Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 142 - Terlalu Berat


__ADS_3

“Ma, jangan lakukan ini,” mohon Lily yang berjalan mendekati Mama.


“Maafkan aku, sayang. Ini terlalu berat untukku,” kata Mama sambil mundur selangkah, menjauh dari jangkauan adikku. Bukan hanya Lily, aku juga tidak percaya melihat reaksi Mama. “A-aku akan menelepon kalian nanti.” Tanpa melihat ke arah kami, Mama mendekati mobil Kakek.


“Mama!” pekik Lily yang berusaha mengejar Mama, tetapi Dad segera memeluknya. “Dad, Mama ….”


“Iya, sayang. Aku mengerti. Biarkan Mama menenangkan dirinya sebentar, ya,” bujuk Dad sambil mengusap-usap rambut adikku. Mobil Kakek bergerak menjauh.


“Dad, kita harus masuk ke mobil sekarang,” kataku mengajaknya sebelum mobil lain membunyikan klakson mereka. Dad mengangguk, lalu berjalan mengikuti aku.


Perjalanan pulang kami sangat sepi. Hanya isakan Lily yang sesekali terdengar. Aku tidak menduga bahwa mama akan mengambil langkah seekstrem ini. Dia pasti sudah menahan diri sejak melihat Dad menghabiskan malam dengan Aunt Chelsea. Aku tidak bisa menyalahkan dia yang mengambil keputusan ini. Walaupun aku juga tidak bisa menyangkal bahwa keputusannya ini sangat egois.


Kami selalu diajar untuk menyelesaikan masalah dengan bicara, tidak dengan diam dan menjauh. Mama selalu menasihati aku dan Lily yang sedang bertengkar untuk tidak menyimpan amarah terlalu lama. Karena kami adalah saudara kandung. Lalu mengapa sebagai suami istri, mereka boleh marah berlarut-larut, bahkan sampai pergi dari rumah?


Dad tidak akan bisa memasak apa pun dengan keadaannya, jadi aku mampir ke sebuah restoran cepat saji dan memesan makanan kesukaan kami masing-masing. Dad masih diam saja dan Lily menangis, maka aku pun tidak mengajak mereka bicara.


Apartemen terasa sepi tanpa kehadiran Mama yang selalu lincah menyajikan makanan, menyiapkan camilan malam, dan menceritakan harinya kepada kami. Semoga saja keadaan ini hanya sementara. Aku sangat berharap bahwa Kakek dan Nenek akan bersikap bijak dan tidak menyarankan hal yang buruk kepada Mama. Orang tuaku harus berbaikan kembali.


Lily menolak untuk makan malam, tetapi aku memaksanya. Kedua orang tua kami membutuhkan kami, ajdi kami harus menjaga diri tetap sehat. Mereka perlu fokus memperbaiki hubungan mereka, bukan malah memerhatikan kami yang mendadak jatuh sakit.


Kami baru saja akan mulai makan saat bel apartemen berbunyi. Aku bergegas menuju pintu dan melihat ke layar monitor. Uncle Hendra. Aku segera membukakan pintu dan mempersilakan dia masuk yang ternyata datang bersama istrinya.


“Apakah kami mengganggu?” tanya Aunt Zahara. Aku segera menggelengkan kepala. “Maaf, kami datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu.”


“Tidak apa-apa, Aunt. Silakan duduk.” Aku menunjuk ke arah sofa di depan televisi.


“Hai, Hendra, Zahara,” sapa Dad yang berdiri dari tempat duduknya.


“Semoga kalian belum makan malam, kami membawa makanan untuk kita semua.” Uncle Hendra mengangkat kantong yang dia bawa.


“Kami baru saja akan makan, Uncle.” Aku mengulurkan tanganku untuk menerima kantong tersebut.


“Biar aku saja. Kalian duduklah, aku akan sajikan makanan ini.” Aunt Zahara mengambil kantong itu dari tangan suaminya, lalu berjalan ke dapur. Lily ikut membantu.


Uncle Hendra mendekati Dad. “Aku ikut prihatin dengan apa yang terjadi padamu, Will.” Dia menepuk bahu Dad. “Apakah pertemuan kalian dengan Huber berjalan lancar?”

