Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 181 - Bersikap Dewasa


__ADS_3

Seharusnya kami bersiap-siap untuk acara yang akan kami adakan pada keesokan hari. Tetapi aku tidak punya semangat untuk melakukannya. Mama dan Adi hanya diam saja ketika aku pulang dan bergegas ke lantai atas. Mereka tidak berusaha untuk mengganggu aku di kamar. Hal yang sangat aku syukuri. Aku ingin sendirian saja saat ini.


Pintu kamarku diketuk, aku mengintip jam digital yang ada di atas nakas. Pukul tujuh tepat. Apakah Mama yang datang untuk mengajak aku makan malam? Merasakan seseorang duduk di sisiku, aku menoleh. Ternyata Papa dengan wajah seriusnya. Aku menelan ludah dengan berat.


Aku duduk dan bersandar di kepala tempat tidur. Aku menundukkan kepalaku, tidak berani menatap matanya. “Pa,” sapaku pelan.


“Jadi, kamu masih menganggap aku papamu? Aku pikir kamu sudah tidak peduli lagi kepadaku,” katanya dengan nada dingin. Nada yang tidak pernah dia gunakan kepadaku. Aku tidak menjawab. “Aku diam ketika kamu mengunjungi Reese, bukan karena aku tidak tahu dan mengizinkan kamu bertindak sebodoh itu. Aku berusaha untuk mengerti. Tetapi kamu datang melihat Laras. Apa yang kamu pikirkan? Dia adalah orang yang paling dibenci pada saat ini.”


Paling dibenci? Oh, Tuhan. Aku tidak memikirkan hal itu. Semua media memberitakan kecelakaan itu dan orang-orang menanggapinya dengan sinis. Mereka berharap Laras akan mendapatkan hukuman mati atau penjara seumur hidup. Bila mereka tahu aku menemui dia …. “Ma-maafkan aku, Pa.”


“Aku tidak peduli bila kamu merusak reputasiku, tetapi jangan membahayakan nyawamu sendiri. Bagaimana kalau ada orang tua siswa yang melihat kamu datang ke sana? Mereka bisa salah paham dan menganggap kamu berteman dengannya. Bagaimana dengan Adi? Dia bisa kehilangan teman dan guru-guru akan kesulitan melindungi dia dari perundungan di sekolah,” kata Papa.


Aku terisak. “Sungguh, Pa. Maafkan aku.”


“Aku mengerti kamu peduli dengan orang lain, bahkan mereka yang telah berbuat jahat kepadamu. Tetapi bersikap baik juga harus pada tempatnya, sayang. Bagaimana aku bisa melepaskan kalian, jika kalian tidak juga bisa melindungi diri kalian sendiri?” kata Papa masih dengan sikap seriusnya.


“Kamu sebentar lagi akan menikah, lalu pergi dari rumah ini dan menjadi tanggung jawab suamimu. Tetapi jika kamu tidak berubah juga, kamu hanya akan menambah musuhmu sendiri. Mulailah bersikap dewasa, Nak. Jangan semudah itu merasa kasihan kepada orang lain, apalagi orang jahat. Kamu harus memerhatikan dirimu terlebih dahulu.”


Pintu diketuk, lalu dibuka. “Makan malam sudah siap. Kalian bisa lanjutkan pembicaraan kalian nanti setelah perut kalian terisi,” kata Mama. Papa hanya menatap aku sesaat, lalu pergi melewati Mama. “Ayo, sayang. Kita makan sekarang.”


Tidak mau membuat Papa bertambah marah, aku menurut. Kami menuruni tangga bersama. Mama tidak mengatakan apa pun, maka aku juga tidak mau bicara. Kakak dan Adi menatap aku dengan bingung. Mereka serentak menoleh ke arah Papa yang masih berwajah dingin. Senakal apa pun tingkahku sejak kecil, ini adalah pertama kalinya Papa marah kepadaku.


Kami makan dalam diam, tidak ada yang berani membuka bahan pembicaraan. Aku berpikir dengan keras apa yang sebaiknya aku lakukan agar Papa tidak marah lagi. Aku tahu bahwa aku salah. Tetapi perang dingin dengan Papa adalah musibah besar. Aku tidak mau Papa sampai tidak mengizinkan aku menikah dengan Colin karena kesalahanku ini.

__ADS_1


Mama melihat ke arahku. Dia memberi sinyal yang segera aku ketahui. Aku melirik Papa yang sibuk sendiri dengan makanannya. Tidak. Cara itu tidak akan berhasil. Aku sudah melakukannya di kamar, Papa tetap saja marah. Tetapi Mama terus memberikan sinyal tersebut.


Papa sudah selesai makan, dia berdiri dari tempat duduknya. Mama semakin geram saat memberi sinyal kepadaku. Aku mengalah dengan menuruti rencananya itu. Aku terisak. Papa tidak peduli dan tetap berjalan menuju pintu. Aku menangis dengan suara keras agar dia mendengarnya. Langkah Papa terhenti. Aku semakin memperkeras suaraku.


“Sudah cukup, Dira. Jangan menangis lagi,” kata Papa dengan geram. Aku semakin menangis. “Kamu sudah melakukan kesalahan besar, jadi menangis tidak akan membuat kamu dimaafkan.” Ketika aku berpikir bahwa rencana Mama ini tidak akan berhasil, Papa berdecak, lalu berjalan mendekati aku.


Aku segera berdiri dan menyambut pelukannya. “Maafkan aku, Pa. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Aku janji.”


“Oke. Aku memaafkanmu. Sebagai gantinya, mamamu yang akan mendapatkan pelajaran atas perbuatanmu itu,” kata Papa dengan nada mengancam.


