Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 153 - Pemakai Desain Terbaik


__ADS_3

“Erendira Bella Perkasa,” seru pembawa acara itu yang membuat ruangan hening sejenak. “Selamat kepada semua model yang telah terpilih. Mohon agar hadir kembali besok dan lusa untuk mengepas pakaian dan mempelajari aturan saat berjalan di panggung. Sebelum pulang, silakan menikmati hidangan yang sudah disiapkan untuk kita semua.”


Pria itu turun dari panggung, lalu dia berjalan mendekati aku. Dia menjabat tanganku dan Vikal sembari mengucapkan selamat kepadaku. Menjadi model yang muncul paling akhir pada sebuah peragaan busana adalah impian semua model. Aku masih tidak percaya bahwa aku mendapatkan kehormatan sebesar ini dari seorang desainer kebaya terkenal.


Vikal mengajak aku menuju meja saji begitu pria tadi kembali bergabung dengan panitia acara. Dia merangkul aku dengan erat dan terus mengucapkan selamat. Wajar saja. Ini adalah untuk pertama kalinya aku akan mengenakan desain terbaik seorang perancang selama karierku di dunia model.


“Pak Billy pasti akan senang ketika mendengar kabar baik. Sayang, jaga kesehatanmu, juga istirahat malammu. Jangan sampai ada satu kesalahan pun yang bisa membuat kamu gagal tampil pada hari pagelarannya nanti,” ucap Vikal sambil menyendokkan nasi ke atas piringnya.


“Vikal, ini bukan pekerjaan pertamaku berjalan di atas runway.” Aku memutar bola mataku.


“Benar. Tetapi tidak ada salahnya berhati-hati.” Dia tersenyum kepadaku. “Aku sangat bangga kepadamu! Siapa yang menyangka bahwa kejadian buruk itu membawa anugerah?”


“Aku sempat berpikir bahwa panitia sedang mempermainkan aku,” bisikku kepada Vikal. “Karena sampai menjelang akhir, namaku tidak juga disebutkan.”


“Aduh, sayang. Kapan kamu bisa belajar dalam bidang ini? Tentu saja semakin lama namamu disebut, semakin istimewa posisi yang disiapkan untukmu,” katanya ikut berbisik. “Bila kamu tampil dengan baik saat peragaan nanti, bersiaplah menerima banyak tawaran dari desainer lain.”


“Tidak, Vikal. Aku lebih suka mengikuti audisi daripada—” kataku menolak.


“Tentu saja kamu akan tetap mengikuti audisi. Tetapi dari jalur undangan sehingga kamu tidak perlu mendaftar terlebih dahulu. Apa kamu mengerti bedanya?” Dia menggeleng pelan, seolah-olah hal itu harusnya sudah aku ketahui dengan baik.


Kami makan di satu tempat yang jauh dari model lain dan asisten mereka. Vikal memberi tahu aku apa yang perlu aku persiapkan, perawatan yang akan aku ikuti, dan memberi daftar makanan yang boleh dan yang tidak boleh aku makan. Aku sudah mengenali semua peraturan tersebut, jadi aku tidak protes atau bertanya lebih lanjut.


Colin sudah menunggu dengan sepeda motornya saat aku dan Vikal keluar dari tempat pertemuan. Aku segera berlari mendekatinya dan memeluknya dengan erat. Dia hanya tertawa. Vikal melarang aku pulang dengan Colin, tetapi dia diam begitu sayangku mengeluarkan sebuah jaket tebal. Aku mengenakan celana jin panjang dan sepatu kets, jadi aku tidak akan sakit karena angin malam.

__ADS_1


Pada keesokan harinya, dia menemani aku sepanjang hari saat mengikuti persiapan pagelaran. Dia tidak banyak bicara atau mengganggu aktivitas, karena hanya duduk dan sibuk sendiri dengan game daringnya. Beberapa orang yang belum pernah melihatnya tidak berhenti melirik ke arahnya setiap kali mereka punya kesempatan.


