Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 73 - Aku Tanpa Kamu


__ADS_3

*Clarissa*


Aku duduk di tepi tempat tidur dan menatap ponsel yang ada di tanganku. Dalam hubungan kami yang bisa dikatakan sangat singkat, Hadi rajin menghubungi aku. Padahal dia hanya ingin tahu hal yang sepele seperti bagaimana keadaanku atau apa yang sedang aku lakukan.


Namun sejak semalam aku bicara dengannya dan mengakhiri pertunangan kami, aku tidak berhenti berharap ponselku akan bergetar dan namanya menghiasi layar. Bodoh. Aku sangat bodoh sudah menyakiti dia, lalu berharap dia akan datang kepadaku lagi. Dia adalah laki-laki dengan harga diri tinggi, jadi seharusnya aku tahu bahwa dia tidak akan melakukan hal serendah itu.


“Mau sampai kapan mengurung diri di kamar begini, Clarissa?” Charlotte memasuki kamar dan berjalan ke arahku. Aku meletakkan ponselku kembali ke atas nakas. Seorang pelayan mengikutinya sambil membawa sebuah baki. Dia meletakkan dua gelas berisi es buah, satu wadah besar berisi es buah, dan dua piring kue di atas meja.


“Terima kasih, Bu,” ucap Charlotte kepada pelayan itu. Wanita itu keluar dari kamarku setelah pamit kepadaku. “Ayo, duduk di sini.” Charlotte menepuk sisi kosong sofa di sebelahnya.


“Mengapa kamu tidak makan bersama Kakek dan Nenek?” Aku setengah menyeret kakiku menuju sofa dan duduk di sampingnya.


“Dan membiarkan kamu meratapi nasibmu seorang diri?” tanyanya sarkas. Dia memberikan satu gelas es buah kepadaku.


“Aku tidak sedang meratapi nasib,” kataku berdalih. Dia memutar bola matanya.


“Lalu apa yang kamu lakukan dengan menatap layar ponselmu dari tadi?” tanyanya dengan kedua alis matanya terangkat tinggi. Aku merapatkan bibirku. “Menunggu panggilan video dari Hadi?” Aku tidak menjawab. “Jangan harap. Dia tidak pernah mau berurusan lagi dengan orang yang pernah menyakiti dia atau keluarganya.”


“Colin menyakiti Dira, dia tetap bersahabat baik dengannya,” kataku membela diri. Aku segera menutup mulut dengan tanganku, menyadari bahwa aku baru saja membenarkan tebakan Charlotte.


Dia tersenyum penuh kemenangan. “Colin itu kasus khusus. Dia adalah sahabat baiknya sejak mereka masih kecil. Tidak bisa semudah itu memutuskan hubungan baik yang sudah terjalin begitu lama. Tetapi kamu tahu sendiri bahwa Hadi tidak pernah lalai melindungi Dira. Colin tidak pernah bertemu dengannya lagi, ‘kan?”


Kadang-kadang aku cemburu melihat kedekatan adikku dan Hadi. Dia jauh lebih ahli membaca pikirannya, menebak tindakannya lebih lanjut, di saat aku masih tidak tahu apa-apa tentang Hadi. Mengingat mereka berteman sejak mereka masih kecil sering membuat aku merasa asing berada di tengah-tengah dia, Dira, dan Hadi. Aku cemburu menyadari bahwa mereka tumbuh besar bersama, sedangkan aku tidak.


“Setelah dia nyaris tidak pernah menjalani harinya tanpa bertemu kamu atau menghubungi kamu, dia akhirnya berhenti menelepon. Percayalah, dia tidak akan mau bertemu denganmu lagi, Clarissa. Dia akan melanjutkan hidupnya, jadi kamu juga harus begitu.” Charlotte meletakkan sepiring kue di atas tanganku. “Saat sedang sedih, makan kue yang manis akan membantu kamu merasa lebih baik.”


“Aku tidak sedang sedih,” kataku dengan tegas.

__ADS_1


“Ya, ya. Ayo, makan kuenya.” Dia memasukkan sesendok besar kue ke mulutnya.


