
“Sebenarnya, lebih baik bila kamu melihatnya sendiri. Tetapi itu bukan jenis video yang akan kamu sukai. Lagi pula orang kepercayaan Uncle Hendra sudah menghapusnya secara masal dan memberi virus pada siapa saja yang mengunduh video tersebut atau menyebarluaskannya,” jawab Wyatt.
“Video? Video apa?” tanyaku mulai khawatir. Jantungku berdebar lebih cepat. Ini bukan pertanda baik. Charlotte menangis dan Uncle Hendra marah besar bukan pertanda baik. Hadi juga sangat marah tadi kepada Nora. Sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.
“Charlotte memeriksa ponselnya ketika polisi sudah datang dan dia terkejut melihat grup pesan kelas kita sedang membahas sesuatu. Dia membuka tautan yang mereka bagikan dan di sebuah media sosial sedang berlangsung siaran di mana Dira … dia.” Wyatt kesulitan mencari kata yang tepat. “Mm, Dira tidak berpakaian sama sekali.” Tangis Charlotte pecah
Siaran langsung di media sosial? Dira tidak berpakaian sama sekali? Apa … apa yang ada di dalam kepala mereka? Dira yang sedang dalam keadaan tidak sadar mereka … Ini sama buruknya dengan mereka memerkosa dia. Bukan hanya satu orang, pasti ada banyak orang yang menonton video tersebut. Ya, Tuhan. Apa yang ada di dalam kepala mereka?
“Vivaldooo …!” Aku berteriak sekuat tenaga menyebut namanya. Tanganku mengepal kuat menahan emosi yang mendesak keluar. Darahku mendidih sehingga aku tidak bisa lagi mengendalikan diriku.
Polisi sudah memasukkan pria berengsek itu ke dalam mobil mereka dengan tangan terborgol. Yang ada dalam kepalaku adalah membunuh dia dengan kedua tanganku. Dia meracuni pikiranku untuk memutuskan hubungan dengan Dira. Aku tidak tahu kalau dia punya rencana busuk di balik semua ini. Bodoh! Bodoh! Aku sangat bodoh sudah membiarkan Dira jatuh ke tangan mereka!
“Tenang, Nak. Tenangkan dirimu. Kamu tidak bisa main hakim sendiri.” Dua orang polisi mencegah aku membuka pintu mobil di mana Vivaldo berada.
“Tapi yang dia lakukan sangat jahat, Pak. Dia harus mati! Dia sudah merenggut kehormatan seorang gadis yang tidak berdosa!” teriakku marah.
“Merenggut kehormatan?” tanya Giana yang berdiri tidak jauh dariku. “A-apa maksudmu? Apa papaku sudah meniduri seorang perempuan secara paksa?”
Aku tertawa kecil. “Memerkosa? Lebih buruk dari itu. Kamu bayangkan saja jika kamu sedang tidak sadarkan diri, lalu ketika bangun, semua orang membicarakan video di mana kamu dalam keadaan tanpa pakaian yang bisa ditonton secara langsung. Itulah yang papamu lakukan pada Diraku.”
Giana menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya membulat tidak percaya. “Tidak. Papa tidak mungkin melakukan hal serendah itu.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Berdoalah semoga papamu keluar dari penjara hidup-hidup. Karena sama seperti yang Uncle Hendra katakan, aku berdoa dia akan mati di sana.” Aku meludah ke jalan. “Papamu bukan manusia.”
Giana menangis menyayat hati, tetapi aku tidak peduli. Kedua petugas menuntun aku berdiri ke dekat pagar rumah. Dua mobil polisi yang membawa ketiga penjahat itu pergi dengan bunyi sirene yang memecah keheningan perumahan.
__ADS_1
Sebuah ambulans mendekat dan masuk ke garasi. Tidak lama kemudian, Uncle Hendra keluar dari rumah sambil membopong Dira. Gadis itu masih tidak sadarkan diri dan tubuhnya ditutupi dengan selimut tebal. Air mataku jatuh membasahi wajahku. Aku tidak kuasa menghentikannya karena derasnya bagaikan air hujan.
Sia-sia sudah yang aku lakukan untuk melindungi kekasih hatiku. Aku membayar Mila untuk menjadi pacar palsuku agar Dira yang memutuskan hubungan kami. Aku pikir aku sedang menjaga dia dan keluarganya. Setelah tahu Vivaldo dan Nora hanya memanfaatkan aku, juga tahu bahwa ada pemuda lain yang menjadi kaki tangan mereka, aku tidak bertindak cepat.
Usahaku untuk memenangkan hati keluarganya supaya bisa mendapatkan dia kembali, tidak ada gunanya lagi. Hadi membenci aku. Uncle Hendra, Aunt Zahara, dan Adi juga pasti membenci aku sekarang. Aku tidak bisa menyangkal bahwa aku ikut ambil andil dalam hal ini. Akulah orang pertama yang terlibat dalam rencana jahat Vivaldo dan Nora.
“Colin, ayo, kita pulang.” Wyatt menepuk punggungku, membuyarkan lamunanku.
Sopir Charlotte mengantar aku lebih dahulu ke apartemenku. Wyatt berjanji sepeda motorku akan kembali dalam keadaan utuh setelah bannya diperbaiki. Hanya itu yang kami bahas di dalam mobil. Selebihnya, kami hanya diam, sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Sepeda motorku bukanlah prioritasku pada saat ini.
Tidak ada orang di apartemen keluargaku. Dad dan Mama sedang menghadiri undangan ulang tahun salah satu rekan kerja Dad. Lily yang sudah bosan hanya belajar ikut bersama mereka. Hal yang aku manfaatkan untuk menenangkan diri. Aku tidak mau keluargaku melihat aku yang sedang sedih.
