
Semua orang bergerak dengan cepat dari ruang depan ke ruang belakang membawa barang di tangan mereka. Ruang depan yang biasanya kosong itu dipenuhi dengan meja saji, kursi, bunga, dan sebuah meja khusus untuk meletakkan hadiah yang akan diterima oleh Dira.
Mama meminta kami semua untuk mengenakan pakaian berwarna senada. Merah adalah warna kesukaan Dira, jadi aku memakai kaus merah dan celana jins dilengkapi dengan sepatu kets. Aku melihat Adi yang duduk di salah satu sofa mengenakan pakaian yang mirip denganku. Dia masih sibuk dengan game kesukaannya.
Pak Abdi segera berlari menuju pintu depan ketika mendengar deru mobil berhenti di pekarangan rumah. Pintu ruang keluarga terbuka, Papa keluar bersama Mama. Papa mengenakan kemeja kaus berkerah warna merah, sedangkan Mama memakai baju terusan yang roknya menutupi lutut juga berwarna senada. Mereka bergandengan tangan menuju pintu.
“Selamat datang!” ucap Mama dengan girang saat Tante Darla memasuki rumah.
Ruangan yang semula hening itu menjadi ramai saat ketiga sahabat Mama datang bersama suami mereka. Para pelayan kami membawa beberapa tempat makan yang berisi masakan khas mereka dan menyajikan semuanya di atas meja. Aku segera memeriksa camilan yang mereka bawa.
“Hai, Hadi! Kamu semakin tampan saja,” sapa Tante Lindsey. Aku menundukkan tubuhku saat dia memeluk dan mencium kedua pipiku. “Apa semuanya baik-baik saja? Kuliahmu lancar?”
“Tante juga semakin cantik.” Dia memukul lenganku menahan malu. “Aku baik dan kuliahku lancar, Tante. Apa camilan ini dari Tante?” Aku menunjuk pastel yang aku letakkan di atas piringku.
“Iya. Ada daging sapi, keju, dan berbagai sayuran sesuai kesukaan kamu.” Dia mengusap lenganku.
“Tante memang yang terbaik!” Aku mencium pipinya menyatakan rasa terima kasihku.
“Apa itu artinya hanya makanan yang dibawa Lindsey yang menarik perhatianmu? Bagaimana dengan rujak yang biasanya menjadi favorit kamu?” ucap Tante Darla tidak mau kalah.
“Satu per satu, Tante. Aku juga akan memakan rujak dari Tante.” Aku menundukkan tubuhku ketika Tante Darla memeluk dan mencium kedua pipiku. Tante Qiana juga melakukan hal yang sama.
“Jangan lupa coba es krim dariku juga,” tuntut Tante Qiana tidak mau kalah.
“Ulang tahun Hadi sudah lewat, mengapa kalian malah mengerumuni dia?” goda Mama.
“Jangan salahkan kami, Zahara. Putramu sangat tampan, jadi kami suka berada di dekatnya,” kata Tante Darla sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku.
__ADS_1
Tante Lindsey mendesah pelan. “Seandainya saja Clarissa ada di sini. Kalian akan menjadi pasangan yang serasi.” Melihat mata Tante Lindsey berkaca-kaca, Tante Darla dan Qiana segera berdiri di sisinya dan menyentuh bahunya.
“Sudah, sudah. Mengapa membahas hal yang menyakitkan pada hari bahagia?” tegur Om Edu. “Hadi, semuanya aman dan terkendali?” Aku mengiyakan. Dia melihat ke sekeliling kami. “Mana gadis yang berulang tahun? Kami ingin memberi hadiahnya langsung kepadanya.”
“Aku datang, Om!” sorak Dira yang berjalan menuruni tangga bersama Wendy, sahabat baiknya, dan Vikal. Dia mengenakan dress berwarna merah yang kontras dengan kulit pucatnya. Rambutnya dia biarkan tergerai dan hanya ada gelang berlian yang melengkapi penampilannya. Meskipun tubuhnya termasuk tinggi, dia tidak pernah ragu mengenakan sepatu berhak tinggi.
Lutut Colin bisa lemas melihat penampilan gadis yang sangat dicintainya ini. Tetapi perasaanku tidak enak. Entah mengapa aku merasa hari ini akan berakhir sedih. Aku segera menepis perasaan buruk itu jauh-jauh dan tersenyum melihat semua orang tertawa bahagia saat Dira bergantian memeluk dan mencium mereka.
Dira menerima semua kado yang mereka berikan untuknya. Ibu Yuyun dan Pak Aliando membantu meletakkan semua hadiah itu di atas meja yang sudah disediakan. Pemberian dari keluarga kami sudah ada di ruang keluarga. Kami serentak memberikan barang yang khusus kami beli untuknya setelah sarapan pagi tadi.
Keluarga kami berdatangan. Kakek, Nenek, keluarga Om Zach, keluarga Uncle Will, juga beberapa tetangga yang dekat dengan kami. Tetapi Colin tidak datang bersama keluarganya. Kepalaku mendadak sakit. Aku sepertinya bisa menebak mengapa dia tidak datang bersama mereka.
