
Ruang kelas dipenuhi dengan pita berwarna merah dan ada sebuah spanduk di dinding belakang. Ada satu kalimat tertulis di sana. “Tolong, maafkan aku, Dira.” Jordan berdiri di tengah ruangan sambil memegang sebuah buket bunga mawar merah. Hanya dia yang ada di dalam kelas.
Siswa yang berada di luar kelas bersorak saat Jordan berjalan mendekati aku. Wyatt segera berdiri di depanku, melindungi aku dari Jordan. Aku memutar bola mataku melihat sikap konyolnya. Jordan tidak akan berani menyakiti aku dengan banyak saksi begini.
“Dira, aku melakukan kesalahan besar kemarin. Tolong, maafkan aku,” ucap Jordan dengan wajah memelas. “Aku masih mau menjadi sahabatmu, tolong, jangan marah lagi padaku.”
“Aku tidak marah padamu. Apa yang terjadi kemarin juga sudah aku lupakan,” balasku.
Dia tersenyum. “Kita masih berteman?” Dia menyodorkan buket itu kepadaku. Kembali terdengar sorakan dari orang-orang yang berada di luar kelas.
“Tentu saja.” Aku melihat ke arah bunga itu. “Tetapi aku tidak bisa menerima bunga ini. Sebaiknya kamu berikan kepada ibu atau saudaramu saja.”
“Ini adalah ekspresi permintaan maafku, Dira. Tidak ada maksud lain,” kata Jordan membujuk. Para siswa memberikan dukungan mereka dengan berseru agar aku menerima buket tersebut.
“Aku sudah memaafkan kamu, jadi kamu tidak perlu memberikan apa pun padaku. Terima kasih,” kataku dengan tegas. Aku tidak mau menimbulkan banyak pertanyaan dari keluargaku bila mereka melihat aku pulang membawa sebuket bunga. Cukuplah beberapa kotak surat cinta saja yang pernah aku bawa pulang dan membuat Kakak harus campur tangan untuk menghentikan lelucon itu.
“Baiklah. Aku senang kita masih berteman.” Jordan tersenyum bahagia.
“Sebaiknya kamu membersihkan kelas sebelum pengawas ujian datang. Aku yakin dia tidak akan suka melihat semua dekorasi ini.” Charlotte melayangkan tangannya menunjukkan pita-pita yang menghiasi kelas dan spanduk yang ada di dinding belakang.
Dia menarik tanganku untuk duduk di kursi kami. Para siswa lain yang satu ruangan dengan kami memasuki kelas dan duduk di tempat mereka masing-masing. Beberapa dari mereka membantu Jordan membersihkan ruang kelas. Wendy berdiri di ambang pintu dan menatap ke arahku dengan bingung. Aku dan Charlotte tertawa geli melihatnya.
Charlotte mengajaknya untuk masuk. Sahabatku itu baru datang berniat menuju kelasnya, tetapi terhalang dengan kerumunan siswa di koridor kelas kami. Tentu saja Charlotte dengan semangat menceritakan apa yang terjadi. Aku meletakkan alat tulisku di atas meja, lalu menonaktifkan ponsel. Tetapi sebuah pesan lagi-lagi menarik perhatianku. Dari Colin dengan pesan yang sama.
Ketika tiga hari ujian berakhir, kami semua bersorak senang begitu pengawas keluar dari kelas. Kelas lain juga terdengar melakukan teriakan bahagia yang sama. Aku memeluk Charlotte dan kami keluar dari kelas. Wendy segera berlari menyusul kami. Jordan yang memanggil namaku hanya aku abaikan. Ada hal yang lebih penting yang perlu kami lakukan segera.
__ADS_1
Pada hari Sabtu nanti akan diadakan acara perpisahan untuk siswa kelas tiga. Kami ingin membeli gaun yang cocok untuk kami kenakan pada malam itu. Aku dan Charlotte sepakat untuk membayar gaun apa pun yang dipilih oleh Wendy. Kami tidak mau tampil sempurna dan dia tidak.
