
“Apa yang kita lakukan di tempat ini?” tanyaku bingung.
Colin dan Wyatt datang ke rumahku tanpa pemberitahuan. Karena mereka menggunakan sepeda motor milik Colin, maka kami tidak bisa pergi bertiga. Papa mengizinkan kami pergi dengan mobil milikku asal bukan aku yang mengendarainya. Colin dengan senang hati menerima tugas tersebut.
Mereka tidak mengatakan tujuan kami, hanya terus bersenandung mengikuti lagu yang sedang diputar di mobilku. Kami berhenti satu kali di sebuah swalayan untuk membeli minuman dan makanan ringan. Jauh di luar dugaanku, Colin membawa kami ke gedung apartemennya langsung ke atapnya. Apartemen milik keluarga kami juga ada di gedung ini. Tetapi kami jarang menggunakannya.
“Tiga pemuda tampan, cerdas, kaya raya, dan digilai banyak gadis cantik ternyata ditolak oleh gadis yang mereka cintai. Bukankah ini adalah sesuatu yang perlu dirayakan?” ucap Colin sarkas.
“Aku tidak ditolak karena aku orang jahat, jadi kita tidak sama. Kalian mengkhianati kepercayaan gadis yang kalian cintai, aku tidak. Berhenti menyamakan nasib kalian denganku.” Aku mengambil salah satu botol air minum yang Colin letakkan di atas meja, lalu menghabiskan setengah isinya.
Ada taman bunga mini di atap gedung ini yang juga menyediakan kursi dan meja yang terbuat dari semen. Meskipun hari mulai panas, suasana di sekitar kami terasa sejuk dengan tanaman dan ada satu pohon yang menaungi tempat duduk kami.
“Kamu tidak perlu meneteskan asam di luka kami yang masih segar, Hadi.” Wyatt melempar satu kantong keripik kentang ke arahku.
“Itu peribahasa yang salah, Wyatt. Seharusnya menabur garam di atas luka.” Colin mengerutkan keningnya. “Kamu perlu mengganti guru bahasa Indonesiamu. Charlotte bukan guru yang cerdas.”
“Apa kamu pikir dia masih bersedia mengajari aku setelah kami putus hubungan? Aku tidak butuh guru, aku bisa belajar sendiri. Bahasa Indonesia tidak terlalu sulit untuk dipelajari,” kata Wyatt dengan nada sombong.
“Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan di rumah Charlotte? Kamu tidak punya hubungan apa pun lagi dengan dia, mengapa keluarganya mengizinkan kamu tetap tinggal di sana?” tanya Colin tidak mengerti.
“Orang tuaku bersahabat dengan Granpa Mason dan Grandma Claudia. Setiap kali mereka datang ke Amerika, Grandpa Ed dan Grandma Lindsey juga selalu bertemu dengan mereka. Apa kamu pikir mereka akan mengizinkan aku tinggal di tempat lain selama aku berada di Indonesia?” ucap Wyatt lagi dengan nada sombong.
“Kamu benar-benar beruntung. Aku bahkan tidak bisa datang ke rumah Hadi lagi atas permintaan Dira. Jadi, aku tidak punya banyak kesempatan untuk bisa melihat dia dari jauh.” Colin mendesah keras untuk mendramatisir.
“Aku tidak mau mendengar kamu menyebut-nyebut nama adikku. Lupakan Dira dan cari gadis yang lain. Kamu tidak bisa mendekati dia lagi. Ingat itu.” Aku memberi peringatan dengan mengarahkan telunjukku kepadanya.
“Oke. Aku tanya kamu sesuatu. Apa kamu akan pasrah saja setelah Clarissa menolak kamu semalam? Kamu tidak ada niat untuk membujuk dia kembali kepadamu?” tanya Colin ingin tahu.
__ADS_1
“Tidak. Apa gunanya aku memaksakan kehendakku kepada gadis yang tidak mencintai aku?” Aku memasukkan sepotong keripik ke mulutku, lalu mengunyahnya, berusaha untuk menyibukkan diriku sendiri agar tidak bertingkah menyedihkan.
“Itu karena kamu pikir Clarissa tidak mencintai kamu. Tetapi coba kamu pikirkan sejenak. Apa yang dia katakan saat dia mengakhiri hubungan kalian? Aku yakin dia tidak mengatakan bahwa dia tidak merasakan apa pun kepadamu. Dia pasti melakukannya karena berita miring itu,” kata Colin.
