Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 58 - Rusaknya Kebahagiaan


__ADS_3

*Clarissa*


Charlotte tampak begitu bahagia menyambut momen yang tidak terlupakan dalam hidupnya. Meskipun hubungannya dengan Wyatt belum terjalin lama, tetapi mereka berdua tidak terpisahkan. Aku ikut bahagia melihat mereka merencanakan segalanya mulai dari memilih pakaian dengan detail lainnya, juga bagaimana mereka menginginkan acara itu berjalan.


Pemandangan yang kontras dengan apa yang aku dan Hadi jalani pada hari pertunangan kami. Aku baru saja mendapat kabar bahwa aku adalah anak kandung dari anak kedua nenekku, mereka sudah tidak sabar untuk meresmikan hubungan aku dan Hadi. Hanya karena kami sudah dijodohkan sejak kami masih kecil.


Aku tidak tahu apa yang kedua kakek dan nenekku khawatirkan sampai melakukan hal sepenting itu dengan terburu-buru, tetapi aku tahu bahwa maksud mereka baik. Lagi pula aku dan Hadi sudah cukup dekat sebelum aku tahu siapa aku yang sebenarnya.


“Jantungku berdebar-debar menunggu besok.” Charlotte meletakkan kedua tangannya di depan dadanya. Dia kembali tidur bersamaku di tempat tidurku. “Padahal aku sudah tahu kami akan bersama untuk selamanya. Tetapi melangkah ke hubungan yang lebih serius rasanya sangat menegangkan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana lagi rasanya saat menikah nanti.”


“Apa menurut kamu tidak terlalu lama bertunangan selama empat tahun?” tanyaku menghitung masa mereka kuliah nanti.


“Bukan masalah. Lagi pula bertunangan atau tidak, kami sudah sepakat untuk menikah saat kami sama-sama berusia dua puluh lima tahun. Itu adalah usia di mana dia akan menggantikan posisi ayahnya sebagai direktur utama.” Charlotte memutar tubuhnya sehingga kami berbaring saling berhadapan. “Tamat kuliah nanti, dia berencana untuk melanjutkan studi sambil bekerja. Jadi, kami tetap saja belum bisa menikah sebelum dia berusia dua puluh lima tahun.”


“Kalian bahkan sudah merencanakan semuanya sejauh itu?” tanyaku tidak percaya. Dia tertawa.


“Tentu saja. Dia ahli waris tunggal, jadi dia sudah tahu apa rencana hidupnya dalam jangka panjang. Sebelum kamu kembali, aku juga begitu. Grandpa ingin aku yang menggantikan posisinya kelak. Karena kamu sudah di sini, aku yakin kamu yang akan dipersiapkan Grandpa untuk menggantikan posisinya nanti.” Dia mengedipkan sebelah matanya.


“Apa maksudmu? Aku hanya orang biasa yang tidak pernah menyentuh dunia kalian. Bagaimana bisa Grandpa menunjuk aku untuk menggantikan dia?” Jantungku berdebar sedikit lebih cepat. Beban itu terlalu berat untuk aku tanggung. Aku tidak yakin aku akan bisa tinggal di negeri asing untuk waktu yang panjang, apalagi memimpin sebuah perusahaan besar.


“Jangan takut begitu. Ini hanya dugaanku saja.” Charlotte tertawa geli. “Kamu bertunangan dengan Hadi, maka besar kemungkinannya kamu akan tinggal di Indonesia. Om Hendra tidak akan setuju bila putranya pergi jauh darinya, karena dia adalah ahli waris utamanya. Adi tidak akan mau menerima posisi kakaknya. Dia lebih suka menjalani hidup yang santai tanpa beban.”


“Hadi dan Wyatt sangat mirip. Mereka sangat serius menerima peran mereka sebagai penerus keluarga. Karena itu saat dia mau kuliah di sini bersamaku, aku sangat terkejut. Dia sudah memilih kampus mana untuk kuliahnya nanti, tetapi dia melepaskan kesempatan emas itu untuk bersamaku.” Charlotte tersenyum bahagia.

