Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 74 - Hari yang Ditunggu


__ADS_3

*Dira*


“Apa Kakak yakin ingin melakukan ini?” tanyaku waswas. Kami dalam perjalanan menuju rumah Charlotte. Uncle Mason dan istrinya akan kembali ke Amerika pada keesokan hari, jadi mereka mengundang kami untuk makan malam di rumah mereka.


Aku yakin Tante Darla dan Tante Qiana beserta suami mereka juga akan datang. Undangan ini bukan khusus untuk keluargaku saja. Tetapi melihat Kakak ikut menghadiri undangan mereka, aku merasa tidak enak. Setelah pertunangannya dengan Clarissa putus, dia berubah menjadi Kak Hadi yang nyaris tidak bisa aku kenali lagi.


Semangat hidupnya hilang, senyuman tidak pernah menghiasi wajahnya lagi, dan dia menjadi pendiam. Jauh lebih pendiam dari dia yang biasanya. Yang dia lakukan sepanjang hari ketikan berada di rumah hanya mendekam di dalam kamarnya.


Beberapa kali aku masuk untuk memeriksa keadaannya, dia pasti sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya dengan buku kuliahnya berserakan di atas meja. Melihat itu, aku tidak tega untuk mengganggunya. Satu hal yang paling berubah adalah foto Clarissa sudah tidak ada lagi di atas nakas, baik Clarissa kecil maupun foto mereka berdua pada hari pertunangan mereka.


“Kita hampir sampai dan kamu baru menanyakan hal itu sekarang?” tanya Kak Hadi.


“Kalau Kakak berubah pikiran, belum terlambat untuk memutar dan kembali ke rumah,” ucapku memberi usul. Dia menggeleng pelan. “Apa Kakak yakin?”


“Ini hanya makan malam, Dira,” jawabnya acuh tak acuh.


“Clarissa juga akan ada di sana.”


“Aku tidak akan menangis di depan kalian semua bila itu yang kamu khawatirkan.”


“Aku justru akan merasa lebih baik jika melihat Kakak menangis.” Dia menatap aku dengan tajam. Aku segera mengangkat kedua tanganku tanda menyerah. Kami tidak satu mobil dengan Papa dan Mama, jadi tidak akan ada yang membela aku bila Kakak marah. Adi pun tidak. Dia lebih suka berada pada posisi netral. “Oke, aku akan berhenti.”


Keluarga Tante Lindsey menyambut kami dengan antusias di teras rumah mereka. Dari mobil yang diparkir di pekarangan depan rumah mereka, Tante Darla dan Tante Qiana sudah datang. Itu artinya, sudah ada es krim di meja saji.


Charlotte segera mengajak aku untuk duduk bersamanya, tetapi aku menariknya ke meja saji untuk mengambil es krim yang dibawa oleh Tante Qiana. Puas mengisi gelas khusus es krim hingga penuh, barulah aku mengikuti dia untuk duduk di salah satu sofa.


“Aku berdebar-debar menunggu besok,” ucapnya sambil meletakkan tangan kanannya di dadanya.

__ADS_1


“Kita sudah mempersiapkan diri dengan baik, apa yang kamu khawatirkan?” tanyaku bingung.


“Aku hanya sempat mempersiapkan diri selama satu bulan, Dira. Berbeda denganmu yang memang sekolah sejak kelas satu SMU di Indonesia. Ditambah lagi, aku satu rumah dengan orang paling menjengkelkan di dunia. Lengkap sudah penderitaanku.”


“Kamu sudah tahu bahwa dia hanya dimanfaatkan oleh Finley. Wyatt tidak benar-benar bermaksud menyakiti kamu. Finley berbohong kepadanya. Tanpa bantuan Wyatt, mungkin kakakmu sudah menikah dengan laki-laki tua itu,” kataku mengingatkan. “Mengapa kamu tidak maafkan dia dan kalian bisa mencoba lagi dari awal.”


