Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 28 - Geram


__ADS_3

Mila menoleh ke arahku begitu mendengar ucapan Dira. Tetapi aku tidak menjawab pertanyaan yang aku tahu sudah ada di ujung lidahnya. Kelihatannya dia tidak nyaman membahas mengenai keluarga yang dia cari di depan adik-adikku, maka aku menunggu sampai kami bisa bicara berdua.


Nama Adi dipanggil, kami pun bersiap untuk pulang. Adi yang pergi ke konter untuk mengambil dua gelas kertas berukuran besar berisi minumannya dan Dira. Mila dan Dira berjalan keluar lebih dahulu, sedangkan aku dan Adi berjalan di belakang mereka.


Ketika kami tiba di depan rumah di mana Mila tinggal, aku mengingat alamat itu sebaik mungkin. Aku tahu bahwa aku akan sering datang ke sini di masa mendatang. Adi menolong Mila keluar dari mobil, lalu dia yang duduk di sisiku.


“Dia gadis yang baik,” kata Dira saat kami sudah jauh dari tempat tinggal Mila. “Aku masih tidak percaya bahwa dia bukan anak kandung Om Matias dan Aunt Abby.”


“Semua orang tidak percaya dengan hasil tes tersebut. Tetapi lab di mana tes dilakukan adalah tempat yang dipercaya Om Edu. Mustahil mereka melakukan kesalahan atau memanipulasi hasil. Kita hanya bisa berharap agar tes yang kedua lebih akurat,” kataku.


“Menurut Kakak, di mana letak kesalahannya? Pada sampel Mila atau almarhum orang tuanya?” tanya Dira lagi. Keningnya berkerut menunjukkan bahwa hal ini juga mengganggunya.


“Bila terjadi kesalahan pada sampel orang tuanya saat lab menguji DNA mereka, maka kita tidak bisa menggunakan hasil tersebut ke depannya. Karena itu Tante Lindsey dan Om Edu berharap bahwa kedatangan Aunt Claudia akan menolong mendapatkan hasil yang lebih akurat,” ujarku menjelaskan.


“Apa sampel dari Om Edu dan Tante Lindsey tidak bisa dijadikan acuan? Bukankah DNA dari kakek dan nenek juga bisa digunakan untuk mengetahui hubungan kekerabatan mereka dengan cucu? Apa bedanya dengan Aunt Claudia?” tanya Dira bingung.


“Nanti kamu juga tahu.” Aku mengedipkan sebelah mataku kepadanya lewat kaca spion. “Kamu tahu aku dan Mila bertemu dengan siapa tadi?”


“Di kafe? Siapa?” tanya Dira bingung. Aku membuka mulut berniat menjawab pertanyaannya, tetapi dia segera berseru, “Eh, tunggu-tunggu. Jangan bilang Reese.” Aku mengangkat kedua alisku. “Ya, ampun. Apa yang dia lakukan di tempat itu? Apa dia melihat Kakak lalu datang menyapa?”


“Perempuan itu sudah gila. Dia tadi memarahi Kak Dira dan mengusirnya keluar dari salon. Untung saja manajer salon itu waras dengan membawa dia menjauh dari kami. Dia terlihat sempurna dalam iklan yang diperankannya, aku tidak menduga orang aslinya sejahat itu.” Adi menggeleng pelan.


“Untuk menjawab pertanyaan Dira, dia dan asistennya juga sama seperti kalian. Datang ke kafe itu untuk membeli minuman. Mungkin dia melihat kami, lalu tidak bisa menahan dirinya untuk memberi nasihat padaku agar menjauhi Mila,” ucapku.


“Menjauhi Mila? Mengapa?” tanya Dira heran. “Jangan bilang dia cemburu, lalu merasa berhak untuk mengatur perempuan mana yang boleh dan tidak boleh dekat dengan Kakak.”


“Mila adalah saudara angkat Reese. Orang tuanya mengadopsi Mila saat dia masih kecil. Bisa kamu bayangkan itu?”

