Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 134 - Kaulari Kukejar


__ADS_3

Clarissa berhasil menenangkan dirinya setelah beberapa saat hanya diam setelah mendengarkan tanggapanku atas pengakuannya. Dia sudah tidak menangis lagi sehingga aku bisa meletakkan tisu kembali ke tempatnya semula.


“Sebaiknya kita kembali sekarang. Keluargamu pasti bertanya-tanya mengenai keberadaanmu. Kamu sudah tenang, ‘kan?” tanyaku pelan.


“Calon istri seperti apa yang kamu cari?” tanyanya belum menyerah.


“Clarissa, aku tidak mau melihat kamu menangis lagi dan aku tidak mau menyakiti kamu.”


“Kamu salah paham. Aku tidak menangis karena kamu menolak aku. Ketika aku mengatakan bahwa kamu adalah orang pertama, aku berkata jujur. Tidak mudah bagiku mengatakan cinta, Hadi. Kamu boleh percaya atau tidak dengan ucapanku ini, tetapi kamu adalah orang pertama yang mengatakan sayang kepadaku. Bapak dan Ibu Foster tidak pernah sekalipun mengatakan sayang kepadaku.” Dia tersenyum sedih. “Tetapi setelah mengucapkannya, kata itu jadi lebih mudah untuk diucapkan lagi.”


“Jadi, calon istri seperti apa yang kamu cari?” tanyanya lagi.


“Aku tidak mau membahas ini denganmu. Sebaiknya kita kembali sekarang.” Aku melihat ke arah pintu. Mendadak aku merasa ruangan ini terasa panas, walaupun penyejuk ruangan menyala.


“Hadi, itu pertanyaan yang sederhana. Mengapa kamu tidak bisa menjawabnya? Jika aku bukanlah calon istri yang kamu cari, maka seperti apa yang kamu mau?” desaknya sambil memegang tanganku.


“Gadis yang bisa memegang janjinya dan tidak mudah dipengaruhi oleh orang atau kekuatan dari luar yang ingin merusak hubungan kami,” jawabku mengalah.


“Aku bisa belajar menjadi calon istri yang sesuai dengan keinginan kamu itu,” ucapnya yakin.


“Jangan lupa hal pertama yang harus dia miliki, Clarissa. Aku harus mencintainya. Aku bilang cinta saja tidak cukup, bukan berarti aku akan menikah tanpa cinta,” kataku mengingatkannya.


“Kamu mencintai aku,” katanya penuh percaya diri.


Aku tersenyum. “Aku tidak mencintai kamu, tidak sekarang ataupun nanti.”


Tiba-tiba saja dia mencium bibirku. Bukan kecupan singkat seperti yang dia lakukan pada malam itu. Dia meniru ciuman balasanku. Ciuman yang membuat seluruh badanku bergetar. Kepalaku berkata menjauh, tetapi tubuhku punya pikirannya sendiri. Tanganku memeluk tubuhnya dan membalas ciumannya. Aku pun menyerah dan membiarkan rasa ingin tahuku mengambil alih.


Clarissa adalah gadis pertama yang pernah aku cium seintim ini. Sebelumnya aku tidak mengerti mengapa Papa dan Mama begitu suka melakukannya. Aku memahaminya sekarang. Darah yang mendesir ke seluruh tubuh ini adalah sensasi yang mendebarkan sekaligus membuat ketagihan. Ada banyak emosi yang muncul secara bersamaan dalam setiap ciuman yang kami lakukan. Sayang, bahagia, takut kehilangan, tidak ingin berpisah, terharu, dan emosi lain yang jarang aku rasakan.

__ADS_1


Dia yang pertama menjauhkan dirinya, mengakhiri ciuman kami. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan napasku yang memburu. Juga jantungku yang berdebar begitu cepat. Dia melakukan hal yang sama. Aku membuka mata ketika merasakan tangannya membelai pipiku.


“Bibir kamu tidak berhenti berkata tidak mencintai aku lagi, tetapi bibir yang sama menyangkali ucapanmu sendiri.” Dia tersenyum bahagia, begitu cantik dengan wajahnya yang memerah. Namun aku menahan diri untuk tidak menyentuhnya. “Kamu masih mencintai aku, Hadi. Kamu boleh pergi sejauh mungkin dariku, aku akan mengejar kamu ke mana pun kamu lari.”