“Apa bedanya?” tanyaku acuh tak acuh.
“Apa kamu buta, Hadi? Gadis itu melindungi kamu, reputasimu, dan keluargamu dari masa lalunya yang bisa membuat nama kalian ikut rusak. Untuk apa dia melakukan itu? Seharusnya dia lanjutkan saja pertunangan kalian dan mengumumkannya. Dia tidak mengalami kerugian apa pun. Sebaliknya, orang-orang akan takut melanjutkan gosip mereka supaya tidak berurusan dengan Uncle Hendra.”
Aku masih tidak mengerti apa yang berusaha untuk Colin sampaikan. Clarissa memang menyebut tentang peranku sebagai ahli waris di keluargaku, juga mengenai reputasi keluargaku. Tetapi apa hubungan semua itu dengan cinta?
“Dia masih tidak paham, Colin.” Wyatt menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hadi, Clarissa mencintai kamu. Karena itulah dia melepaskan kamu begitu berita buruk mengenai dia beredar. Dia tidak mau kamu ikut menderita bersamanya. Apalagi sebutan atas perbuatannya itu jika bukan cinta?”
Cinta? Clarissa mencintai aku? Tidak. Itu tidak mungkin. Dia menatap aku dengan dingin semalam saat mengucapkan bahwa kami tidak bisa bersama. Itu bukan cara seseorang menatap seorang yang dia cintai. Clarissa tidak punya perasaan apa pun kepadaku lebih dari teman.
“Oke. Kamu sepertinya tidak percaya kepada kami.” Colin memandang aku dan Wyatt secara bergantian. “Aku beri kamu satu tips. Jangan pernah percaya semua kata yang keluar dari mulut perempuan. Mereka sering bilang tidak cinta, padahal sebenarnya mereka cinta. Atau mengatakan tidak marah, tetapi wajahnya merah padam.
“Kalau benar begitu, mengapa dia tidak jujur saja?” tanyaku tidak mengerti.
“Karena dia seorang perempuan.” Colin dan Wyatt serentak mengucapkan kalimat itu. Mereka bahkan memutar bola mata mereka untuk menunjukkan betapa konyolnya pertanyaanku itu.
Mereka berdua terus bicara menggunakan bahasa Indonesia yang terdengar seperti bahasa dari planet lain. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ingin mereka sampaikan. Hanya karena mereka menjalin hubungan lebih dahulu dan dalam waktu yang lebih lama dengan seorang gadis, mereka merasa lebih unggul dariku. Semua yang mereka sampaikan itu hanya omong kosong.
Clarissa tidak mencintai aku. Karena jika dia benar-benar mencintai aku, dia tidak akan menyakiti aku seperti ini. Dia tidak akan menolak aku di depan keluarga kami, di depan semua undangan kami yang tahu bahwa kemarin adalah hari di mana kami akan mengumumkan pertunangan kami.
Colin dan Wyatt memang tidak mengejek aku, tetapi setelah aku begitu bangga menyebut dia sebagai gadis yang aku cintai di depan mereka semua, aku malu bertemu dengan orang-orang yang tahu hubungan kami. Belum genap satu bulan, pertunangan kami sudah berakhir. Aku jauh lebih menyedihkan dari Colin dan Wyatt.
Sebuah ketukan pada jendela mengejutkan aku. Setelah makan malam bersama keluargaku tadi, aku memutuskan untuk masuk kamar lebih cepat. Aku tidak seperti Dira yang bisa berpura-pura tegar di depan kami semua. Setiap kali melihat wajah sedih Mama, aku ingin sekali memeluk dia dan menangis. Tetapi aku bukan anak kecil lagi. Aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri.
__ADS_1
“Hai, Pa,” sapaku melihat Papa berdiri di ambang pintu kaca yang menghubungi kamar dan balkon.
“Aku sudah mengetuk pintu kamar dan memanggil kamu, tetapi kamu tidak menyahut. Jadi, aku masuk dan menemukan kamu di sini,” kata Papa menjelaskan. “Aku tidak bermaksud mengganggu privasimu.” Aku mengangguk pelan mendengarnya.
“Duduklah, Pa.” Aku menepuk sofa agar Papa duduk di sampingku.
