Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 61 - Langkahi Dulu Mayatku


__ADS_3

Aku merasa mual membayangkan apa yang dia rencanakan. Apa dia sudah gila? Usia kami terpaut begitu jauh. Dia pasti seusia dengan papaku. Laki-laki muda, tampan, dan kaya saja aku tidak selera, apalagi dia yang sudah tua. Ada banyak klienku yang pernah mencoba untuk menggoda aku, tetapi semuanya aku tolak mentah-mentah.


Tidak salah lagi. Pria ini sudah gila. Dia menyukai mamaku, lalu sekarang dia berniat untuk menikahi aku? Apa yang sedang dia pikirkan? Pasti ada yang salah dengan otaknya. Apa dia tidak punya hobi lain selain mendekati wanita yang ada hubungannya dengan keluarga kami? Ada begitu banyak perempuan di luar sana dan dia ingin menikahi aku? Oh, Tuhan. Aku benar-benar mual.


Begitu dorongan pada perutku semakin kuat, aku bergegas ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutku. Sayang sekali, aku baru saja sarapan malah membuang semua makanan itu. Tetapi aku tidak bisa menahannya lagi. Membayangkan harus menikah dengan pria itu, seluruh tubuhku hanya punya satu reaksi. Mual.


Kedua wanita itu memarahi aku karena sudah merusak hasil kerja mereka. Aku tidak peduli dengan penampilanku yang berantakan, tetapi mereka berhasil memaksa aku untuk duduk diam. Ketika mereka sibuk dengan tugas mereka, aku berpikir keras di kepalaku. Apa yang harus aku lakukan agar bisa kabur dari tempat ini? Aku tidak sudi menikah dengannya.


Untung saja mereka tidak memberi aku sepatu hak tinggi atau aku akan lebih memilih untuk tidak memakai alas kaki. Kedua wanita itu membawa aku keluar dari kamar. Dua orang pria bertubuh besar menunggu di luar dan satu berjalan di depan kami, sedangkan seorang lagi di belakang kami.


Ada pintu lain di sebelah kananku, mungkin itu adalah kamar tidur atau ruangan lain. Kamar di mana aku disekap tadi ada di sebelah kiri. Mungkinkah mereka juga menyekap Hadi di tempat ini? Kami berada di sebuah rumah yang sangat mewah, tetapi tidak terurus. Aku bisa melihat beberapa sarang laba-laba di langit-langit koridor.


Kami tiba di sebuah ruang depan, lalu pria di depan kami berbelok ke kanan. Dia membuka satu dari pintu kembar di sebelah kanan kami dan memberi sinyal agar wanita di kedua sisiku membawa aku masuk. Kami berada di sebuah ruangan yang mirip perpustakaan dengan lemari berisi begitu banyak buku mendominasi ruangan.


Pria itu ada di sebelah kanan ruangan, berdiri di depan sebuah meja kerja yang terlihat tua namun kokoh. Di balik meja itu ada seorang pria yang terlihat seusia dengannya sedang memegang sebuah buku besar. Dilihat dari pakaiannya, mungkin dia seorang yang berkedudukan penting dengan setelan mahal dan jam tangan mewah di pergelangan tangannya.


“Pengantin wanitanya sudah datang. Kita bisa langsung memulai acaranya,” ucap Finley yang mengulurkan tangannya kepadaku.


“Langkahi dulu mayatku.” Aku tidak melangkah setapak pun mendekati dia. Apa dia lupa bahwa kami berbeda kewarganegaraan? Dia tidak bisa memaksa aku untuk menikah dengannya tanpa dokumen pribadi resmiku yang dipegang oleh Kakek dan Nenek.


“Gadis kecil, kenali lawanmu sebelum kamu membantah perintahnya. Lihat sekelilingmu. Kamu tidak punya seorang pun yang akan membela kamu di tempat ini. Mudah saja bagiku untuk mengambil nyawamu, tetapi kamu lebih berguna bila tetap hidup.” Dia mengangkat tangannya agar aku memberikan tanganku kepadanya. “Ayo, cepat. Semakin cepat semua ini berakhir, semakin cepat kamu beristirahat di kamarmu.”


