan napas terkejut semua orang di sekitarku.


Suasana hening sejenak sehingga aku bisa mendengarkan detak jantungku sendiri. Wajahku terasa panas, karena rasa malu terjatuh di momen yang paling penting. Aku segera menarik napas panjang untuk menenangkan diri, kemudian berdiri, dan berjalan kembali ke belakang panggung. Aku tidak membuang waktu untuk memeriksa apa yang menyebabkan aku terjatuh.


Prinsip penting dalam peragaan busana adalah pertunjukan harus tetap berjalan, apa pun yang terjadi. Jatuh saat berjalan di catwalk adalah hal biasa yang tidak perlu dibesar-besarkan. Jadi, aku memanfaatkannya untuk menunjukkan sikapku saat hal yang tidak terduga terjadi dalam pagelaran. Sayang sekali, bukan begini yang aku rencanakan ketika aku kembali lagi ke duniaku ini.


Colin segera menyambut aku ketika aku berada di belakang panggung. Aku bernapas lega bisa ada di dekatnya lagi. Dia tersenyum dan memelukku dengan erat. “Kamu hebat, sayang! Apa pun hasilnya.”


“Walaupun aku gagal dan tidak mendapatkan pekerjaan itu?” godaku.


“Masih ada banyak audisi lain yang bisa kamu ikuti.” Colin melepaskan pelukannya. “Ada apa? Kamu berdebar-debar begini apa terjadi sesuatu tadi?”

__ADS_1


“Dira sayang, apa yang terjadi pada lututmu?” Vikal melihat ke arah kakiku dengan khawatir. Aku dan Colin serentak memeriksa keadaan lututku.


Ketika terjatuh tadi, aku tidak merasakan sakit di mana pun di tubuhku. Mungkin karena rasa malu yang paling menguasai sehingga aku tidak merasakan dampak kejatuhanku tadi pada fisikku. Begitu mendengar ucapan Vikal dan melihat sendiri keadaan kakiku, rasa sakit yang luar biasa datang dari kedua lututku.


__ADS_2