Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 120 - Persiapan Acara


__ADS_3

Clarissa memutar tangannya sehingga pegangan tangan pria tersebut terlepas. Dia berniat berjalan melewatinya, pria itu malah memeluknya. Dia pasti berang ditolak begitu saja oleh gadis yang cantik. Aku hanya menggelengkan kepala melihatnya. Laki-laki bodoh.


Dia dan temannya menjadi bulan-bulanan Clarissa yang dengan santainya memukul, menampar, bahkan membuat mereka berdua saling bertabrakan. Mereka mengaduh kesakitan dan akhirnya menyerah dengan berlari tunggang-langgang ke arahku. Aku sengaja meluruskan kakkiku sehingga mereka tersandung dan terjatuh.


Laki-laki tidak tahu malu. Berani-berani menyakiti seorang perempuan, lalu kabur begitu saja tanpa meminta maaf. Aku menarik kerah baju mereka dan menyuruh mereka kembali kepada gadis tadi untuk meminta maaf. Mereka masih nekat membantah, maka aku melayangkan tinjuku. Salah satu dari mereka meminta ampun dan bersedia melakukan permintaanku.


Aku berpura-pura mendekati satu kursi santai yang kosong, tetapi pandanganku tertuju kepada kedua pria itu. Mereka menepati perkataan mereka dan meminta maaf kepada Clarissa. Bagus. Itu baru namanya laki-laki sejati.


Gadis itu berenang di salah satu sisi kolam, maka aku memilih sisi lain agar kami tidak bertemu atau berpapasan saat berenang. Walaupun dia mengenakan baju renang, aku tidak menatap tubuhnya secara berlebihan. Aku sudah terbiasa melatih diriku untuk menghormati perempuan seperti apa pun baju yang mereka pakai.


Setelah berenang beberapa kali putaran dan aku mulai merasa lelah, aku keluar dari kolam dan kembali ke kursi santai di mana handuk dan mantelkuku berada. Clarissa sedang berdiri menunggu kedatanganku. Aku mengangkat alisku melihat caranya memandangku.


“Kamu tidak perlu melakukan itu. Aku bisa mengatasi masalahku sendiri.” Dia mengerutkan kening, menyatakan rasa tidak sukanya.


“Ucapan terima kasih saja sudah cukup. Aku tidak melakukan itu demi kamu, tetapi demi adikku, Dira. Bila mereka dibiarkan saja berbuat sesukanya kepada seorang gadis, mereka akan semakin menjadi-jadi. Aku tidak mau kelak adikku yang menjadi korban.” Aku mengenakan mantel mandiku, lalu menggunakan handuk untuk mengeringkan rambut.


“Mengikuti seorang gadis ke kolam renang juga bukan tindakan yang baik,” katanya tidak mau kalah.


“Jangan besar kepala. Aku tidak datang ke sini karena mengikuti kamu.” Aku membalikkan badan dan berjalan menuju pintu. Dia menyusul dengan berjalan di sisiku. “Siapa yang sekarang mengikuti siapa? Tolong, jaga jarakmu dariku.”


“Kamar kita berada di lorong yang sama, jadi aku tidak sedang mengikuti kamu,” katanya dengan santai. Aku tidak menanggapinya lagi.


Kami berpapasan dengan Colin dan Dira juga Wyatt dan Charlotte saat kami keluar dari elevator. Mereka tersenyum penuh arti, sedangkan Wyatt bersiul melihat kami sedang bersama. Aku hanya mengabaikan tingkah mereka dan menuju kamarku.


Para orang tua sudah bergabung juga di ruang makan saat aku menyusul untuk menikmati kudapan. Clarissa belum datang, jadi aku tidak heran melihat dua kursi yang bersisian yang sengaja mereka sisakan untuk kami. Aku mengambil makanan ringan sepiring penuh, lalu duduk bersama mereka.

__ADS_1


Aku makan sambil mendengarkan mereka bicara. Topik yang dibahas adalah mengenai persiapan acara ulang tahun pernikahan Om Brady dan Tante Dafhina. Para orang tua menyebutkan beberapa tugas yang perlu kami pilih yang bisa kami lakukan untuk membantu. Aku dan kedua teman priaku mengajukan diri untuk menyiapkan kayu untuk api unggun.


Clarissa bergabung bersama kami, Tante Darla memberi tahu dia apa yang saja yang telah kami bicarakan. Dia juga memintanya untuk melakukan persiapan bersama Dira dan Charlotte. Gadis itu segera mengangguk setuju. Pembicaraan mengenai persiapan acara esok berakhir, semua orang mengobrol dengan orang yang di dekatnya.


Karena orang yang duduk di sebelahku adalah orang yang tidak penting, aku memilih diam saja. Begitu makanan di piringku habis, aku kembali mengambil beberapa kue dan roti. Berenang memang menambah nafsu makan.


“Aku tahu kamu tidak nyaman dengan sikap semua orang yang berharap kamu dan Clarissa kembali bersama. Tetapi kamu tidak harus bersikap seolah-olah gadis itu penyakit berbahaya, ‘kan?” ucap Colin yang berdiri di sisiku, ikut mengisi piring dengan kue.


“Apa Dira tidak bersikap begitu pada saat kalian masih pisah?” Dia merapatkan bibirnya. “Lalu apa yang salah bila aku bersikap sama? Kamu belum pernah berada di sisiku, jadi kamu tidak akan mengerti.” Aku kembali ke meja kami, walaupun aku ingin sekali pergi dari tempat ini segera.