__ADS_1


“Kamu pasti sangat mencintai dia,” ucapku pelan. Senyumnya semakin lebar dan aku melihat semburat merah di kedua pipinya.


“Karena dia mencintai aku lebih dahulu.” Charlotte menyetuh tanganku yang ada di atas tempat tidur, di depan wajahku. “Aku kehilangan banyak hal sejak masih kecil, Clarissa. Walaupun Kakek, Nenek, Grandpa, dan Grandma memberi aku kasih sayang, aku tahu ada yang kurang. Mungkin kamu tidak tahu ini, tetapi Grandma butuh waktu cukup lama untuk bisa menerima kepergian Mama dan kamu. Nenek juga tidak berhenti berduka. Aku dikelilingi orang yang tidak bahagia.


“Saat Grandma bisa menerima kepergian Mama, aku diminta untuk datang melanjutkan sekolah di Amerika. Mereka ingin bergantian mengasuh aku. Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati, karena aku ingin menjauh dari lingkungan yang banyak mengingatkan aku pada rasa kehilangan.” Wajahnya yang sedih berubah bahagia. “Dan aku sangat bahagia berada di sana.”


“Aku berteman dengan lebih banyak orang, mengambil banyak aktivitas di sekolah, dan aku sering berkunjung ke lab dan perusahaan penyedia alat medis milik Grandpa. Lalu saat aku SMU, aku bertemu dengan Wyatt. Dia itu sedikit gila karena terus saja mengejar aku, walaupun aku sudah bilang tidak mau berpacaran di usia sekolah.


“Dia sepertinya bicara dengan Grandpa dan Grandma, makanya mereka mendorong aku untuk memberi dia kesempatan. Melihat ketekunannya, aku pun luluh. Dia memiliki segalanya yang aku impikan ada pada laki-laki idamanku, Clarissa. Aku jatuh cinta begitu dalam padanya. Semuanya yang dia lakukan seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Aw!”


“Ini nyata, Charlotte.” Aku tertawa geli. Dia membalas cubitanku sehingga aku mengaduh kesakitan. Kami kemudian tertawa bersama. “Aku bahagia melihat kamu bahagia.”


“Dan aku mau kamu juga bahagia bersama Hadi. Tetapi jika kamu tidak merasakan apa pun padanya sampai Grandma kembali nanti, jangan paksakan dirimu untuk tetap bersamanya. Setelah apa yang kamu alami dalam hidupmu, kamu berhak untuk bahagia, Clarissa.” Dia menyentuh pipiku. “Apa pun keputusan kamu, kami akan selalu berada di pihakmu.”


Kepergianku ternyata tidak hanya membuat hidupku sendiri menderita, tetapi juga keluarga yang kehilangan aku. Mereka sudah lama bersedih, semoga saja kehidupan kami ke depan akan berjalan dengan baik. Andai pun masalah akan datang, semoga kami tidak terpisah lagi.


Aku bangun pada pagi harinya karena guncangan keras pada tubuhku. Nenek menarik tanganku agar aku duduk dan terpaksa membuka mata. Grandma memaksa Charlotte untuk bangun. Setengah menolak, kami mengikuti permintaan mereka agar segera mandi.


Usai sarapan, ada beberapa orang yang sudah siap untuk memberi perawatan tubuh kepada kami. Aku menganga tidak percaya di saat Charlotte bersorak senang. Ini adalah pertama kalinya aku menerima perawatan dari rambut hingga kuku kakiku.


“Pakai baju yang ini, jadi warna rambutmu akan semakin terlihat jelas.” Charlotte meletakkan sebuah dress berwarna kuning di depan tubuhku. “Oh, Clarissa! Hadi pasti akan suka melihat kamu mengenakan ini! Ayo, cepat ganti pakaianmu! Nenek dan Grandma akan menolongmu berdandan.”