“Aku sudah bilang, langkahi dulu mayatku,” kataku dengan tegas.

__ADS_1


Dia menoleh ke arah kananku. Salah satu dari pria tadi memegang lenganku dan setengah menyeret aku untuk mendekati pria itu. Pria kedua berada terlalu jauh dariku, jadi aku tidak bisa melawan mereka sekarang. Aku kembali merasa mual saat aku berdiri di samping Finley. Dia mengulurkan tangannya, aku tidak menerimanya sama sekali.


“Kamu dan Abby benar-benar mirip. Seharusnya dari awal aku menggunakan cara ini dan tidak perlu membuang uang dan tenaga dengan membuang kamu jauh dari keluargamu. Aku bisa mengambil semua milik Mason tanpa khawatir akan mendekam di dalam penjara.” Aku menepis tangannya saat dia ingin menyentuh wajahku.


“Dan aku sangat beruntung mendapatkan istri yang belum pernah disentuh oleh lelaki mana pun. Jangan khawatir, cantik. Kamu akan sangat bahagia menikah denganku. Aku punya banyak kejutan untukmu. Kamu akan segera melupakan semua orang yang kamu kenal, begitu aku membawa kamu terbang ke surga. Pemuda bernama Hadi itu sangat bodoh. Dia menyia-nyiakan begitu banyak waktu dan tidak segera membawa kamu ke tempat tidurnya.”


Matanya menatap aku dari rambut, mata, lalu dia sengaja berlama-lama menapat bibirku. Dia turun mengamati leherku dengan lidahnya terjulur membasahi bibirnya. Aku menahan diri sekuat tenaga untuk tidak meninju matanya ketika dia menelanjangi dadaku dengan tatapan laparnya. Biarkan saja dia melihat, tetapi dia tidak akan bisa menyentuh aku tanpa perlawanan.


“Ayo, Pendeta. Mulai upacaranya. Aku sudah tidak sabar untuk mengklaim dia sebagai istriku di tempat tidur bulan madu kami,” katanya kepada pria yang berdiri di depan kami. Oh. Jadi, pria ini adalah seorang pendeta. Apa yang dia lakukan dengan menuruti orang jahat ini? Apa dia tidak malu dengan gelar yang disandangnya itu?


“Finley Michael Taylor,” ucap pria itu setelah bicara panjang lebar mengenai hal yang membosankan. “Apakah kamu bersedia menerima Mila Meredith Taylor untuk menjadi istrimu yang sah?”


Aku nyaris tertawa mendengar nama itu. Siapa yang mau dia bohongi? Itu bukanlah namaku. Siapa yang akan percaya bahwa gadis dengan wajah yang sama denganku, yang bernama Clarissa Raina, juga bernama Mila Meredith? Apa dia akan membawa aku kabur dari sini kembali ke negaranya dengan paspor palsu itu? Apa dia pikir orang imigrasi akan percaya kepadanya?


Aku menelengkan kepalaku kepadanya. “Apa kamu benar-benar seorang pendeta? Kamu setuju dengan cara pria ini memaksa aku untuk menikah dengannya?”


“Aku hanya melakukan tugasku. Kamu juga sebaiknya melakukan tugasmu dengan baik, Mila,” ucap pendeta itu tidak peduli denganku pertanyaan sarkasku.


“Aku bukan Mila, jadi aku tidak bisa mengatakan apa pun. Kalian cari saja perempuan bernama Mila ini di luar sana, karena kalian salah orang.” Pria di sebelah kananku memegang lenganku dengan erat hingga aku mengerang kesakitan.


“Hei, aku belum memerintahkan kamu melakukan apa pun. Lepaskan dia,” kata Finley. Dia kemudian tertawa kecil. “Aku benar. Kamu memang perempuan yang berani, berbeda dengan gadis lain.” Dia menoleh ke arah pendeta tersebut. “Lewatkan formalitas ini. Mana dokumen yang harus kami tanda tangani? Aku tidak sabar untuk membawanya ke tempat tidur. Aku suka dengan gadis liar.”


