
*Dira*
Aku masih tidak percaya bahwa Reese memilih jurusan yang sama denganku. Ah, tidak. Jurusan yang sama dengan Kak Hadi. Apa yang akan dia lakukan sebagai seorang model dengan belajar di jurusan manajemen? Setahuku, orang tuanya tidak punya usaha sendiri. Ayahnya seorang tenaga ahli dan ibunya guru bahasa Inggris di sekolah internasional.
Dilihat dari temperamennya, dia tidak mungkin tahan kerja di kantor. Dia tipe orang yang harus dilayani, bukan melayani. Lagi pula pekerjaan kantor apa yang bisa membiayai gaya hidupnya yang mewah itu? Jangan-jangan, itu sebabnya dia mengincar Kak Hadi. Dia ingin menjadi istri seorang pengusaha kaya supaya tetap bisa hidup berkecukupan.
Huh. Lihat saja. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Hanya ada satu gadis di dunia ini yang cocok menjadi istri kakakku. Clarissa. Ketika laki-laki lain sudah merasakan cinta dan tertarik kepada lawan jenis saat usia mereka remaja, Kakak mati rasa. Clarissa adalah satu-satunya perempuan yang berhasil membuat Kakak tidak hanya jatuh cinta kepadanya, tetapi berniat menikah dengannya.
“Mengapa bukan Hadi yang mengantarmu pagi ini?” tanya Charlotte yang menunggu aku sampai berdiri di dekatnya, lalu kami berjalan bersama menuju ruang kuliah.
“Kakakku membantu Papa di kantornya. Apa kamu lupa?” ucapku mengingatkan. “Lagi pula dia sudah tidak perlu ke kampus. Urusannya hanya menyelesaikan skripsi.”
“Syukurlah, jadi perempuan itu tidak akan punya kesempatan untuk mendekati Hadi.” Charlotte tertawa kecil. “Clarissa tidak bisa tenang setelah dia tahu mantan adik angkatnya itu kuliah di sini.”
“Kak Hadi tidak akan tertarik kepada Reese. Tidak peduli apa pun yang gadis jahat itu lakukan untuk mendapatkan perhatian Kakak,” kataku santai. “Dia cukup fokus memenangkan hati Kak Hadi lagi.” Aku tidak heran melihat tatapan orang-orang di sekitarku kepadaku. Risiko menjadi seorang model. Semoga saja setelah satu bulan, mereka sudah terbiasa dengan kehadiranku.
“Kakakmu itu sangat keras kepala. Matanya tidak bisa berbohong. Dia masih sayang kepada Clarissa. Lalu mengapa dia terus saja menyangkal? Lihat saja. Begitu ada laki-laki yang mencoba mendekati Clarissa, Hadi pasti menghalangi niat laki-laki itu.” Charlotte berdecak pelan.
“Hadi masih terluka. Luka itu menyebabkan trauma. Walaupun kita meyakinkan dia bahwa dia dan Clarissa adalah pasangan yang serasi, dia tidak peduli. Yang dia ingat setiap kali melihat Clarissa adalah penolakannya. Kamu tahu sendiri bagaimana rasanya, sweety. Aku pernah menyakiti kamu,” kata Wyatt. Kami memandangnya sebelum kembali menatap ke depan. Dia benar.
“Clarissa sudah meminta maaf, bahkan mengucapkan cinta. Hadi masih menutup hatinya,” kata Charlotte pelan. “Dasar laki-laki keras kepala.”
Wendy sudah tiba di ruang kuliah saat kami memasuki ruangan itu. Dia sudah menjaga kursi untuk kami. Bagus. Karena aku tidak mau duduk dekat perempuan aneh itu. Kak Hadi benar. Kuliah dan sekolah itu sangat berbeda. Dosen tidak banyak memberikan teori, tetapi memberikan kami daftar buku untuk menunjang mata kuliah yang kami ambil. Sistem yang berat. Kami lebih banyak diskusi daripada menerima teori. Semoga saja soal ujian nanti tidak sulit.