Persiapan acara ulang tahun pernikahan Tante Dafhina dimulai pada pagi hari. Kami menghiasi salah satu sisi pekarangan hotel dengan pita dan bunga. Papa memilih untuk menggunakan meja bundar daripada persegi agar bisa lebih banyak memuat kursi.


Aku, Wyatt, dan Colin pergi membeli kayu untuk api unggun dan kayu bakar untuk barbeku yang menjadi menu utama. Tante Darla sudah memesan daging, berbagai bahan makanan hasil laut, dan sayuran kepada pemasok makanan langganan hotel. Jadi, tinggal menambah uang belanjaan kami di luar kebutuhan bahan makanan restoran.


Semua persiapan pun selesai begitu jam kudapan sore tiba. Kami bersantai menikmati minuman hangat dan makanan ringan sebelum ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap. Karena ini hanya acara api unggun biasa, aku mengenakan kaus dan celana jin panjang.


Hanya pelayan yang sedang mondar-mandir mengantarkan makanan yang sudah dimasak ke atas meja saji ketika aku memasuki pekarangan hotel. Udara terasa mulai dingin, jadi ini saat yang tepat untuk berapi unggun. Menurut prakiraan cuaca, malam ini berawan, jadi kami tidak perlu khawatir hujan akan merusak jalannya acara.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi semua orang seperti sedang berusaha memberi kita banyak kesempatan untuk bersama.” Clarissa berjalan keluar dari pintu menuju pekarangan. Aku kembali mengabaikannya. “Charlotte sudah keluar kamar sedari tadi, tetapi dia belum tiba di sini.”


Aku sudah menyadari itu dari awal, masa dia baru menyadarinya sekarang? Setelah Charlotte dan Wyatt, juga Colin dan Dira kembali bersama, wajar saja semua orang berpikir bahwa hal yang sama akan terjadi kepada kami. Karena itu mereka mengusahakan semua kejanggalan ini.


“Apa kamu akan bersikap layaknya musuh denganku sampai seterusnya, Hadi? Apa kamu masih marah kepadaku sehingga berteman denganku pun kamu tidak mau?” tanya Clarissa yang sudah berdiri di dekatku. Aku mendesah pelan, lalu menjauh darinya. Berharap dia mengerti bahwa aku tidak mau bicara dengannya.


“Kita akan terus bertemu dalam acara yang diadakan oleh orang tuamu, kakek dan nenekku, juga teman-teman mereka. Apa kamu pikir bersikap begini akan membuat mereka senang?” ucapnya lagi yang sepertinya sengaja memprovokasi aku.

__ADS_1


“Mengapa kamu tidak memikirkan itu sebelum mengakhiri pertunangan kita secara sepihak?” tanyaku menantangnya.


“Aku sudah meminta kamu agar kita kembali bersama,” jawabnya dengan cepat.


“Untuk berpura-pura supaya pacar barumu tidak mendekati kamu lagi, aku sudah menjawab tidak,” kataku mengingatkannya. Dia cemberut. “Aku akan bicara dengannya mengenai kekhawatiran kamu, tetapi tidak dengan berpura-pura menjadi pacarmu.”


“Aku—” kata Clarissa yang terpotong ketika kami mendengar bunyi desis yang terdengar cukup dekat. Kami menoleh ke arah datangnya suara. Aku melihat ke kakiku, lalu ke kaki Clarissa, dan ke arah belakangnya. Lalu aku melihat binatang itu. Seekor ular sedang menjalar perlahan mendekati gadis itu dari belakangnya.


*******


Sementara itu di sebuah kamar~


“Apa kamu yakin akan melakukan ini, sayang?” tanya Mason kepada istrinya.


“Tentu saja. Luca adalah pemuda yang baik, berasal dari keluarga yang terpandang, tampan, dan kita sudah lama mengenal orang tuanya. Clarissa dan Hadi sudah tidak berniat untuk kembali bersama, jadi untuk apa kita masih berharap pada hubungan mereka?” Claudia berjalan mondar-mandir dari ruang pakaian ke kamarnya. Baju demi baju dia masukkan ke dalam sebuah koper.


“Tetapi, sayang, Clarissa kelihatan tidak nyaman dengan rencanamu ini. Dia memutuskan hubungan dengan Hadi yang sudah dikenalnya dengan baik. Aku tidak yakin dia akan jatuh cinta dengan Luca yang baru dikenalnya lewat telepon,” kata Mason lagi.


Claudia menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke arah suaminya. “Bila Clarissa tidak tertarik dengannya nanti, tidak ada masalah, sayang. Setidaknya, aku sudah berusaha mencarikan calon suami yang terbaik untuknya. Lihat saja Charlotte dan Wyatt. Mereka sekarang bahagia bersama setelah salah paham di antara mereka diselesaikan.” Claudia tersenyum bahagia.


“Kita sudah lebih lama mengenal Wyatt dan orang tuanya. Luca baru kita kenal selama beberapa minggu terakhir. Itu dua hal yang berbeda, sayang.” Mason masih terlihat khawatir.


“Aku tahu mengapa kamu mengatakan ini.” Claudia memegang tangan suaminya dan mengajaknya untuk duduk di sisi tempat tidur. “Kamu masih khawatir, karena Clarissa pernah diambil dari kita selama belasan tahun. Sayang, kita akan terus menjaga dia dengan baik. Tidak akan ada yang bisa mengambil dia lagi dari kita.”


Mason mendesah sedih. “Semoga saja kamu benar. Setelah pengkhianatan Wyatt, aku tidak tahu siapa lagi yang bisa kita percayai di dunia ini.”

__ADS_1


__ADS_2