Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 132 - Rahasia Hatinya


__ADS_3

Aku sudah bangun, tetapi aku sengaja tidak membuka mata dan menunggu sampai dia terbangun lebih dahulu. Aku tidak tahu mengapa aku melakukan ini. Yang pasti bukan karena aku ingin berada di tenda ini berdua saja dengannya lebih lama. Tidak. Bukan itu alasannya.


Kami tidak bicara lagi semalam setelah dia mendeklarasikan keinginannya bahwa kami pasti akan kembali bersama. Aku penasaran. Apa yang bisa dia lakukan untuk mengubah pendirianku? Mamaku saja tidak aku pedulikan, apalagi pendapatnya.


Sebuah tangan menyentuh pipiku, nyaris membuat aku membuka mata. Meskipun aku tidak melihat, aku bisa merasakan Clarissa sedang menatap wajahku. Apa yang sedang dia lakukan? Mengapa dia membelai pipiku seperti ini? Aku sebaiknya membuka mata atau membiarkan dia berpikir bahwa aku masih tidur?


“Aku mencintai kamu, Hadi.” Jantungku nyaris berhenti mendengar dia mengucapkannya. Clarissa mencintai aku? Sejak kapan? “Tunggu sampai aku cukup berani mengatakan ini di depanmu. Aku masih mengumpulkan keberanian. Tunggu sebentar lagi, ya.”


Belum lagi rasa terkejutku hilang, dia mencium keningku. Lalu tangannya tidak lagi menyentuh pipiku. Aku mendengar gerakannya di depanku. Dia bangun dan memperbaiki letak selimutku. Ketika aku mendengar bunyi ritsleting dibuka, aku tahu bahwa dia keluar dari tenda. Pintunya ditutup kembali. Aku menunggu sampai bunyi langkah kakinya menjauh dari tenda.


Aku menghembuskan napas dengan lega. Tanpa aku sadari, aku menahan napas agar dia tidak sadar bahwa aku sedang terjaga. Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Clarissa mencintai aku. Bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya? Itukah sebabnya dia berharap kami bisa kembali bersama? Karena dia mencintai aku?


Wyatt dan Adi datang membantu ketika mereka melihat aku berusaha untuk memindahkan tenda ke tempat yang kering dan terkena sinar matahari. Mereka berdua tersenyum penuh arti, tetapi aku hanya mengabaikannya saja. Setelah selesai, aku masuk ke vila.


Aku memasuki kamar mandi, berganti pakaian, lalu bergabung bersama mereka di ruang makan. Melihat Dira tersenyum geli, aku mendekatinya. Dia sudah bersiap mendapatkan pukulan, tetapi aku tidak melakukan itu. Aku memeluknya dan dibalas dengan tatapan heran semua orang. Clarissa tidak terlihat di mana pun, mungkin dia masih di kamar.


“Kakak?” tanya Dira bingung. “Apa Kakak baik-baik saja? Kakak sakit karena kedinginan di tenda?” Dia memegang tanganku dan mengulurkan tangannya untuk meraih keningku.


“Aku baik-baik saja. Habiskan makanmu.” Aku melihat ke arah roti yang ada di atas piringnya. Aku duduk di kursi kosong di samping Wyatt, lalu mengambil roti isi yang ada di piring saji. “Apa yang akan kalian lakukan hari ini?”


“Aku dan Charlotte akan mengajak Luca ke Taman Safari. Adi dan Lily juga ingin ikut,” jawab Wyatt. “Dira dan Colin akan tinggal di rumah saja. Bagaimana denganmu?”


“Aku di sini saja bersama Dira dan Colin. Kalian silakan bersenang-senang.” Aku menggigit rotiku dan jantungku otomatis berdetak lebih cepat ketika pintu kamar utama terbuka, lalu dia keluar. Aroma parfum, sampo, atau apa pun yang keluar dari tubuhnya segera memasuki penciumanku. Wangi khasnya yang sangat aku rindukan.


Tunggu dulu. Apa yang baru saja aku pikirkan? Aku tidak merindukan Clarissa apalagi wangi khasnya. Aku harus tetap pada pendirianku. Tetapi tubuhku tidak bisa berbohong. Jantungku berdetak sangat bahagia menyadari dia ada di dekatku. Reaksi yang sama ketika kami masih bersama. Semua jadi begini hanya karena aku mendengar pernyataan cintanya.


