
*Clarissa*
Mengetahui bahwa keluarga Foster adalah orang suruhan Finley justru membuat aku merasa lega. Aku sudah lama bertanya-tanya mengapa mereka tidak sayang kepadaku. Aku sekarang mengetahui jawabannya. Semua itu bukan karena aku anak yang jahat dan tidak tahu berterima kasih.
Ternyata intuisiku selama ini benar. Tidak ada orang yang bisa aku percayai di dunia ini. Orang yang bisa menolong aku hanyalah diriku sendiri. Keluarga Foster membuat aku tidak mudah percaya dan memilih untuk tidak berteman dengan siapa pun. Manda yang tidak menyerah mendekati aku pun ternyata orang bayaran dia.
Setiap kali melihat foto Mama, aku bertanya-tanya, apa yang membuat Finley tergila-gila kepadanya? Mama tidak ada bedanya dengan aku dan Charlotte. Dia hanya wanita muda biasa yang memiliki kecantikan yang biasa juga. Semua perempuan mempunyai keunikannya sendiri.
Grandpa mengatakan bahwa Finley tidak mencintai Mama. Dia terobsesi kepadanya, karena dia anak dari seorang pengusaha sukses. Seandainya saja Mama hanya dari kalangan orang biasa, dia tidak akan berusaha mendapatkannya segigih itu. Ada benarnya juga. Apalagi dia menjadikan aku sebagai target berikutnya. Sudah pasti dia hanya menginginkan harta keluarga kami.
Aku dan Hadi sedang membahas perkembangan skripsi kami, ketika kepala pelayan memberi tahu aku ada masalah. Ada tamu di depan gerbang yang memaksa untuk bertemu denganku. Aku tidak mau tetangga sampai ikut terganggu juga, jadi aku memintanya mempersilakan mereka masuk.
“Kamu tidak perlu melakukan itu, sayang. Aku bisa menelepon polisi supaya mereka pergi,” ucap Hadi dengan nada khawatir.
“Aku sepertinya tahu siapa yang berniat menemui aku. Jangan khawatir, sayang. Mereka tidak akan bisa menyakiti kita di rumah ini.” Aku menegakkan posisi dudukku dan Hadi berdiri, lalu membantu aku pindah dari sofa ke kursi roda.
“Aku juga tahu siapa yang memaksa untuk bertemu denganmu itu. Mereka pasti tahu kamu hanya sendirian di rumah. Itu artinya, mereka sudah mengamati kamu sejak jauh hari, sayang,” kata Hadi yang terlihat semakin tidak tenang.
“Aku akan baik-baik saja,” kataku menenangkannya. Aku bahagia melihat dia khawatir begini. Itu artinya dia tidak sedingin yang biasanya dia tunjukkan di hadapanku.
Kepala pelayan kembali dengan dua orang yang pernah menjadi bagian paling penting bagiku. Tetapi mereka tidak ragu membuang semua kesan baik tersebut demi anak gadis mereka satu-satunya. Aku mempersilakan mereka untuk duduk di sofa di depanku. Aku sengaja menemui mereka di ruang tamu, bukan di ruang keluarga. Karena mereka sudah bukan siapa-siapa lagi bagiku.
“Apa yang bisa aku bantu, Bapak dan Ibu Foster?” tanyaku dengan sopan.
“Kamu pasti tahu tujuan kedatangan kami. Tolonglah, Mila, ah, maksudku, Clarissa. Tolong bebaskan adikmu. Reese masih muda dan sering bertindak mengikuti emosinya. Sebenarnya, dia anak yang baik dan kamu tahu itu.” Pak Foster melihat ke arah kaki dan tanganku yang dibalut gips. “Tangan dan kakimu akan pulih, tetapi reputasi Reese akan cacat selamanya jika dia dipenjara. Tolonglah, katakan apa yang harus kami lakukan agar kalian menarik tuntutan atas putri kami.”