“Wyatt, kamu tidak perlu ikut dengan kami. Kamu sebaiknya pulang saja dengan mobilku.” Charlotte mengusir pemuda itu saat kami berdiri di sisi mobilku.
“Aku juga butuh baju baru, honey.” Wyatt dengan santainya duduk di jok depan setelah Pak Sakti membukakan pintu untuknya. Charlotte hanya bisa menggeram kesal.
“Masuklah, Charlotte. Bukankah semakin ramai semakin baik?” bujukku. Wendy sudah masuk lebih dahulu, begitu juga dengan aku. Tinggal dia yang masih berdiri di sisi pintu yang terbuka. Pak Sakti terpaksa menunggu sampai dia duduk. Dia mendesah keras, kemudian masuk ke mobil.
“Aku tidak percaya kamu mengikuti aku ke mana pun aku melangkah. Kita tinggal bersama, apa aku tidak bisa beberapa jam saja berada di suatu tempat tanpa kamu?” keluh Charlotte.
“Kita sekolah di sekolah yang sama, punya sahabat yang sama, tentu saja kita akan sering bersama. Lagi pula kalian bisa memanfaatkan aku untuk membawakan barang-barang belanjaan kalian,” kata Wyatt menawarkan jasanya.
“Apa kamu pikir kami perempuan lemah yang tidak bisa membawa tas belanja kami sendiri?” kata Charlotte tersinggung. “Bahkan selama kita bersama, aku tidak pernah meminta kamu membawa barang milikku. Aku bisa membawanya sendiri. Kamu tidak perlu ikut bersama kami.”
Sudah terbiasa melihat mereka bertengkar, aku dan Wendy mengabaikan mereka dan fokus pada ponsel kami masing-masing. Tidak ada lagi pesan lain dari Colin setelah pesan yang dikirimnya pagi tadi sebelum ujian dimulai. Mengapa aku malah memikirkan tentang pesan dari pemuda bodoh itu?
Tiba di mal terdekat, kami memutuskan untuk makan siang lebih dahulu. Wyatt tinggal membuka kemeja seragam sekolahnya saja, dan dia sudah tidak terlihat seperti anak SMU. Aku dan kedua sahabatku harus ke toilet untuk berganti pakaian.
“Sebaiknya kita ke restoran masakan Jepang karena aku ingin sekali makan mi kuah yang panas.” Charlotte melihat ke restoran yang ada di sekitar kami.
“Aku mau makan burger. Jangan khawatir, aku yang traktir kalau kalian mau makan bersamaku.” Wyatt menunjuk restoran khas Amerika di dekat kami.
“Burger juga boleh.” Charlotte langsung setuju tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. “Ada apa? Kalian tahu bahwa aku tidak akan menolak makanan gratis. Lagi pula burger di restoran ini sangat enak. Walaupun ukurannya tidak sebesar burger di Amerika, rasanya boleh diadu.”
Charlotte berjalan lebih dahulu, meninggalkan aku dan Wendy yang menggeleng pelan melihat tingkahnya. Bagaimana Wyatt bisa menjauh darinya jika dia terus memberi sinyal yang sangat membingungkan? Kadang-kadang dia mau, di lain waktu dia menolak tawaran mantannya itu.
__ADS_1
Kami memilih makanan lewat televisi layar lebar yang ada di belakang kasir. Lalu kami mencari kursi kosong dan membiarkan Wyatt yang membayar pesanan kami. Setelah meletakkan baki berisi makanan dan minuman yang kami beli, kami bergantian menuju wastafel.
Aku dan Wendy duduk bersisian sehingga Charlotte terpaksa duduk di samping Wyatt. Tetapi dia tidak keberatan dengan posisi duduk kami. Dia bahkan melakukan kebiasaannya saat dia dan Wyatt masih bersama. Dia tahu mana makanan dan minuman pesanannya dengan meletakkan bagian pemuda itu di depannya, bahkan masih ingat bumbu apa yang biasanya dia tambahkan ke burgernya.