“Anginnya sejuk, pantas saja kamu lebih suka duduk di sini daripada bersama kami di ruangan yang berpendingin,” goda Papa saat dia duduk di sisiku. Aku hanya tersenyum. “Kamu baik-baik saja?”
“Setelah beberapa minggu ini aku sangat bahagia punya seorang tunangan, bicara dengannya kapan saja aku ingin mendengar suaranya, bertemu dengannya atau melakukan panggilan video setiap kali aku ingin melihat wajahnya, dan membahas apa saja asalkan aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengannya, lalu dia mendadak mengakhiri hubungan kami. Tidak, Pa. Aku tidak baik-baik saja.” Aku berdehem saat suaraku berubah serak.
“Beri dia waktu, Nak. Yang kalian alami selama beberapa minggu terakhir ini terlalu berat untuk dia tanggung. Kamu tahu bahwa selama ini dia hidup hanya memikirkan dirinya sendiri. Lalu kamu hadir, dia juga bertemu lagi dengan keluarganya, tetapi hal buruk terus-menerus terjadi. Aku sebagai ayahmu saja mengkhawatirkan keselamatanmu. Apalagi dia yang peduli padamu.”
“Dia peduli padaku?” tanyaku tidak percaya. “Bisakah kalian semua berhenti menggunakan kalimat itu? Dia tidak peduli padaku. Aku bukanlah siapa-siapa baginya. Dia juga tidak mencintai aku. Yang dia pikirkan hanya dirinya sendiri. Yang dia pedulikan dan sayangi hanya keluarganya. Aku hanya seorang teman yang tidak dia butuhkan lagi setelah dia mendapat pengakuan dari keluarganya.”
“Hadi, aku tahu kamu sedang terluka. Tetapi menuduh dia seperti ini hanya akan semakin melukai dirimu sendiri. Berhenti memikirkan hal-hal yang buruk, Nak,” ucap Papa khawatir. “Dan yang kamu katakan itu tidak benar. Meskipun dia tidak pernah mengatakannya, Clarissa mencintai kamu. Dia melakukan semua ini karena dia ingin melindungi kamu.”
Aku tertawa. “Melindungi aku? Melindungi aku dari siapa? Aku bisa melindungi diriku sendiri.”
“Apa kamu lupa dengan kejadian di rumah sakit? Dia yang baru bangun langsung datang melihat keadaanmu ketika Lindsey dan Claudia mengatakan bahwa kamu sedang sekarat. Dia mencintai kamu. Tetapi dia belum menyadari itu.” Papa mencoba meyakinkan aku.
“Bila dia tidak mencintai kamu, dia tidak akan mau menghabiskan waktunya bersamamu, menerima panggilan video darimu, atau bahkan bertemu denganmu. Ibumu juga dahulu begitu. Dia menyukai semua yang aku lakukan untuknya, setiap waktu yang kami nikmati bersama, dan dia sendiri tidak bisa memahami perasaannya. Beri dia waktu. Percayalah, bila dia memang untukmu, kalian akan kembali bersama dengan cinta yang jauh lebih kuat dari yang sebelumnya.”
Kalimat terakhir Papa itu membuat aku menyadari sesuatu yang sangat penting. Aku tidak berbuat salah seperti halnya yang dilakukan Colin dan Wyatt. Aku tidak selingkuh juga tidak mendustai Clarissa. Mereka pantas ditendang keluar dari hubungan asmara mereka. Aku tidak.
“Setelah apa yang dia lakukan kepadaku, aku tidak akan kembali kepadanya, Pa,” kataku dengan tegas. Papa menatap aku dengan mata membulat. “Dia mencintai aku atau tidak, aku tidak pantas diperlakukan seperti ini. Seperti Colin yang tidak akan pernah aku izinkan kembali kepada adikku, Clarissa juga tidak punya kesempatan kedua bersamaku.”
“Beri dia waktu? Aku sudah menghormati janji Mama kepada Aunt Claudia sejak dua puluh tahun yang lalu dengan menunggu dia datang kembali. Aku harus menunggu berapa lama lagi untuk satu orang gadis saja? Bila dia tidak bisa menghargai penantianku dan cintaku padanya, maka dia tidak pantas mendapatkan kesempatan yang kedua. Waktu untuknya sudah habis. Dan aku harap Papa menghargai keputusanku ini dengan tidak membahas dia lagi.”
__ADS_1