Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 189 - Hanya Melakukan Tugas


__ADS_3

*Colin*


Kasus kecelakaan di depan sekolah Lily masih dalam penyidikan pihak yang berwajib. Walaupun sekolah sudah kembali beraktivitas seperti biasa, masih ada siswa, guru, juga orang tua siswa yang bergantian memenuhi panggilan polisi sebagai saksi. Aku dan Lily pun akhirnya dipanggil juga.


Syukurlah, kami mendapat giliran pada pagi hari, jadi kami bisa ke kantor polisi terlebih dahulu sebelum aku mengantar adikku ke sekolahnya. Kami sama-sama gugup saat tiba di depan kantor tersebut. Seorang petugas polisi mengantar kami ke sebuah ruangan di mana kami bisa memberikan pernyataan. Aku dan Lily berhadapan dengan petugas yang berbeda.


Pria yang duduk di depanku mengawali pernyataanku dengan meminta aku menyebut nama dan beberapa hal yang berhubungan dengan identitas pribadiku. Lalu dia mulai bertanya apa yang aku saksikan pada hari nahas tersebut. Aku menceritakan segala yang aku ingat.


Ketika dia bertanya apakah aku mengenal pelaku, aku mengatakan tidak. Namun saat dia menyebut namanya, maka aku mengatakan dengan jujur bahwa aku beberapa kali bertemu dengannya saat menemani Dira melakukan aktivitas dengan agensi atau pekerjaannya sebagai model.


Lily sudah selesai dan diminta untuk menunggu di luar ruangan pada saat aku masih dihujani dengan berbagai pertanyaan. Seharusnya aku berbohong saja dengan mengatakan bahwa aku tidak kenal dengan pelaku. Tetapi mereka bisa saja mengentahuinya belakangan nanti. Aku bisa menghadapi masalah yang lebih besar jika itu terjadi dan aku tidak jujur dari awal.


Hampir satu jam setelah Lily keluar dari dua saksi lainnya yang duduk di ruangan yang sama untuk memberi kesaksian, barulah aku dipersilakan untuk pergi. Kepalaku terasa sakit sekali karena harus menjawab pertanyaan yang intinya sama berulang kali. Mereka sepertinya sengaja melakukannya siapa tahu aku akan mengubah pernyataanku.


“Ada apa? Mengapa mereka menanyai kamu lama sekali?” tanya Lily yang berjalan di sisiku menuju pintu keluar kantor tersebut.


“Sebaiknya kita tidak membahasnya di sini.” Aku menggandeng tangannya agar dia melangkah lebih cepat. Napasku mendadak sesak seolah-olah ada yang menghalangi saluran pernapasanku.


“Ada apa, Colin? Kamu membuat aku khawatir,” tanya Lily sambil menerima helm yang aku berikan kepadanya. “Apakah polisi itu mencurigai sesuatu?”


“Aku sudah bilang, tidak dibahas di sini,” kataku sekali lagi. Aku menaiki motor, lalu membantu adikku untuk duduk di belakangku.


“Kita tidak perlu ke sekolah. Aku sudah meminta izin kepada wali kelasku. Dia juga tahu bahwa aku masih ada di kantor polisi tadi,” ucap Lily sebelum aku menyalakan mesin.


Itu adalah kabar baik, karena aku tidak yakin bisa mengendarai sepeda motorku sejauh itu. Setelah beberapa kilometer, aku menepikan sepeda motor memasuki tempat parkir sebuah kafe. Kami memilih tempat duduk yang jauh dari meja yang terisi.

__ADS_1


Aku mempersilakan Lily memesan apa saja yang dia mau. Setelah pelayan pergi meninggalkan kami, Lily meminta aku untuk segera bicara. “Apa menurutmu aku telah melakukan kesalahan dengan mengakui bahwa aku mengenal pelaku tabrakan itu?”