Aku tidak tahu harus mengatakan apa, jadi aku hanya diam. Kepalaku sedang kacau dan aku tidak yakin bisa membalas ucapannya itu dengan benar. Melihat dia tidak meneruskan kalimatnya lagi, aku mengajaknya untuk kembali ke acara pertunangan adiknya. Dia menurut dan menggandeng tanganku dengan erat.


Semua keluarga kami melihat kedatangan kami dengan senyum bahagia di wajah mereka. Aku tahu apa yang akan terjadi besok saat mereka tahu bahwa kami tidak bersama lagi. Mereka akan merasa sedih, tetapi itu bukan salahku. Mereka sudah tahu bahwa kami hanya bersandiwara, tetapi mereka tetap saja berharap kami akan meneruskan hubungan ini.


“Kami akan kembali besok pagi, jadi kami sekalian mengucapkan selamat tinggal,” kata Aunt Claudia. “Kami berencana datang lagi sebelum Hari Natal. Aku benci musim salju. Tetapi kami tidak janji, karena semuanya tergantung pekerjaan Mason.”


“Pekerjaan bisa diwakilkan.” Uncle Mason melihat ke arah Clarissa. “Tetapi kami menunggu kabar dari Clarissa. Bila dia jadi maju sidang skripsi sebelum akhir tahun ini, maka kami akan datang pada hari wisudanya saja.”


“Ah! Kalau begitu, Uncle dan Aunt harus datang pada hari pernikahanku dan Colin!” seru Dira senang. “Wisuda semester gasal akan diadakan pada bulan Februari. Nah, pernikahan kami akan diadakan pada tanggal empat belas Februari. Tidak boleh mengelak untuk hadir.”


“Tentu saja, Dira. Kami pasti akan datang,” kata Aunt Claudia dengan cepat.


“Sebaiknya kami pulang sekarang. Kalian perlu istirahat sebelum melakukan perjalanan panjang besok,” kata Papa pamit diri. Dia menoleh ke arah kami. “Ayo, kalian ucapkan selamat kepada Wyatt dan Charlotte, lalu kita pulang.”


“Hadi, Clarissa, kalian tinggal sebentar. Ada yang perlu aku bicarakan,” kata Aunt Claudia. Aku dan Clarissa saling bertukar pandang penuh tanya. “Hendra, aku pinjam putramu sebentar.” Papa mengangguk pelan mendengar permintaannya.


Aunt Claudia meminta aku dan Clarissa untuk duduk, lalu dia duduk di depan kami. Dia tersenyum melihat tangan Clarissa yang tidak mau melepaskan tanganku. “Aku pernah muda dan aku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali,” kata Aunt Claudia membuat aku bingung.


“Kalian mungkin berpikir tidak ada yang melihat apa yang terjadi tadi di ruangan ini.” Aunt Claudia menatapku penuh arti. Aku menelan ludah dengan berat. Dia melihat kami apa yang kami lakukan tadi. “Kalian sudah dewasa. Hadi sudah berusia dua puluh satu tahun dan kamu, sayang, berusia dua puluh tahun. Tetapi aku perlu memberi tahu kalian hal yang paling penting. Jangan sampai hamil.”


“Grandma!!” pekik Clarissa terkejut. Dia menurunkan volume suaranya. “Kami hanya berciuman, tidak tidur bersama, Grandma. Aku tahu dari mana bayi berasal.”


“Berarti kamu juga tahu bahwa ciuman adalah pengantar menuju ke sana,” kata Aunt Claudia tidak mau kalah. Clarissa merapatkan bibirnya. “Pastikan kamu selalu membawa pelindung untuk jaga-jaga.” Dia menatapku dengan serius. Aku hanya mengangguk menurut.


Berdebat dengan orang tua tidak akan menghasilkan apa pun, jadi aku memilih untuk tutup mulut. Mamaku saja sulit aku debat, apalagi orang lain. Aunt Claudia juga benar. Bila kami meneruskan apa yang kami lakukan tadi, kami bisa saja berhubungan intim di sofa ini. Akulah yang kurang hati-hati.

__ADS_1


“Maafkan aku,” ucap Clarissa pelan saat mengantar aku ke mobil. “Kamu benar. Semua ini gara-gara aku. Seharusnya aku tidak mencium kamu tadi.”


