
*Colin*
Dua hari tiga malam menemani Dira mempersiapkan diri untuk peragaan busana yang diikutinya benar-benar melelahkan. Tetapi aku senang bisa kembali melihat dia bekerja. Sayang sekali, aku seorang laki-laki. Jadi, aku tidak bisa berada di balik panggung dan melihat keadaan yang katanya persis seperti perang.
Setelah mengetahui rahasia Laras pada latihan minggu lalu, aku dan Dira tidak membahasnya lagi. Itu bukan urusan kami, maka kami berusaha untuk melupakannya. Laras bukan lagi anak-anak yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya.
Namun aku berulang kali hampir keceplosan melihat tingkahnya yang tidak berhenti mengingatkan Dira bahwa dia jatuh pada saat audisi. Aku tahu batasku selama berada di tempat ini. Aku boleh melihat, tetapi tidak boleh ikut campur. Untunglah, Vikal asisten yang cepat tanggap. Dia membela Dira kapan saja tenaganya dibutuhkan.
“Kamu baik-baik saja, sayang?” tanyaku setelah dia selesai latihan. Hari ini adalah hari terakhir. Jadi, dia sudah tidak perlu datang untuk berlatih lagi. Peragaan akan diadakan pada hari Sabtu depan.
“Iya. Sabtu depan adalah hari terakhir aku bertemu Laras pada acara yang sama. Semoga saja kami tidak bertemu lagi pada proyek yang sama. Dia benar-benar bukan teman yang baik. Mudah sekali diprovokasi oleh orang lain.” Dira mendesah pelan.
“Bila kamu lelah, kamu sebaiknya pulang dengan Vikal saja.” Aku membantu membawa tasnya. Dia segera menggelengkan kepalanya.
“Fisikku tidak selelah itu. Aku hanya capai mendengar Laras terus saja mengejek aku. Kami sudah di hari terakhir latihan masa dia belum juga bisa bekerja sama dengan baik denganku?” Dira memeluk aku ketika kami berhenti di samping sepeda motorku.
“Sayang, kita tidak bisa berdiri di sini terlalu lama. Malam sudah dingin, kamu perlu sampai di rumah secepatnya.” Aku memasang jaket mengelilingi tubuhnya. Dia cemberut, karena aku menjauhkan tubuhnya dariku. “Kamu masih bisa memeluk aku sepanjang perjalanan pulang.”
“Tetapi kamu tidak bisa membalas pelukanku,” katanya merajuk. Aku memasang helm di kepalanya.
“Begitu pagelaran busana ini selesai, kita punya banyak waktu untuk berpelukan, sayang. Malam ini, prioritas utama kamu adalah istirahat.” Aku menaiki sepeda motorku lebih dahulu, lalu membantu dia. Setelah mengenakan helm dan merasakan dia memeluk aku dari belakang, aku mengendarai sepeda motorku keluar dari lapangan parkir.
Aku memeluk dia sejenak begitu kami tiba di rumahnya. Aku menunggu sampai dia masuk ke rumah, lalu pulang ke apartemen keluargaku. Suasana damai seperti ini memang sangat menyenangkan. Kami bisa fokus pada masa depan kami. Dira dengan perkuliahan dan pekerjaannya, sedangkan aku dengan skripsi dan persiapan memenuhi ajakan Hadi bekerja di perusahaan keluarganya.
Namun damai itu belum menular ke rumahku. Dad dan Mama masih duduk berjauhan ketika aku masuk ke apartemen kami. Lily duduk di sisi Dad, sedangkan Mama di sofa di mana aku dan Lily biasanya duduk bersampingan.
__ADS_1
“Hai, Nak,” sapa Mama yang berdiri dari tempat duduknya. “Apa kamu lapar? Aku akan buatkan roti isi untukmu.” Mama berjalan menuju dapur.
“Tidak, Ma. Tidak perlu,” tolakku dengan cepat. Mama menatap aku dengan bingung. “Aku akan mandi, lalu segera tidur. Besok aku akan menemui dosen untuk menyerahkan perbaikan skripsiku.”
“Mau segera tidur atau mau cepat-cepat menelepon Dira?” goda Lily. Aku hanya tertawa. Dia tahu bahwa tebakannya itu benar, jadi aku tidak perlu mengonfirmasinya.
Aku bangun pada pagi harinya ketika mendengar bunyi alarm ponselku. Walaupun masih mengantuk, aku memaksakan diri untuk bangun dan mematikan alarm tersebut. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, aku sudah mandi, berpakaian, dan memastikan barang-barang bawaan sudah lengkap di dalam ransel.
Seperti biasanya, Mama sudah sibuk di dapur dan aroma masakan yang lezat segera memasuki penciumanku. Dad tidak ada di mana pun di ruang tengah atau dapur. Mungkin dia sedang mandi di kamar mandi yang ada di kamar mereka. Walaupun tidak tidur satu kamar untuk sementara ini, Dad tetap bisa mengakses penuh kamar tidur mereka, kecuali pada saat beristirahat.
“Selamat pagi, Colin. Kamu mau minum apa pagi ini?” tanya Mama sambil mendekati pintu lemari atas di mana berbagai saset dan bubuk minuman berada.
“Kopi susu, Ma,” jawabku sambil duduk di salah satu kursi di konter dapur. “Sepagi ini Mama sudah masak menu yang merepotkan. Mengapa tidak membuat yang mudah saja? Aku tidak keberatan makan roti panggang dengan selai kacang.”
“Kamu dan Lily pasti akan cepat lapar. Kalian silakan pilih sendiri mau makan apa. Aku sudah siapkan roti panggang, telur, bakon, sosis, dan panekuk. Kamu akan menemui dosen dan Lily akan mengikuti upacara bendera, jadi kalian butuh banyak tenaga.” Mama meletakkan piring berisi semua makanan itu ke atas konter, tepat di depanku.