“Sekarang aku tanya kamu, memangnya kamu mau menerima Colin kembali menjadi pacarmu?” tanya Charlotte menantang.


“Kasus kita berdua beda jauh. Colin selingkuh, Charlotte. Walaupun pada saat itu dia dan Clarissa hanya berpura-pura, dia tetap selingkuh. Bukan di belakangku, dia selingkuh tepat di depan mataku!” kataku dengan serius. “Jangankan aku, keluargaku pun tidak sudi aku kembali kepadanya.”


“Mengapa kita malah membahas dua pemuda pecundang itu? Aku tadi membicarakan tentang ujian besok,” protes Charlotte.


Kami terus saja berdebat mengenai hal yang tidak penting. Dan aku sangat mensyukurinya karena aku telah bergelut dengan buku pelajaran selama satu bulan lebih. Aku sudah muak dengan belajar, tetapi tidak bisa mengabaikannya karena ujian besar yang sudah ada di depan mata. Bisa bercanda seperti ini sangat menyegarkan otakku.


Walaupun kami berdua duduk bersama dan membahas hal yang sepele, mata kami tidak lepas dari gerak-gerik kedua kakak kami yang sangat kami sayangi. Kak Hadi duduk bersama Adi dan Wyatt. Mereka bertiga sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Clarissa duduk diapit oleh Uncle Mason dan Aunt Claudia. Matanya berulang kali melihat ke arah Hadi, tetapi kakakku tidak memedulikannya.


Clarissa, Clarissa … dia memang masih amatir dalam urusan asmara. Gosip akan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Orang-orang akan lupa mengenai dia suatu hari nanti, jadi apa yang dia lakukan ini sangat ceroboh. Papa sudah terbiasa berurusan dengan gosip dan berita miring mengenai keluarga kami, maka dia tidak seharusnya berlagak menjadi pahlawan. Dia dan Colin sama saja.


“Kak, cepat! Aku tidak bisa terlambat sampai di sekolah!” seruku panik melihat Kak Hadi berjalan dengan santai menuju mobil.


“Masih ada waktu satu jam, Dira. Perjalanan dari rumah ke sekolahmu hanya lima menit. Aku terlalu cepat pergi ke kampus,” gerutu Kak Hadi yang melirik jam tangannya.


“Aku tidak peduli. Aku gugup dan aku harus menenangkan diri sebelum ujian dimulai!” Aku masuk ke mobil yang pintunya dijaga tetap terbuka oleh Pak Abdi. “Terima kasih, Pak.” Pria itu membalas ucapanku dengan ramah.


“Rileks, Dira. Kamu akan menjawab semua soal ujian dengan sempurna. Percayalah kepadaku. Kamu sudah lama mempersiapkan diri untuk ujian ini. Aku saja percaya padamu, mengapa kamu tidak?” Kak Hadi duduk di sisiku, lalu Pak Abdi menutup pintu mobil.


“Tolong, tenanglah, Kak. Aku perlu membaca beberapa ringkasan ujian hari ini.” Aku membuka buku catatanku dan mulai membaca rangkuman yang aku buat sendiri dari les tambahan di sekolah.

__ADS_1


Suasana pagi di depan gerbang sekolah biasanya penuh drama karena ada banyak mobil pribadi yang berbaris mengantar siswa sekolah kami. Tetapi siswa kelas satu dan dua tidak masuk sekolah selama tiga hari ujian besar ini. Jadi, barisan mobil tidak sepanjang biasanya.


Kami para siswa kelas tiga akan menggunakan semua ruangan milik mereka. Bahkan beberapa dari kami mendapat ruang ujian di gedung sekolah Adi. Karena itu bukan hanya juniorku, Adi dan seluruh murid di sekolahnya juga libur pada tiga hari ke depan.


“Dira!” panggil Charlotte yang berlari riang ke arahku.


