Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 70 - Urusan Orang Dewasa


__ADS_3

Restoran yang dipilih oleh salah satu pria yang pernah menjadi klienku itu sangat mewah. Aku tidak terkejut, karena hanya di tempat seperti ini kami bisa bertemu tanpa diketahui oleh orang lain. Apalagi mereka perlu menjaga privasi mereka yang telah hancur sejak foto mereka bersamaku beredar luas di internet.


Sigit berengsek itu tidak mengaburkan wajah kami pada setiap foto yang dia tampilkan. Aku tidak tahu apakah dia sengaja atau terburu-buru menyebarkan foto sampai lupa untuk menutupi identitas para klien kami. Aku tidak pernah punya perjanjian tertulis dengan Sigit atau para pria ini, tetapi aku tidak tahu apa mereka punya surat perjanjian yang harus ditandatangani.


Jika ada, maka ini akan menjadi kemenangan mudah bagiku. Aku cukup membiarkan para pria ini yang berurusan dengan Sigit dan aku menonton dari jauh. Mereka pasti akan menuntut dia dengan hukuman yang maksimal.


“Kamu tidak bisa melakukan ini, sayang.” Tiba-tiba saja lenganku dipegang saat aku akan membuka pintu menuju ruang pertemuan. Aku refleks menarik tanganku dari genggaman pria tersebut. Siapa yang berani bersikap kurang ajar begini? “Ini aku, Clarissa. Tenangkan dirimu.”


Aku berhenti memberontak dan menoleh begitu mengenali pemilik suara itu. “Kakek?” tanyaku bingung. Aku melihat ke arah belakangnya. “Grandpa? Apa yang kalian lakukan di sini?”


“Kamu pulang ke rumah dengan sopirku. Biar kami yang mengurus hal ini.” Kakek melihat ke arah belakangku untuk memberi sinyal di mana sopirnya berada.


“Tetapi, Kakek,” protesku melihat ke arah sopirnya dan Kakek secara bergantian.


“Tidak ada tetapi, sayang. Aku, Mason, dan Hendra sudah berulang kali mengatakan bahwa ini adalah urusan orang dewasa. Kalian, anak-anak, tidak perlu ikut campur.” Kalimat yang biasanya aku suka itu tidak terdengar menyenangkan sekarang.


“Ini bukan urusan orang dewasa, Kakek. Ini adalah urusanku dengan orang yang sudah menyebar foto-foto itu dan memfitnah aku,” kataku berdalih.


“Finley Taylor terlibat, jadi iya, ini adalah urusan orang dewasa,” kata Kakek dengan tegas. Aku memandang dia dan Grandpa secara bergantian.


“Ba-bagaimana Kakek bisa tahu?” tanyaku terkejut. Mereka tidak mengenal Sigit, lalu bagaimana mereka bisa tahu bahwa pria itu ada hubungannya dengan Finley?


“Kamu tidak perlu tahu. Kamu hanya perlu tahu satu hal. Kami menjaga kamu dan Charlotte dengan baik supaya peristiwa penculikan itu tidak terjadi lagi.” Kakek menepuk pelan bahuku. “Pulanglah. Biar kami yang bicara dengan mereka.”


“Kakek, aku tidak mau menyeret kalian dalam masalahku. Aku merasa bersalah sudah membuat nama Kakek tercemar. Semua orang pasti sudah membaca berita itu dan mengolok-ngolok Kakek sekarang. Ini semua salahku. Biar aku yang selesaikan, Kakek,” pintaku memohon.


“Bawa cucuku pulang. Hati-hati di jalan.” Kakek mengabaikan permohonanku dan meminta sopir untuk membawa aku bersamanya. “Sampai jumpa di rumah.” Kakek membelai pipiku, lalu menoleh ke arah Grandpa. Mereka memasuki ruangan itu, sedangkan aku mengikuti sopir menuju mobil.


Aku merasa tidak nyaman selama berada di dalam mobil. Bagaimana Kakek dan Grandpa bisa tahu mengenai Sigit dan hubungannya dengan Finley? Bagaimana juga mereka bisa tahu aku akan pergi ke tempat ini? Aku yakin tadi aku tidak diikuti oleh siapa pun. Aku keluar lewat tembok samping, tidak melewati gerbang atau pos satpam.