Mama duduk di sisiku dan mengisi piringnya juga. “Bagaimana hubunganmu dengan Dira? Kalian baik-baik saja?” tanya Mama pelan.
“Iya. Dia tidak sabar untuk mempersiapkan pernikahan kami. Padahal Uncle dan Aunt sudah katakan bahwa mereka akan mengurus segalanya dengan baik.” Aku mengangkat kedua bahuku. “Mama tahu sendiri betapa mudahnya dia khawatir.”
“Kami tidak akan bisa menyediakan waktu untuk membantu mempersiapkan segalanya, jika kalian menolak jasa penyelenggara pernikahan. Dad harus memimpin sekolah dan aku mendampingi bos perfeksionisku,” kata Mama mengingatkan.
“Tidak perlu, Ma. Biar Uncle dan Aunt saja yang mengurusnya. Aku mau pernikahan ini berjalan seperti apa yang Dira harapkan. Jadi, lebih baik bila mereka yang menyiapkannya,” ucapku. Mama menganggukkan kepalanya. “Lalu bagaimana hubungan Mama dengan Dad?” tanyaku yang tidak mau menyia-nyiakan topik yang dibuka oleh mamaku sendiri.
“Kamu memang tahu memanfaatkan situasi, ya.” Mama mengacak-acak rambutku. Aku tertawa. “Aku belajar bahwa memaafkan tidak semudah menerima segalanya kembali seperti semula. Apa yang Dira rasakan kepadamu, aku bisa memahaminya sekarang.”
__ADS_1
“Dad pasti mengerti, Ma. Ambil waktu sebanyak yang Mama butuhkan. Aku yakin hubungan Dad dan Mama akan lebih baik setelah kejadian ini. Karena aku dan Dira juga mengalaminya.” Aku merangkul bahu Mama. “Jika ini bisa membantu, mengapa Mama tidak ajak Dad untuk bulan madu lagi?”
“Kamu ini.” Mama menyikut lenganku dengan wajah memerah. “Pak Mahendra sedang sibuk sampai awal bulan depan. Aku tidak yakin dia akan memberi aku cuti mendadak.”
“Menginap satu atau dua malam pada akhir pekan tidak akan mengganggu jadwal kerja Dad dan Mama. Aku bisa bicara dengan Dad dan mengusulkan agar dia menjemput Mama dari tempat kerja, lalu menginap di hotel. Aku akan menjaga Lily, Mama tidak perlu khawatir. Aku janji, kami hanya akan memesan makanan dari restoran di lobi,” kataku memberi usul.
Mama terlihat sedang berpikir. “Tunggu. Bukankah hari Sabtu ini adalah peragaan busana yang akan Dira ikuti? Kami ingin hadir juga. Pak Mahendra memberikan undangan untuk kami bertiga. Aku yakin Dira sudah mengundang kamu.”
“Mama dan Dad bisa datang ke lokasi dari penginapan. Kalau perlu, kalian menginap di hotel di mana acara itu diadakan saja. Beres, ‘kan?” ucapku tidak mau sampai rencana itu gagal.
“Baiklah.” Mama tersenyum. “Bila kamu berhasil membujuk Dad untuk melakukan itu, aku setuju.”
Membujuk? Dad akan melompat kegirangan begitu aku beri tahu rencana ini nanti. Dia sudah lama merindukan Mama dan ingin kembali lagi seperti dahulu. Semoga saja rencana ini akan berhasil. Aku juga rindu melihat mereka bisa mesra lagi seperti sebelumnya.
Ketika Dad dan Lily bergabung bersama kami untuk sarapan, Mama meninggalkan kami dan berjalan menuju kamarnya. Saatnya bagi Mama untuk bersiap kerja. Kesempatan itu aku gunakan untuk memberi tahu Dad mengenai hasil pembicaraan kami tadi. Seperti yang aku duga, Dad tersenyum senang mengetahui bahwa Mama sudah lebih dahulu mengatakan iya.
Langkah kakiku di kampus terasa sangat ringan. Aku berharap pertemuanku dengan dosen juga berjalan lancar. Aku menunggu kedatangannya bersama mahasiswa lain yang menjadi mahasiswa bimbingannya di kantor jurusan. Tugasku hari ini hanya menyerahkan bab dua skripsi yang sudah aku perbaiki. Bila bab itu sudah selesai diperiksa, maka aku akan diskusi panjang dengannya.
Namun aku sangat berharap tidak banyak revisi lagi untuk bab ini sehingga aku bisa maju ke bab berikutnya. Bab ketiga adalah yang paling berat, karena itu inti dari penelitian yang sedang aku kerjakan. Yang akan memakan banyak waktu adalah saat mengolah data nanti. Syukurnya, waktuku masih banyak sampai akhir tahun.
“Oke. Temui aku pada hari Rabu pagi di ruangan ini. Kita akan diskusikan bab keduamu lagi,” ucap dosen pembimbingku saat menerima perbaikan bab tersebut.
“Baik, Pak. Saya pamit,” kataku dengan sopan.
Aku segera keluar agar mahasiswa berikutnya bisa menemuinya. Aku melirik jam tanganku. Dira pasti sedang beristirahat usai mengikuti dua mata kuliah sejak pagi tadi. Waktu yang sangat tepat. Kami bisa makan siang bersama.
__ADS_1
“Colin!” panggil seseorang dari arah sampingku. Aku belum sempat menoleh, dia sudah memeluk tubuhku dengan erat. “Lama sekali tidak melihat kamu!”
“Apa-apaan ini?” ucapku berusaha melepaskan diri dari pelukannya.