“Sampai nanti,” ucapku kepada Kak Hadi. Dia hanya mengacungkan jempolnya sebelum menutup pintu jendela mobil. “Hai, Charlotte. Dan Wyatt.” Aku melambai ke arah pemuda yang berdiri di belakang sahabat baikku itu.


“Pagi, Dira.” Wyatt memberi aku senyuman terbaiknya. Beberapa siswa putri yang berada di dekatnya menatapnya dengan air liur hampir menetes dari sudut bibir mereka.


“Charlotte sangat gugup, tetapi kamu tidak. Apa kamu cukup percaya diri bisa mengikuti ujian dengan baik?” Aku menggoda Wyatt, mengabaikan para siswa putri yang mengelilingi dia.


“Gugup hanya akan membuat aku tidak bisa berpikir dengan jernih selama ujian nanti. Jadi, lebih baik aku pasrah saja. Aku yakin soal ujian tidak akan jauh berbeda dengan apa yang sudah dibahas oleh guru selama ini,” katanya dengan santai.


“Kita lihat saja hasil ujian nanti. Aku penasaran berapa nilai yang kamu dapatkan untuk setiap mata pelajaran yang diujikan,” kata Charlotte.


“Kamu penasaran dengan nilaiku atau perasaanku kepadamu, honey?” goda Wyatt. Aku tertawa geli mendengarnya, sedangkan siswa lain meleleh seolah-olah sebutan itu ditujukan kepada mereka.


“Ayo, Dira. Kita ke kelas sekarang. Dia sudah tidak waras.” Charlotte menarik tanganku, mengajak aku menuju gedung di mana ruang ujian kami berada.


Aku tidak tahu bagaimana Uncle Mason dan Om Edu bisa mendaftarkan Charlotte dan Mason masuk ke sekolah ini, juga bagaimana mereka berdua satu kelas denganku, tetapi aku senang bisa punya tambahan teman dekat di kelasku. Dan kebetulan juga, kami bertiga berada dalam satu ruangan pada saat ujian. Hanya Wendy yang tidak satu kelas dengan kami.


Di antara kami berempat, dialah yang paling terlihat khawatir menghadapi ujian. Charlotte masih terlihat jauh lebih tenang dibandingkan dengan Wendy. Padahal dia bukan gadis yang bodoh dan menduduki peringkat sepuluh besar di kelas kami.


Posisi kursi di dalam setiap ruang ujian diberi jarak sehingga para peserta ujian tidak akan bisa mengintip jawaban soal temannya atau mendiskusikan jawaban dari soal yang mereka anggap sulit. Charlotte mendapat kursi barisan depan, aku barisan kedua, sedangkan Wyatt di barisan paling belakang. Dan Charlotte semakin gugup karena dia berhadapan langsung dengan meja pengawas.


“Kamu tidak akan merasa gugup setelah fokus kamu nanti adalah lembar berisi soal ujian, bahkan kamu akan lupa ada pengawas yang duduk di depanmu,” kataku mencoba menghiburnya. Aku duduk di tepi mejanya dan memberikan sepotong roti isi dari kotak bekalku.

__ADS_1


Dia menerimanya, lalu melayangkan pandangannya ke seluruh kelas. Berpura-pura tidak mencari sosok yang sudah bisa aku tebak. “Lihatlah dia. Perhatiannya justru tertuju pada gadis-gadis itu daripada ujian yang sebentar lagi akan dimulai.” Charlotte melihat ke arah Wyatt yang sedang dikelilingi oleh para siswa putri.


“Dia tadi bilang sendiri bahwa dia yakin bisa menjawab soal ujian nanti, jadi untuk apa fokus pada hal itu? Lagi pula dia masih sendiri, apa salahnya bila dia meladeni teman-teman kita? Kalau ada yang cocok dan mereka memutuskan untuk berpacaran, tidak ada yang salah, toh?” kataku santai. Charlotte memukul mejanya dengan keras sampai aku melompat terkejut dari mejanya.


__ADS_2