
*Dira*
Merasa sepi di tengah-tengah keramaian sangat aku rasakan saat ini. Kami melakukan aktivitas bersama selama berlibur, tetapi kebahagiaan yang aku rasakan sifatnya sementara. Karena begitu aku sendirian, aku teringat dengan semua hal buruk yang aku alami.
Aku bosan harus menyamar dengan memakai topi, kacamata hitam, atau membiarkan rambut panjangku menutupi sedikit wajahku. Aku ingin hidupku bisa normal kembali. Biasanya hanya pada tempat-tempat tertentu aku perlu menyamar. Tetapi sejak kejadian dengan video itu, aku merasa tidak tenang bila tidak menutup wajahku.
Air pancuran mulai membuat kulitku keriput, namun aku tidak peduli. Aku masih duduk di lantai ruang pancuran dan membiarkan air membasahi seluruh tubuhku. Perutku yang lapar aku abaikan saja karena aku tidak selera makan.
Tidak mau membuat saudara dan sahabatku khawatir, aku menyeret kakiku untuk berjalan menuju ruang makan. Namun ketika mataku membaca tanda yang tergantung di langit-langit koridor menuju lobi, aku berubah pikiran.
Setelah bersepeda beberapa menit, aku berhenti dan menepi untuk menikmati pemandangan indah di sekitarku. Tetapi aku tidak merasakan apa pun selain sakit. Air mata jatuh membasahi pipiku sekuat apa pun aku menahannya. Aku sudah lelah menangis dan aku pikir air mataku sudah kering. Sayangnya, setiap kali aku sedang sendiri, air mataku tidak bisa aku kendalikan.
“Dira.” Aku merasakan sentuhan pada bahuku. Aku mengenali suara itu, jadi aku cepat-cepat menyeka air mata di wajahku. “Tidak perlu bersikap tegar di depanku. Berpura-pura kuat hanya akan memperlambat proses pemulihanmu.”
“Aku sudah lelah menangis, Tante. Aku mau rasa sakit ini pergi jauh.” Tangisku pecah setelah aku mengatakan dengan jujur apa yang aku rasakan.
“Oh, sayang.” Tante Dafhina memeluk tubuhku. “Siapa pun yang mengalami yang kamu alami akan merasakan hal yang sama. Ini bukan masalah yang bisa selesai dalam waktu satu atau dua hari. Beri dirimu sendiri waktu untuk pulih.”
“Aku berharap dengan datang ke sini, keadaanku akan lebih baik. Tetapi tidak.” Aku menarik napas panjang, berusaha untuk menenangkan diriku. “Setiap kali aku sedang sendiri, aku pasti menangis lagi. Aku merasa bersalah dengan saudara dan teman-temanku.”
“Sedikit banyak, aku tahu rasanya.” Tante Dafhina melonggarkan pelukannya. Dia duduk di atas rumput, maka aku menirunya. “Apa kamu tahu? Aku dan Brady hampir tidak jadi menikah.”
“Ha? Yang benar, Tante??” tanyaku tidak percaya.
Dia tersenyum sambil mengangguk pelan. “Brady punya seorang sahabat wanita yang sangat dekat dengannya. Bahkan lebih dekat daripada hubungan kami berdua. Kami beberapa janji kencan harus batal karena sahabatnya itu ada masalah atau kami malah kencan bertiga.”
“Mengapa dia begitu? Aku dan Colin dari awal punya kesepakatan. Kami hanya akan berteman akrab dengan sesama kami. Aku dengan perempuan, sedangkan dia dengan laki-laki, untuk menghindari kesalahpahaman. Jika sahabatnya membawa masalah, mengapa tidak jaga jarak?” tanyaku bingung.
__ADS_1
“Brady berpikir sahabatnya adalah orang baik. Aku juga awalnya beranggapan begitu sampai dia datang dan bicara padaku bahwa dia akan melakukan apa saja supaya aku dan Brady putus.”
“Dia mengatakan itu pada Tante?” Aku membulatkan mataku.
“Dan Brady sama sekali tidak curiga dengan sikapnya itu.” Tante meraih tanganku, lalu menatap aku dengan lembut. “Masalah kami sebenarnya bisa aku selesaikan lebih cepat, seandainya aku bicara jujur dengan Brady. Tetapi aku memilih untuk menyelesaikan masalahku sendiri.
“Dira, bicarakan dengan keluargamu apa yang kamu butuhkan agar kamu bisa pulih. Menyelesaikan masalah sebesar ini sendiri hanya akan mempersulit dirimu. Lihat kamu. Merenung di sini seorang diri karena selalu merasa sedih saat sendirian. Kamu merasa bersalah mengecewakan keluarga dan sahabatmu. Tidak ada yang kecewa padamu, sayang. Percayalah.
“Aku saja bangga padamu. Kamu kuat sekali. Jika aku yang ada di posisimu, mungkin aku tidak akan pernah berani keluar dari kamar. Tidak akan pernah.” Dia tersenyum. “Tetapi lihat apa yang kamu lakukan. Kamu berada jauh dari rumah, berlibur dengan orang-orang terdekat. Mereka yang sudah melakukan ini padamu pasti tidak pernah menyangka bahwa kamu akan seberani ini.”
Tante bangga padaku, karena aku kuat? Benarkah aku kuat? Benarkah aku berani? Tetapi berada di tempat ini memang menakutkan sebab aku berada jauh dari rumah, dari kamarku. Benarkah kalau Vivaldo dan Nora melihat aku berlibur di tempat ini, mereka tidak akan percaya?
“Tidak, Tante. Aku tidak kuat atau berani. Aku masih menyembunyikan diriku dengan kacamata dan topi ini,” kataku pelan.