“Santai saja. Setelah malam ini, kita tidak perlu khawatir lagi mengenai apa pun. Jaga dirimu, Clarissa. Aku sudah bukan pacarmu lagi.” Aku tersenyum lega. Dia cemberut.


Meskipun aku bicara begitu meyakinkan bahwa aku sudah bukan pacarnya lagi. Ciuman kami tadi tidak berhenti bermain-main di kepalaku. Aku bagaikan memutar sebuah adegan film berulang kali hanya pada satu bagian favorit saja.


Aku nyaris tidak bisa tidur pada malam itu. Apalagi bayangan wajah cantiknya seusai kami berciuman tidak bisa aku keluarkan dari kepalaku. Sial. Mengapa kepalaku tidak bisa menuruti aku satu kali saja? Clarissa, Clarissa, Clarissa terus yang muncul di benakku.


Tidak sebentar waktu yang aku butuhkan untuk menata hatiku lagi setelah dia meluluhlantakkannya tanpa perasaan. Masa aku harus membiarkan jiwaku dihancurkan oleh gadis yang sama lagi? Tidak. Harga diriku melarang aku melakukan hal itu. Aku tidak akan menyerah begitu saja pada godaannya nanti. Gadis itu gadis yang berbahaya. Aku harus menjaga jarak bila kami bertemu lagi.


“Uhuk! Yang sedang kasmaran masuk ruangan,” goda Dira ketika aku masuk ruang makan. Aku hanya mengabaikannya dan duduk di kursiku. Ibu Yuyun segera menyajikan makanan dan minuman untukku. “Apa yang Kakak lakukan semalam di rumah Clarissa sampai kalian lama sekali berdua saja?”


Jantungku berdebar dengan kencang mendengar pertanyaan itu. Tenang, Hadi. Tenang. Adikmu hanya bertanya. Dia tidak mengatakan bahwa dia tahu apa yang terjadi di dalam rumah itu. Semoga saja hanya Aunt Claudia yang melihatnya dan tidak ada saksi lainnya.


“Aku tidak bertanya apa saja yang kamu lakukan di luar sana saat berdua saja dengan Cole,” kataku tanpa menjawab pertanyaannya.


“Kakak sudah tahu bahwa sahabat kakak itu sangat polos. Yang ada di dalam kepalanya hanya game, game, game. Tidak ada yang lain.” Dia tertawa kecil. “Tidak seperti Kakak yang sudah kissing dengan Clarissa.” Aku mendelik tajam ke arahnya. Dia dan Adi malah saling menepuk tangan.


“Jangan sampai hubungan kalian terlalu jauh, Hadi. Kamu harus menikahinya sebelum memberi kami seorang cucu,” kata Papa dengan tegas.


“Ya, ampun! Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, ya, sayang,” seru Mama sambil memegang tangan Papa. “Sebentar lagi kita akan menjadi kakek dan nenek!”


“Za, tolonglah. Aku masih muda. Belum saatnya menjadi seorang kakek,” keluh Papa.


“Kamu sayang sekali kepada anak-anak ketika mereka masih kecil. Apalagi Adi. Kamu bersikap begini sekarang. Tetapi setelah kamu melihat cucu kamu nanti, aku yakin kamu tidak akan sabar menunggu sampai dia bisa mengucapkan kata kakek.” Mama bersorak senang seolah-olah aku atau Dira baru saja menyampaikan kabar bahwa kami akan memiliki anak.


Papa mengangkat tangannya, memberi sinyal kepada Mama agar diam sejenak. Ponselnya yang ada di atas meja bergetar. Syukurlah. Percakapan mengenai cucu ini akan berlalu. “Ya, Edu,” sapa Papa. Wajahnya kemudian berubah tegang. “Baik. Oke, aku akan hubungi dia sekarang.”


“Ada apa, sayang?” tanya Mama khawatir melihat Papa mengakhiri pembicaraan dan mengetikkan sesuatu pada ponselnya.

__ADS_1


Papa melirik ke arah Mama, lalu menoleh kepadaku. “Clarissa tidak juga turun untuk sarapan, jadi Charlotte memanggilnya di kamar. Ternyata dia tidak ada dan dari kondisi kamarnya, dia tidak tidur di sana semalam.” Papa menghela napas panjang. “Luca juga tidak ada di kamarnya. Edu curiga pemuda itu yang menyebabkan Clarissa menghilang.”


__ADS_2