
*Dira*
Aku tidak pernah merasakan penghinaan dan pengkhianatan sebesar ini dalam hidupku. Setidaknya bukan dari keluarga dan orang-orang terdekatku. Gadis yang telah merebut perhatian Colin dariku juga berhasil menarik perhatian papa dan mamaku. Bagaimana bisa mereka tidak marah atau kecewa dengan sikap Colin yang membawa gadis lain pada perayaan ulang tahunku?
Setelah semua orang berkenalan dengan Mila, barulah mereka ingat dengan aku dan apa yang kami rayakan pada saat ini. Mama mendekatkan sebuah kue tar dengan lilin kecil yang menyala di atasnya kepadaku. Saat mereka menyanyikan lirik yang meminta aku meniup lilin, maka aku melakukannya. Sorakan dan tepuk tangan memenuhi ruangan tersebut.
Karena acara puncak sudah berakhir, orang-orang mengambil makanan dan duduk di tempat yang tersedia. Wendy dan Vikal duduk bersama dan sudah asyik mengobrol di saat aku masih mengisi makanan ke piring. Aku membalikkan badan dan berdiri berhadapan dengan Om Zach.
Dia mengajak aku untuk duduk di anak tangga karena semua kursi sudah terisi. “Kamu bisa katakan kepadaku di mana dan kapan kamu ingin aku mengakhiri hidupnya.”
Aku tertawa kecil. “Om seorang pengacara, bagaimana bisa Om malah merencanakan untuk menghabisi seseorang?” tanyaku tidak percaya. Setidaknya, masih ada satu orang yang berada di pihakku.
“Kamu adalah satu-satunya keponakan perempuanku, jadi aku akan lakukan apa saja untuk melindungi kamu. Dan yang dilakukan pemuda itu sangat keterlaluan.” Om Zach mendekatkan kepalanya. “Apa kalian diam-diam sudah putus hubungan?”
“Tidak.” Aku menggeleng pelan. “Setahuku, kami baik-baik saja dan berencana akan menikah tahun depan. Tidak ada yang berubah, sampai hari Jumat pada minggu lalu dia muncul dengan gadis itu. Katanya, dia adalah pacarnya dan mereka berkenalan di Amerika.”
“Kalau kalian belum bicara, sebaiknya kamu yang mengajak dia bicara. Dia datang bersama seorang gadis ke acaramu dan memperkenalkan dia kepada semua orang sebagai pacarnya. Hubungan kalian sudah berakhir dari pihaknya.” Ucapan Om Zach benar dan aku harus menahan diri untuk tidak memeluk dia dan menangis keras.
“Baik, Om.” Aku menurutinya. Semua orang terdekat kami sudah tahu bahwa dia punya pacar dan itu bukan aku. Memang sudah saatnya bagi kami untuk bicara.
Aku melihat Colin berjalan menuju meja saji. Mila sedang duduk bersama Tante Lindsey dan Qiana. Ini adalah saat yang tepat untuk bicara. Aku tidak yakin aku akan kuat untuk menghubungi dia dan mengajaknya bertemu di suatu tempat.
“Aku akan letakkan piring kosongku di meja. Apa Om tidak apa-apa duduk di sini sendirian?” Aku berdiri, lalu merapikan rokku.
__ADS_1
“Biar aku yang letakkan piring ini. Kamu pasti ingin bicara dengannya, ‘kan? Pergilah.” Om Zach mengambil piring dari tanganku dan berjalan menuju meja, sedangkan aku mendekati Colin.
“Ikut aku ke ruang keluarga,” kataku kepadanya dan langsung berjalan menuju ruangan yang aku maksud. Sebelum ada yang melihat kami, lebih baik aku tidak berdiri lama di dekatnya.
Aku duduk di salah satu kursi agar dia tidak bisa duduk di sisiku. Kalau aku duduk di salah satu sofa tiga dudukan, aku yakin dia akan memilih untuk duduk di sampingku. Aku ingin kami bicara dengan serius dan untuk bisa melakukan itu, aku harus menjaga jarak darinya.
Mendengar pintu dibuka, lalu ditutup kembali, aku menegakkan dudukku. Jantungku berdebar dengan kencang dan aku bisa merasakan kedua tanganku gemetar. Aku menarik napas panjang, mencoba untuk menenangkan diri.
Aku tidak tahu apa aku akan kuat melakukan ini, memutuskan hubungan yang telah terjalin sejak kami masih kecil. Tidak ada laki-laki lain yang pernah hadir dalam hidupku, hanya Colin. Tetapi dia sudah menentukan pilihannya. Dan gadis itu bukan aku.
“Aku lihat kamu tidak mengundang teman-teman satu agensimu.” Colin duduk di salah satu kursi di depanku. Dia meletakkan segelas jus jeruk di depanku. Minuman kesukaanku. “Kamu memang berbeda dengan teman-temanmu yang lain yang suka mengadakan pesta mewah.”
“Aku memintamu berada di sini bukan untuk membahas tamu undangan ulang tahunku.” Aku bersyukur suaraku yang keluar cukup stabil dan tidak bergetar. Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Dadaku terasa sesak sekali karena detak jantungku yang semakin cepat.
