Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 59 - Tidak Tenang


__ADS_3

Hadi membopong Charlotte yang pingsan ke kamarnya. Hanya Dira, aku, dan kedua nenekku yang ikut ke kamar adikku. Hadi membaringkan dia di tempat tidur, lalu Nenek segera duduk di sisinya. Charlotte membuka matanya saat Nenek meletakkan bau-bauan di hidungnya. Kami semua mendesah lega melihat dia baik-baik saja.


Aku dan Hadi kembali ke ruang tamu dan membiarkan mereka bertiga yang mengurus adikku. Semakin sedikit orang yang bersamanya, semakin baik, agar kamar itu tidak terasa sesak. Lagi pula aku tidak sanggup mendengar dia menangis andai dia tidak bisa menahan kesedihannya lagi.


Baru saja dia menceritakan mengenai perasaannya untuk Wyatt, rencana mereka bersama di masa depan, juga janji mereka untuk bersama selamanya, kenyataan justru merenggut semua itu dari adikku pada hari bahagianya. Wyatt sangat keterlaluan.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Hadi saat kami sudah sampai di anak tangga terakhir. Aku mengangguk, khawatir bila aku mengeluarkan suara, aku akan menangis.


Keluarga dan sahabat keluarga kami sudah berkumpul lagi di ruang tamu. Sudah diputuskan bahwa Wyatt akan ikut bersama Grandpa dan Grandma untuk kembali ke Amerika. Pemuda itu bersikeras meneruskan studinya di Indonesia, tetapi para orang tua menolak. Karena Wyatt tidak memiliki seorang pun yang mau berada di pihaknya, dia akhirnya diam.


Hari yang seharusnya membawa tawa di rumah ini, justru berakhir bencana. Pertunangan dibatalkan, hubungan Wyatt dan Charlotte berakhir, dan kami masih belum bisa menyentuh Finley. Seandainya saja aku bisa mengingat apa yang terjadi padaku saat berusia dua tahun. Tetapi tidak ada ingatan apa pun selain aku tidak suka berada di dekat pria itu.


Charlotte tidur sendirian di kamarnya. Aku datang mengucapkan selamat malam dan membiarkan dia sendiri. Bila dia membutuhkan kami, dia pasti akan datang pada kami. Malam ini adalah malam pertama aku tidak bisa tidur di kamar baruku. Bukan karena Charlotte tidak tidur bersamaku, tetapi karena aku memikirkan cara untuk bisa membalas perbuatan Finley.


Aku menemani Kakek mengantar Grandpa dan Grandma ke bandara. Para orang tua di satu mobil, sedangkan aku di mobil lain bersama Wyatt. Kami sama sekali tidak bicara sepanjang perjalanan menuju bandara. Wyatt berusaha untuk membuka pembicaraan, tetapi berhenti bicara setelah melihat aku tidak menanggapinya satu kata pun.


Grandma memeluk aku begitu erat seolah-olah tidak mau berpisah saat mereka akan memasuki terminal khusus keberangkatan internasional. Dia meminta aku berjanji untuk selalu menjaga diriku dan menuruti apa pun yang Kakek dan Nenek perintahkan kepadaku. Tentu saja aku menjawab iya. Aku juga tidak mau terpisah jauh lagi dari keluargaku sendiri.


Saat kami makan malam, Charlotte keluar dari kamarnya dan makan bersama kami. Nenek dan Kakek saling bertukar pandang, lalu Nenek mengajaknya membicarakan hal-hal ringan. Aku ikut menanggapi ketika mereka menanyakan pendapatku.


Charlotte masih tidur sendiri di kamarnya, jadi aku meninggalkan dia usai mengucapkan selamat malam. Keadaan rumah benar-benar berbeda tanpa canda tawa adikku. Semoga saja situasi ini segera berubah dan Charlotte pulih dari patah hatinya.


Pada Senin paginya, Charlotte mengejutkan kami semua dengan memasuki ruang makan dalam keadaan rapi. Dia mengenakan seragam sekolah barunya, rambut cokelatnya dikuncir ekor kuda, dan wajahnya sedikit menggunakan riasan untuk menyamarkan lingkaran di sekeliling matanya akibat terlalu banyak menangis.