“Happy Valentine’s Day, Kak Hadi!” ucap Wendy sambil menyodorkan sekotak cokelat yang diberi pita berwarna biru kepadaku. “Happy Valentine’s Day, Adi!” Dia memberikan cokelat yang diberi pita berwarna merah kepada adikku.
“Sebaiknya kamu segera cari pacar untuk diberi cokelat pada hari ini,” ejekku.
Wendy mendengus pelan. “Nikmatilah selagi aku masih jomlo. Siapa tahu tahun depan aku tidak akan memberi cokelat lagi untuk Kakak.” Dia melengos pergi mendekati Zeph dan Zu, sepupuku, yang duduk tidak jauh dari aku dan Adi. Lalu memberikan cokelat yang sama kepada mereka.
“Ke mana kakakmu?” tanyaku saat dia duduk di sisiku. Aku membuka kotak cokelat darinya dan mematahkannya menjadi dua. Aku memberikan setengah bagian kepadanya.
“Aku tidak tahu. Dia pergi lebih dahulu sebelum aku dan orang tua kami berangkat ke sini.” Dia menggigit cokelat tersebut dan menggumam pelan. “Ini benar-benar enak.”
Pak Abdi kembali berjalan mendekati pintu saat terdengar bunyi halus mobil di depan rumah. Orang dibicarakan akhirnya datang juga. Melihat semua orang sudah berada di tempat ini, maka itu pasti Colin. Hanya dia yang belum ada di ruangan ini.
Sahabatku itu mengenakan kaus berwarna hitam dengan celana jins dan seorang gadis cantik berdiri di sisinya. Mila mengenakan dress berwarna hitam yang membuat kulitnya semakin pucat dan rambut pirangnya terlihat mencolok.
Dira yang sudah terbiasa menghadapi hal yang tidak terduga menyambut mereka dengan sikap tenang dan senyum yang menghiasi wajahnya. Dia menerima jabatan tangan Colin dan Mila, lalu menerima kado yang dibawa sahabatku itu.
__ADS_1
“Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.” Lily mendekatkan tubuhnya kepadaku agar bisa bicara sepelan mungkin. “Gadis itu pacar Colin atau kamu?”
“Mengapa kamu bilang begitu?” tanyaku tidak mengerti.
“Aku melihat kamu bersamanya di toko pakaian.” Lily menatapku dengan saksama. Mengamati responsku atas kalimatnya itu.
“Apa semua gadis yang pergi bersamaku adalah pacarku?” balasku. “Aku hanya meminta pendapat dia mengenai kado pilihanku untuk Dira. Kami bertemu secara tidak sengaja, jadi aku pikir, mengapa tidak tanya pendapatnya saja.”
“Kamu bertemu dengan dia di mal?”
“Sebaiknya Cole yang menceritakan segalanya kepadamu. Urusan dia dengan gadis itu rumit. Aku tidak mau ikut campur, jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu.” Aku berdiri dan mengajak Adi juga agar bersiap merayakan ulang tahun Dira.
Aku menoleh ke arah Mama dan melihat dia mengangakan mulut dan membulatkan matanya. Aku menoleh ke arah mana pandangannya tertuju. Ternyata bukan hanya Mama, ketiga sahabatnya juga berekspresi serupa. Apa yang terjadi?
Colin membawa Mila mendekati para orang tua kami dan memperkenalkan dia kepada mereka. Ekspresi Tante Lindsey yang membuat aku bingung. Dia memegang tangan Mila dengan kedua tangannya dan matanya berair saat menatap gadis itu baik-baik dari kepala hingga kaki, lalu kembali ke wajahnya lagi.
Tidak. Ini tidak mungkin. Hanya ada satu alasan Tante Lindsey memberi ekspresi itu. Mama, Tante Qiana, dan Tante Darla juga berekspresi sama. Mungkinkah? Tetapi hanya ada satu orang yang mereka kenal yang memiliki ciri fisik tersebut. Oh. Tuhan. Sekarang aku tahu mengapa Mila terlihat tidak asing bagiku.
*******
Sementara itu di tempat yang tidak jauh~
“Jadi, dia gadis yang bernama Mila, pacar Colin?” bisik Wendy kepada Dira.
“Iya.” Dira berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis melihat semua orang memberi perhatian kepada gadis itu. Sahabat mamanya, bahkan papa dan mamanya sendiri menatap Mila dengan mata terpukau. Dia menatap gadis itu dari kepala hingga kakinya, mencari apa yang membuat semua orang tertarik kepadanya, apa yang membuat tunangan sejak kecilnya jatuh cinta kepadanya.
“Apa karena gadis itu berambut pirang dan bermata biru, Colin jatuh cinta kepadanya?” tanya Wendy pelan. “Tetapi kamu tetap yang lebih cantik, Dira.”
__ADS_1
“Dira jauh lebih cantik dari gadis mana pun, karena itu dia menjadi model remaja yang diincar banyak merek terkenal yang ingin dia jadi duta mereka,” kata Vikal membela bosnya.
Wendy mendengus pelan. “Pujian darimu tidak tulus, Vik. Wajar saja kamu lebih memilih Dira, karena kamu asistennya. Tetapi apa yang terjadi? Mengapa para orang tua terlihat terkejut melihat gadis itu? Apa mereka mengenalnya?”