
Fitnah yang menjerat Colin mengajari aku banyak hal. Aku telah berada di jalan yang benar. Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang aku percayai selain keluargaku dan Colin. Walaupun aku sudah bersama Clarissa, aku belum bisa memberikan rasa percayaku sepenuhnya kepadanya. Dia hanya akan mendapatkannya begitu kami resmi menjadi suami istri.
Bila pihak yang berwajib saja tidak bisa aku percayai, maka aku butuh sekelompok orang yang bisa aku percayai. Seperti Om Irwan bagi Papa. Tetapi aku belum menemukannya. Om Irwan juga sedang menguji siapa dari orang kepercayaannya yang bisa dia usulkan kepadaku. Om Zach juga membantu aku mencari kuasa hukum yang bisa aku ajak kerja sama kelak.
Ada begitu banyak hal yang perlu aku persiapkan sebelum bisa lepas sepenuhnya dari Papa. Aku tidak mau bergantung lagi kepadanya untuk urusan pekerjaan begitu perusahaan menjadi milikku. Waktu yang aku miliki tidak banyak. Sampai saatnya tiba, aku harus sudah mempunyai orang-orang kepercayaan yang siap melakukan apa saja untuk aku.
Setelah berminggu-minggu hanya beristirahat di rumah, Clarissa akhirnya melanjutkan pekerjaannya di kantor. Aku tidak bertemu dengannya pada pagi hari, karena langsung ke ruang rapat bersama Papa. Waktunya untuk magang hanya tinggal satu bulan lagi, tetapi dia tidak akan mendapat nilai buruk. Dia sudah memberi banyak masukan dan profit dibandingkan dengan karyawan magang lain yang rajin datang selama dua bulan penuh.
Kami hanya punya waktu tiga bulan lagi untuk maju sidang agar tidak perlu membayar uang kuliah semester genap. Aku sangat percaya diri bahwa skripsiku akan selesai lebih dahulu daripada Clarissa dan Colin. Mereka masih melakukan penelitian, belum sampai mengolah data.
Rapat pada awal bulan selalu lebih lama daripada minggu biasanya. Karena evaluasi bulanan setiap bagian akan dibahas dan rencana untuk satu bulan juga dipresentasikan. Aku selalu belajar banyak dari rapat seperti ini. Bukan hanya program dan proyek, tetapi juga mengenal siapa yang setia dan siapa yang punya niat lain dari setiap ucapannya.
“Jangan bersikap curiga begitu setiap kali dia bicara,” ucap Papa yang sengaja tidak menyebut nama orang yang dimaksudnya. Karena aku sudah tahu siapa orangnya.
Kami sudah ada di ruang kerja Papa, tetapi kami tetap menjaga seolah-olah ada orang lain yang mendengarkan kami bicara. “Dia orang yang patut Papa curigai juga,” ucapku memberi saran.
“Tenang saja. Dia memang keras kepala bila sudah punya ide yang dia pikir sangat bagus. Tetapi dia orang yang setia kepadaku. Dia sudah membuktikannya,” kata Papa dengan tenang. “Lagi pula ada Irwan yang selalu melaporkan segalanya kepadaku. Juga ada Zach yang siap membantu jika aku masuk perangkap mereka yang berkhianat.”
“Apa Papa tidak lelah hidup seperti ini?” tanyaku sambil mendesah pelan.
Dia tersenyum. “Semakin tinggi posisimu, maka semakin kuat tantangan yang menghadang. Apa kamu sudah lupa hal itu?” Papa meletakkan pena yang dipegangnya ke tempatnya. “Karena itu aku mengatakan bahwa kamu berhak mewujudkan apa pun impianmu untuk perusahaan ini. Supaya kamu nyaman bekerja, Nak.”
Aku mengangguk mengerti. “Semoga saja Rissa bisa bertahan dengan kehidupan sekeras ini.”
“Untuk apa kamu khawatir? Apa kamu belum belajar juga dari kejadian sejak awal tahun ini? Orang dengan uang paling banyak yang memegang kekuasaan tertinggi. Kamu bisa mengalahkan semua musuhmu dengan uang. Jadi, pastikan perusahaan ini tidak bangkrut di tanganmu.” Papa tersenyum penuh arti. “Kembali ke ruanganmu. Waktu adalah uang.”