“Jadi, apa yang terjadi semalam? Kalian bertengkar atau bermesraan?” goda Charlotte. Dira tertawa kecil. “Kalian berdua sama-sama terlihat aneh pagi ini.”


“Kami tidak bisa tidur sampai menjelang pagi. Siapa yang tidak akan bersikap aneh pada saat kurang tidur?” ucap Clarissa membela diri. Aku menatap Charlotte dan Dira untuk menunjukkan bahwa aku setuju dengan pendapat Clarissa.


“Kami akan pergi jalan-jalan, apa kamu mau ikut, Clarissa?” tanya Wyatt.

__ADS_1


Clarissa menggelengkan kepalanya. “Aku tidak yakin aku akan menjadi teman perjalanan yang baik. Aku mengantuk dan bisa tertidur di jalan nanti. Kalian saja yang pergi.” Jantungku kembali berdebar bahagia mendengar jawabannya yang sama denganku.


Charlotte dan Dira saling bertukar pandang, lalu tersenyum penuh arti. Aku tidak mengatakan apa pun melihat tingkah aneh mereka. Keisengan mereka kali ini aku maafkan, karena jasa mereka telah memberi aku kesempatan untuk mendengar perasaan Clarissa yang sesungguhnya kepadaku.


Luca terlihat kecewa saat pergi bersama Wyatt dan rombongannya. Mungkin dia sempat berpikir bahwa Clarissa akan ikut ketika aku menjawab tidak. Hari ini dia belajar bahwa dia salah menilai gadis itu. Yang suka jalan-jalan adalah Charlotte dan Dira, Clarissa tidak.


Walaupun Luca tidak ada, aku tidak menolak saat Clarissa duduk di sisiku dan sedikit menyandarkan tubuhnya kepadaku. Colin dan Dira yang duduk di sisi kami sesekali melirik dan tersenyum. Baik aku maupun Clarissa mengabaikan sikap mereka.


Setelah mengetahui isi hatinya, aku bisa merasakan sikapku kepadanya sedikit lebih lembut. Aku tidak merasa marah atau kesal lagi kepadanya. Aku justru semakin mengerti mengapa dia ingin selalu berada di dekatku. Hal yang juga aku rasakan sebelum dia mematahkan hatiku.


Namun kedekatan kami tidak membuat aku berubah pikiran. Begitu Luca dan orang tuanya pulang, kami akan berhenti melakukan ini. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Gadis ini pernah menyakiti aku begitu parah, maka dia bisa saja melakukannya lagi. Tidak ada jaminan bahwa dia sudah berubah dan mau berjuang denganku selama kami bersama nanti.


Oleh karena itu aku menjaga hatiku sebaik mungkin. Aku tidak membiarkan harapanku muncul saat dia duduk di dekatku, meletakkan kepalanya di bahuku, memeluk tubuhku, atau mencium pipiku. Semua itu aku anggap sebagai bagian dari drama kami.


“Akhirnya, sampai juga di rumah.” Charlotte menepuk bahuku. “Terima kasih, Hadi.” Dia segera keluar dari mobil begitu Wyatt mengulurkan tangannya kepadanya.


Wyatt dan Luca mengambil barang-barang mereka dari bagasi, kemudian masuk ke rumah. Aku membawakan kantong berisi oleh-oleh untuk Om Edu dan Tante Lindsey. Salah satu pelayan mereka mengambil kantong itu dari tanganku. Aku menoleh ke arah Clarissa.


“Lebih baik aku langsung pulang. Aku makan malam di rumah saja biar bisa segera tidur. Besok ada acara pertunangan adikmu. Aku tidak mau terlihat kurang istirahat,” kataku menjelaskan.


“Baiklah. Sampai jumpa besok.” Dia memeluk tubuhku, lalu melepaskanku.


“Sampai besok.” Aku mengangguk, lalu membalikkan badanku.


“Hadi.” Dia meraih tangan kananku sehingga aku menghentikan langkahku. Aku menoleh dan dia hanya membuka mulut, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.


Ini bukan pertama kalinya dia bersikap begitu. Selama dua hari terakhir di vila, dia juga beberapa kali hanya membuka mulut, tetapi tidak mengatakan apa pun. Dia pasti ingin menyatakan perasaannya. Aku tidak tahu apa yang membuat dia begitu takut untuk mengatakannya secara terus terang. Apa dia khawatir reaksiku tidak seperti yang dia harapkan.