“Kamu selalu berpenampilan begini di depan umum.” Tante Dafhina mengusap-usap topiku dengan gemas. “Kamu seorang model remaja terkenal, wajar saja kamu tampil seperti ini.”
Berbicara dengannya membuat aku merasa jauh lebih baik. Aku memang tidak jujur kepada Papa, Mama, juga kedua saudaraku mengenai keadaanku. Karena tidak ingin membuat mereka susah, aku berpura-pura tegar di saat aku belum siap untuk keluar kamar dan bertemu orang-orang.
Itulah sebabnya aku tidak membalas saat Kak Hadi memarahi aku habis-habisan karena pergi keluar kawasan hotel tanpa izinnya. Akulah yang bersalah. Sebagai anak sulung, aku dan Adi ada dalam pengawasannya. Jika sesuatu terjadi pada kami, maka orang tua kami akan memarahinya.
“Apa kamu baik-baik saja, Dira?” tanya Charlotte saat kami bersiap untuk tidur.
“Iya. Mengapa kamu bertanya begitu?” Aku membaringkan tubuhku di ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhku.
“Kamu tidak biasanya sendiri. Dira yang aku kenal tidak suka sendirian. Mengapa kamu tadi pergi bersepeda sendirian?” tanya Charlotte lagi.
“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Saat aku akan bergabung bersama kalian, aku berubah pikiran waktu melihat tanda penyewaan sepeda di langit-langit lantai dasar. Aku ingin sendiri. Aku ingin pergi jauh. Aku ingin melakukan apa saja asalkan hatiku tidak terasa sakit lagi. Aku lelah dengan perasaan yang berkecamuk di dadaku, Charlotte. Aku mau rasa sakit ini pergi.”
__ADS_1
“Dira, maafkan aku.” Charlotte berdiri dari tepi ranjangnya dan duduk di tepi tempat tidurku. Aku tidak menolak saat dia memeluk aku. “Tolong, maafkan aku. Aku ada di sana. Aku ada di dekatmu. Tetapi aku gagal menjaga kamu. Seharusnya aku tidak biarkan kamu sendiri … aku salah sudah meninggalkan kamu sendiri ….”
“Tidak, Charlotte. Jangan katakan itu. Kamu tidak meninggalkan aku sendiri,” kataku dengan tegas. “Ada banyak guru, pengawas, dan teman-teman kita yang lain bersamaku. Ini adalah rencana yang sudah mereka pikirkan dengan matang. Mereka memikirkan setiap langkahnya dengan baik. Ini bukan salah kamu atau siapa pun. Ini salah mereka bertiga.”
“Tetap saja aku merasa bersalah ….” isaknya menghancurkan hatiku. Gadis yang selalu ceria ini tidak sedikit pun menangis di depanku saat cintanya kandas. Tetapi dia justru menangis untukku. Dia juga adalah orang pertama yang nekat datang mengunjungi aku ketika aku menolak semua orang yang ingin melihat keadaanku.
“Kamu mau membantu aku untuk bangkit lagi, Charlotte?” tanyaku penuh harap.
“Tentu saja. Kamu sudah banyak membantu aku saat aku putus dengan pengkhianat itu.” Aku tertawa kecil mendengarnya. Dia melepaskan pelukannya. Bukannya tidur di ranjangnya, dia meminta aku bergeser memberi ruang untuknya di tempat tidurku. “Katakan, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?”
Aku memutuskan untuk bicara jujur padanya mengenai apa yang aku rasakan. Akhirnya, kami lebih banyak membicarakan secara terbuka mengenai respons kami atas hal yang terjadi baru-baru ini. Hubungan kami yang kandas, juga siaran langsung yang memalukan itu. Walaupun kami belum menemukan cara yang cukup baik untuk pulih, perasaan kami menjadi lebih baik setelah bicara dari hati ke hati.
Karena itu saat keesokan paginya aku harus menangis lagi, aku membiarkan tubuhku melakukan apa yang dia butuhkan untuk pulih. Agar Charlotte yang sedang beristirahat tidak terganggu, aku duduk di kursi yang ada di balkon dan membiarkan air mataku mengalir membasahi wajahku.
*******
Sementara itu di sebuah rumah~
“Aku setuju dengan Zach. Seratus persen,” kata Adhyana, ayah kandung Hendra. “Ini masalah kriminal dan aku tidak setuju bila diselesaikan secara kekeluargaan.”
“Tetapi kita juga perlu memikirkan perasaan Dira, sayang. Kamu tidak bisa memaksa dia memberi kesaksian untuk hal yang tidak mau dia ingat lagi,” ucap Naava, ibu kandung Hendra, menyatakan rasa tidak setujunya.
“Aku setuju dengan mama kamu, sayang.” Zahara menatap suaminya dengan mata memelas. “Kita tidak bisa memaksa putri kita mengingat mimpi buruk itu. Dia tidak akan sanggup.”
“Kak, kasus ini memang tidak mudah. Karena itu aku usulkan agar Dira memberi kesaksian ketika dia sudah siap.” Zach melihat ke arah Zahara dan Hendra secara bergantian. “Tetapi aku tidak setuju kita mengambil jalan damai. Dan aku yakin, Dira juga tidak mau mengambil jalan ini.”
“Mereka sudah kembali,” lerai Anya, ibu kandung Zahara, mendengar deru mesin mobil memasuki pekarangan rumah. “Jangan bahas hal ini di depan Dira. Kita bicarakan ini lain waktu.”
__ADS_1
“Mengapa ada suara keributan di luar? Apa anak-anak bertengkar?” kata Rasmi, istri Zach. Dia berdiri. “Aku akan memeriksa keadaan mereka.”
“Aku ikut denganmu.” Zahara meletakkan cangkir yang dipegangnya ke atas meja, lalu mengikuti adik iparnya keluar dari ruang keluarga.