Aku tertegun sejenak dengan kalimat Papa itu. Benar juga. Apa yang harus aku takutkan? Aku punya hal terkuat di dunia pada saat ini. Uang. Jika kolega, keluarga, atau sahabat sekalipun mengkhianati aku, mereka bisa aku beri pelajaran asalkan ada uang yang banyak.
__ADS_1
Membayar jasa Om Irwan pasti tidak murah. Begitu juga dengan jasa Om Zach yang kini dikenal sebagai pengacara yang paling dicari orang. Tetapi dia bersama Om Oscar tetap setia bekerja untuk Papa saja. Baiklah. Aku tahu apa yang harus aku lakukan berikutnya.
“Hai, sayang,” sapaku di ambang pintu ruang pertemuan divisi pemasaran. Clarissa satu-satunya orang yang ada di ruangan itu, bersiap untuk menikmati makan siangnya.
“Hai! Masuklah. Nenek menitipkan ini untukmu.” Dia menunjuk satu tas bekal lagi. “Jangan sampai ketagihan. Aku setuju membawakan ini untukmu hanya untuk hari ini.”
Aku hanya tersenyum mendengarnya. “Wah, ini makanan kesukaanku!” seruku melihat isi di dalam kotak bekal tersebut. “Porsinya banyak sekali. Kebetulan aku sangat lapar.”
Clarissa menyampaikan apa yang dia kerjakan sejak pagi dan apa yang akan kami lakukan setelah makan siang. Hal yang sebenarnya tidak perlu dia lakukan, karena aku akan mengetahui hal itu nanti dari Tegar. Lalu dia mengatakan sebuah ide baru yang cocok untuk meningkatkan penjualan pada akhir pekan. Aku mulai merasa sayang kami akan kehilangan dia. Seandainya saja dia tidak punya usaha yang harus dia pimpin, aku dengan senang hati menerima dia sebagai direktur pemasaran.
“Mengapa kamu melihat aku seperti itu? Apakah ide itu aneh?” tanyanya dengan nada khawatir. “Aku tahu seharusnya aku tidak mengatakan ini.”
“Tidak. Ide itu sangat cemerlang. Aku hanya menyayangkan kamu tidak akan bekerja di sini lagi saat aku menggantikan Papa,” kataku dengan jujur.
“Aku akan bekerja di kota yang sama denganmu, Hadi. Kita juga akan menikah dan tinggal bersama. Kamu bisa bertanya apa saja kepadaku seperti halnya aku kepadamu,” katanya dengan santai.
“Maafkan aku. Mungkin kamu lupa. Aku tidak akan membicarakan rahasia perusahaan kepadamu begitu kamu keluar dari tempat ini. Aku juga tidak tertarik mengetahui rahasia perusahaan Om Edu.” Aku menjelaskan kepadanya. “Tanya saja kepada nenekmu, apa kakekmu pernah membahas urusan perusahaan dengannya.”
“Jangan bicara lagi.” Aku melirik jam tanganku. “Waktu istirahat hampir usai. Kita harus kembali bekerja kurang dari lima menit lagi.”
Akhirnya bisa menyelesaikan bab tiga skripsiku, pada pagi itu aku ke kampus bersama Dira. Jadi, Pak Sakti cukup mengantar Adi ke sekolahnya saja. Dira tidak berhenti bicara mengenai tawaran yang datang kepadanya untuk menjadi bintang iklan atau model produk tertentu. Aku lega urusannya dengan perusahaan yang nakal itu sudah selesai. Tetapi aku tidak tahu apa yang menyebabkan ada begitu banyak tawaran yang datang.
Yang paling mengejutkan adalah tawaran bermain film. Tentu saja dia tidak langsung mendapatkan sebuah peran. Dira harus datang untuk mengikuti pengambilan adegan untuk tahu karakter apa yang cocok dia mainkan. Papa dan Mama tidak melarang dia melakukan apa yang dia mau, jadi Dira yang memutuskan sendiri apakah dia akan merambah ke dunia peran.