__ADS_1
“Apakah Reese tahu kalian datang ke sini? Apakah dia sadar bahwa yang dia lakukan itu salah? Aku tidak melaporkan perbuatannya ke polisi, tetapi aku bisa membantu bicara dengan kakekku.” Aku menatap mereka satu per satu. “Aku hanya akan bicara dengannya, jika Reese mau berubah.”
“Tentu saja dia tahu kami datang ke sini. Dia juga sadar dengan kesalahannya dan berjanji akan berubah menjadi lebih baik. Reese tidak sejahat yang kamu duga,” kata Bu Foster membela putrinya.
“Maaf, aku menyela,” kata Hadi yang sejak tadi hanya diam. “Kalian datang ke sini untuk meminta bantuan Rissa. Bersikaplah sopan dan bicara dengan baik.”
Hadi melihat ke arah Pak Foster. “Tangan dan kaki Rissa akan pulih, apa hanya itu yang ada di dalam kepalamu? Butuh waktu tiga sampai empat bulan untuk tahu apa kaki dan tangannya akan pulih. Mengapa kamu sudah bisa memprediksikan sebelum dokter memeriksanya lagi? Bagaimana dengan matanya yang nyaris buta? Apa salah Rissa sampai dia harus menderita begini?”
Dia kemudian menoleh ke arah Bu Foster. “Apa kamu tidak sadar siapa yang membuat anakmu jadi begitu? Sikap kalian yang terus membela dia. Aku tidak percaya gadis itu menyesali perbuatannya. Aku yakin bila Rissa ke sana sekarang, dia akan berteriak memakinya.”
“Ma-maafkan sikap kami,” ucap Pak Foster menyesal. Dia menatap Hadi dengan takut. “Kami salah sudah bicara seperti itu.” Dia melihat ke arahku. “Tolonglah, Clarissa. Tarik tuntutan kalian atas putri kami. Aku berjanji akan mendidik dia lebih baik lagi. Dia tidak akan bisa menyakiti kamu lagi.”
“Aku penasaran dengan satu hal,” ucapku pelan. Mereka menunggu aku melanjutkan kalimatku. “Apakah kalian mengadopsi aku atas perintah Finley Taylor?”
Mereka berdua membulatkan mata. Aku segera tahu bahwa ucapan Hadi mengenai fakta itu adalah benar. Aku menunggu beberapa saat, tetapi aku tidak merasa sedih atau marah begitu mengetahui perbuatan mereka di belakangku. Yang aku rasakan adalah kasihan. Mereka melibatkan Finley dalam hidup mereka, tetapi dia justru merusaknya.
“Simpan uang itu. Anggap saja sebagai tanda putusnya hubungan kita. Aku tidak mau berutang budi dengan siapa pun, terutama kalian.” Aku segera menolaknya. “Seperti yang aku katakan tadi, aku akan bicarakan ini dengan Kakek. Tetapi aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Keputusan tertinggi di keluarga kami ada di tangan kakekku.”
Mereka pamit pulang setelah menghabiskan minuman hangat dan kue yang disajikan oleh pelayan. Aku tidak bisa mengantar mereka, jadi aku membiarkan Hadi yang menggantikan peranku itu. Dia tidak segera kembali ke ruang depan, aku hanya tersenyum. Dia pasti mengatakan sesuatu kepada pasangan itu. Padahal dia tidak perlu khawatir. Aku mengenal Reese.
Dia hanya diam saat kembali kepadaku. Setelah membopong tubuhku dan memindahkan aku ke kursi roda, kami kembali ke ruang keluarga. Melihat dia tidak kesulitan melakukan itu berulang kali, sepertinya olahraga yang teratur sangat baik untuknya.
“Kamu tidak perlu mendengarkan mereka. Membicarakan tuntutan kalian atas Reese tidak akan membuat kakekmu senang. Kamu tahu sendiri Om maupun Tante sudah berkata tidak saat mereka berusaha membujuk mereka untuk berubah pikiran,” kata Hadi setelah beberapa saat.