“Lo? Apa kesalahanku, sayang?” kata Mama meniru cara Papa yang kebingungan setiap kali Mama marah. “Apakah aku salah bila menginginkan suasana rumahku selalu damai?”


“Kamu salah karena sudah menyarankan putrimu untuk memanfaatkan kelemahanku,” ucap Papa. Dia melepaskan pelukannya, lalu menatap aku dengan serius. “Dira, ini kesempatanmu yang terakhir. Jangan kecewakan aku lagi.” Aku berjanji kepadanya.


Papa masih curiga kepadaku, tetapi dia terlihat puas dengan jawabanku. Kami meninggalkan ruang makan menuju ruang keluarga. Aku dan kedua saudaraku sibuk dengan gadget kami masing-masing, sedangkan Papa dan Mama menonton film berdua.


Aku tidak bisa menyalahkan pengawal pribadi yang Papa tempatkan di dekatku atau Om Zach. Mereka hanya melakukan tugas mereka. Lagi pula Om Zach adalah orang tua juga. Dia pasti tahu bagaimana rasanya ketika salah satu anaknya menyembunyikan sesuatu darinya. Apalagi jika hal itu bisa membahayakan anaknya sendiri.


Papa berhak untuk mencari tahu apa yang aku lakukan pada hari ini dan memarahi aku bila aku melakukan kesalahan. Aku tidak bisa bertindak gegabah lagi. Papa hari ini memaafkan aku, tetapi hari berikutnya, aku tidak mau membayangkannya. Aku tidak mau Papa marah lagi kepadaku.


Ketika kami memasuki kamar, aku menemui Kakak di kamarnya. Dia sudah berganti pakaian dan ruangan itu dipenuhi dengan aroma sabun mandinya. Aku duduk di sisinya di sofa. Ada minuman hangat dan makanan ringan untuk tiga orang di atas mejanya. Sepertinya dia sudah menduga bahwa aku dan Adi akan datang ke sini.


“Kamu sudah membuat Papa dan Mama bertengkar dengan hebat tadi. Jangan lakukan itu lagi,” kata Kakak dengan nada serius. “Kamu hanya akan membahayakan dirimu sendiri.”

__ADS_1


“Iya, Kak. Aku benar-benar meminta maaf. Aku tidak berpikir panjang ketika datang ke kantor polisi itu,” kataku pelan. Aku pantas untuk diingatkan terus seperti ini. Kakak sedang sibuk dengan tablet yang layarnya dia geser tanpa henti. “Apa yang sedang Kakak lakukan?”


“Membantu Om Irwan mencari berita mengenai kecerobohan kamu hari ini,” ucapnya santai.


“Sampai separah itu?” tanyaku tidak percaya.


“Om Irwan dan timnya terpaksa lembur karena ulahmu,” tambah Kakak membuat aku semakin merasa bersalah.


Pintu kamar Kakak dibuka, dan Adi masuk dengan tablet di tangannya. “Entah mereka semua bodoh tidak bisa melihat Kak Dira dibalik kacamata hitam dan maskernya, tetapi tidak ada satu berita pun mengenai kunjungannya ke kantor polisi.”


“Semoga saja tidak ada yang melihat aku,” harapku dengan serius. Aku mengeluarkan ponselku dan ikut mencari berita atau postingan yang ada hubungannya dengan aku. “Ngomong-ngomong, aku minta maaf tidak ikut memeriksa persiapan terakhir untuk acara besok.”


“Bukan masalah. Semuanya sudah siap sejak sore tadi. Makanya Kak Hadi marah, dia tidak bisa berkunjung ke rumah Clarissa.” Adi tertawa puas. Kakak menahan dirinya untuk tidak marah.


Kami semua tahu mengenai acara khusus untuk Papa tersebut. Hanya Papa yang tidak. Dia berpikir bahwa kami hanya mengundang orang dan makan bersama di aula depan. Tetapi kami menyiapkan yang lebih dari itu. Semua persiapan akan dimulai begitu Papa berangkat ke tempat kerja. Jadi, dia tidak akan melihat apa pun pada saat lari pagi.


Aku tidak bisa konsentrasi mengikuti perkuliahan, karena tidak sabar menghadiri acara malam nanti. Charlotte, Wyatt, dan Wendy tidak berhenti menggoda aku yang terus melihat ke arah luar jendela. Tetapi itu tidak bisa mengurangi rasa bahagiaku.


“Jangan lupa untuk datang sebelum jam tujuh malam. Sampai nanti!” kataku kepada mereka saat kami pulang kuliah. Aku melambaikan tangan dan bergegas masuk ke mobil.


Aula depan rumah sudah dihias dengan indah. Meja saji dan beberapa kursi juga tersedia di ruangan itu. Pintu ruang makan dan ruang jamuan dibiarkan terbuka agar para tamu nanti bisa dengan leluasa berjalan, berdiri, dan duduk di mana pun yang mereka mau.


Tenda sudah dipasang di kebun samping rumah. Meja dan kursi sudah diatur dengan rapi, begitu juga dengan meja saji dan beberapa bunga sebagai hiasan. Aku memeriksa kue ulang tahun yang kami pesan khusus untuk Papa. Semuanya sudah beres.

__ADS_1


Orang yang pertama datang adalah para kakek dan nenek kami. Mereka sangat tampan dan cantik dengan pakaian resmi mereka. Pasti Nenek Naava yang punya ide untuk menjemput orang Mama supaya mereka bisa datang bersama. Para sahabat Mama kemudian datang dengan makanan di tangan mereka masing-masing. Suami mereka pasti akan menyusul sepulang dari tempat kerja.


Tetapi ada satu orang yang kehadirannya tidak aku duga-duga. Aku dan Mama sama-sama berteriak histeris melihatnya datang di antara para sahabat Mama.


__ADS_2