Aku menghela napas pelan, lalu memakan kue tersebut. Bunyi benda bergetar di atas nakas segera mengalihkan perhatianku. Aku bergegas meletakkan piring di atas meja, lalu berdiri dan mendekati ponsel tersebut. Tetapi nama Sigit yang ada di layar. Aku segera menolak panggilan masuk tersebut dan memasukkan nomornya ke daftar hitam.


“Ah … bukan Hadi tersayang yang menelepon?” goda Charlotte.


“Bisakah kamu berhenti menggoda aku?” pintaku yang kembali duduk di sisinya.


“Aku tidak bisa. Bukankah itu gunanya saudara, mengganggu kamu sampai kamu tidak tahan lagi?” godanya dengan senyuman penuh arti.


Karena aku memang sudah tidak tahan lagi, aku menggelitik pinggang dan perutnya. Dia tertawa begitu keras sambil meminta ampun. Tetapi aku tidak memedulikannya. Aku terus menggelitik pinggangnya sampai dia berkata ampun dan menyerah.


“Oke, oke. Ampun.” Dia tertawa terbahak-bahak. “Ampun, Clarissa.” Dan aku berhenti menggelitik pinggangnya. “Menyerang titik kelemahan saudara sendiri adalah tindakan yang curang.”


“Bukankah itu gunanya saudara, untuk mengetahui titik kelemahanmu dan memanfaatkannya?” Aku membalas ucapannya tadi. Dia kembali tertawa. Kali ini aku ikut tertawa bersamanya. Tetapi tawa itu berubah menjadi isakan.


Aku menggelengkan kepalaku. “A-aku tidak tahu mengapa aku menangis? Dadaku tiba-tiba saja terasa sakit. Aku, aku ingin mendengar suara Hadi. Aku ingin melihat wajahnya. Mengapa aku begini? Aku yang mengakhiri hubungan, tetapi mengapa sekarang aku merindukan dia?”


“Oh, Clarissa ….” Aku tidak menolak saat Charlotte memeluk tubuhku. Tangisku pecah dalam pelukannya. “Apa kamu mencintai Hadi?” Aku mengangguk. “Bila kamu mencintai dia, mengapa kamu memutuskan hubungan kalian?”


“Karena aku pikir ini jalan yang terbaik.”


“Bila ini jalan yang terbaik, lalu mengapa sekarang kamu menyesalinya?”


Karena aku tidak tahu rasanya akan sesakit ini. Aku tidak mengatakannya dengan keras dan memilih untuk diam. Charlotte pasti tahu mengapa sekarang aku menyesali keputusanku itu. Dia sudah lebih dahulu mengalami patah hati.


Pada saat datang ke kampus, aku meminta sopir untuk menurunkan aku di gerbang masuk menuju jurusan Hadi. Ketika melihat mobil yang berderet di tempat parkir, aku tidak menemukan mobil Hadi. Lalu aku teringat sesuatu, papanya belum mengizinkan dia menyetir lagi. Jadi, sopir mereka yang mengantar dan menjemputnya dari kampus selama beberapa hari terakhir.

__ADS_1


Aku terpaksa berjalan menuju gedung di mana jurusanku berada. Aku tidak mungkin berdiri di sini dan menunggu untuk melihat dia datang. Lagi pula aku masih punya harga diri yang tersisa. Aku tidak mau dia melihat aku berada di sini setelah aku sendiri yang memutuskan hubungan kami.


Berbeda dari minggu sebelumnya, para mahasiswa yang berpapasan denganku tidak lagi menatap aku dengan kagum. Mereka saling berbisik terhadap satu sama lain sambil melihat aku dari kepala hingga kaki. Pasti ini ada hubungannya dengan berita yang sedang beredar tentang aku.


Para pria itu sepakat untuk menuntut Sigit atas pelanggaran surat perjanjian yang disepakati di antara mereka. Dugaanku benar. Beberapa dari mereka menggunakan perjanjian sebagai syarat sebelum menjadi klienku. Perjanjian itu hanya di antara mereka dan Sigit, aku tidak dilibatkan sama sekali. Jadi, aku bisa menonton dari jauh bagaimana Sigit menghancurkan hidupnya sendiri.


