Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 38 - Pria Misterius


__ADS_3

Mila menceritakan tentang kejadian yang dia alami saat berada di mal. Aku dan Colin mendengarkan dengan saksama tanpa menginterupsi sampai dia selesai bicara. Dari raut wajahnya, aku tahu bahwa sahabat bodohku itu punya banyak pertanyaan yang terlintas dalam kepalanya.


Untuk membantu Colin memahami apa yang sedang terjadi, aku memberi tahu dia mengenai wajah Mila yang mirip dengan mendiang menantu Tante Lindsey. Begitu dia mengerti apa yang sedang kami bicarakan, matanya membulat. Dia memandang aku dan Mila secara bergantian.


“Clarissa? Maksudmu, dia adalah Clarissa?” tanya Colin tidak percaya. Colin adalah satu-satunya orang yang tahu mengenai Clarissa di luar lingkaran sahabat dan saudara orang tuaku. Uncle Will, Tante Gista, dan Lily sekalipun tidak mengetahuinya.


“Itu masih dugaan, Cole. Jangan bicara sembarangan. Kamu hanya akan melukai Mila. Dia sudah lama mencari keluarganya, jadi jangan beri dia harapan palsu.” Aku menatapnya dengan tajam. Dia segera mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah.


“Oke, oke. Maafkan aku,” katanya kepadaku, lalu dia menoleh ke arah gadis di sisiku. “Maafkan aku, Mila. Aku tidak bermaksud begitu.”


Mila menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Itu semua masih asumsi, tetapi seperti kata Hadi, aku sangat berharap pencarianku akan berakhir di sini.”


“Pantas saja sikap semua orang dewasa pada malam ulang tahun Dira sangat aneh. Ternyata mereka melihat kemiripan pada wajahmu dan putri Aunt Lindsey.” Colin berdecak pelan. “Jadi, apa yang kalian tunggu? Mengapa tidak segera lakukan tes dan mencari tahu apa Mila adalah cucu mereka yang hilang? Duduk dan membicarakannya tidak akan menghasilkan apa pun.”


“Tante Lindsey sudah melakukan tes diam-diam. Hasilnya negatif.” Aku bisa melihat wajah Mila berubah sedih saat aku mengatakan itu pada Colin.


“Oh, maafkan aku. Apa itu artinya Mila bukan Clarissa? Lalu selanjutnya bagaimana? Apa kamu akan menemui pria bernama Colton Jones itu dan melakukan pemeriksaan DNA?” tanya Colin bingung.


“Aku tidak mau bertemu dengan pria itu lagi atau melakukan tes apa pun. Karena aku yakin dia bukan ayah kandungku. Saksi untuk membenarkan dugaan Om Edu dan Tante Lindsey jauh lebih banyak, sedangkan pria itu hanya sendiri. Tentu saja aku lebih percaya pada mereka. Kamu belum melihat foto Aunt Abby. Bila kamu melihatnya, kamu akan melihat kemiripan kami,” ungkap Mila.


“Seharusnya kamu menghubungi aku saat kamu pindah. Aku bisa membantu kamu membawa barang-barangmu,” kataku teringat dengan tindakannya yang impulsif itu.


“Aku tidak punya banyak barang. Hanya pakaian dan buku. Lalu aku tinggal membayar petugas keamanan apartemen untuk membantu aku memindahkan semua koper dan kardus yang perlu aku pindahkan. Itu jauh lebih aman dan praktis.” Dia tersenyum tipis. “Kita baru saling mengenal, aku tidak mungkin merepotkan kamu pada hari liburmu.”


“Meskipun masih asumsi, kamu adalah teman kami, Mila. Hadi benar. Seharusnya kamu meminta bantuan kami. Bukankah kamu masih menyimpan nomor ponselku? Jika ternyata kamu benar-benar Clarissa, maka aku merasa senang pernah menolong tunangan sahabatku,” kata Colin setengah menggoda. Aku memberinya tatapan tajamku.


“Aku tidak akan mengubah pikiranku, Cole. Dira tidak akan kembali padamu lagi.” Colin mengerang pelan mendengar kalimat tegasku itu.


“Kamu tahu mengapa kita menjadi sahabat baik? Karena kita sama-sama sudah terikat janji sejak kecil. Hadi, aku berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Aku tidak akan menyakiti atau meninggalkan Dira lagi.” Dia masih berusaha untuk membujuk aku.

