
“Mengapa kalian melihat aku seperti itu?” Luca tertawa kecil. “Apa kalian pikir selama satu minggu berada di negeri ini aku tidak mempelajari bahasa kalian? Bukan hanya Wyatt yang tertarik belajar bahasa calon istrinya. Aku juga.” Luca menatap Clarissa dengan lembut.
“Aku tidak tertarik dengan tawaran atau lamaranmu, Luca. Sudah cukup. Berapa kali aku harus katakan bahwa aku dan Hadi serius dengan hubungan kami," kata Clarissa dengan tegas.
“Dia menyebut mengenai hari terakhir, lalu kamu bilang tidak akan melepaskan dia. Jadi, dugaanku benar. Kalian hanya berpura-pura pacaran selama aku berada di sini supaya aku mundur. Aku tidak perlu memahami semua kata untuk tahu apa yang sedang kalian bicarakan,” katanya dengan arogan.
“Apa begini cara keluarga Hudson mencari calon istri mereka? Dengan memaksa seorang gadis yang tidak punya perasaan apa pun kepadanya?” tanyaku menantangnya.
“Perasaan bisa dimanipulasi, Hadi. Apa kamu tidak tahu hal itu? Hari ini seseorang bisa berkata cinta kepadamu. Orang yang sama bisa saja berkata benci pada keesokan harinya.” Dia menoleh ke arah Clarissa. “Dia berkata tidak punya perasaan kepadaku sekarang, tetapi bila kami intens bersama seperti yang dia lakukan denganmu, aku yakin dia akan berubah dan mengatakan cinta kepadaku.”
Aku tersenyum mendengarnya. “Semoga kamu beruntung mendapatkan gadis dengan pola pikir itu, karena Clarissa tidak begitu. Ayo, sayang.” Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya dan mengajak dia duduk bersama pasangan yang bertunangan hari ini.
Seolah-olah takut kehilangan aku, Clarissa memegang tanganku di bawah meja setiap kali aku tidak sedang makan atau menjabat tangan seseorang. Apakah mungkin bukan itu alasannya? Apa dia masih merasa tidak enak? Tetapi dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Semoga saja itu hanya perasaannya semata, karena tidak ada orang yang akan menyakiti dia di rumahnya sendiri.
Acara puncak pertunangan Charlotte dan Wyatt berjalan lancar. Kedua orang tua Wyatt memberikan cincin peninggalan keluarga mereka kepada Charlotte, cincin yang sebelumnya dikenakan oleh mama Wyatt. Charlotte menangis terharu begitu menyadari bahwa pertunangan mereka itu nyata dan direstui oleh kedua belah pihak.
“Pada saat kita bertunangan nanti, aku tidak mau acara sebesar ini. Hanya antara keluargamu dan keluargaku saja sudah cukup,” kata Clarissa pelan. Aku menoleh ke arahnya dan berniat membalas, tetapi tangannya menutup mulutku. “Kalau kamu ingin mengatakan sesuatu yang akan merusak suasana hatiku, tunggu sampai acara selesai.” Dia menjauhkan tangannya, maka aku hanya diam. Karena apa yang akan aku sampaikan sudah pasti akan membuat dia sedih.
Clarissa mengajakku untuk ikut bersamanya ketika berfoto bersama keluarga. Aku tidak bisa menolak, karena dia tidak mau melepaskan tanganku. Entah siapa yang punya rencana aneh itu, satu per satu dari keluarga Wyatt dan Charlotte menjauhkan diri sampai hanya ada aku dan Clarissa di depan stan foto. Aku terpaksa tersenyum agar hasilnya tidak buruk dan menuruti arahan fotografer yang meminta kami berpose.
“Seandainya kalian juga bertunangan hari ini, maka segalanya akan sempurna,” kata Aunt Claudia yang membelai pipiku. “Jangan marah lama-lama, sayang. Kalian berdua sangat serasi.”
“Oh, ya, Aunt? Lalu mengapa ada pemuda lain yang akan dijadikan penggantiku?” godaku. Wajahnya memerah saat dia tertawa dengan gugup. Dia memeluk tubuhku, lalu mencium pipiku. “Aku sudah tidak marah. Tetapi aku dan Clarissa tidak akan kembali bersama.”
Aunt Claudia melepaskan pelukannya. “Aku mengenalmu sejak kecil, Hadi. Aku tahu kapan kamu berkata jujur dan kapan kamu membohongi dirimu sendiri. Kamu tidak bisa membohongi aku.”
__ADS_1
Aku tidak bisa membalas ucapannya itu. Tidak pernah sebelumnya seseorang selain papaku bisa membuat aku terdiam tidak bisa berkata-kata. Apakah aku sudah kehilangan kemampuanku dalam menyembunyikan perasaan dan pikiranku sendiri? Bagaimana Aunt Claudia bisa tahu?
“Semua ini gara-gara kamu,” ucapku kepada Clarissa.
“Apanya yang gara-gara aku?” tanyanya setengah protes.
“Karena drama ini, mereka semua berharap kita akan benar-benar kembali bersama.” Aku berjalan menuju pintu depan rumah. “Sebaiknya kamu menunggu bersama Charlotte. Aku perlu ke toilet.”
“Kamu tidak bisa menuduhku begitu saja, lalu melarikan diri tanpa menyelesaikan percakapan kita,” katanya yang masih mengikuti aku menuju bagian dalam rumah.
“Aku hanya pamit sebentar, karena ada urusan di toilet. Apa kamu mau ikut sampai ke dalam juga?” tanyaku menantangnya. Dia tidak terlihat takut, malah tetap berjalan di sisiku.