“Ada apa, Clarissa? Kamu punya pesan untuk mamaku?” tanyaku berpura-pura tidak tahu.


Dia menutup mulutnya dan menggeleng pelan. “Ng, hati-hati di jalan.”

__ADS_1


“Pasti. Aku akan memberi tahu kamu begitu aku sampai di rumah,” kataku berjanji. Dia mengangguk pelan, lalu melepaskan tanganku.


Mama menyambut aku dengan histeris begitu aku tiba di rumah. Dia berpikir bahwa sesuatu telah terjadi antara aku dan Clarissa saat kami berdua saja di dalam tenda. Aku memicingkan mata ke arah Dira yang tertawa geli di belakang Mama. Aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kami hanya bicara dan tidur bersisian. Mama tidak percaya. Dia yakin sesuatu yang lebih dari itu telah terjadi.


Sampai pada keesokan harinya kami pergi ke rumah Clarissa untuk menghadiri acara pertunangan Charlotte, Mama masih saja meminta aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dira dan Adi sangat terhibur dengan kemalangan yang menimpa aku. Mereka terus saja tertawa bahagia.


Untuk pertama kalinya, kami bertemu dengan Bapak dan Ibu Jefferson. Wyatt sangat mirip dengan ayahnya sehingga saat mereka berdiri berdampingan, mereka terlihat seperti kakak dan adik. Papa dan Mama segera akrab dengan pasangan tersebut. Kami berbaur dengan orang-orang yang ada di pekarangan tersebut. Dira dan Adi bergabung dengan Colin dan Lily. Aku mencari Clarissa.


“Kamu pasti mencari aku.” Terdengar suara dari arah belakangku. Aku menoleh dan melihat dia berdiri di dekatku dengan wajah bahagia. Dia sangat cantik dengan rambut diberi jepitan dan riasan natural pada wajahnya. Pakaian yang dia kenakan tidak membuat dia terlihat dewasa, walaupun modelnya bukan lagi untuk gadis muda. “Apa kamu hanya akan terus menatapku?”


“Ah, maafkan aku. Kamu cantik sekali,” pujiku tulus.


Dia menarik napas terkejut. “Apa aku tidak salah dengar? Hadiyan Perkasa memuji penampilanku?”


“Tidak perlu dibesar-besarkan. Kamu tahu bahwa kamu gadis cantik.” Aku memeluk pinggangnya dan mencium keningnya begitu aku merasakan ada yang memerhatikan kami. Hanya ada satu orang di tempat ini yang akan terus mengawasi gerak-gerik kami. Wajah Clarissa memerah. “Aku tidak melihat orang tua Wyatt semalam. Apa mereka baru tiba?” Aku mengalihkan topik.


“Tentu saja kamu tidak bertemu dengan mereka. Tidak seperti Luca dan orang tuanya, mereka lebih memilih untuk menginap di hotel dan menolak merepotkan keluarga kami,” katanya penuh arti.


“Apa Luca bersikap baik kepadamu semalam?” tanyaku sambil mengikuti dia yang membawaku mendekati meja saji.


“Dia masih berusaha untuk mendekati aku, tetapi aku tidak mengacuhkannya,” jawabnya santai. “Hari ini dia bersikap lebih sopan karena orang tuanya sudah pulang dari Bali.”


“Oh, mereka ada di sini?” tanyaku terkejut. “Aku pikir mereka akan kembali ke Amerika dari Bali.”


“Rencananya begitu. Tetapi mereka mengubahnya dan akan kembali besok dari Jakarta.” Clarissa mengisi piringnya lebih dahulu, aku mengikuti dari sisinya. “Tetapi aku merasa tidak enak sejak pagi tadi. Entah apa yang membuat aku begitu resah.”


“Apa maksudmu?” tanyaku saat dia membisikkan kalimat terakhir. Dia hanya mengangkat bahunya. “Kamu pasti resah, karena hari ini adalah hari terakhir kita.”


Dia tersenyum saat menoleh ke arahku. “Aku sudah bilang, aku tidak akan melepaskan kamu, Hadi.”


“Bila dia tidak menginginkan kamu, untuk apa kamu memaksanya, Clarissa?” Aku dan Clarissa terkejut mendengar suara itu. “Aku bisa membahagiakan kamu, lebih dari yang bisa dia lakukan,” kata Luca dengan serius. Bagaimana dia bisa memahami apa yang kami bicarakan?

__ADS_1


__ADS_2