Reese masuk ke kelas dengan wajah bahagia. Dia menyapa semua orang, lalu menyapa aku dan teman-temanku. Kami serentak membalas sapaannya. Dia melihat ke sekeliling kami. Kursi kosong yang bisa dia duduki adalah di sisi Wendy.
__ADS_1
Teman-teman sengaja menempatkan aku di sisi jendela dengan Charlotte dan Wendy duduk di belakang dan depanku. Ada mahasiswa lain di sisiku, sedangkan Wyatt di belakangnya di sisi Charlotte. Jadi, hanya kursi di sisi Wendy dan depan mahasiswa itu yang cukup dekat jaraknya denganku. Dia benar-benar serius dengan niatnya mendekati Kak Hadi.
Aku tahu bahwa Reese tidak akan pernah mau dekat dengan orang yang dibencinya. Tetapi sudah dua hari ini dia rela duduk di sisi Wendy. Aku mau tahu berapa lama dia akan bertahan. Apa selama empat tahun kami kuliah dia akan terus duduk di samping sahabat baikku itu?
“Hai.” Seorang gadis menyapa saat aku dan teman-teman berjalan menuju ruang kuliah berikutnya. “Kamu pasti Erendira, adik Hadi. Sudah dua hari ini dia tidak ke kampus. Apa kamu tahu dia di mana?”
“Di mana saja yang dia inginkan.” Aku mengangkat kedua bahuku. “Maaf, kamu siapa?”
“Aku Valeria.” Gadis itu mengulurkan tangannya dengan senyum ramah di bibirnya. Aku menerima uluran tangannya tersebut. “Aku, Hadi, dan Colin satu angkatan juga satu kelas.” Aku mengangguk mengerti. “Jadi, Hadi tidak akan datang untuk membahas skripsinya dengan dosen?”
“Ada urusan apa kamu dengan Hadi?” tanya Reese yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sisiku.
“Hanya mau tahu kabar teman sekelasku,” jawab Valeria masih dengan senyum di wajahnya.
“Hadi baik-baik saja, kamu tidak perlu memikirkan dia. Sebaiknya kamu menjaga jarak dengannya. Karena aku tidak suka ada perempuan lain yang dekat dengannya,” kata Reese dengan percaya diri. Aku dan Charlotte saling bertukar pandang.
“Kamu tidak kenal aku? Apa kamu tidak pernah jalan-jalan dan hanya mengurung diri di kamar?” tanya Reese mengejek. “Kamu cukup ketahui satu hal ini saja, jangan dekati Hadi.”
“Adiknya saja tidak melarang, mengapa kamu yang merasa berhak atas Hadi? Perempuan aneh.” Valeria menoleh ke arahku. “Tolong, sampaikan salam dan pesanku kepada Hadi. Beri tahu saja namaku. Dia pasti kenal aku. Dosen pembimbingnya mencarinya. Sampai nanti.”
Gadis bernama Valeria itu membalikkan badannya dan pergi menjauhi kami. Aku dan Charlotte saling bertukar pandang. Ternyata bukan hanya Reese. Clarissa juga punya saingan lain yang suka kepada Kak Hadi. Tetapi dia bukan saingan beratnya. Aku tidak pernah mendengar nama Valeria keluar dari mulut Kakak, berarti dia tidak tertarik kepadanya.
“Kamu kenal siapa dia?” tanya Reese kepadaku. Dia terlihat sangat kesal. Aku hanya menggelengkan kepalaku. “Tidak perlu sampaikan salamnya kepada Hadi. Dia hanya perempuan pengganggu.”
Apa bedanya dia dengan Valeria? Tetapi aku tidak mengatakan hal itu dan hanya mengucapkannya di dalam kepalaku. Reese berjalan di sisiku saat kami menuju tempat parkir. Aku tidak menyatakan rasa keberatanku. Hanya berharap semoga dia tidak akan melakukan ini selama empat tahun.