__ADS_1


“Saudara angkat??” seru Dira dan Adi serentak.


“Wow. Mereka berdua benar-benar berbeda. Kak Mila yang baik hati dan Reese yang mau menang sendiri.” Adi menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa dia tidak pusing terus melakukan hal itu? “Apa orang tuanya tidak bisa mendidik anak mereka sendiri dengan baik? Bagaimana bisa moral Kak Mila lebih baik daripada Reese?”


“Ada apa denganmu? Mengapa kamu sebenci itu dengan Reese?’ tanyaku bingung.


“Kakak tidak lihat bagaimana dia memperlakukan Kak Dira. Dia juga telah menghina Kakak dengan menyebutnya memacari anak-anak. Siapa yang tidak akan kesal dengan perempuan jahat itu?” Dia menggeram pelan. Kali ini aku menoleh ke arah Dira karena kami sedang berhenti di persimpangan lampu lalu lintas dan lampu merak sedang menyala.


“Dia bilang kalian pacaran?” Dira memutar bola matanya. Aku tertawa kecil. “Wajah kalian sedikit mirip. Baru kali ini ada yang menyebut kalian berpacaran.”


“Sudah. Jangan bicarakan dia lagi. Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuatnya berhenti mengganggu kita. Kasus ini berbeda dengan kasus surat cinta palsu di sekolahku. Mereka bisa Kakak ancam untuk berhenti, mengatasi Reese tidak semudah itu. Jadi, lebih baik hindari dia saja,” kata Dira mengakhiri topik pembicaraan kami mengenai rivalnya.


“Aku bilang juga apa. Kamu cuti pun, masalah tetap mengikuti kamu. Dia bisa bebas mendapatkan kontrak iklan selama kamu tidak bekerja, tetapi rasa bencinya padamu tetap sama. Jelas masalahnya bukan padamu tapi dia.” Aku mengendarai mobil kembali begitu lampu hijau menyala.


Keadaan rumah sepi saat kami tiba. Pak Abdi menawarkan camilan sore, tetapi kami menolak. Kami hanya perlu menunggu Papa pulang untuk makan malam bersama. Jadi, kami menuju kamar untuk membersihkan diri, lalu duduk bersama di ruang keluarga.


Terdengar deru mobil memasuki pekarangan depan rumah diikuti dengan pintu ruangan sebelah yang terbuka, lalu tertutup kembali. Aku saling bertukar pandang dengan Dira, sedangkan Adi tetap fokus dengan ponselnya. Memang hanya Papa yang bisa membuat Mama melupakan dunianya.


Aku membuka pintu ruangan dan berdiri di ambang pintu bersama Dira. Papa datang membawa buket besar berisi mawar merah dengan wajah bahagia. Mama yang sudah menunggunya segera memeluknya dan mereka berciuman mesra. Dira berdehem sekeras mungkin agar mereka tahu bahwa mereka tidak sedang berdua saja.


“Cari pacar kalian supaya tahu enaknya berciuman,” goda Papa yang sengaja mencium Mama lagi untuk membuat kami cemburu.


“Aku tidak akan mencium pacarku, Pa. Ciuman itu hanya untuk suami istri,” kata Dira keberatan.


“Itu prinsip yang benar.” Mama mengangguk setuju. “Aku juga pertama kali berciuman dengan Papa kalian, bukan orang lain. Dan setelah kami resmi menjadi suami istri.”


“Andai kamu merasakannya sebelum kita menikah, aku yakin kamu akan ketagihan, sayang. Lalu memohon agar pernikahan kita dipercepat.” Papa tertawa saat Mama memukul dadanya.

__ADS_1


“Segera ganti pakaianmu, kami menunggu kamu untuk makan malam.” Mama memberikan buket bunga kepada Ibu Yuyun, kemudian tertawa saat Papa menariknya untuk ikut bersamanya ke lantai atas. Aku dan Dira saling bertukar pandang. Mereka akan butuh lebih dari satu jam untuk bergabung bersama kami. Makan malam sudah pasti harus ditunda.