“Di mana letak kesalahannya? Dira adalah pacarmu, sedangkan Laras adalah rekan satu agensinya. Tentu saja kalian pernah bertemu dan mungkin mengobrol bersama Dira,” katanya dengan santai. “Jangan terlalu dipikirkan. Mereka hanya melakukan tugas mereka. Aku juga dicecari dengan pertanyaan yang tidak masuk akal. Padahal aku jelas-jelas adalah saksi mata.”


“Semoga saja aku tidak melakukan kesalahan yang akan membuat aku ada dalam masalah. Aku tidak suka berurusan dengan polisi. Semester ini adalah semester terakhirku. Aku tidak mau rencanaku rusak total seperti Manda.” Aku menggelengkan kepalaku membayangkannya.


“Colin, tenang saja. Sekalipun Laras menyebut kamu sebagai kaki tangannya, polisi butuh bukti, bukan sekadar kata asal bunyi.” Lily menyentuh tanganku yang ada di atas meja. “Lagi pula ada Uncle Hendra yang akan membantu kalau terjadi hal buruk.”


Supaya Lily tidak ikut khawatir, aku mengiyakan semua kata-katanya dan menenangkan diri. Cara petugas itu bertanya dan ekspresi wajahnya memang sangat memengaruhi aku. Dia begitu yakin aku ikut andil dalam kecelakaan tersebut. Semoga itu hanya perasaanku saja.


Bertemu dengan Hadi pada hari Sabtu itu, aku tidak bisa bicara banyak dengannya. Kami punya janji dengan pacar kami masing-masing. Aku akan mengantar Dira ke tempat audisi, sedangkan Hadi akan menemani Clarissa yang sendirian di rumah tanpa keluarganya.


Ketika dia kembali menyinggung mengenai tawarannya untuk menjadikan aku asistennya. Aku masih tidak percaya diri. Tetapi dia menyebut mengenai Mama memberi aku sebuah ide. Aku bisa bicara banyak dengannya untuk mengetahui apa saja tugasnya selama mendampingi Uncle Hendra. Mama pasti akan senang bila dia tahu tawaran Hadi kepadaku.


“Iya, sayang. Terima kasih.” Aku melingkarkan tanganku di bahunya.


“Jangan khawatir mengenai Laras. Aku akan pastikan kamu tidak akan terseret dalam masalah ini. Ada banyak saksi yang bisa membuktikan bahwa kamu dan Laras tidak dekat atau merencanakan kecelakaan itu bersama. Vikal juga tahu itu.” Dira melirik ke arah asistennya.


“Aku siap untuk bersaksi dan memberi tahu mereka seperti apa hubungan kamu dengan gadis jahat itu. Pak Billy juga sudah pusing. Agensinya menjadi sasaran wartawan yang haus berita.” Vikal memberikan sebuah brosur kepada Dira. “Pelajari itu sebelum giliranmu tiba.”


Melihat hal itu, aku tidak mengajak Dira bicara lagi. Aku membuka kunci layar ponselku dan masuk ke game daring. Aku tidak heran melihat ada banyak teman-temanku yang juga online. Malam ini kami akan mengikuti perang lagi, jadi mereka sudah mulai membahas strategi perang kami.


Adi dan Lily juga sedang daring, maka aku mengajak mereka masuk dalam grupku. Seperti biasa, mereka langsung meminta aku membantu mereka menyelesaikan misi mingguan yang belum selesai. Aku justru berterima kasih kepada mereka karena membantu aku mengisi waktu sampai Dira selesai dengan audisinya.


Namun saat Dira keluar dari ruang audisi dengan wajah merah, aku merasa tidak enak. Tanpa keluar lebih dahulu dari game, aku mengunci layar ponselku. Vikal memberi sinyal kepadaku agar mengikuti mereka. Orang-orang melihat ke arahnya dan Dira, jadi aku mengerti mengapa dia meminta aku untuk berjalan bersama mereka.