Kami bertiga saling bertukar pandang penuh arti. Hanya Charlotte yang tidak menyadari bahwa kami sedari tadi memerhatikan gerak-geriknya. Kebiasaannya ketika dia sudah asyik sendiri dengan makanan kesukaannya.
Aku tahu bahwa perbuatan Wyatt tidak bisa dimaafkan dan aku mengerti bila dia membencinya. Namun aku akan lebih bahagia jika dia bahagia. Charlotte bisa berkata tidak cinta lagi dengan mulutnya. Tetapi dia masih sayang pada mantannya. Karena kalau dia tidak sayang lagi, dia tidak akan merasakan emosi apa pun pada Wyatt. Marah pun tidak.
“Wah, aku tidak pernah menduga ada begitu banyak pilihan gaun yang bagus di butik ini.” Charlotte menatap kagum ke setiap gaun yang ada di sekelilingnya. “Aku harus membawa Clarissa ke tempat ini suatu hari nanti. Dia butuh beberapa gaun yang bagus untuk menghadiri beberapa acara penting ke depan.” Dia berjalan begitu cepat sehingga aku memutuskan untuk tidak mengekorinya lagi.
“Acara penting ke depan?” tanyaku ingin tahu.
“Kakek dan Nenek sering memenuhi undangan kerabat atau sahabat mereka. Kadang-kadang mereka mengajak aku untuk ikut serta, karena itu Nenek selalu menyediakan banyak pakaian resmi untukku. Mereka sudah punya dua pilihan, jadi bisa saja mereka mengajak Clarissa menghadiri acara tertentu dan tidak melulu membawa aku.” Dia mengambil sebuah gaun dan meletakkannya di depan tubuhnya. “Bagaimana menurut kalian?”
“Apa pun yang kamu pakai, sempurna.” Aku mengacungkan jempolku kepadanya.
“Wah, Charlotte. Mengapa kamu tidak menjadi model saja seperti Dira? Kalian sama-sama cocok memakai baju apa pun,” ucap Wendy yang terpesona melihat sahabat kami itu.
“Selama Clarissa belum ditemukan, aku punya dua beban yang berat di pundakku. Mempersiapkan diri menggantikan Kakek dan Grandpa. Mereka sama-sama hanya punya seorang anak dan sudah meninggal dunia, jadi penerusnya mereka hanya para cucu mereka.” Wajah Charlotte yang serius berubah ceria. “Tetapi beban itu sudah terangkat. Aku hanya perlu menunggu Clarissa memilih memimpin perusahaan Kakek atau Grandpa. Aku bersedia bekerja di mana pun.”
“Kamu yakin tidak akan memilih bekerja di Amerika? Kamu bisa bertemu dengan Wyatt di sana. Clarissa tidak mungkin memilih Uncle Mason. Dia pasti lebih suka di sini, di dekat kakakku.” Aku tersenyum penuh arti.
“Aku tidak tertarik berada di dekat pengkhianat itu. Bila aku bekerja di sana nanti, itu karena aku sudah terbiasa ikut bersama Grandpa menemui kolega bisnisnya. Jadi, aku lebih cocok melanjutkan usahanya.” Charlotte memasang ekspresi wajah mengejek saat melihat ke arah Wyatt.
“Lepaskan gaun ini, bodoh!” Terdengar suara teriakan seseorang yang sangat aku kenal. Aku menoleh ke belakangku. Wendy sedang memegang gaun berwarna merah yang sangat indah dan gadis lain memegang ujung lain gaun tersebut.
__ADS_1
Aku baru saja lepas dari ujian besar yang menentukan masa depan pendidikanku. Aku pikir aku bisa lepas sejenak dari masalah dan menarik napas lega. Ternyata pada hari yang sama, aku dihadapkan pada ujian hidup yang lebih rumit nan dramatis.