
Jantungku berdebar dengan kencang saat mobil memasuki kawasan kantor polisi di mana ketiga penjahat itu ditahan. Aku tahu bahwa aku tidak akan bertemu dengan mereka, tetapi aku tetap saja merasa takut dan khawatir. Ini hanya ketakutan yang tidak mendasar, namun mampu membuat aku tidak bisa tidur semalaman.
“Mengapa ada banyak wartawan di sini?” tanya Papa dengan nada kesal. “Siapa yang memberi tahu mereka mengenai kedatangan kita pada hari ini?”
“Aku tidak mengatakan apa pun mengenai rencana kita kepada orang lain. Kepada teman-temanku pun tidak,” kata Mama melihat ke arah pintu masuk di depan kami.
“Zach harus bertanggung jawab dengan bocornya berita ini.” Papa mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya dan meletakkannya ke telinga setelah memilih sebuah nomor.
“Adikku tidak mungkin melakukan ini, sayang. Dia seorang pengacara, tidak mungkin dia membuka mulut dan membongkar rahasia kliennya sendiri,” kata Mama membela Om Zach.
Aku menatap kecut ke arah lautan wartawan yang berdiri menunggu di depan pintu masuk kantor polisi. Pak Kafin yang selalu tahu apa yang dia lakukan, memilih tetap mengemudikan mobil ke pintu belakang gedung. Kami tidak mengendarai mobil Papa, jadi tidak ada satu pun wartawan yang curiga bahwa kami ada di dalam mobil ini. Ide Kakak yang sangat brilian.
Om Zach sudah menunggu kedatangan kami di pintu tersebut. Dia segera menolong aku keluar dari mobil dan berjalan masuk ke gedung itu. Papa dan Mama juga menyusul kami. Dua orang polisi menyapa orang tuaku, lalu Om memperkenalkan aku kepada mereka.
Yang semula aku khawatirkan ternyata tidak terjadi. Petugas kepolisian itu memperlakukan aku dengan baik selama melakukan interogasi. Mereka tidak mengajukan pertanyaan yang bersifat mengintimidasi dan berbicara hati-hati denganku selaku korban.
Aku menjawab setiap pertanyaan dari mereka dengan jujur. Ketika mereka mengakhiri interogasi dan mempersilakan aku mengatakan apa pun untuk menambah pernyataanku yang tidak mereka masukkan dalam daftar pertanyaan, aku menggelengkan kepala. Apa yang aku ketahui, sudah aku sampaikan. Tidak ada hal lain yang belum aku katakan.
Papa dan Om Zach meminta Mama untuk membawa aku keluar ruangan. Mereka sepertinya masih punya hal yang perlu didiskusikan. Aku menurut dan mengikuti Mama menunggu di ruangan yang telah disediakan. Seorang wanita separuh baya meletakkan dua cangkir teh dan sepiring makanan ringan untukku dan Mama.
“Apa yang kamu lakukan tadi sangat berani, sayang.” Mama menyentuh tanganku. Aku tersenyum padanya. “Apa kamu merasa lebih baik sekarang?”
“Terima kasih, Ma. Iya, jauh lebih baik,” kataku riang. Vivaldo dan Nora pasti tidak akan menyangka aku berani datang ke tempat ini dan memberikan pernyataan. Mereka pikir aku gadis lemah, karena itu mereka memilih aku. Tetapi aku akan tunjukkan pada mereka bahwa mereka salah menilai aku.
“Kamu benar-benar putri ayahmu. Aku tidak punya keberanian sebesar kalian.” Mama tersenyum sedih. “Seandainya aku berani sedikit saja, kamu tidak akan pernah mengalami hal ini.”
“Ma, berhenti menyalahkan diri Mama sendiri. Walaupun bagi banyak orang apa yang Mama lakukan adalah aib, aku tidak beranggapan begitu. Kesalahan Mama justru membantu aku melihat Mama sebagai orang biasa.” Aku memeluknya dengan erat. “Bagiku, Mama tetaplah malaikatku.”
“Malaikat? Aku punya banyak dosa, Nak.”
“Aku juga, tetapi Mama selalu memanggil aku malaikat Mama,” kataku tidak mau kalah. Mama tersenyum, mencium keningku, lalu membalas pelukanku.