__ADS_1


Dira berdiri di sisi sepeda motorku, sedangkan Vikal mendekati aku. Dia menyebut nama tempat di mana sebaiknya kami duduk bersama. Aku menurut. Dira tidak mengatakan apa pun ketika aku membantu dia memakai helmnya, bahkan sampai kami duduk bersebelahan di kafe. Vikal datang kemudian dan memesan makanan serta minuman untuk kami.


“Apa mereka tidak akan pernah melupakan video itu?” tanya Dira lirih. Aku menghela napas panjang mendengarnya. Masih ada juri yang menyinggung video itu lagi? “Aku tidak peduli jika mereka menyebut aku perempuan murahan sekalipun. Tetapi bagaimana bisa seorang yang terhormat meminta seorang calon bintang iklan mereka untuk melepaskan pakaian di depan banyak orang?”


Seharusnya dia sudah meninggalkan kejadian buruk itu di belakang dan menutup buku. Mengapa orang-orang suka sekali mengingatkan dia mengenai musibah itu? Dia adalah korban, bukan orang yang sengaja memamerkan tubuhnya untuk mencari ketenaran. Dira adalah model muda yang sukses dan digemari banyak orang, dia tidak perlu membuat skandal untuk mendongkrak namanya.


Meskipun Dira tidak pernah mengeluh, aku tahu bahwa dia masih bermimpi mengenai kejadian itu. Sama seperti aku yang masih memimpikan kecelakaan maut yang terjadi di depan mataku. Hal yang aku harapkan tidak pernah aku saksikan. Kasihan sayangku, dia tidak bersalah, tetapi orang menutup mata dan menganggap dia ikut andil dalam menyiarkan video itu.


“Perusahaan itu akan aku coret dari daftar, Dira. Kamu tidak akan berurusan dengan mereka lagi.” Vikal menyentuh tangannya. “Aku juga akan lebih berhati-hati mencari informasi mengenai orang yang menjadi juri pada audisi ke depan. Semoga kamu tidak direndahkan seperti itu lagi.”


“Rasanya aku ingin berhenti saja.” Dira menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hatiku perih mendengar dia terisak. Aku melingkarkan tanganku di bahunya. Dia mendekatkan tubuhnya kepadaku sehingga aku bisa memeluknya.


Tanganku refleks mengepal mendengar dia menangis. Dira adalah gadis yang tegar. Dia menangis sampai tersedu-sedu adalah hal yang langka. Mereka pasti mengatakan hal itu dengan wajah dan nada mengejek. Terbuat dari apa hati mereka semua?


“Sayang, apa kamu memberi tahu Uncle mengenai perbuatan mereka?” tanyaku pelan.


“Tidak,” jawabnya cepat. Dia menjauhkan dirinya dariku sambil sibuk menghapus air mata dan cairan dari hidungnya. “Kamu tidak boleh memberi tahu Papa. Kamu juga, Vikal. Aku tidak bisa bergantung kepada Papa terus setiap kali menghadapi masalah. Apa kalian mengerti?”


“Mengapa kamu bicara begitu? Apa kamu mau terus diingatkan mengenai kejadian itu?” protesku.


“Aku mulai mengerti mengapa mereka melakukannya.” Dia mendesah pelan, lalu menyeka air mata yang jatuh membasahi pipinya. “Mereka hanya mau menguji apakah aku adalah korban atau hanya berpura-pura supaya semakin terkenal. Itu adalah tugas mereka, mencari tahu apa aku layak menjadi bintang iklan produk mereka.”


“Tetapi yang mereka lakukan itu sangat rendah,” kataku tidak terima. Mengapa dia tiba-tiba berubah pikiran?


“Benar. Tetapi orang-orang bisa saja menolak produk mereka begitu aku yang menjadi bintang iklan mereka. Perusahaan mana yang mau mengalami kerugian? Sebaliknya, bila mereka melihat sendiri bahwa aku adalah korban dalam kasus itu, mereka yang akan membela aku.”

__ADS_1


__ADS_2