Hm. Colin memang tampan, tetapi aku yakin mereka tertarik karena dia keturunan asing. Hal yang sulit aku pahami. Bagiku, Colin sama saja seperti laki-laki lain. Sama sekali tidak ada bedanya dengan kulit pucat dan warna mata serta rambutnya yang sama dengan kaukasoid.


“Konsentrasi, Dira, atau aku akan menyuruh Colin pulang sekarang juga,” ancam Vikal yang semakin hari semakin bawel. “Meskipun penampilan kamu di panggung tadi sudah bagus, kamu tidak boleh lengah mendengar instruksi selanjutnya dari panitia.”


“Aku hanya istirahat sebentar, Vikal. Panitia juga belum meminta kami untuk berkumpul lagi.” Aku memberikan botol minumanku kepadanya. “Aku akan ke toilet.”


“Jangan lama-lama. Hati-hati melangkah, dan hindari bilik yang lantainya basah,” katanya saat aku sudah membalikkan badan dan berjalan menjauh darinya.


Teman model yang juga berniat ke toilet tertawa kecil di sisiku. Asistenku memang berlebihan dalam menjaga aku. Kami mengobrol santai, menunggu sampai giliran kami tiba. Karena sedang istirahat, teman-teman yang lain ikut menggunakan kesempatan itu untuk mengurus hal pribadi. Tidak sampai sepuluh menit, kami sudah keluar dari ruangan itu untuk kembali ke tempat latihan.


Aku tersandung sesuatu saat melewati pintu dan bergegas menyeimbangkan pijakan kakiku agar tidak terjatuh. Aku melihat ke lantai untuk mencari tahu apa yang baru saja aku tabrak. Tetapi aku malah melihat kaki seseorang dan begitu aku mengangkat wajah, aku bertemu pandang dengan Laras. Apa dia yang menjegal aku?


“Mengapa kamu melihat aku seperti itu?” tanyanya dengan senyum sinis. “Bukankah begitu cara yang kamu pakai supaya dipilih untuk memakai kebaya terbaik? Berpura-pura tersandung di atas panggung untuk menimbulkan rasa kasihan. Ide yang sangat cemerlang.”


“Laras, kamu dan Dira dari agensi yang sama. Mengapa kamu berkata begitu? Seharusnya kamu bangga dia dipilih Ibu Riani untuk mengenakan desain kebaya terbaiknya. Dia yang punya hak untuk memilih siapa yang memakai kebaya buatannya,” kata teman yang berdiri di sisiku.


“Apa kamu tidak tahu dia anak siapa? Dengan uang ayahnya, dia bisa mendapatkan apa pun yang dia mau, termasuk dipilih memakai kebaya terbaik.” Laras meletakkan tangannya di pingggangnya. “Kamu tanya saja langsung. Pasti yang aku katakan itu benar.”


“Apa kamu sedang menuduh Ibu Riani melakukan kolusi?” tanya Vikal yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sisiku. “Pak Billy sangat bangga dengan pencapaian kalian. Jangan sampai ada yang batal ikut peragaan ini hanya karena iri hati.” Vikal menatap Laras dengan serius.


“Tidak perlu membela dia, Vikal. Kamu juga tahu bahwa dia bisa ada di sini, karena bantuan papanya. Dia jatuh pada saat audisi, seharusnya dia tidak lulus,” kata Laras tidak mau kalah.

__ADS_1


“Sebaiknya kamu diam, Laras. Kamu sudah menuduh orang tanpa bukti.” Asistennya menegur sambil melihat ke sekelilingnya. “Kamu sudah menarik perhatian banyak orang. Ini tidak baik untuk kalian berdua. Vikal benar. Pak Billy sangat bangga dengan ini, jadi jangan kecewakan dia.”


Panitia mengajak kami semua untuk kembali berkumpul. Latihan dimulai lagi. Formasi kami belum lengkap, karena masih ada teman-teman yang memasuki ruang pas untuk memakai kebaya yang akan mereka kenakan. Tetapi kami sudah dapat gambaran pada saat harinya nanti.


