
*Colin*
Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat dari kaca spionku. Sebuah mobil menerjang mobil Hadi begitu saja. Bunyi rem berdecit memekakkan telingaku. Lampu hijau sudah beberapa detik menyala untuk jalur kami, mengapa mobil dari arah yang seharusnya berhenti malah tetap melaju kencang?
Darah seolah-olah berhenti saat aku menepi dan meninggalkan sepeda motorku begitu saja untuk melihat keadaan sahabatku. Aku tahu bahwa mereka selalu membeli mobil dengan pengaman dan kualitas yang tinggi. Tetapi bunyi kedua mobil itu saat beradu bukanlah berita baik.
Aku kesulitan menyeberang karena ada mobil dan sekumpulan orang yang menghalangi aku lewat. Aku tidak tahu apa yang para pria ini inginkan, tetapi yang ada di dalam mobil yang mengalami kecelakaan itu adalah sahabatku. Sekuat tenaga aku mendorong mereka agar aku bisa lewat.
Ketika aku sudah di dekat mereka, aku meminta tolong agar aku diberi jalan. Pintu sisi penumpang terbuka, jadi aku bisa memeriksa mereka tanpa harus membuka paksa pintu. Tetapi yang aku temukan membuat aku semakin khawatir. Clarissa tidak ada.
“Ha-hadi?” Aku memanggil sahabatku yang menutup kedua matanya. Aku melihat dadanya naik turun. Dari bagian tubuh yang aku lihat, tidak ada darah atau sesuatu yang mencurigakan. Yang aku khawatirkan adalah tubuh bagian kanannya. Aku berjalan ke sisi pengemudi. “Pak, Bu, tolong minggir. Beri ruang supaya teman saya tidak kekurangan udara.”
Aku tidak bisa membuka pintu bagian pengemudi, jadi aku hanya bisa memeriksa keadaannya lewat kaca jendela yang pecah. Kepalanya baik-baik saja, syukurlah pada kantong udara yang ada pada sisi jendela. Aku tidak berani menyentuh tangannya atau bagian tubuhnya yang lain. “To-tolong hubungi ambulans,” pintaku pada orang yang ada di dekatku.
“Sudah, Nak. Apa kamu mengenal dia?” tanya wanita yang menatap ke arah Hadi dengan khawatir.
“Iya. Dia sahabatku, dia sahabatku ….” Aku melihat ke sekeliling mobil. Ada beberapa pecahan kaca yang berhasil masuk mengotori lantai mobil. Kantong udara di depan pengemudi dan penumpang, juga di sisi jendela berfungsi dengan baik, tetapi tidak dengan sisi jendela penumpang. Clarissa pasti terluka. Tetapi di mana dia?
“Apakah ada yang melihat gadis yang ada di mobil ini? Dia berambut pirang, memakai kemeja kotak-kotak merah dan cokelat dan celana panjang hitam,” tanyaku kepada orang-orang di sekitarku.
“Aku melihatnya.” Seorang wanita mengangkat tangannya. Dia berdiri cukup jauh dariku. “Ada dua laki-laki memakai penutup kepala yang membawanya masuk ke sebuah mobil dan pergi ke arah sana.” Dia menunjuk ke arah jalan sebelah kiri. Ini gawat.
“Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk anak ini? Kasihan melihat dia pingsan begitu,” ucap wanita di dekatku.
“Tidak. Jangan lakukan apa pun padanya. Dia bernapas dan tidak ada darah. Selama mobil tidak mengeluarkan asap,dia akan baik-baik saja di dalam mobil. Kita tidak tahu apa ada tulangnya yang patah … lebih baik tenaga medis yang memeriksa keadaannya.”
Aku segera menelepon Uncle Hendra, karena tidak tahu harus melakukan apa selagi menunggu bantuan datang. “Uncle, sesuatu yang buruk telah terjadi.”
__ADS_1
“Aku tahu. Ambulans sebentar lagi sampai. Apa Hadi baik-baik saja? Dia sadar atau pingsan?” ucap Uncle Hendra dengan tenang. Putra sulungnya baru saja mengalami kecelakaan parah dan dia tetap bisa bicara dengan nada tenang?
“Dia tidak sadar, Uncle. Tetapi dia bernapas dan tidak ada darah. Dan satu hal lagi, sepertinya ada yang menculik Clarissa.” Aku melihat ke arah jalan yang dimaksud oleh orang-orang tadi. Ke mana mereka membawa gadis itu?
“Jangan khawatirkan Clarissa. Biar aku yang mengurusnya. Tolong, jaga Hadi untukku. Ada beberapa hal yang harus aku urus, aku akan menemui kalian di rumah sakit.” Uncle Hendra mengakhiri hubungan telepon kami bersamaan dengan sayup-sayup bunyi sirene mendekat.
Ambulans datang bersamaan dengan polisi yang segera membubarkan orang yang berkerumun. Aku menjaga jarak memberi ruang pada petugas media untuk menolong sahabatku. Mereka memeriksa keadaannya, lalu mengeluarkan dia dari mobil. Setelah menanyakan rumah sakit tujuan mereka, aku bergegas menuju di mana aku meninggalkan sepeda motorku.
Aku sudah pasrah akan kehilangan kendaraanku itu. Tetapi aku menemukannya masih di tempat yang sama dengan posisi yang sama saat aku meninggalkannya. Aku segera menyalakan mesinnya dan mengikuti ke mana arah ambulans tersebut pergi.
Tidak peduli dengan kendaraan lain yang ada di sekitarku, aku tetap menjaga jarak aman di belakang ambulans tersebut. Kami bergerak terus tanpa halangan hingga akhirnya tiba di rumah sakit. Mereka membawanya ke bagian gawat darurat, aku segera memarkirkan sepeda motorku.