Kulitku sampai keriput saat aku hanya berdiri diam begitu lama di bawah pancuran. Aku terpaksa keluar dari ruang pancuran dan mengeringkan tubuhku. Setelah memakai kaus dan celana panjang, aku duduk di kursi yang ada di kamarku dan menatap pemandangan di luar jendela.
Sayup-sayup aku mendengar pintu apartemen terbuka dan percakapan di antara keluargaku. Ada langkah kaki di dekat pintu kamarku, tetapi dia hanya diam di depan pintu sebelum melangkah menjauh. Aku memeluk kedua lututku, lalu meletakkan daguku di lututku.
Terdengar ketukan halus pada pintu kamarku, lalu pintu itu terbuka. “Colin, apa aku boleh masuk?” tanya Dad. Aku mengangguk pelan tanpa menoleh ke arahnya.
Sebuah kursi digeser ke sisiku dan menghadap ke jendela. Dad duduk dan hanya diam bersama aku untuk beberapa saat. Mereka pasti sudah tahu apa yang terjadi pada Dira. Lily sangat aktif di media sosial, dia tidak mungkin tidak memberi tahu orang tua kami mengenai video tersebut.
“Aku turut sedih dengan apa yang terjadi pada Dira.” Dad bicara tanpa melihat ke arahku. Kami sama-sama melihat ke arah pemandangan gedung pencakar langit di luar jendela. “Aku menelepon Hendra dan keadaannya sangat kacau. Dia bahkan tidak bisa bicara tanpa terisak.”
Mataku memanas mendengarnya. Aku bisa bayangkan konflik emosional yang sedang dialami oleh Uncle Hendra. Aku melihatnya sendiri saat dia memukul dan memarahi Vivaldo di depan rumah tadi. Pria berharga diri tinggi itu tidak segan menangis di hadapan banyak orang.
“Aku tidak tahu bagaimana dia bisa kuat menjalani semua ini. Jika sesuatu terjadi pada Lily—” Dad berhenti bicara dan menarik napas panjang. Aku menoleh ke arahnya dan melihat tangannya mengepal erat. Hal yang selalu Dad lakukan setiap kali menahan agar dirinya tidak menangis.
__ADS_1
“Kita akan menjaga Lily sebaik mungkin, Dad. Hal yang sama tidak akan terjadi padanya. Kita akan memastikan hal itu.”
“Hal yang sama juga tidak boleh terjadi padamu.”
“Aku gagal, Dad. Aku gagal melindungi orang yang aku cintai. Bila mengalami apa yang dia alami bisa mengurangi rasa bersalahku, maka aku akan melakukannya.”
“Tidak, Nak. Kamu tidak gagal melindungi Dira. Kamu tidak melakukan kesalahan, jadi kamu tidak boleh merasa bersalah. Semua ini adalah rencana semua orang jahat itu. Kamu masuk dalam jebakan mereka atau tidak, rencana ini akan tetap mereka lancarkan. Orang seperti mereka pasti punya rencana B atau C jika rencana A gagal.
“Itu semua di luar kemampuanmu, Nak. Kamu bukan pahlawan super yang bisa berada di mana saja dan kapan saja untuk mencegah hal buruk terjadi. Kamu juga bukan karakter dalam game yang kamu mainkan. Di mana kamu bisa memulai lagi setelah kamu mati dibunuh musuh. Ini kehidupan nyata. Hendra sebagai ayahnya saja tidak bisa selalu menjaganya, apalagi kamu.
“Jadi, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Bila tadi salah satu dari mereka mengatakan sesuatu yang menyakiti kamu, jangan masukkan di dalam hati. Mereka sedang terluka parah, dan mereka butuh pelampiasan. Mereka memilih kamu karena mereka tahu, kamu pasti mengerti juga bisa merasakan duka mereka.”
*******
Sementara itu di sebuah rumah~
“Sayang, aku mohon, jangan begini,” pinta Zahara untuk kesekian kalinya pada suaminya yang berteriak menyayat hati sambil memukul meja dan melempar setiap barang yang ada di dekatnya.
“Aku gagal, Za! Aku gagal sebagai seorang ayah. Anak perempuanku hanya satu, tetapi aku gagal menjaga kehormatannya.” Hendra melempar lampu berdiri yang ada di depannya ke arah lemari buku. Dia menoleh ke arah istrinya. “Semua ini gara-gara mantanmu! Kalau kamu tidak membiarkan dia mendekati kamu, semua ini tidak akan pernah terjadi!”
“A-apa katamu?” tanya Zahara tidak percaya. “Aku mendapat hukuman beruntun atas kesalahanku itu dan kamu masih menganggap ini sebagai salahku juga? Sampai kapan, Hendra? Sampai kapan kalian akan terus menghubungkan kejadian di masa lalu dengan masa sekarang? Apa aku harus mati baru kamu merasa puas??”
Hadi membuka pintu ruang kerja bersamaan dengan Zahara membalikkan badannya. “Ma? Mama tidak apa-apa?” tanya Hadi khawatir. Zahara hanya menggelengkan kepalanya, lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut. Hadi menoleh ke arah papanya yang terduduk di kursi dengan kedua sikunya berada di kedua lututnya dan kedua tangannya menopang kepalanya yang terkulai.
“Tinggalkan aku sendiri, Nak. Aku tidak mau kata-kataku akan menyakiti kamu juga.” Suara Hendra terdengar serak akibat terlalu banyak berteriak.
__ADS_1
“Dira sudah bangun, Pa. Kita harus bicara dengannya sebelum dia mengetahui apa yang terjadi pada hari ini dari orang lain.”