__ADS_1


Sepanjang hari ini yang aku lakukan adalah menelepon Sigit, menelepon semua orang yang pernah menyewa jasaku, dan pergi dari rumah secara diam-diam. Aku sudah memastikan bahwa Charlotte atau siapa pun tidak akan bisa mendengar percakapanku di telepon. Tidak mungkin dia mendengar percakapan itu karena aku ada di ruang pakaian.


Kecuali, ah, tidak mungkin. Aku mengeluarkan ponselku dari tas dan membuka kunci layarnya. Yang aku lakukan yang bisa memberi petunjuk kepada Kakek dan Grandpa adalah menghubungi para pria itu. Jangan-jangan mereka memasang sesuatu pada ponselku sehingga mereka bisa mencuri dengar percakapan aku dengan siapa pun.


Oh, Tuhan. Apakah itu artinya mereka juga mendengar setiap kali aku dan Hadi sedang bicara lewat ponsel? Oh, tidak. Ini sangat memalukan. Mereka mendengar percakapan aku dengan Hadi yang … aku benar-benar tidak percaya ini. Kedua kakek dan nenekku telah mencampuri privasiku.


Hadi sering sekali menggoda aku saat kami sedang bicara. Dia juga tidak segan-segan menyatakan perasaannya kepadaku lewat telepon. Walaupun sebelumnya aku merasa risi mendengar seseorang mengatakan hal manis mengenai aku, tidak dengan pujian yang aku dengar dari Hadi. Dan ternyata bukan aku dan Hadi saja yang mendengar percakapan tersebut.


“Pak, aku tidak mau pulang ke rumah,” ucapku kepada sopir yang fokus dengan pandangannya ke jalan yang ada di hadapannya.


“Maaf, Nona. Tuan Edu berpesan bahwa Anda harus diantar sampai ke rumah dengan selamat,” katanya dengan nada yang tidak bisa dibantah.


“Aku hanya perlu ke rumah Hadi. Bisa tolong antarkan aku ke sana? Hanya sebentar. Lalu setelah itu kita pulang,” ucapku mencoba untuk tawar-menawar.


“Maafkan saya, Nona. Tuan dengan jelas berpesan bahwa Anda harus diantar pulang ke rumah.”


Kakek benar-benar menjengkelkan! Aku sudah bukan anak kecil yang harus selalu dilindungi. Finley sudah berada di dalam penjara, sedangkan Sigit bukanlah lawan yang berat. Dia hanya pengusaha biasa yang pengaruhnya bahkan tidak sampai setengah dari yang Kakek miliki. Jadi, dia pasti takut untuk berhadapan denganku langsung karena Kakek berada di belakangku.


Tanpa memedulikan berita buruk yang beredar, keluargaku tetap meneruskan acara pertunanganku dengan Hadi. Orang-orang memenuhi ruang depan rumah yang sengaja diubah seperti aula. Pintu menuju ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang makan sengaja dibuka dengan lebar sehingga para tamu bisa bebas untuk berdiri atau duduk di mana saja yang mereka inginkan.


Dari ekspresi wajah mereka, tidak ada satu pun yang memandang rendah aku atau keluargaku. Juga tidak ada yang terlihat berbisik terhadap satu sama lain sambil melirik ke arah aku atau keluargaku. Sikap mereka semua sangat aneh. Apa mereka tidak merasa terganggu dengan foto-fotoku itu?


Yang membuat aku tidak nyaman adalah Kakek mengundang begitu banyak wartawan untuk datang. Aku tahu bahwa acara hari ini dilaksanakan untuk memperkenalkan aku kepada semua orang. Tetapi dengan berita yang beredar sejak pagi tadi, kehadiran mereka di sini tidak akan banyak membantu. Bagaimana mungkin berita mengenai sebuah pengumuman mengalahkan skandal?