__ADS_1


“Iya. Terima kasih atas bantuanmu. Mereka setuju dengan semua syarat yang kami ajukan. Zach akan menghubungi kami begitu mereka mentransfer uangnya.” Dad dan Uncle duduk, maka aku ikut duduk bersama mereka. “Kamu benar. Gista pasti akan menyerah dan pergi dari rumah.”


“Dia juga akan pulang setelah berpikir dengan tenang mengenai kesalahanmu dan pernikahan kalian. Kita semua tahu bahwa kamu tidak melakukan hal itu dengan sengaja. Chelsea sudah menjebakmu. Aku yakin bahwa Gista juga berpikir begitu.” Om Hendra menghibur Dad.


“Setiap istri pasti sesekali ingin memberi jarak dengan suaminya untuk bisa berpikir dengan tenang, Will.” Aunt Zahara meletakkan sebuah piring di depan Uncle dan aku. “Apalagi masalah yang sedang kalian hadapi sangat rumit.” Lily meletakkan piring di depan Dad dan Aunt Zahara, lalu kembali ke dapur untuk mengambil bagiannya.


“Terima kasih kamu sudah mau bicara dengannya, Zahara,” ucap Dad pelan.


“Jangan berterima kasih kepadaku. Aku hanya bicara sebagai teman. Aku adalah pihak yang pernah berkhianat dalam pernikahan kami, jadi aku tidak bisa bicara banyak mengenai masalah kalian.” Aunt Zahara menoleh ke arah Uncle yang menyentuh tangannya. “Beri dia waktu. Gista pasti akan kembali. Kami tahu apa yang sedang kalian rasakan, karena itu kami datang ke sini.”


“Mama tidak akan meninggalkan Dad, ‘kan, Aunt?” tanya Lily khawatir.


“Tidak, sayang. Mamamu sangat sayang kepada papamu. Dia tidak akan meninggalkannya,” jawab Aunt Zahara menenangkan tidak hanya Lily, tetapi juga aku dan Dad.


Uncle mengalihkan topik pembicaraan dengan membahas hal apa yang akan kami lakukan pada minggu terakhir libur sekolah dan kampus kami. Dengan begitu, kami bisa menyantap makanan kami dengan leluasa. Aku sangat kenyang karena memakan dua porsi makanan. Satu yang aku beli dan satu lagi yang dibawakan Uncle Hendra.


Mereka pamit pulang usai makan malam, dan menolak tawaran kami untuk menikmati es krim sebagai makanan penutup. Jadi, kami hanya memakannya bertiga. Kami tidak mau repot seperti Mama yang membagi es pada tiga mangkuk. Kami menggunakan sendok masing-masing dan menghabiskan satu kotak es krim bersama.


“Kalau Mama tahu, dia akan sangat marah dan menyebut kita jorok.” Lily tertawa kecil.


“Mama kalian memang tidak asyik. Terlalu banyak peraturan. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Lebih asyik denganku, ‘kan? Kalian bisa melakukan apa saja yang kalian mau, asal tidak melanggar etika.” Dad mengedipkan sebelah matanya.


“Karena aku tahu aku pasti akan kalah berdebat. Kamu sudah lihat sendiri bahwa aku tidak pernah bisa menang beradu pendapat dengannya.” Dad berdecak pelan.


“Dengar, tuh, Colin. Jangan berdebat dengan Dira kalau kamu tahu bahwa kamu pasti kalah.” Lily tertawa. Ponselku bergetar sebelum aku menanggapinya.


“Mama,” kataku begitu membaca namanya pada layar. Karena itu panggilan video, aku duduk di antara Lily dan Dad agar Mama bisa melihat kami semua. “Hai, Ma.”


“Hai.” Senyum di wajah Mama hilang begitu dia melihat Lily dan Dad. “Oh. Kamu tidak sendirian.”


“Tentu saja tidak, Ma. Kami baru saja menghabiskan satu kotak es krim,” kataku. Lily mengangkat kotak tersebut agar Mama bisa melihatnya.


“Ya, ampun! Kalian memakannya langsung dari kotaknya? Mengapa tidak dibagi-bagi ke mangkuk? Kalian ini jorok sekali. Kalau Colin sedang batuk, semua akan ikut batuk. Lalu siapa yang susah nanti? Aku,” protes Mama dengan keras. Kami tertawa mendengarnya. Benar, ‘kan, dugaan kami.