“Apa kalian masih ingin berpelukan di sini atau kita sudah bisa pergi?” Terdengar suara Om Zach dari arah belakangku. Kami tertawa mendengarnya.
Sama seperti saat kami tiba, kami juga keluar dari pintu belakang ketika kami meninggalkan kantor tersebut. Ada dua orang wartawan yang menangkap basah kami, tetapi mereka terlambat karena mobil sudah bergerak menjauh.
__ADS_1
Seandainya saja aku bukan seorang model, maka dengan senang hati aku akan memberi pernyataan pada mereka semua. Tetapi aku masih terikat kontrak dan salah satu poinnya meminta agar aku tidak menciptakan skandal dalam bentuk apa pun. Bila terjadi kasus hukum seperti ini, aku diminta untuk tidak memberi pernyataan tanpa izin mereka.
Om Zach sudah berdialog dengan mereka dan aku hanya diizinkan memberi pernyataan pada saat proses pengadilan telah usai. Itu sebabnya kami menghindari wartawan. Baik Om Zach maupun Papa juga tidak pernah memberi pernyataan secara terbuka mengenai tragedi yang menimpa aku. Jadi, ada orang lain selain kami yang telah mengabari mereka mengenai kedatangan aku.
“Pak Oscar sudah memastikan bahwa kabar ini tidak datang dari pihak kita, Kak,” lapor Om Zach kepada Papa. Dia ikut bersama kami di dalam mobil dengan duduk di samping Pak Kafin. Jadi, aku duduk diapit Papa dan Mama. “Maka opsi lainnya, kabar ini datang dari orang dalam mereka.”
“Baik. Yang penting bukan orangku yang berkhianat,” kata Papa.
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Pa?” tanyaku ingin tahu. Mereka sudah bicara dengan polisi, tetapi mereka belum menyampaikan apa yang tadi mereka bahas.
“Menunggu panggilan dari pengadilan, lalu tugasmu dalam kasus ini selesai.” Papa mengusap lembut puncak kepalaku.
Aku tersenyum padanya, lalu menoleh ke arah Om Zach. “Kapan kira-kira pengadilannya akan dimulai, Om?”
“Apabila setelah pemeriksaan berkas dari kepolisian, penuntut umum tidak menemukan ada yang perlu ditambah atau diperbaiki, maka proses pengadilan bisa dilakukan paling cepat bulan depan. Kami sangat berharap bisa menjalani dua persidangan sekaligus,” kata Om Zach penuh harap.
“Dua persidangan?” tanyaku bingung.
“Hadi adalah saksi dalam kasus Finley Taylor,” ucap Papa mengingatkan aku.
“Iya. Dia sudah menerima panggilan, sama seperti Hadi. Clarissa akan menjadi saksi kunci karena dia tidak hanya mengalami dua kejadian yang sama dengan Hadi, tetapi juga diculik,” jawab Om Zach.
Papa meminta Pak Sakti untuk berhenti di salah satu tempat makan. Mereka melanjutkan diskusi sambil menikmati makanan, sedangkan aku dan Mama hanya mendengarkan. Melihat keseriusan pada wajah Papa dan Om Zach, aku bangga memiliki mereka di pihakku. Vivaldo, Nora, dan Finley sudah memilih lawan yang salah. Mereka akan dituntut hukuman yang seberat-beratnya karena sudah menyakiti kami.
Hampir satu bulan tidak ke sekolah, aku akhirnya kembali bersama Charlotte, Wendy, dan Wyatt. Selama berada di luar, biasanya aku melindungi wajah dengan topi dan kacamata. Tetapi di sekolah, aku harus tampil apa adanya. Hal itu membuat aku sedikit kecut.
Beberapa orang menatap aku dengan sinis atau tersenyum mengejek, sedangkan sebagian besar berusaha untuk bersikap netral. Charlotte dengan lantang meminta mereka melihat ke arah lain. Dia mengomel sendiri dan aku semakin sayang padanya. Kami semua menuju tempat yang sama, papan pengumuman. Hari ini adalah hari di mana kami semua akan tahu apakah kami lulus atau tidak.
Reaksi teman-teman yang sudah membaca papan tersebut beragam. Ada yang bersorak bahagia, berteriak terkejut, atau menangis terharu. Belum ada satu pun reaksi yang menunjukkan bahwa mereka gagal. Hal itu memberi aku pikiran yang positif.