“Sayang, apa kamu yakin akan masuk sekolah dalam keadaan begini?” tanya Nenek dengan nada khawatir. “Kakekmu sudah menelepon pihak sekolah untuk meminta izin selama satu minggu ini. Kamu beristirahat di rumah saja. Ya?”


“Aku akan terlambat mengikuti persiapan ujian nasional, Nek. Ini akan jadi hari pertamaku belajar, jadi aku tidak bisa membuang satu hari pun untuk bersedih. Aku akan baik-baik saja. Ada Dira di sekolah. Aku akan bersama sepanjang hari,” ucap Charlotte berusaha untuk meyakinkan Nenek.


“Bagaimana kalau kamu tidak tahan lagi dan menangis di sekolah?” tanya Nenek lagi.

__ADS_1


“Aku janji kalau aku tidak sanggup meneruskan belajar, aku akan pulang.”


“Tidak apa-apa, sayang. Charlotte akan baik-baik saja. Dia benar. Ada Dira, jadi kalau ada apa-apa, dia tidak sendirian di sekolahnya,” kata Kakek menenangkan Nenek.


Nenek akhirnya menyerah dan membiarkan Charlotte pergi ke sekolah. Kakek yang pergi bersama adikku ke sekolah, karena kantor Kakek lebih dekat dari sana. Sopir mengantar aku ke kampusku. Dia tidak menunggu sampai aku selesai kuliah, karena Hadi yang akan mengantar aku pulang.


Sudah seminggu berlalu sejak aku datang ke kampus dengan penampilan terbaruku, para mahasiswa masih menoleh saat aku melewati mereka. Apa kemeja dan celana panjang yang aku kenakan bisa mereka kenali sebagai produk dari merek tertentu? Atau mereka masih penasaran dengan tas yang aku sandang di bahuku? Padahal ini tas ransel yang sudah aku pakai sejak minggu lalu.


“Hai, Mila,” sapa Manda yang menghalangi langkahku menuju ruang kuliah kami. Aku berniat untuk bergeser agar bisa melewatinya. “Ah, maksudku, Clarissa.” Aku berhenti mendengar namaku disebut.


“Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku dengan nada formal. Aku tidak mau punya teman dekat karena drama tidak penting seperti ini.


“Aku minta maaf. Kamu benar. Dari awal kita masuk kuliah, kamu tidak pernah menjanjikan apa pun atau memberi harapan bahwa kita adalah teman dekat. Akulah yang berinisiatif mendekati kamu dan menceritakan masalah pribadiku. Aku tidak berhak menuntut kamu melakukan hal yang sama.” Dia melihat ke arah kakinya. “Aku tidak akan melakukan itu lagi.”


“Tidak perlu meminta maaf, Manda. Aku tidak memasukkan kata-katamu ke dalam hati.” Aku melirik jam tanganku. “Kuliah sebentar lagi akan dimulai, sebaiknya kita masuk ke ruangan sekarang.”


Aku tidak mengerti mengapa berteman denganku sepertinya adalah hal yang begitu penting baginya. Padahal dia bisa berteman dengan yang lain yang pasti suka berbagi cerita dengannya. Aku bukan teman yang baik, jadi untuk apa tetap memaksakan diri dekat denganku?


Pada jam makan siang, Hadi dan Colin sudah menunggu di lantai bawah. Kami mencari bangku untuk duduk dan makan bersama. Aku sengaja keluar ruangan secepat mungkin agar Manda tidak ikut dengan kami. Aku tidak mau dia ikut mendengar apa yang akan kami bahas, andai saja Colin atau Hadi mendiskusikan hal pribadi selain urusan kuliah.


Usai kuliah, aku pergi ke kantor jurusan untuk menyerahkan proposal yang sudah aku kerjakan kepada dosen pembimbingku. Dia meminta aku dan mahasiswa lain yang juga datang menemuinya untuk meletakkan proposal tersebut di atas mejanya. Kami semua diminta untuk datang lagi dua hari kemudian untuk mendiskusikan proposal kami setelah selesai dia periksa.


Aku merasa tidak tenang saat berjalan menuju tempat parkir. Aku melihat ke sekelilingku, tidak ada yang sedang menoleh ke arahku. Beberapa mahasiswa lain berjalan menuju tempat parkir jurusanku. Jadi, hanya aku sendiri yang berjalan menuju jurusan Hadi.