“Ma, mengapa aku yang selalu dijadikan contoh membawa penyakit?” Aku tidak kalah protesnya.

__ADS_1


“Karena kamu yang menyebabkan aku harus memberlakukan peraturan itu. Kamu berbagi es krim dengan Lily saat kamu sedang demam, dan dia jadi ikut flu,” kata Mama mengingatkan. “Aku tidak bisa tidur selama satu minggu, karena mengurus kalian berdua.”


“Ma, itu sudah lama sekali. Aku bahkan tidak tahu apa itu sakit. Sekarang aku dan Lily sudah besar. Lihat saja nanti. Kami tidak akan sakit,” kataku membela diri.


Mama menggeleng-gelengkan kepalanya. “Apa kalian sudah makan malam?”


“Sudah. Kakak membeli tiga paket burger besar lengkap dengan kentang dan soda,” kata Lily sebelum aku dan Dad sempat menghentikannya. “Uups.” Lily menutup mulut dengan tangannya.


“Hari ini bukan akhir pekan, mengapa kalian makan makanan cepat saji? Apa kalian sudah lupa kapan saja boleh makan makanan seperti itu?” protes Mama lagi.


“Dad tidak mau masak. Lalu bagaimana lagi kami bisa makan?” kataku membela diri.


“Usaha yang bagus, Colin. Kita sama-sama tahu ada restoran di lantai dasar yang menyediakan menu makanan rumahan. Jangan cari alasan lagi,” ujar Mama mengingatkan.


“Apa itu artinya besok kita bisa makan fast food lagi, Colin?” tanya Lily penuh arti.


“Itu tergantung pada Dad. Apakah dia akan memasak atau libur lagi besok.” Kami serentak menoleh ke arahnya. Dia menatapku dengan tajam. “Mama tidak ada di rumah, jadi tanggung jawab Dad untuk memasak. Aku dan Lily sama sekali tidak pernah menyentuh dapur.”


“Aku sudah bilang pada mama kalian, seharusnya kalian belajar untuk hidup mandiri. Bagaimana kalian bisa mengurus diri sendiri nanti setelah menikah? Apalagi kamu, Colin, kamu akan menikah awal tahun depan. Masa memasak saja kamu tidak mau belajar,” kata Dad membela diri.


“Mengapa aku yang disalahkan? Kamu selama ini setuju saja dengan caraku membesarkan mereka,” protes Mama.


“Aku hanya mengatakan pendapatku dan sama sekali tidak menyalahkan kamu,” kata Dad.


“Oh, ya? Kamu tadi bilang begitu. Mereka tidak mandiri, karena aku.”


“Memang kenyataannya begitu.”


“Kalau metode kamu lebih baik dariku, lalu mengapa malam ini kalian membeli makanan cepat saji dan tidak memasak makanan sendiri?” tanya Mama menantang Dad.


“Karena kami terlambat tiba di rumah dan aku tidak sempat memasak. Anak-anak bisa kelaparan.”


“Sebentar, Dad. Tadi aku membeli makanan atas inisiatifku sendiri. Dad tidak mengatakan akan memasak atau bagaimana. Nah, Mama dengar, ‘kan? Aku bisa mandiri. Bahkan aku yang membayar uang makanan kami tadi,” kataku dengan bangga. Dad dan Lily serentak menggelitik pinggangku.


Tiba-tiba saja Mama menangis. “Ma? Sayang?” ucap kami bertiga serentak.

__ADS_1


“Ma-maafkan aku. Seharusnya aku tidak pergi. Aku tidak berhenti memikirkan kalian ketika sampai di rumah ini. Apakah kalian sudah sampai di rumah, apakah kalian sudah makan, aku pikir ini akan membantu aku untuk berpikir dengan tenang,” kata Mama terisak.


“Apa yang bisa kami lakukan untuk Mama?” tanyaku pelan. Mama menggelengkan kepalanya, tidak bisa bicara karena menangis. “Kami datang sekarang menjemput Mama. Aku tidak peduli walaupun Mama akan mengusir kami.”


__ADS_2