Ketika keluarga Hadi datang, Kakek dan Grandpa mengajak Om Hendra bicara, sedangkan Nenek dan Grandma menarik Tante Zahara untuk mendiskusikan sesuatu. Dira menyapaku dengan memeluk dan mencium kedua pipiku, kemudian dia bergabung dengan Charlotte. Adi menjabat tanganku, lalu mengobrol dengan Colin.


“Hai,” sapa Hadi. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku, tetapi aku mundur selangkah, memberi sinyal bahwa aku tidak menginginkan itu. Dia tidak memaksa dengan menarik tangannya kembali. “Apa kamu baik-baik saja? Aku membaca berita itu dan mencoba menghubungi kamu berulang kali.”


“Aku baik.” Aku mengangguk pelan. “Maaf, ada banyak hal yang aku lakukan sejak pagi tadi, jadi aku tidak bisa menjawab panggilan masuk darimu.”

__ADS_1


“Kamu tidak berusaha menyelesaikan masalah itu sendiri, ‘kan?” tanyanya curiga. Bagaimana dia bisa tahu tentang itu? “Kamu datang padaku saat Finley pertama kali menemui kamu dan mengaku sebagai ayahmu. Mengapa kamu tidak datang padaku ketika masalah ini muncul?”


“Aku tidak bisa menyelesaikan masalahku dengan Finley seorang diri. Masalah kali ini berbeda. Aku bisa mengatasinya sendiri karena aku kenal siapa yang menjadi lawanku.” Aku berjalan menuju meja saji dan mengambil segelas air minum.


Hadi mengikuti aku dan kembali berdiri di sisiku. “Rissa, kamu dan aku sudah bertunangan. Masalahmu adalah masalahku juga. Kamu tidak harus menanggungnya seorang diri.”


“Setelah kamu mengalami dua kali serangan saat kamu sedang bersamaku, apa kamu pikir aku akan melibatkan kamu lagi dalam masalahku?”


“Aku akan selalu terlibat dalam masalahmu seperti halnya kamu juga akan terseret dalam masalahku suatu hari nanti. Itu risiko dari sebuah hubungan. Bila aku tidak mau terlibat dalam masalahmu, dari awal aku tidak akan mau bertunangan denganmu.”


“Hadi, apa kamu lupa? Kamu bertunangan denganku karena Grandma tidak memberi kamu pilihan. Kamu, juga aku, terpaksa menerima keinginan mereka agar kita bertunangan di depan mereka pada hari itu,” kataku mengingatkannya.


“Dan aku tidak menyesalinya karena aku mencintai kamu.” Dia tersenyum.


“Kamu belum mencintai aku pada hari itu.”


“Aku sudah mencintai kamu, tetapi aku belum tahu perasaan apa yang aku rasakan padamu pada saat itu.” Dia menggelengkan kepalanya. “Ada apa ini? Mengapa kamu mendadak mempertanyakan perasaanku kepadamu? Kamu tidak percaya bahwa perasaanku ini tulus?”


Aku tidak bisa menjawab karena Kakek memanggil aku. Kami berdiri bersama sebagai keluarga pada saat Kakek memberi tahu semua orang bahwa aku adalah cucunya yang hilang. Semua orang tahu mengenai hal itu, jadi mereka tidak heran mendengarnya. Tetapi mereka terharu mendengar bahwa setelah belasan tahun, aku bisa kembali lagi kepada keluargaku.


Cahaya dari lampu kilat kamera yang tertuju kepadaku dan keluargaku semakin ganas, tetapi tidak seorang pun dari mereka yang menyinggung mengenai foto-fotoku yang beredar di media? Mereka fokus bertanya bagaimana akhirnya keluargaku bisa menemukan aku. Apa yang terjadi? Mengapa mereka tidak memberondong kami dengan pertanyaan seputar foto skandalku itu?


*******


Author's Note~


Hai, teman-teman. Aku meminta maaf kemarin tidak bisa mempublikasikan satu bab lanjutan pun. Dua malam terakhir aku demam dan kemarin aku tidak bisa menyelesaikan bab ini. Aku sudah baikan, semoga mulai besok sudah bisa update lagi 1-2 bab per hari.


Terima kasih atas pengertiannya.

__ADS_1


Salam sayang,


Meina H.


__ADS_2