Charlotte ada benarnya juga. Warna baju ini membuat aku terlihat cantik. Dari sekian banyak baju yang ada di ruangan ini, maka bisa dia menemukan pakaian yang tepat? Aku hampir satu jam berada di sini dan belum tahu harus memakai baju yang mana.

__ADS_1


Tante Qiana dan Tante Darla tiba lebih dahulu. Mereka langsung berkumpul di kamar Nenek setelah membantu aku berdandan. Padahal aku sudah biasa merias wajahku sendiri. Mungkin mereka hanya mau mengganti setiap waktu saat mereka tidak ada di sisiku dengan memanjakan aku.


Aku menuruni tangga saat keluarga Hadi datang. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku ke arahnya, tetapi dia sibuk melihat ke sekelilingnya dan tidak memerhatikan aku. Dia masih belum menyadari kehadiranku sampai aku menyapanya.


Sejak kami mendapati dia berdua saja dengan Wyatt di ruang keluarga kemarin, sikap Hadi sangat aneh. Aku tahu bahwa sesuatu telah terjadi, tetapi aku menghargai keputusannya untuk tidak mengatakan apa pun kepadaku.


Lalu semuanya menjadi jelas, ketika Charlotte meminta kami untuk berkumpul di ruang tamu. Wyatt adalah kaki tangan Finley Taylor. Pria yang sama yang sudah memisahkan aku dari keluargaku. Pria yang tidak tahu malu datang menemui aku dan mengaku sebagai ayahku. Mau sampai sejauh apa pria kurang ajar itu menyakiti keluargaku?


Apa kurang cukup dia membuat kami semua berduka karena kehilangan Papa dan Mama dalam kecelakaan? Ke mana hati nuraninya sampai menculik aku dan menitipkan aku pada pasangan yang tidak bertanggung jawab itu? Dan ketika kami hampir bersatu kembali, dia membayar lab untuk memanipulasi hasil tes pertama. Dia sudah tidak waras. Untung saja Grandma dan Grandpa bertindak cepat dengan membawa orang kepercayaan mereka sendiri untuk melakukan tes kedua.


Sekarang dia berani bermain-main dengan hati adikku. Charlotte sudah kehilangan banyak hal sejak dia masih kecil, dan dia harus kehilangan cintanya juga? Jahat sekali. Bila aku mendapat kesempatan bertemu langsung dengan pria itu, aku akan mematahkan tangannya.


Aku terlalu marah pada Wyatt yang telah menyakiti hati adikku. Baru semalam dia bercerita padaku tentang kebaikan hatinya, ketulusan cintanya, dan hari ini dia harus menerima kenyataan bahwa pemuda itu adalah pembohong. Ini sangat keterlaluan. Aku berterima kasih pada Dira yang bersedia membawa adikku kembali ke kamarnya, karena aku tidak bisa melakukannya.


Mataku tidak lepas dari Wyatt yang berani menatap adikku dengan mengiba. Tanpa mencari tahu fakta sebenarnya lebih dahulu, berani sekali dia mendekati adikku untuk mematahkan hatinya. Dia jauh lebih jahat dari pria yang bernama Finley itu.


Baru beberapa saat setelah Dira dan Charlotte keluar dari ruang tamu, terdengar teriakan panik Dira memanggil nama adikku dan meminta tolong. Semua orang segera berdiri dan bergegas keluar dari ruangan. Begitu juga dengan Wyatt. Tetapi aku segera menahan tangannya.


“Sebaiknya kamu menjaga jarak dari adikku. Dia tidak mau berada dalam satu ruangan denganmu. Biar kami yang mengurus dia,” kataku dengan tegas.


“Clarissa,” mohonnya berusaha untuk membujuk aku.


“Diam di sini atau aku akan mematahkan kakimu,” ancamku dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2