Dira segera mengejar Wendy begitu kami tiba di pekarangan kampus. Aku membiarkan dia bersama temannya dan menuju kantor jurusanku. Sudah ada beberapa mahasiswa lain yang lebih senior maupun yang seangkatan denganku yang duduk di ruang tunggu. Melihat tidak ada Colin di antara mereka, aku tersenyum puas. Dia pasti masih bergelut dengan kuesionernya.
Dosen pembimbingku segera mengajak aku masuk ke ruangannya begitu dia datang. Aku bersyukur tidak ada mahasiswa bimbingannya yang lain yang datang menemuinya pagi ini. Jadi, urusanku dengannya bisa cepat selesai. Dia memeriksa bab tigaku dengan cepat, lalu meminta aku untuk datang lagi pada minggu berikutnya.
__ADS_1
Aku tidak keberatan dengan itu. Bab itu adalah yang paling berat dalam sebuah skripsi, jadi dia harus berhati-hati memeriksa setiap data yang aku tampilkan. Semoga saja tidak ada kesalahan. Karena satu kesalahan kecil saja, aku akan membutuhkan waktu lama untuk memperbaikinya.
Aku berjalan dengan cepat menuju tempat parkir. Ada banyak yang harus aku kerjakan pada hari ini supaya aku bisa fokus mengerjakan perbaikan skripsiku seandainya dosen menemukan kesalahan. Aku berpapasan dengan seorang gadis saat berbelok antara gedung bersama dan areal parkir. Kami bertukar pandang sejenak, lalu dia segera membalikkan badannya.
Dia pasti mengingat peraturan yang harus dia patuhi. Aku seharusnya membiarkan dia pergi, tetapi aku tidak tahu apa yang mendorong aku memanggil namanya. Melihat dia tidak berhenti, aku memanggilnya lagi. Dia menghentikan langkahnya, lalu perlahan membalikkan badannya.
Entah apa yang terjadi, aku mengajak dia untuk bicara di satu tempat. Dia mengerutkan keningnya. Jangankan dia, aku juga heran dengan tindakanku ini. “Apa kamu tidak salah bicara?” tanyanya.
“Aku tidak memaksa. Kamu boleh menolak kalau kamu tidak mau,” jawabku enteng.
*******
Sementara itu di suatu tempat~
Mason dan Edu berjalan bersama seorang petugas lapas menuju ruangan khusus yang disediakan bagi narapidana dan tamu untuk bicara. Pria itu membukakan pintu, Mason mempersilakan Edu untuk masuk lebih dahulu.
Setelah berterima kasih kepada petugas, Mason menyusul Edu dan duduk di sisinya. Di balik kaca di depan mereka, Finley sudah menunggu dengan wajah merah padam. Edu hanya duduk dengan santai, sedangkan Mason tersenyum puas melihat keadaan pria di hadapannya.
“Ada apa memanggil kami, Taylor? Apa berita itu akhirnya sampai juga di telingamu?” tanya Mason dengan senyum masih menghiasi wajahnya.
“Uang itu adalah uangku. Kau tidak seharusnya memberi tahu mereka,” ucap Finley dengan geram.
“Maaf, aku tidak mengerti. Kamu berutang kepada banyak orang, lalu kamu mau bersembunyi di balik status bangkrut? Itu tidak adil, Taylor. Mereka berhak menerima uang mereka kembali. Semua orang sama-sama senang sekarang,” kata Mason.
“Lalu bagaimana aku bisa bertahan hidup setelah keluar dari sini? Kau tidak menyisakan satu sen pun untukku!” pekik Finley marah.
“Karena itu tujuan kami. Aku mau kamu tahu bagaimana rasanya ketika cucuku hidup sendiri tanpa sepeser uang pun untuk bertahan hidup.” Mason mendekatkan wajahnya ke kaca. “Aku juga mau memastikan kamu tidak bisa lagi membayar orang untuk menyakiti Clarissa.”
__ADS_1
“Namanya Mila, bukan Clarissa,” protes Finley. “Aku pastikan dia tidak akan bersama orang lain selain aku. Kalian tidak tahu tabungan terbesarku tersimpan di mana.”
“Oh, itu yang paling gampang kami temukan.” Mason tersenyum lebar. “Foster sudah memberikan semuanya kepada kami.” Wajah Finley memucat.