Tanganku refleks mengepal mendengar kalimatnya itu. Dia sentuh aku sedikit saja, aku lebih baik mati daripada melayani dia di tempat tidur. Hanya ada dia, pendeta gadungan, dan dua orang laki-laki yang ada di ruangan ini. Aku bisa memukul jatuh mereka bila perlu.

__ADS_1


Salah satu dari mereka pasti mengantongi ponsel. Aku bisa menelepon Kakek, Nenek, atau Charlotte untuk memberi tahu di mana keberadaanku. Aku juga bisa mengirim lokasi tempat ini pada mereka. Untung saja mereka membawa aku ke ruangan ini. Ada banyak alat yang bisa aku pakai untuk menyakiti mereka semua.


Finley menandatangani sebuah dokumen, lalu dia memanggil saksi terlebih dahulu. Lelucon apa ini? Namaku bukan Mila. Kedua wanita yang membantu aku bersiap-siap tadi memberikan tanda tangan mereka. Lalu pria itu menoleh ke arahku. Dia mengulurkan sebuah pena kepadaku. Aku hanya diam.


“Kamu bisa memilih menyelesaikan semua ini dengan cara baik-baik atau dengan kekerasan. Tinggal pilih,” katanya dengan senyum penuh kemenangan.


“Namaku bukan Mila. Aku tidak akan menandatangani dokumen apa pun,” tolakku tanpa gentar.


“Namamu sudah terdaftar sebagai Mila, baik kamu suka atau tidak.” Dia menarik tangan kananku, lalu meletakkan pena tersebut di telapak tanganku. “Cepat, tanda tangani.”


“Apa aku boleh memberi saran? Periksakan dirimu ke psikiater segera. Kamu sudah gila.”


“Orang gila tidak akan bisa menjauhkan kamu dari keluargamu selama belasan tahun, Mila. Mereka bahkan tidak tahu harus mencari kamu di mana. Orang gila juga tidak akan bisa membuat rencana begitu rapi selama belasan tahun untuk menghancurkan nama baik Mason White.


“Tetapi aku tidak bisa merusak reputasinya, karena si pengkhianat Wyatt. Jadi, aku hanya butuh tanda tanganmu untuk mendapatkan semua milik kakekmu yang tidak berguna itu. Lalu aku akan menghancurkan perusahaannya dengan mudah.” Dia tertawa puas.


“Apa salah kakekku padamu? Dia orang yang baik, tidak jahat seperti kamu.”


“Baik? Dia orang baik, katamu? Dia itu idiöt yang lebih merestui hubungan anaknya dengan laki-laki rendahan. Aku adalah orang Amerika yang berasal dari keluarga terpandang dan diincar banyak gadis. Dan Abby begitu bodohnya lebih memilih menikah dengan orang Asia yang mencuri ilmu dari negeri kami. Aku adalah calon suami ideal dan dia menolak aku demi bersama orang Asia? Aku bahkan tidak pernah mendengar ada negara bernama Indonesia!” ucapnya murka.


“Kamu tahu mengapa dia mati muda? Itu adalah hukumannya karena sudah mengkhianati aku. Aku sudah memberi dia segalanya. Segalanya yang aku punya, tetapi apa balasannya? Dia lebih memilih pemuda yang bukan siapa-siapa untuk menjadi suaminya! Kau … jangan pernah berpikir bahwa keluargamu adalah orang baik. Kalian semua penjahat yang mengisap darah orang sampai habis, lalu kalian buang seperti barang rusak.” Dia menarik tanganku, lalu meletakkannya di atas kertas.


“Cepat, tanda tangani surat pernikahan ini! Jika aku tidak bisa memiliki Abby, maka aku cukup puas bisa memiliki putrinya. Kamu akan menjadi istriku, dan tidak ada yang bisa menghalangi aku kali ini untuk mendapatkan apa yang aku mau!”

__ADS_1


__ADS_2