
*Hadi*
Aku tidak percaya mendengar pertanyaan yang mereka ajukan. Clarissa tidak akan menyukai pria seperti dia, apalagi sampai meminta dia menikahinya. Tim kuasa hukum Om Edu bekerja dengan baik mempersiapkan dia menjawab setiap pertanyaan yang akan diajukan oleh kuasa hukum Finley yang lupa dengan usianya sendiri itu.
Kalau dipikir-pikir, apa yang Clarissa lalui selama hidupnya yang masih terhitung muda tidaklah adil. Dia mengalami kecelakaan bersama orang tuanya, lalu diculik dan dibesarkan jauh dari keluarganya, ketika mendapat keluarga baru pun dia hanya disia-siakan. Pada saat dia bertemu lagi dengan orang yang sedarah dengannya, masalahnya justru tidak berhenti.
Namun itu tidak bisa membenarkan apa yang dia lakukan padaku. Orang-orang yang ada di sekitarku terus saja mendorong aku untuk kembali padanya. Saran yang sangat konyol. Dia yang menolak aku dan mengakhiri hubungan kami, mengapa aku yang harus datang lebih dahulu padanya?
Waktuku akan lebih berguna bila aku fokus pada masa depan yang bisa aku kendalikan dengan tanganku sendiri. Bersiap menggantikan posisi Papa. Mengenai istri, bisa aku pikirkan nanti ketika aku membutuhkannya. Aku masih terlalu muda untuk menikah.
Pada saat giliranku yang duduk di kursi saksi, aku tidak memberi satu kesempatan pun kepada kuasa hukum Finley untuk menjebakku dengan pertanyaan mereka. Ketika bertanya dari mana aku tahu bahwa Finley yang menyuruh para penjahat itu menyerang kami, aku segera meralatnya.
“Mereka tidak ditugaskan untuk menyerang kami, tetapi untuk membawa Clarissa atau yang pada saat itu masih bernama Mila, kepada ayahnya. Hanya ada satu orang yang tiba-tiba muncul mengaku sebagai ayahnya beberapa hari sebelum kejadian itu. Finley Taylor.” Aku melihat ke arah pria itu.
Ketika dia mencoba mengarahkan pikiranku pada Carl Foster sebagai ayah Clarissa yang dimaksud penjahat itu, maka aku memberi tahu dia bahwa Clarissa sudah lama putus hubungan dengan orang tua angkatnya. Untuk apa orang yang sudah membuang anak angkatnya, memintanya membayar semua biaya yang mereka keluarkan saat merawatnya, berniat menculiknya?
Aku tidak setuju dengan ucapan Om Giovanni yang menunjukkan kelegaannya karena hari kami memberi kesaksian sudah berlalu. Meskipun Finley nanti mendapatkan hukuman atas perbuatan jahat yang dia lakukan, dampaknya atas hidupku dan Clarissa tidak akan bisa dipulihkan dengan cepat. Apalagi kami akhirnya tahu bahwa dia yang ada di belakang tindakan Sigit menyebar foto Clarissa saat sedang bersama kliennya.
Kami makan malam bersama di rumah Om Giovanni dan Tante Darla usai persidangan berlangsung. Hakim tidak mengharuskan kami hadir pada setiap kali sidang diadakan, jadi aku memilih untuk tidak datang pada hari berikutnya. Melihat pria hidung belang itu duduk di sana sudah membuatku muak. Memang Clarissa sudah bukan remaja di bawah umur, tetapi aku tetap menganggap laki-laki itu seorang pedofil. Beraninya dia memaksa Clarissa untuk menikah dengannya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Colin saat aku sedang berdiri melihat pemandangan malam di depanku. Tante Darla punya kebun bunga yang indah, tetapi aku tidak bisa melihatnya pada malam hari. Sinar lampu hanya cukup untuk menerangi teras.
“Menghirup udara segar. Suasana di dalam terlalu ramai,” jawabku santai.
“Semoga saja Finley mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya. Kalau perlu, dia mati di dalam penjara atas apa yang sudah dia perbuat pada Clarissa.”
