Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 117 - Pengakuan Pertama


__ADS_3

*Clarissa*


Mengapa penyesalan selalu saja datang terlambat? Aku merasakan tandanya, aku mengetahui gejalanya, lalu mengapa aku mengabaikan semua itu? Ini semua gara-gara aku terlalu keras kepala dan merasa bisa mengatasi segalanya sendiri.


Masalahku semakin rumit karena orang yang aku hadapi punya harga diri tinggi dan tidak terbiasa dengan penolakan. Aku sudah lelah berbohong kepada semua orang. Tetapi mengakui aku punya perasaan khusus padanya sekarang, aku tidak punya keberanian.


Hadi yang dahulu sangat baik dan manis padaku sudah pergi entah ke mana. Yang selalu aku lihat di depanku adalah Hadi yang dingin, berbicara tajam, dan membenci aku. Tidak ada sedikit pun cinta untukku di matanya. Aku harus bagaimana sekarang?


Charlotte bukan lagi sahabat sekaligus adikku. Dia lebih suka menyalahkan aku, mendesak aku untuk bicara jujur pada Hadi, tanpa peduli dengan rasa takutku. Kakek dan Nenek juga tidak bisa aku ajak bicara, aku sudah sering merepotkan mereka. Grandma Claudia sudah berpaling hati dan lebih suka mendekatkan aku dengan pemuda lain, daripada menolong aku kembali pada Hadi.


Pemuda bernama Luca itu sangat menjengkelkan. Kami hanya kenalan biasa, tetapi dia berlagak kami punya hubungan lebih dari teman. Dia terlalu banyak bicara tanpa pernah memberi aku waktu untuk mengatakan sesuatu. Hal yang akhirnya aku syukuri, karena aku tidak perlu susah payah berpikir mencari topik pembicaraan.


Ketukan pada pintu kamar membuyarkan lamunanku. “Pergi! Aku tidak mau diganggu!” seruku, karena aku tahu siapa yang berada di balik pintu.


Tentu saja gadis itu tidak peduli dengan perintah kakaknya. Dia membuka pintu, masuk dengan wajah bahagia, lalu menutupnya kembali. “Jangan sering marah-marah, Clarissa sayang. Emosi bisa membuat wajahmu lebih cepat berkerut.”


“Memangnya terlalu banyak tertawa tidak akan membuat wajah lebih cepat berkerut?” balasku.


Dia tertawa geli. “Aku minta maaf, oke? Aku tahu bahwa Hadi punya tembok tebal yang menutup hatinya dari serangan luar. Tetapi aku tidak tahu bahwa hal itu berlaku untukmu juga.”

__ADS_1


“Aku sudah bilang, itu ide buruk. Mendekati dia lagi bukanlah jalan keluar untuk masalahku. Untung saja Hadi mau menolong dengan bicara langsung dengan pemuda terlalu percaya diri itu.” Aku mendesah keras. “Aku tidak menyangka aku harus berhadapan dengan orang mirip Wyatt.”


“Hei, hei. Jangan samakan honey-ku dengan laki-laki itu. Wyatt tahu apa yang dia mau dan dia tidak pernah mengklaim aku sebelum aku sendiri yang mau menjadi pacarnya,” katanya membela Wyatt. “Luca itu saja yang bersikap seolah-olah kalian sudah berpacaran. Semua itu karena Grandma. Lagi pula untuk apa Grandma mendadak mengenalkan pemuda itu padamu sampai membawa dia dan keluarganya berlibur ke sini? Memangnya kalian mau menikah besok? Kamu, ‘kan, masih kuliah?”


“Mengapa kamu tanyakan itu padaku? Tanyakan pada Grandma. Dia sama sekali tidak mau dengar apa pun yang aku katakan. Sepertinya Grandma sudah punya rencananya sendiri. Aku akan kabur dari rumah kalau sampai Grandma memaksaku menikah dengan dia. Titik!” kataku dengan tegas.


Charlotte diam dan tidak memberi respons, jadi aku menoleh ke arahnya. Dia sedang mengamati aku dengan saksama. Lalu dia menaikkan kedua kakinya di atas tempat tidur agar bisa berhadapan denganku. “Clarissa,” katanya sambil memegang tanganku. “Bila kamu belum punya pacar juga, apa boleh aku menikah lebih dahulu darimu?”


“Mengapa kamu menanyakan itu? Kamu tidak perlu izin dariku. Siapa pun yang menikah lebih dahulu di antara kita berdua, bukan masalah untukku,” kataku dengan serius. “Aku malah lebih suka kamu dan Wyatt segera menikah sebelum hubungan kalian terlalu jauh.”


“Kami tidak akan melewati batas. Wyatt menghargai batas yang aku berikan kepadanya. Walaupun aku lebih lama berada di Amerika, aku tetaplah berjiwa timur.” Charlotte mengedipkan sebelah matanya. “Tetapi Clarissa, aku mau kamu jujur padaku.”