Aku mencari dia di antara bilik yang tirainya tertutup. Saat aku menemukannya, aku melihat mereka telah membuka pakaiannya. Posisi tangan kanannya terlihat aneh, apakah lengannya patah karena tabrakan tadi? Bagian pinggang, pinggul, juga bagian luar paha kanannya terlihat memar. Bagian itu sebentar lagi pasti akan berubah warna hitam kebiruan.
Dokter memerintahkan untuk segera dilakukan CT Scan untuk mengetahui apakah ada luka pada bagian dalam, termasuk organ tubuhnya. Seorang suster meminta aku untuk mengisi sekaligus membubuhi tanda tangan pada beberapa dokumen yang mereka sediakan.
Uncle Hendra yang terlihat tenang kini bisa aku pahami. Dia berusaha tegar agar istrinya tidak semakin panik. Aku bisa melihat kekhawatiran dari kedua matanya ketika dokter memberi tahu keadaan putranya sejauh dari hasil pemeriksaan fisik yang mereka lakukan. Untuk mengetahui secara detail, mereka perlu menunggu hasil dari CT Scan.
“Aku tidak peduli dengan biaya. Lakukan apa saja yang terbaik untuk putraku,” kata Uncle Hendra kepada Dokter Andreas.
“Pasti, Hendra.” Pria itu menepuk bahu Uncle Hendra, lalu pergi bersama seorang suster keluar dari ruang gawat darurat.
“Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya?” tanya Aunt Zahara terisak. Uncle Hendra memeluknya yang membuat Aunt Zahara semakin menangis.
“Kita doakan yang terbaik untuk putra kita, sayang.” Uncle Hendra membelai rambut istrinya. Aku hanya bisa berdiri diam di dekat mereka.
Hari ini seharusnya kami mencari buku bersama, lalu Hadi menjemput adik-adiknya dan mengantar Clarissa sebelum pulang. Sedangkan aku menjemput adikku, kemudian pulang ke apartemen. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Semuanya berubah karena kecelakaan ini.
__ADS_1
Tidak. Ini bukan kecelakaan. Mobil itu sengaja menabrak Hadi. Dia sudah memperhitungkan waktu dari kecelakaan tersebut. Karena itu dia menabrak tepat pada bagian di mana Hadi duduk. Memar di sekujur tubuh bagian kanannya adalah dampak dari tabrakan tersebut.
“Siapa yang ingin menyakiti Hadi, Uncle?” tanyaku memikirkan kecelakaan yang aneh itu. “Yang terjadi ini bukanlah kecelakaan. Ini usaha pembunuhan. Mobil yang menabrak Hadi melakukan itu dengan sengaja. Lalu mereka juga menculik Clarissa.”
“Apa? Ada yang menculik Clarissa? Maksud kamu, Clarissa juga ada di dalam mobil bersama Hadi?” tanya Aunt Zahara yang memandang aku dan suaminya dengan tatapan penuh tanya.
“Iya, Tante. Kami tadi pergi bersama ke toko buku. Setelah kecelakaan terjadi, aku segera memeriksa keadaan mereka. Tetapi hanya Hadi yang ada di dalam mobil,” ucapku khawatir.
“Sayang, orang-orang yang mengawal mereka akan menyelamatkan Clarissa, ‘kan?” tanya Aunt Zahara setengah menuntut. “Mereka tahu dia berada di mana dan akan segera menolong dia, ‘kan?”
Untuk pertama kalinya, Uncle Hendra terlihat frustrasi. Dia tidak lagi bersikap setenang tadi. Dia menghela napas panjang, aku segera tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. “Mereka gonta-ganti mobil untuk mengecoh pria yang mengawal Clarissa dan Hadi. Kecelakaan itu direncanakan dengan baik, jadi jalan yang mereka tempuh sengaja diblokir agar tidak ada yang bisa mengikuti mereka.
“Saat mereka menyusul Clarissa dengan mengikuti sinyal dari kalung dan gelangnya, kedua benda itu berada di sebuah rumah yang sudah kosong. Seluruh pakaian sampai sepatu yang dia kenakan begitu juga dengan tas yang berisi ponsel, dompet, dan buku kuliahnya ada di rumah itu.” Kini aku mengerti arti ekspresi itu. Oh, Tuhan. Semoga mereka memberi dia pakaian ganti dan tidak membuat dia berada di luar sana tanpa pakaian.
“Apa maksudmu, sayang? Jika kalung dan gelang yang berisi alat pelacak itu dilepas, maka kita tidak akan bisa menemukan Clarissa. Ba-bagaimana mereka bisa tahu?” tanya Aunt Zahara.
“Dia adalah orang jahat. Dia pasti curiga bahwa kita akan melindungi Clarissa sekuat tenaga kita agar kita tidak pernah kehilangan dia lagi.” Uncle Hendra menatap kami berdua secara bergantian.
“Kalau begitu, tidak ada seorang pun yang tahu di mana Clarissa berada sekarang?” tanyaku dengan berat, khawatir mendengarkan jawabannya. Dan Uncle Hendra memberi respons yang aku takutkan tersebut. Dengan wajah putus asa, dia menganggukkan kepalanya.
*******
Author's Note~
Hai, teman-teman. Aku akan publikasikan bab lanjutannya pada hari Kamis, ya. Bab ini seharusnya aku publikasikan pada Selasa sore, tetapi ada halangan. Selamat beraktivitas.
Salam sayang,
__ADS_1
Meina H.