Merasakan ponselku bergetar, aku memeriksa pesan yang baru masuk. Dari Mila. Aku dan Dira kembali duduk di sofa, menunggu Papa dan Mama selesai dengan urusan mereka.


Apa Charlotte adalah adik Clarissa? Itu adalah isi pesan dari Mila. Lama juga dia menahan diri untuk menanyakan hal tersebut. Aku membalasnya dengan singkat, lalu aku tahu bahwa dia siap dengan pertanyaan berikutnya lewat tulisan Mila sedang mengetik … pada bagian atas layar pesan kami.


Apa aku boleh ikut menjemput mereka di bandara pada hari Senin? Aku tidak segera membalasnya karena aku tidak berencana untuk menemui mereka di sana. Bila mereka datang pada hari Senin, maka kemungkinan besar mereka akan menghadiri ulang tahun Adi. Aku mohon, ketiknya lagi saat aku belum juga mengetik balasanku.


Aku tidak berencana menjemput mereka di bandara. Aku diskusikan dengan papaku dahulu apa aku boleh mengundang kamu ke acara di rumah kami. Aunt Claudia dan Charlotte juga akan hadir. Aku membalas dengan hati-hati agar tidak terkesan memberi harapan, namun juga tidak menolak.


Baiklah. Terima kasih. Maaf, bila aku terkesan merepotkan kamu. Tulisan itu terkesan bahwa dia segan sudah meminta bantuanku.


Itu gunanya teman, balasku untuk menenangkan hatinya.


Pada keesokan harinya, kami berolahraga bersama seperti biasanya. Usai mandi dan sarapan, Mama dan Dira mengajak Adi ke mal untuk membeli pakaian baru yang akan dia kenakan pada perayaan ulang tahunnya. Pak Liando yang menyetir mobil, jadi aku bisa di rumah saja bersama Papa.


Kami duduk di teras samping sambil menyantap kudapan yang disiapkan Pak Fahri, koki andalan di rumah kami. Papa sibuk dengan ponsel dan tabletnya, aku juga memeriksa berita apa saja yang sedang berkembang melalui media sosial.


“Oh, iya, Pa. Bagaimana dengan perkembangan kasus kecelakaan yang dialami Dira?” tanyaku ingin tahu saat Papa mengangkat kepalanya sejenak dari tablet untuk meminum kopinya.


“Aku sedang membaca laporan darinya.” Papa mengangkat tabletnya tersebut. “Ada total tujuh kecelakan yang terjadi di lokasi kerjanya dan semua mengarah padanya. Kru lain aman-aman saja. Jadi, Irwan curiga dan menemukan satu garis merah. Pria ini selalu ada di lokasi kejadian.”


Aku menerima tablet Papa dan melihat foto pada layarnya. Dira dikontrak oleh perusahaan yang berbeda, bagaimana bisa ada satu orang yang selalu ada pada berbagai kru yang bekerja sama dengannya? Om Irwan benar. Ini mencurigakan.


“Sepertinya kamu juga tidak kenal dia,” kata Papa. Aku menggeleng pelan. “Irwan akan memeriksa siapa pria tersebut. Kita akan segera mengetahui hasilnya.”


“Dira adalah gadis yang baik. Walaupun dia punya rival, aku tidak yakin mereka akan merusak nama baik mereka sendiri dengan merencanakan kecelakaan begini.” Aku mengembalikan tablet kembali kepada Papa.

__ADS_1


“Karena itu aku curiga ini ada hubungannya denganku.” Papa memasang wajah marah. Ini bukan pertama kalinya ada orang yang dendam pada Papa, lalu membalaskannya lewat kami. Siapa lagi yang ingin mencari gara-gara dengan Papa?


__ADS_2