__ADS_1
“Masih sore.” Reese melihat ke arah langit. “Bagaimana kalau kita makan sesuatu di kafe? Aku yang traktir. Terlalu cepat untuk pergi ke agensi sekarang.” Dia melirik jam tangannya.
“Kami mau ke toko buku untuk melihat-lihat buku pendukung mata kuliah kita. Bagaimana kalau kita ke kafe sepulang dari sana?” Charlotte mengajukan usul yang lain. Kami tidak ada niat pergi ke toko buku, tetapi aku menuruti skenarionya itu, asalkan bisa lepas dari gadis ini.
Reese memasang wajah tidak suka. “Aku lebih suka menyuruh Cilla yang melakukan itu. Aku tidak nyaman berada di tempat yang penuh buku.” Dia bergidik pelan. “Kalau begitu, aku pergi sendiri saja. Sampai jumpa besok.” Semudah itu. Dia pun pergi dari sisiku.
“Terima kasih banyak, Charlotte. Aku sudah kehabisan akal untuk menghindari gadis itu.” Aku mendesah lega. Mereka bertiga tertawa. “Apa kamu akan ikut kami ke toko buku, Wendy? Atau kamu harus bekerja di kafe hari ini?”
“Aku ikut kalian. Aku juga perlu mencari buku. Supervisor mengizinkan aku cuti sampai hari Jumat. Pada akhir pekan nanti, aku bisa menggantikan sifku dengan bekerja dari kedai buka sampai tutup,” kata Wendy dengan santai.
“Apa kamu tidak akan kelelahan pada hari Senin nanti?” tanyaku khawatir.
“Tenang saja. Setelah selesai kerja pada hari Minggu, aku akan segera tidur begitu sampai di rumah. Jadi, aku tidak akan kelelahan karena istirahat yang cukup.” Dia melingkarkan tangannya di bahuku. “Ayo, kita pergi sekarang supaya tidak kemalaman.”
Kami beruntung, karena ada banyak toko buku di sekitar kampus. Buku yang mereka sediakan juga cukup lengkap untuk bidang manajemen. Aku tidak membeli satu buku pun. Buku Kak Hadi sudah dia wariskan kepadaku. Mereka bertiga yang membutuhkannya. Kakak sudah memberikan daftar buku yang perlu kami miliki, jadi teman-teman menggunakan itu sebagai panduan.
Setelah menemukan buku yang mereka cari, kami menuju sebuah kafe. Namun Wyatt berubah pikiran dan membawa kami ke sebuah restoran. Aku menoleh ke arah Charlotte, tetapi dia juga tidak tahu-menahu mengapa kami pergi ke restoran yang dia maksudkan.
Aku bersorak senang ketika melihat Colin berdiri dan melambaikan tangannya ke arah kami. Lily juga ikut bersamanya. Mereka sudah menyiapkan meja untuk sepuluh orang. Aku memandang dia dan Wyatt secara bergantian. Siapa empat orang lagi yang akan ikut makan bersama kami?
“Adi, Clarissa, dan Hadi,” jawab Wyatt. “Aku sudah memberi tahu Clarissa. Giliranmu mengundang kedua saudaramu untuk datang juga.”
Aku tertawa mendengarnya. “Kak Hadi pasti tidak akan datang. Jadi, jangan berharap banyak.”
“Karena dia tahu Clarissa akan bergabung bersama kita juga?” tebak Colin. Aku mengangguk cepat. “Kita melakukan ini memang untuk mereka.” Colin yang semula tersenyum memasang wajah serius.
__ADS_1
Sebelum aku sempat bertanya, terdengar suara seorang perempuan. “Aku pikir kita bisa menjadi teman. Ternyata kalian semua pembohong,” ucapnya dari arah belakangku.