Mereka berdua sedang mengobrol santai ketika aku berbelok di ujung koridor. Colin yang berdiri menghadap aku, sedangkan Hadi memunggungi aku. Melihat itu, aku meletakkan telunjukku di depan bibirku. Colin bukan aktor yang baik, tetapi dia berhasil mengalihkan pandangannnya dariku sebelum Hadi menyadari kedatanganku.


“Oh,” seru Hadi saat aku menutup matanya dengan kedua tanganku dari belakang. “Rissa, kamu tahu bahwa kamu tidak bisa mengerjai aku, ‘kan?”


“Bagaimana kamu bisa tahu?” protesku yang tidak terima ketahuan lebih cepat dari yang aku duga. Aku menurunkan tanganku dan membiarkan dia membalikkan badannya.

__ADS_1


“Aku mengenali parfum kamu. Itu adalah satu-satunya dari penampilan kamu yang tidak kamu ubah.” Dia tersenyum penuh kemenangan.


“Pasti Colin yang memberi tahu dengan sinyal matanya,” tuduhku.


“Hei.” Colin mengangkat kedua tangannya di depan tubuhnya. “Aku tidak mengatakan apa pun. Dia yang menebaknya sendiri.”


“Sebaiknya kita pergi ke toko buku sekarang. Aku tidak boleh terlambat menjemput adikku dari sekolah mereka.” Hadi melirik jam tangannya. Kami segera menyetujuinya.


Aku dan Hadi memasuki mobilnya, sedangkan Colin mengendarai sepeda motornya. Lalu perasaan tidak tenang itu kembali mengganggu aku. Aneh sekali. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Terakhir kali aku merasa begini saat menunggu hasil tes DNA yang kedua. Sudah tidak ada lagi hal yang mengganggu pikiranku.


Untuk menenangkan pikiranku, aku menghubungi Charlotte. Dia menjawab dalam deringan kedua. Aku bernapas lega mendengar suaranya yang baik-baik saja. Grandma juga segera menjawab panggilan masuk dariku. Mereka baru mendarat beberapa saat yang lalu dan kini dalam perjalanan menuju rumah.


“Ada apa?” tanya Hadi saat aku memasukkan ponselku ke tasku kembali.


“Tidak ada apa-apa. Hanya ada perasaan tidak enak yang membuat aku tidak tenang.” Aku kembali menatap jalan di hadapan kami.


“Kamu khawatir akan terjadi sesuatu pada keluargamu?” tanyanya.


“Hanya mereka yang terpikir di kepalaku. Apa mungkin ada hal lain yang akan membuat aku merasa tidak tenang?” Entah mengapa, setelah mengetahui seluruh keluargaku baik-baik saja, rasa tidak tenang itu belum pergi juga.


“Apa kamu mau pulang saja? Aku masih bisa putar balik sekarang.” Hadi menunjuk ke arah tempat pemutaran di depan kami. Aku segera menggelengkan kepalaku.


“Tidak. Kita sudah merencanakan ini sejak minggu lalu. Aku juga butuh beberapa buku untuk menambah referensiku.” Aku mengeluarkan botol minumanku dan meneguk isinya saat kami berhenti di persimpangan jalan. “Di mana Colin?”


“Di sebelahmu,” jawab Hadi. Aku menoleh dan melihat pemuda itu berada tidak jauh dari kami bersama barisan pengendara sepeda motor lainnya. “Tenang saja. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Papaku bilang, mereka akan melindungi kita semua dari orang jahat.”


Lampu jalan berubah hijau, mobil di depan kami perlahan bergerak maju. Hadi mengikuti mereka. Aku menyentuh gelang di tangan kiriku. “Ya, kamu benar.” Aku menoleh ke arah Hadi. “Ini hanya perasaanku saja.”


Mataku menangkap sebuah gerakan yang mencurigakan dari sebelah kanannya. Aku hanya sempat meneriakkan nama Hadi ketika sebuah mobil yang berkecepatan tinggi mengarah lurus pada kami. Inikah pertanda yang membuat perasaanku tidak tenang?

__ADS_1


__ADS_2