“Aku terkejut melihat kamu datang bersamanya,” kataku pelan. “Aku pikir kamu akan memikirkan perasaanku dan datang bersama keluargamu. Hari ini seharusnya menjadi hari bahagiaku. Tetapi kamu membawa orang yang menjadi pusat perhatian. Dan kini mereka melupakan aku.
“Maaf, bila aku telah membuat kamu marah atau kecewa sehingga memilih yang lain. Aku juga meminta maaf karena selama enam belas tahun kita bersama, aku selalu merepotkan kamu. Tetapi kamu sudah bebas. Kamu tidak perlu lagi berhadapan dengan sikap kekanak-kanakanku. Aku yakin, Mila akan bahagia bersamamu, seperti kamu yang telah membuat aku sangat bahagia. Selamat tinggal, Colin.”
“Dira,” ucapnya dengan suara bergetar. Dia berdehem pelan. “Maafkan aku. Hubungan kita berakhir dengan cara ini. Aku tidak bermaksud menyakiti kamu. Ini bukan salahmu. Suatu hari nanti, kamu akan mengerti dan memaafkan aku. Aku berdoa semoga kamu segera menemukan kebahagiaanmu juga.” Dia kembali berdehem pelan. “Selamat tinggal.”
Aku tersenyum tipis dan mengangguk. Dia berdiri, lalu tanpa kata meninggalkan ruangan. Saat pintu tertutup kembali dan aku sudah sendirian, aku membiarkan air mata jatuh. Aku menarik napas panjang untuk mengurangi rasa sesak di dadaku, yang keluar justru suara isakan. Sakit sekali.
Air mata membasahi wajahku, menetes jatuh ke atas tanganku yang ada di pangkuanku. Tanpa peduli dengan riasan wajahku, aku menangis terisak-isak.
__ADS_1
Sudah berbulan-bulan, aku berharap dia akan memberi aku kado yang aku inginkan pada hari ulang tahunku. Sebuah cincin yang menandakan resminya hubungan kami sebagai tunangan. Aku tahu bahwa aku tidak membutuhkan itu untuk meyakinkan semua orang mengenai hubungan kami. Colin pasti akan memenuhi janjinya.
Namun aku mengerti sekarang. Dia tidak memberikan cincin itu kepadaku, bukan karena alasan uang, malas, atau lupa. Bila dia benar-benar mencintai aku, maka aku akan menjadi orang yang selalu dia pikirkan. Seperti yang aku rasakan untuknya. Tetapi Colin kecil yang melamar aku telah menjadi seorang pria muda. Perasaannya kepadaku juga pasti sudah berubah.
Dia sudah memilih gadis lain yang lebih baik, yang lebih layak untuk menjadi pendampingnya. Suka atau tidak, aku harus menerimanya. Aku sudah bukan gadis yang mengisi hatinya, jadi aku juga harus berusaha untuk mengeluarkan dia dari hatiku. Saatnya untuk melepaskan dia.
Mendengar bunyi pintu dibuka, aku cepat-cepat memalingkan wajah dan menyeka air mataku. Aku tidak mau ada yang melihat aku seperti ini. Tetapi sekesar apa pun aku berusaha, air mata tidak berhenti keluar membasahi wajahku.
“Dira.” Seseorang menyentuh bahuku. Aku mengenali suara itu, maka aku mengangkat wajahku dan melihat Om Zach berlutut di depanku.
“Om!” Aku segera memeluknya dengan erat. “Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya. Tetapi dia tidak mencintai aku. Aku tidak akan menikah tahun depan, Om. Semua rencanaku gagal. Aku tidak akan menikah dengan orang yang sangat aku cintai.”
*******
Sementara itu di suatu tempat yang tidak jauh~
Mila duduk dengan tidak nyaman dikelilingi para wanita yang menatap dia dengan aneh. Salah satu dari mereka bahkan meneteskan air mata saat pertama kali berkenalan dengannya. Dia sudah siap orang-orang akan memarahi dia, menatapnya dengan tajam, atau bahkan Dira akan mengusir dia dari rumah ini. Tetapi sambutan yang dia dapatkan justru sebaliknya.
Dira menjabat tangannya dengan ramah, tidak terlihat kecewa atau sakit hati dengan kehadirannya bersama tunangannya. Keluarganya juga menyambut mereka dengan baik, bahkan sampai terharu. Mereka mengajak dia duduk dan makan bersama sambil menanyakan mengenai orang tua dan keluarganya. Persis seperti yang Hadi lakukan.
“Jadi, kamu tinggal di Amerika dan ini adalah perjalanan pertamamu ke Indonesia?” tanya Lindsey ingin tahu. Dia menatap suaminya dengan kening berkerut.
“Iya, Tante. Colin ingin menunjukkan negara tempat tinggalnya, jadi aku datang untuk sekaligus merayakan Hari Valentin bersamanya,” jawab Mila semeyakinkan mungkin. Hadi yang duduk tidak jauh darinya memutar bola matanya, tetapi dia mengabaikannya.
__ADS_1
“Maaf, bila pertanyaan ini terdengar kasar. Mereka orang tua kandung atau angkat?” tanya Lindsey berhati-hati.
“Tante benar. Pertanyaan itu terlalu pribadi, jadi, maaf, aku tidak bisa menjawabnya.”