“Mengapa kamu memasang wajah khawatir begitu?” ejek Charlotte. “Kamu sudah pasti lulus. Wyatt yang seharusnya khawatir. Tetapi lihat dia, tersenyum bahagia seolah-olah dia sudah pasti lulus.”
“Apa aku selalu ada di dalam kepalamu, sweety?” goda Wyatt yang melingkarkan tangannya dengan santai di bahu Charlotte.
Pemandangan yang tidak akan terlewat mataku, karena kali ini Charlotte tidak menepis tangan itu. Ditambah lagi, Wyatt kembali memanggilnya dengan panggilan kesayangannya. Sweety, bukan honey untuk mengejek sahabatku itu. Tidak mungkin.
__ADS_1
“Kalian kembali bersama??” tanyaku dan Wendy serentak.
“Kejutaann!” sorak mereka berdua serentak sambil mengangkat tangan kiri mereka. Ada cincin di jari manis mereka.
“Oh, Tuhan.” Aku menutup mulut dengan kedua tanganku. “Kalian berdua bertunangan?”
“Iya!” ucap Charlotte riang. “Kamu ingat saat kita bicara di kamar mengenai banyak hal? Aku tidak berhenti memikirkan Wyatt ada pada setiap rencana hidupku ke depan. Dia telah melakukan kesalahan besar, tetapi dia tidak berhenti membuktikan bahwa dia sayang dan peduli padaku. Jadi, aku tidak mau membuang-buang waktu dengan bermain kucing-kucingan lagi.”
“Sebelum dia berubah pikiran, aku segera melamar dia di depan keluarganya dan keluargaku lewat panggilan video,” kata Wyatt dengan nada bangga.
“Grandma menangis terharu sekaligus marah karena kami melakukan ini tanpa kehadiran mereka. Tetapi kami berjanji akan mengadakan acara khusus saat mereka datang nanti. Dan kalian semua diundang!” seru Charlotte dengan senyum bahagia.
“Oke. Kita bisa lanjutkan hal ini nanti. Saatnya untuk melihat apakah kita lulus atau gagal?” Wyatt memandang kami satu per satu.
Kami berempat sudah berdiri di barisan paling depan antrian, tepat di depan papan pengumuman. Tanpa membuang waktu lagi, kami mencari nomor ujian kami dari ratusan nomor yang tertera pada pengumuman tersebut.
*******
Sementara itu di suatu tempat~
“Baik. Semuanya sudah bagus, kamu bisa seminar. Silakan laporkan pada ketua jurusan agar kamu tahu jadwal seminar kamu,” kata Agung sambil mengembalikan proposal penelitian kepada Clarissa.
Gadis itu tersenyum bahagia. “Terima kasih banyak, Pak.” Dia segera berdiri dan keluar dari ruangan, karena mahasiswa bimbingan yang lain sudah menunggu giliran mereka.
Setelah mengurus administrasi dan mendapatkan tanggal pelaksanaan seminar, Clarissa berjalan menuju gedung kuliahnya. Dia tidak sengaja berpapasan dengan Manda. Karena sudah terlambat baginya untuk menghindar, Clarissa membalas senyuman gadis itu.
“Hei! Bagaimana? Apakah sudah ada kabar baik?” tanya Manda perhatian. “Mengapa kamu tadi berjalan cepat sekali? Aku baru saja akan mencari kamu ke kantor jurusan.”
Clarissa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Manda. “Tolong, hentikan ini. Aku tahu apa yang kamu lakukan di belakangku. Jadi, berhenti berpura-pura baik di depanku.”
“Apa maksudmu, Clarissa? Aku tidak berpura-pura baik padamu,” kata Manda heran.
“Kamu terus membahas mengenai pekerjaanku dan memberi label ayam kampus pada namaku. Apa yang kamu mau? Supaya teman-teman tidak melupakan gosip itu? Anak orang kaya seperti kamu tahu apa tentang aku dan hidupku? Kalau kamu belum pernah kelaparan dan terlunta-lunta di jalan, berhenti menghakimi aku.” Clarissa berjalan menjauh.
Manda yang memanggil namanya dengan suara memelas, akhirnya berhenti mengikutinya. Perlahan wajah prihatin itu berubah tersenyum puas.
__ADS_1