“Sayang sekali, kasus penculikannya pada saat masih bayi tidak bisa diproses. Pria itu tidak pantas hidup bebas setelah berbuat sejahat itu pada seorang anak kecil dan keluarganya. Aku tidak akan pernah lupa dengan rasa duka dan kesedihan yang bertahun-tahun terlihat di wajah Om Edu, Tante Lindsey, Uncle Mason, dan Aunt Claudia.” Aku menggeleng pelan.
“Hidup ini tidak adil, Hadi. Kamu harus memahami hal itu agar tidak menyimpan banyak kekecewaan. Aku dahulu berpikir bahwa kamu sangat beruntung terlahir di keluarga kaya raya dan terpandang. Ternyata kamu tidak selalu mendapatkan yang kamu inginkan. Kamu juga tidak hidup nyaman tanpa masalah. Bahkan untuk mendapatkan hakmu sebagai ahli waris Uncle Hendra pun, kamu tidak diam berpangku tangan. Kamu belajar dan bekerja keras sejak kecil untuk itu.” Colin berdecak pelan.
__ADS_1
Entah mengapa Colin tidak menyadari apa yang sedang dia lakukan. Mungkin karena kami berteman begitu lama, dia tidak tahu bahwa kata-katanya mampu membuat aku sedikit lebih tenang. Itu hal yang aku butuhkan dari seorang rekan kerja.
Aku melihat bagaimana Papa bekerja dengan Tante Gista. Papa tidak banyak bicara atau memberi instruksi, tetapi sekretarisnya tahu harus melakukan apa dalam setiap keadaan. Pada saat rapat, bertemu dengan kolega, berdiskusi dengan rekan bisnis, Tante Gista tahu apa tugasnya tanpa menunggu perintah dari Papa.
Hal yang sama, aku rasakan dari Colin. Tetapi saat aku membicarakan mengenai rencanaku tersebut, dia lagi-lagi merendah dan menyebut tidak akan bisa seperti mamanya. Aku tidak mau dia menjadi seperti Tante Gista, aku mau dia menjadi dirinya sendiri.
Karena Dira datang, aku melihat itu adalah kesempatan bagi mereka untuk bicara. Adikku akan lebih baik dalam meyakinkan dia mengenai pekerjaan tersebut. Aku meninggalkan mereka untuk bicara berdua dan kembali ke dalam rumah.
Dari koridor, aku berbelok ke kiri di mana toilet berada. Beberapa menit kemudian, aku kembali ke ruang tamu. Melihat pintunya dibuka dan Clarissa keluar dari ruangan tersebut, aku segera bersikap biasa. Aku berniat untuk melewatinya, tetapi dia berjalan tepat ke arahku. Aku segera bersikap waspada dan tidak tertipu dengan senyum manisnya.
“Terima kasih untuk apa yang kamu lakukan tadi di persidangan,” ucapnya pelan.
“Kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya melakukan tugasku memenuhi panggilan dari pengadilan,” jawabku santai.
“Ng, apa kamu sudah punya acara pada hari Minggu nanti?” tanyanya sedikit gugup. Clarissa yang aku kenal sangat percaya diri, mengapa sekarang dia terlihat gugup?
Aku mengerutkan keningku. “Ada apa dengan hari Minggu?” Setelah berbulan-bulan mengabaikan aku dan menganggap aku tidak ada, dia mendadak menanyakan kegiatan akhir pekanku?
“Aku tidak pernah bilang bahwa aku suka film horor.”
“Oh. Wyatt bilang kamu dan dia menyukai genre film yang sama.”
“Terima kasih atas ajakanmu, tetapi aku harus menolak. Aku lebih baik bersantai di rumah daripada berdesak-desakan di mal demi menonton film horor.” Selera rendahan Wyatt dianggapnya sebagai kesukaanku juga? Siapa yang sudah memfitnah aku?
“Tentu saja Kakak akan menonton bersamamu dengan senang hati, Clarissa,” ucap Dira yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sisiku. Dia memeluk lengan kananku. “Jangan film horor. Kita berempat akan menonton film pahlawan super saja, karena horor adalah kelemahanku.”
“Aku tidak mau menonton bersama kalian,” kataku dengan tegas.