__ADS_1


Pelayan menginterupsi percakapan kami dengan membawa makanan pesanan kami. Aku sudah lapar dan mereka baru mengantarnya sekarang. Padahal tamu restoran tidak terlalu banyak dan jam makan siang sudah lama lewat. Mungkin beberapa koki mereka sedang istirahat, jadi aku berusaha untuk memaklumi kelambatan kerja mereka.


“Tempat tinggal barumu, apa kamu yakin kamu akan aman di sana?” tanyaku pada Mila.


“Iya. Mereka tidak akan mengizinkan siapa pun masuk ke area penghuni. Hal yang tidak akan bisa aku cegah di kamar sewaku sebelumnya. Gedung apartemen ini punya sekuriti, jadi aku akan merasa lebih aman bila tinggal di sana,” ucapnya pelan.


“Segera beri tahu kami jika kamu mengalami masalah lagi. Papaku punya apartemen di gedung yang sama dengan apartemen milik papa Colin. Kamu akan aman di sana, juga bisa punya tetangga yang baik. Uncle Will dan Tante Gista adalah orang yang sangat baik. Kamu juga sudah bertemu dengan Lily, adik Colin,” kataku meyakinkannya bahwa dia tidak sendiri.


“Terima kasih. Kalian sangat baik padaku.”


Tanpa membuang waktu, malam itu aku bicara dengan Papa mengenai Vivaldo dan Nora yang mendatangi Colin. Papa menarik napas panjang, berusaha untuk menenangkan emosinya yang aku yakin siap meledak kapan saja bila aku salah bicara. Aku menyampaikan kepadanya semua yang sahabatku katakan kepadaku.


“Biar aku yang urus, katakan pada Colin untuk tidak ikut campur lagi.” Papa memijat keningnya. “Bagaimana bisa masih ada foto yang tertinggal? Irwan akan sangat marah pada anak buahnya begitu dia tahu hal ini. Mereka belum pernah meninggalkan jejak sedikit pun.”


“Mengapa mereka menggunakan cara ini? Mengapa memisahkan Colin dari Dira? Mereka bisa saja menyerang Mama langsung dengan menyebarkan foto itu di internet,” tanyaku bingung.


“Irwan sudah memastikan bahwa setiap foto mamamu berdua saja dengan Vivaldo akan automatis ditolak oleh sistem. Karena itu mereka tidak akan bisa melakukan hal yang sama lagi. Sekalipun dia bekerja sama dengan pemilik situs web paling berpengaruh, sistem akan menolaknya. Tidak heran, mereka menggunakan cara lain yang lebih efisien.” Papa menoleh ke arahku. “Itu sebabnya, tidak boleh ada rahasia adalah cara untuk mencegah mereka membalas kita.”


Karena pembicaraan kami mengenai Vivaldo dan Nora sudah selesai, maka aku memberi tahu Papa tentang seseorang bernama Colton Jones. Papa bingung bagaimana bisa seseorang mendadak muncul dan langsung menceritakan masa lalunya kepada orang asing. Hanya karena wajah Mila mirip dengan mendiang istrinya.


Itu juga yang membuat Mila ketakutan. Dia mau bicara dengan laki-laki itu karena dia penasaran. Hasil tes DNA yang negatif memberi kami sedikit keraguan bahwa dia adalah Clarissa. Jadi, wajar saja bila dia berpikir mungkin laki-laki itu adalah ayahnya. Tetapi setelah bicara dan bukti yang dia berikan cukup lemah juga terkesan terburu-buru, Mila curiga dengan motifnya.


Papa adalah harapan kami untuk tahu siapa sebenarnya laki-laki itu. Aku berusaha mencari siapa dia lewat internet, tetapi seperti yang Mila katakan, tidak ada Colton Jones yang wajahnya seperti pria yang mengajaknya bicara itu. Semua Colton Jones yang ada di internet berwajah berbeda.


“Maka hanya ada satu kemungkinan. Itu bukan nama aslinya,” kata Papa menyimpulkan. “Ini hal yang mudah bagi Irwan. Dia akan segera tahu siapa laki-laki yang mengaku sebagai ayah kandung Mila itu. Mamamu memberi video ini kepadaku tadi.” Papa mengulurkan ponselnya kepadaku.