Semua pemberitaan miring mengenai aku memang telah dihapus oleh berbagai media yang dengan bangga menjatuhkan nama kakekku dan para klienku. Mereka kini harus merasakan balasan atas pemberitaan yang mereka tayangkan tanpa konfirmasi lebih dahulu dengan orang yang ada di foto-foto tersebut. Kakek dan Grandpa juga menuntut tanpa ampun terhadap semua orang yang sudah menyebarkan berita tersebut lewat sosial media.


Namun berita itu sudah telanjur dibaca banyak orang dan mereka yang mengenal aku kini tahu apa yang aku lakukan untuk membiayai hidup dan pendidikanku. Aku tidak membiarkan tatapan mereka yang merendahkan aku menyakiti aku. Mereka mau menilai aku sesuka mereka, membicarakan aku sepuas mereka, aku tidak peduli. Semua ini pasti akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu.


“Jadi, itukah yang kamu sembunyikan dariku?” tanya Manda saat aku berpapasan dengannya di pintu masuk ruang kuliah kami. “Kamu takut aku akan malu menjadi sahabatmu begitu aku tahu kamu bekerja sebagai ayam kampus?”


Aku berjalan menuju kursi kosong di barisan paling depan, Manda segera duduk di sisiku. “Clarissa, aku tidak sepicik itu. Seandainya kamu ceritakan semua ini, aku pasti akan membantu kamu mencari pekerjaan yang lebih baik. Mungkin bayarannya tidak setinggi memberikan tubuhmu pada laki-laki yang lebih tua, tetapi kamu tetap bisa membayar uang kuliah dan kebutuhan hidupmu.”


“Manda benar, Clarissa. Mengapa kamu tidak memberi tahu kami? Orang tuaku punya banyak kenalan pemilik restoran mahal. Mereka bisa membantu kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih terhormat. Dengan wajah kamu yang cantik, kamu pasti mudah mendapatkan tip yang besar,” kata mahasiswa yang duduk di belakangku.


“Papaku bisa memberikan kamu pekerjaan sebagai agen penjual. Mereka sering melakukan promosi besar-besaran di mal atau swalayan. Berapa banyak pun produk yang berhasil kamu jual, kamu akan mendapat bonus yang besar. Itu lebih baik daripada menjual diri,” kata yang lain menimpali.


“Apa kamu masih menerima klien? Kalau iya, berapa yang harus aku bayar supaya kamu mau jadi pacarku selama satu hari?” goda salah satu pemuda yang duduk di barisan belakang.


“Dia tidak akan mau menghabiskan waktunya bersamamu, bodoh. Kamu terlalu muda dan tidak mungkin punya uang sebanyak para pria tua itu,” ejek pemuda yang duduk di sisinya. Mereka berdua tertawa diikuti oleh semua mahasiswa yang ada di dalam ruangan.


Dosen yang akan mengajar memasuki ruangan dan menyapa kami semua. Suasana menjadi hening seketika itu juga. Aku mengikuti perkuliahan tanpa memedulikan apa pun yang orang katakan dan lakukan di dekatku. Aku yakin mereka akan bosan sendiri bila aku tidak memberi respons.


Aku tahu bahwa pekerjaanku itu akan menimbulkan pro dan kontra. Jalan yang terbaik adalah tidak memberi tanggapan apa pun. Karena aku menjawab bagaimana pun, mereka sudah memberi label yang buruk kepadaku. Apalagi selama ini aku tidak berteman dengan seorang pun dari mereka.


Pada jam makan siang, aku berencana untuk makan di ruang kuliah. Tetapi teman-teman masih betah berada di dalam, jadi aku memilih untuk mencari tempat yang jauh dari keramaian. Hadi dan Colin tidak berdiri di tempat di mana mereka sebelumnya berada ketika menunggu aku agar kami bisa makan siang bersama. Aku benar-benar sendirian sekarang.

__ADS_1


__ADS_2