Aku mendapat giliran mengepas kebaya pada hari berikutnya. Rasa bangga yang tidak terkatakan aku rasakan saat kebaya itu menutupi tubuhku dengan sempurna. Aku tidak tahu apa yang membuat kebaya ini disebut sebagai desain terbaik. Karena menurutku, semua kebaya yang akan kami pakai sangat bagus dan indah. Cocok dengan bentuk tubuh dan tinggi badan kami.


Tidak banyak bagian yang perlu diubah dari ukuran kebaya itu. Hanya bagian dada dan di bawah ketiak. Lingkar dadaku lebih kecil dari ukuran kebaya tersebut, sedangkan bagian lengan atasnya terlalu longgar. Mereka tidak akan butuh waktu lama untuk membuat pakaian itu pas di badanku.


“Persiapan untuk akhir pekan ini sudah cukup. Kita akan melakukan pengepasan pakaian pada hari Sabtu dan Minggu berikutnya. Kalian juga akan berlatih jalan sesuai dengan urutan secara lengkap.” Dia melihat ke arah rok yang aku pakai. “Kamu bawa celana panjang, ‘kan?”


“Iya. Aku tadi memakainya sebelum mengikuti latihan. Jangan khawatir, Vikal. Aku akan menjaga diriku dengan baik dan tidak akan sakit untuk waktu yang lama.” Aku memutar bola mataku.


“Lebih baik kita repot sekarang daripada menyesal kemudian,” katanya mengingatkan.


Supaya perdebatan kami tidak berlangsung lama, aku memilih untuk diam. Hari sudah malam, aku sudah sangat lapar, jadi aku meminta dia untuk makan sebelum pulang. Tetapi Vikal menolak. Dia sudah punya janji dengan asisten model yang lain untuk makan bersama.


Itu adalah hal yang baik, jadi saat dia mengajak aku untuk ikut serta, aku menjawab tidak. Lebih baik dia saja yang bergabung bersama mereka. Dengan begitu, mereka bisa berbincang dengan leluasa saat mengeluh mengenai model yang mereka dampingi. Aku sudah bisa bayangkan apa saja yang akan dia katakan kepada mereka mengenai aku. Dia takut bercerita dengan jujur karena Papa.


Keuntungan bagiku bila Vikal menghabiskan waktu bersama mereka adalah dia akan menceritakan semua gosip terbaru mengenai para model itu kepadaku. Aku yakin semua asisten itu melakukan hal yang sama. Bedanya, Vikal tidak akan pernah mengatakan hal buruk tentang aku, satu kata pun. Mengenai Papa yang galak, semua sudah tahu.


“Kamu harus bisa mengendalikan dirimu, Laras. Sudah cukup semua keributan yang kamu sebabkan.” Terdengar suara seorang pria yang aku kenal sebagai asisten Laras. Aku tidak suka mencuri dengar, jadi aku meneruskan langkahku. Namun Vikal menahan aku dengan memegang tanganku. Aku ingin pergi, dia malah meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.


“Dira sudah membongkar rahasiaku kepada banyak orang. Bagaimana aku bisa tenang?” seru Laras dengan kesal. “Kalau bukan karena Reese yang memberi tahu, aku tidak akan pernah tahu bahwa perempuan yang berlagak polos itu sudah menikam aku dari belakang.”

__ADS_1


“Kamu terus saja mengatakan dia sudah membongkar rahasiamu. Rahasia apa? Aku tidak tahu kamu punya rahasia, bagaimana Dira bisa tahu? Lalu Reese, bagaimana dia juga bisa tahu hal tentangmu yang aku tidak tahu?” ucap asistennya frustrasi.


Suasana hening sejenak. Laras maupun asistennya tidak bicara. Sepertinya gadis itu butuh waktu untuk menjawab pertanyaan asistennya. Aku dan Vikal saling bertukar pandang. “A-aku dan putra Pak Billy beberapa kali bermesraan di ruang kerjanya.”


__ADS_2