“Kamu benar-benar tidak ada perasaan apa pun pada Hadi?” tanyanya penuh selidik. “Karena aku perhatikan akhir-akhir ini, kamu sedikit berubah.”


“Aku berubah?” tanyaku sambil memikirkan jawaban yang terbaik dari pertanyaan berikutnya.


“Iya. Kamu tampil lebih rapi saat ke kampus dan kamu sedikit berdandan ketika kamu pergi ke suatu tempat di mana Hadi juga akan datang.” Dia mengamati aku baik-baik. “Yang paling terlihat jelas adalah saat tadi Dira mengerjai kakaknya. Kamu pamit ke toilet, dan saat kembali, kamu terlihat baru saja merapikan rambut dan memakai sedikit riasan.”


Aku tertawa gugup. Gawat. Bagaimana bisa aku tidak menyadari apa yang aku lakukan? “Itu hanya perasaan kamu saja. Aku ke toilet sudah pasti akan bertemu dengan cermin. Apa lagi yang akan aku lakukan kalau tidak merapikan rambutku yang sedikit berantakan?”

__ADS_1


“Clarissa, bahkan Dira sekalipun tidak akan bisa kamu bohongi. Apalagi aku adikmu sendiri.” Dia tersenyum. “Jadi, sampai kapan kamu akan menutupi perasaanmu dan menyimpannya sendiri?”


“Yang sedang kita bicarakan ini adalah Hadi.” Aku tidak menyangkal, tetapi aku juga tidak secara terus terang mengakui dugaannya itu. “Dia tidak mudah untuk memaafkan.”


“Kalau kamu yang berada di posisinya, apa kamu bisa memaafkan perbuatanmu itu? Orang yang telah dia tunggu selama belasan tahun memberi kesempatan padanya untuk menjalani hubungan yang serius, lalu mendadak mengakhiri hubungan tanpa diskusi berdua.” Aku menghela napas panjang mendengar ucapan Charlotte itu.


“Jadi, aku harus bagaimana? Aku tidak punya pengalaman dalam hal ini. Tetapi jangan beri ide yang konyol lagi,” kataku memohon. “Aku sudah cukup merasa malu karena perbuatan Wyatt hari ini.”


“Mm. Hadi pernah mencintai kamu, jadi aku bertaruh bahwa dia masih punya sedikit perasaan untukmu. Sama seperti aku dan Dira. Kami tidak sepenuhnya mampu membuang rasa sayang kami pada mantan kami. Dan mereka memanfaatkan itu saat meminta kami untuk kembali. Kamu pakai cara yang sama saja.” Charlotte menjentikkan jarinya. “Aku tahu! Aku ada ide bagus!”


Ide yang dia pikirkan justru menakutkan bagiku. Bagaimana kalau Hadi memanfaatkan posisiku dan membalas perbuatanku di depan semua orang nanti? Aku bukan hanya kehilangan muka, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan.


“Apa? Mendapatkan pekerjaan?” Charlotte tertawa keras. Aku cemberut melihat dia menganggap remeh masa depanku. “Clarissa, apa kamu lupa? Kamu akan menjadi pengganti Kakek atau Grandpa suatu hari nanti. Kamu tidak perlu melamar kerja di perusahaan mana pun.”


Dia benar juga. Mengapa aku sampai melupakan hal itu? Baiklah. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan hatinya lagi. Tubuhku mendadak gemetar membayangkan apa yang sanggup dia lakukan padaku nanti. Tetapi aku segera menjauhkan pikiran itu dari kepalaku. Apa pun yang dia lakukan nanti, aku pantas untuk mendapatkannya. Ini adalah caraku untuk memperbaiki segalanya.


Karena sudah tidak ada lagi aktivitas di kampus, aku hanya mampir untuk melihat pengumuman terbaru pada papan yang tersedia. Aku sengaja melewati kantor jurusan Hadi, tetapi dia tidak terlihat di mana pun. Hanya ada beberapa mahasiswa yang aku tahu satu jurusan dengannya.


Wyatt dan Charlotte masih sabar menunggu di dalam mobil saat aku kembali. Sopir mengemudikan mobilnya setelah aku bergabung bersama mereka. Adikku dan pacarnya hanya diam selama kami dalam perjalanan. Tempat tujuan kami berikutnya memang membuat kami tidak sanggup bicara.

__ADS_1


Kakek dan Nenek sudah tiba lebih dahulu. Mereka berdiri ketika melihat kami memasuki lobi. Aku melihat Dira dikelilingi oleh keluarganya. Aku bisa memahami apa yang gadis itu rasakan pada saat ini. Karena aku juga berada pada posisinya beberapa hari yang lalu. Bedanya, dia akan menjadi sasaran empuk para penasihat hukum tersangka, karena kasusnya lebih berat dariku.


__ADS_2