“Ini bukan salahku. Dengar, kamu sendiri yang menolak untuk melakukan ini. Kamu bilang, kamu akan bicara dengannya. Aku juga terkejut kamu akhirnya setuju menggunakan caraku,” katanya membela diri. Aku berhenti di depan pintu toilet dengan tangan di kenop bersiap membuka pintu itu. “Silakan masuk. Aku akan menunggumu di sini.”
“Ini rumahku. Aku berhak berada di mana pun yang aku inginkan.” Dia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. “Silakan masuk. Aku tunggu.” Aku tidak mendebatnya lagi, karena apa yang dia katakan itu benar. Aku memasuki ruangan itu dan bergegas menyelesaikan urusanku.
Benar saja. Dia masih berdiri di tempatnya semula saat aku keluar. “Aku benar-benar tidak percaya ini.” Aku berjalan menuju pintu depan. “Mengapa kamu tidak menjadi gadis manis yang penurut? Mengapa kamu harus mendebatku begini? Toh, besok semuanya berakhir.”
“Aku tidak mau mengakhiri hubungan kita,” katanya dengan serius. Aku menghentikan langkahku. Dia ikut berhenti dan berdiri berhadapan denganku.
“Bukan itu kesepakatan kita. Begitu dia pulang, aku tidak akan datang lagi menemui kamu,” kataku mengingatkan.
“Kalau begitu, aku yang akan datang ke rumah kamu. Aku tidak mau putus denganmu,” balasnya tidak mau kalah.
Aku tertawa tidak percaya. “Yang kita miliki ini bahkan tidak bisa disebut hubungan, Clarissa. Kita hanya berpura-pura. Kita lakukan semuanya sesuai kesepakatan. Titik.”
__ADS_1
“Aku tidak mau! Aku tidak mau melepaskan kamu, Hadi,” katanya keras kepala.
“Mengapa tidak? Kamu yang mengakhiri hubungan kita dan meminta aku untuk mencari gadis yang lebih baik. Apa kamu lupa? Jadi, apa yang membuat kamu berubah pikiran?”
“I-itu—” katanya dengan gugup.
“Bicara yang jelas, Clarissa. Kamu dari tadi bicara begitu lantang, mengapa kamu mendadak gagap?” tantangku, tidak mau merasa kasihan melihat dia bergumul dengan dirinya sendiri. Dia masih saja tidak bisa bicara, maka aku melewati dia dan melanjutkan langkahku menuju pintu.
Tangannya memegang tanganku dan menahanku untuk berhenti berjalan. “A-aku me-mencintaimu, Hadi.” Aku tertegun mendengarnya. “A-a-aku me-men-mencintai kamu.”
Dia akhirnya mengatakannya juga. Setelah berhar-hari berusaha untuk mengucapkannya, dia selalu gagal. Kali ini dia berhasil. Mungkinkah dia sudah berubah dan berkata jujur bahwa dia bukan lagi Clarissa yang sama yang dahulu menutuskan hubungan kami?
Aku menoleh dan melihat wajahnya sudah bersimbah air mata. “Clarissa? Mengapa kamu menangis? Hei, aku tidak bermaksud menyakiti kamu.”
“Aku tidak pernah mengucapkan itu kepada siapa pun. Charlotte, juga kakek dan nenekku tidak pernah mendengar kalimat itu dariku. Kamu yang pertama. A-aku men-mencintai kamu, Hadi. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi. Kamu orang pertama yang pernah aku sa-sayang. Kamu juga orang pertama yang pernah berkata cinta kepadaku. Aku mohon, beri aku kesempatan lagi,” pintanya lirih.
Melihat dia malah semakin menangis, aku membawanya ke ruang keluarga. Kami tidak bisa kembali ke pekarangan dengan kondisinya yang masih meneteskan air mata. Keluarga kami bisa salah paham. Setelah kami duduk bersebelahan, aku meraih tisu dan menyodorkan kepadanya. Dia mengambil beberapa lembar dan menghapus air mata di kedua pipinya.
“Maafkan aku. Aku tidak berpikir panjang pada hari itu. Aku pikir aku sedang menolong kamu. Tetapi setelah kita pisah, aku tidak merasa lega sama sekali. Aku sangat kehilangan kamu. Hadi, aku berjanji akan bersikap lebih baik. Aku tidak akan memutuskan hubungan kita secara sepihak lagi.” Dia masih menangis saat menggenggam tanganku.
Aku tidak kuat melihat dia memohon seperti ini. Biasanya aku anti dengan air mata perempuan. Tetapi dia menangis begitu tulus, jadi aku tahu dia tidak sedang berpura-pura atau memanfaatkan air matanya untuk mengubah pikiranku.
“Clarissa, cinta saja tidak cukup.” Aku mengusap-usap punggung tangannya dengan jempolku. Air matanya mengalir semakin deras, mungkin dia mengerti apa yang akan aku sampaikan kepadanya. “Aku banyak berpikir ketika kita tidak bersama lagi. Luca benar. Hari ini kamu bisa berkata cinta, besok kamu mungkin akan mengatakan benci. Aku butuh lebih dari itu.”
Tangisnya semakin menjadi, aku menguatkan diri untuk melanjutkan kalimatku. Ini adalah saat yang tepat untuk memberi tahu dia mengenai perasaanku. “Kamu mudah sekali memutuskan hubungan tanpa mau mendengarkan pendapatku. Aku tidak mau mengalami kejadian yang sama lagi. Terima kasih sudah mencintai aku, Clarissa. Tetapi kamu bukan calon istri yang aku cari.”
__ADS_1