“Tidak ada salahnya mencoba. Sama seperti alasanmu dan keluargamu membebaskan Valeria, aku juga tidak mau Reese kehilangan masa mudanya. Aku ingin memberi dia satu kesempatan terakhir.” Aku meletakkan tanganku di atas tangannya. “Aku membutuhkan dukunganmu. Tolong, jangan marah bila aku memenuhi permintaan mereka.”
__ADS_1
Dia tersenyum. “Sayang, apa pun keputusanmu, aku akan mendukung kamu. Tetapi aku tidak akan diam kalau kamu membebaskan dia bila dia tidak mau berubah. Kamu mau merajuk, silakan.”
Aku tertawa mendengarnya. “Mengapa kamu masih tidak percaya kepadaku? Aku jauh lebih kejam daripada aku yang biasanya kamu lihat, Hadi. Kamu berani mempermainkan aku, maka kamu akan menyesal. Reese akan segera mengetahui itu.”
“Kamu terbujuk dengan perkataan orang yang sudah berpura-pura sayang kepadamu. Bagaimana aku bisa percaya kamu tidak akan terpengaruh oleh drama Reese?” ucapnya skeptis.
“Kamu boleh ikut bersama kami saat menemui dia nanti.” Dia menoleh, aku hanya tersenyum. Iya, dia belum mengenal aku dengan baik.
*******
Beberapa saat sebelumnya~
Hadi berjalan menuju pintu depan. Carl dan Bianca mengikuti dia dengan wajah sedih. Rencana mereka tidak berhasil, karena Clarissa tidak memberikan kepastian apa pun. Nasib putri mereka belum bisa dipastikan akan bebas dalam waktu dekat.
Kepala pelayan sudah menunggu dan bersiap membukakan pintu untuk mereka. Hadi berdiri di teras, menunggu pasangan itu untuk keluar dari rumah. Wajahnya terlihat sangat serius, kontras dengan wajah Carl dan Bianca yang terlihat sedih.
“Aku harap ini adalah kedatangan kalian yang terakhir,” kata Hadi menggunakan bahasa Inggris.
Mereka berdua menoleh ke arahnya. “Kamu mungkin menganggap Reese adalah anak jahat yang tidak akan bisa berubah. Tetapi kamu salah. Dia adalah anak yang baik,” kata Carl mencari simpati. “Yang dia lakukan itu adalah karena dia lepas kendali. Dia tidak pernah bermaksud jahat kepada Clarissa. Ini hanya salah paham.”
“Aku tidak peduli. Bukan aku yang perlu kalian yakinkan.” Hadi menatap pria itu dengan tajam.
Bianca memegang lengan Hadi saat dia berniat memasuki rumah kembali. “Kamu yang bernama Hadiyan, ‘kan?” tanya wanita itu dengan lembut. Hadi hanya diam, tidak merespons. “Reese sering bercerita tentangmu. Apa kamu tahu, dia sangat mencintai kamu?”
Dia melihat ke arah rumah. “Tanpa bermaksud jahat kepada Clarissa, aku ingin kamu tahu hal itu. Kamu memberi putriku alasan untuk hidup lebih baik. Karena itu aku terkejut hal ini terjadi. Reese tidak akan mendorong Clarissa tanpa alasan. Percayalah kepadaku.
__ADS_1
“Kamu perlu tahu satu hal. Clarissa tidak sebaik yang kamu lihat. Dia punya sifat yang buruk. Kami sudah mengenal dia sejak kecil, jadi kami tahu semua kebaikan dan keburukannya. Aku yakin dia sengaja menyembunyikannya.dari kalian. Sebaiknya kamu pikir ulang sebelum telanjur cinta,” kata Bianca setengah berbisik, karena kepala pelayan masih berdiri di dekat pintu.
Wajah Hadi memerah menahan amarah. Bianca segera menarik tangannya dan berdiri menjauh. “Rissa sudah berbaik hati menerima kalian di rumahnya. Ini balasanmu? Apalagi perintah Finley agar kalian sampaikan kepadaku untuk merusak hubunganku dengan Rissa?”