Ada foto Clarissa kecil pada layar dengan tombol Play menutupi bibirnya. Aku menyentuh tombol itu untuk memainkan video tersebut. Foto demi foto bermunculan dengan tulisan angka dalam bahasa Inggris pada sebelah kiri atas layar. Lima tahun, sepuluh tahun, lima belas tahun, dan foto berhenti pada usia dua puluh tahun. Kini aku mengerti video apa yang sedang Papa tunjukkan kepadaku.


Clarissa kecil itu berubah menjadi Mila yang sedang tersenyum bahagia padaku. Ya, Tuhan. Tidak salah lagi. Mila adalah Clarissa. Tetapi mengapa hasil tes DNA menunjukkan yang sebaliknya? Apa ada sampel yang salah atau, tidak, ini tidak mungkin. Apakah ada yang campur tangan dengan hasil tes tersebut? Siapa yang berani memanipulasi hasil tes itu? Hanya kami yang tahu tentang ini.

__ADS_1


“Lindsey dan Claudia histeris sepanjang pertemuan mereka tadi. Mereka ingin segera menemui Mila dan membawanya pulang. Tetapi mamamu, Darla, dan Qiana mencegah mereka bertindak ceroboh. Ini adalah kejutan besar yang harus ditangani dengan hati-hati. Ada banyak orang yang mirip di dunia ini, hanya satu tes yang bisa membuktikan bahwa mereka adalah orang yang tepat.”


“Jadi, apa yang akan kita lakukan berikutnya?” tanyaku tidak sabar. Mila adalah Clarissa. Tidak salah lagi. Sistem yang mereka gunakan untuk memprediksi wajah Clarissa kecil saat berusia dua puluh tahun bisa jadi salah, tetapi kemiripannya dengan Aunt Abby belum bisa dibantah.


“Bawa gadis itu ke acara ulang tahun Adi. Kita butuh sampel darahnya.”


*******


Sementara itu, beberapa jam yang lalu~


“Hai, Dira!” sapa seorang pemuda berpakaian seragam sama seperti yang gadis itu kenakan.


Dira mengerutkan keningnya. “Hai, Jordan,” balasnya sambil melihat ke sekelilingnya. “Apa yang kamu lakukan di sini? Bukannya kamu les di tempat lain?”


“Aku pindah ke sini supaya lebih dekat dari sekolah. Katanya, tempat ini lebih baik dari tempat les pertamaku. Jadi, orang tuaku memindahkan aku ke sini. Aku senang ternyata kamu les di sini juga.” Pria bernama Jordan itu tersenyum bahagia. Dia melirik ke arah Adi. “Apa dia adikmu?”


“Iya. Adi, perkenalkan ini Jordan. Kami satu sekolah.” Dira bergeser agar Adi bisa berjabatan tangan dengan pemuda tersebut.


“Kak, kita harus ke kelas sekarang. Les akan segera dimulai.” Adi melirik jam tangannya.


“Kamu benar.” Dira ikut melirik arlojinya. “Sampai nanti, Jordan.” Dira dan Adi berjalan menuju tangga, Jordan mengikuti mereka. Adi masuk kelas lebih dahulu, kemudian Dira masuk ke ruang yang ada di sebelahnya. Pemuda itu juga mengikutinya.


“Ada apa dengan ekspresimu?” tanya Jordan sambil tertawa kecil.


“Setahuku kelas ini sudah penuh, bagaimana bisa mereka menerima murid baru? Kamu yakin kamu ditempatkan di kelas ini, bukan kelas sebelah?” tanya Dira bingung.


Jordan mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tahu tentang itu. Wanita pada bagian administrasi tadi mengantar aku ke kelas ini. Itu tasku.”


Dira tersenyum dan berjalan menuju kursi kosong di bagian depan kelas. Jordan yang semula duduk di belakang, berjalan ke depan dan meminta gadis yang duduk di samping Dira untuk pindah dan memberikan kursi itu untuknya. Gadis itu setuju saja dan berpindah ke kursi sebelah yang kosong.

__ADS_1


Tidak mau ambil pusing dengan sikap pemuda itu, Dira mengeluarkan buku dan alat tulisnya. Hari ini adalah kedatangannya yang terakhir ke tempat les. Mulai bulan depan, dia akan mengikuti les tambahan di sekolah. Karena itu dia heran dengan Jordan yang pindah tempat les pada hari yang kurang tepat. Mungkin dia lupa memberi tahu orang tuanya.


__ADS_2