“Mama akan menasihati Kakak panjang lebar kalau sampai Mama tahu bahwa Kakak menolak ajakan Clarissa. Papa juga akan melakukan hal yang sama,” ucap Dira setengah mengancam. Orang tua kami tidak akan tahu-menahu mengenai ini kalau bukan dia yang mengadu pada mereka. “Jadi, kita akan kencan ganda pada hari Minggu!”
__ADS_1
“Tidak, Dira. Kamu salah paham. Aku tidak mengajak Hadi kencan,” kata Clarissa berkelit. Apa lagi namanya kalau bukan berkencan? “Aku hanya mengajaknya untuk menonton bersama.”
Aku hampir tertawa mendengar alasannya itu. “Kamu boleh mengadukan ini pada orang tua kita. Tetapi aku tidak sudi menonton bersamanya.”
“Aku mengajakmu baik-baik, mengapa kamu harus sewot begitu?” seru Clarissa kesal. “Kamu bisa menolak ajakanku dengan baik dan aku tidak akan memaksa.”
“Kamu tahu bahwa aku akan menolak ajakanmu, lalu mengapa kamu masih bertanya?” ucapku tidak mau kalah. Jika dia pikir bahwa aku akan bersikap ramah padanya setelah apa yang terjadi di antara kami, maka dia sudah salah menilai aku.
“Karena aku tidak suka dengan apa yang terjadi pada kita. Keluarga kita bersahabat, tetapi kita bersikap seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal,” katanya mencari-cari alasan.
“Apa kamu pernah melihat mantan berteman dengan baik? Kalau kamu pernah bertemu dengan orang seperti itu, mereka sudah gila. Aku masih waras dan aku tahu apa yang akan terjadi bila kita tetap berteman setelah pertunangan kita berakhir.” Aku menatapnya dengan tajam.
“Memangnya apa yang akan terjadi jika kita tetap berteman?” tanyanya polos, atau pura-pura tidak tahu, aku tidak bisa membedakannya.
“Jawabanku tetap tidak.”
“Aku hanya bertanya apa yang kamu maksud dengan kalimatmu tadi. Aku tidak sedang membujuk kamu untuk menerima ajakanku yang sudah kamu tolak.”
“Bagus. Kalau begitu, kita berdua sepakat.”
Sebelum Dira membuka mulutnya dan mencoba memberi ide gila yang lain, aku menarik tanganku dari genggamannya dan berjalan kembali ke ruang tamu. Rencana keluarga kami untuk pergi ke Ubud memenuhi undangan Tante Dafhina sudah membuat kepalaku pusing. Aku tidak sudi menambah satu hari lagi di mana aku harus menggunakannya bersama Clarissa.
Aku melirik jam digital di atas nakas untuk kesekian kalinya. Dira sudah dijemput oleh Colin untuk kencan mereka, sedangkan Adi entah melakukan apa dengan Lily. Papa dan Mama juga tidak ada di rumah, mereka makan siang bersama dengan teman-teman mereka. Hanya aku sendiri yang berada di rumah, mengurung diri di kamar tanpa aktivitas.
Aku mendesah napas keras. Membosankan hanya diam saja di kamar. Buku yang aku baca sama sekali tidak menarik. Media sosial hanya dipenuhi dengan foto dan video teman-teman yang sedang jalan-jalan. Menonton film hanya membuatku teringat pada Clarissa. Berolahraga dengan Black dan Gold juga sudah. Mereka sekarang hanya berbaring di dekat kakiku, bermalas-malasan.
Ponselku yang ada di atas nakas bergetar, aku segera mengambilnya. Membaca nama pada layar, aku segera menegakkan dudukku. Mengapa Dira menghubungi aku? “Halo?”
“Kak.” Terdengar Dira sedang menangis terisak. Colin sialan. Apa dia menyakiti adikku lagi? “Bisa datang ke sini untuk menjemput aku? Tolong, jangan beri tahu Papa. Dia akan sangat marah kalau tahu hal ini. Colin … dia ….”
__ADS_1
Aku segera turun dari tempat tidurku menuju ruang pakaian. Gold dan Black menggonggong, lalu mengekori aku. “Aku akan membunuhnya sekarang juga.”