
*Mila*
Charlotte adalah gadis yang menyenangkan. Memang gaya bicaranya blak-blakan, tetapi dia tidak bermaksud jahat. Selain Hadi, ternyata ada juga yang suka bicara terus terang tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Clarissa sangat beruntung. Dia punya keluarga yang sayang padanya, juga adik yang menyenangkan. Aku mengerti jika ada orang yang iri padanya sehingga memisahkan dia dari mereka. Siapa yang tidak mau hidup dalam keluarga yang bersikap sehangat ini?
“Mila, ayo.” Hadi menyentuh bahuku. Aku menoleh ke arah dia. Apakah sudah saatnya untuk pulang? Aku melihat ke sekeliling kami. Sudah tidak ada lagi tamu yang lain. Hanya ada kami berlima. “Tidak ke sana.” Hadi mencegah aku berjalan menuju pintu depan.
Dira, Charlotte, dan Wyatt berjalan di depan kami menuju sebuah ruangan. Semua orang dewasa yang sudah bertemu denganku pada ulang tahun Dira ada di ruang duduk itu. Seorang wanita tersenyum dan menepuk sebuah tempat kosong di sisinya. Aku tidak segera mendekat dan menoleh ke arah Hadi. Dia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
Aku tahu wanita itu adalah Tante Lindsey, sedangkan wanita yang duduk tidak jauh darinya adalah Aunt Claudia. Dia menatap aku dengan mata berkaca-kaca. Warna rambut dan matanya persis sama denganku, tetapi wajah kami tidak semirip anak kembar. Raut mukaku lebih mirip Aunt Abby. Aku memutuskan untuk menyebut mereka seperti Hadi memanggil mereka.
“Hai, Mila,” sapa Tante Zahara, Mama Hadi. “Aku mewakili sahabatku, Lindsey dan Claudia, karena mereka tidak akan bisa bicara tanpa menangis. Sebelumnya, kami meminta maaf karena telah melakukan sesuatu tanpa izinmu. Hadi pasti sudah cerita bahwa kamu mirip sekali dengan putri Claudia, sekaligus menantu Lindsey.” Aku mengangguk pelan.
“Kami tidak percaya dengan hasil tes pertama, jadi kami berharap bisa melakukan tes kedua dengan sepengetahuan kamu. Tetapi kami tidak akan memaksa bila kamu tidak menginginkan ini. Kami—” ucap Tante Zahara mencoba menjelaskan, tetapi aku sudah tidak sabar lagi.
“Aku bersedia,” tukasku cepat. “Mohon, maafkan aku, Tetapi aku sudah sangat penasaran dan ini sangat mengganggu. Aku tidak pernah sedekat ini dengan orang yang mungkin adalah keluargaku. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Kapan saja kalian membutuhkan sampel dariku, aku bersedia.” Mereka semua terdiam, sebelum mereka tertawa geli.
“Apa aku bilang, dia adalah gadis yang cerdas. Dia pasti langsung setuju untuk melakukan tes ini,” ucap wanita berambut dan bermata sama denganku. Dia bisa memahami aku karena Tante Lindsey menerjemahkan setiap kalimat kami untuknya. “Ayo, silakan. Lakukan tugas kalian.”
Seorang pria dan wanita berpakaian rapi yang tidak aku kenal, mendekati aku dan Aunt Claudia. Hadi dan Adi meletakkan sebuah kursi di depan kami agar mereka bisa duduk. Mereka mengambil sampel darahku dan Aunt Claudia, lalu berjalan keluar ruangan.
Jantungku berdebar dengan cepat, harap-harap cemas dengan tes kedua. Apakah hasilnya kali ini akan berbeda atau sama saja? Bila hasilnya masih negatif, maka ada yang tidak beres dengan orang yang melakukan tes. Mustahil aku dan wanita yang duduk di sisiku ini tidak ada hubungan darah.
“Mereka adalah orang-orang kepercayaanku yang aku bawa langsung dari lab milik kami di Amerika. Hendra sudah meminjam beberapa peralatan yang akan mereka butuhkan untuk melakukan tes. Aku tidak percaya ada orang yang tega memanipulasi hasil tes sepenting ini. Tetapi jika benar kamu adalah Clarissa, maka mereka yang terlibat akan mendapatkan hukuman yang setimpal.” Aunt Claudia menyentuh tanganku, lalu menatap aku dengan saksama. “Kamu mirip sekali dengan putriku. Hanya berbeda warna mata dan rambut.”
“Katakan, apa benar kamu pernah tinggal di kawasan Parapat?” tanyanya pelan. Aku menoleh ke arah Hadi. Dia hanya diam tidak memberi respons.
__ADS_1
“Iya.” Aku melihat ke arah Aunt Claudia lagi.
“Kami pernah berlibur ke sana dan aku melihat gadis versi kecil kamu. Katakan, apa kamu ingat pernah dikejar oleh seorang wanita yang memanggil kamu dengan nama Clarissa? Bila aku tidak salah, lokasinya di sekitar pelabuhan saat kami akan menyeberang.”
“Aku sering dikejar orang yang salah menduga aku sebagai pencuri. Tetapi aku tidak ingat apa aku pernah dikejar dan dipanggil Clarissa.” Aku mencoba untuk mengingat-ingat.
“Kalau begitu, apa ada gadis lain di sana yang ciri fisiknya sama seperti kamu?”
“Tidak. Karena itu aku dianggap aneh. Aku juga merasa aneh dengan warna rambut, mata, dan kulitku yang berbeda dari orang-orang di sekitarku.”
“Gadis yang malang. Kamu seharusnya berada di sekitar kota ini, mengapa kamu bisa sampai di sana? Apa mungkin ada orang yang sengaja menculik kamu setelah selamat dari kecelakaan maut itu?” tanya Aunt Claudia dengan nada sedih. “Siapa yang tega berbuat sejahat ini?”
“Apakah Anda kenal dengan pria bernama Colton Jones?” tanyaku begitu teringat dengan pria yang mengaku sebagai ayah kandungku. Mereka saling bertukar pandang.
“Kami mengenal orang bernama Colton, juga dengan mereka yang punya nama keluarga Jones, tetapi tidak ada yang merupakan gabungan kedua nama itu. Ada apa? Siapa dia?”
“Jangan khawatir, Nak. Hadi sudah mengatakan segalanya kepadaku. Temanku sedang menyelidiki siapa pria itu. Dari informasi yang kamu berikan, aku juga baru saja memberi tahu dia agar mencari tahu tentang wanita bernama Hannah yang diakui pria itu sebagai istrinya dan Mila Meredith Jones, putrinya yang hilang,” kata Om Hendra.
“Ceritanya mengenai putrinya yang hilang sangat meyakinkan. Tetapi setelah aku pikir-pikir, aku menemukan banyak kejanggalan. Bila benar dia mencari aku, mengapa tidak ada orang yang peduli padaku berjalan mondar-mandir di keramaian? Polisi biasanya memasang foto anak yang hilang di beberapa tempat yang strategis. Seingatku, aku tidak pernah melihat posterku di mana-mana,” kataku berusaha untuk mengingat.
“Seperti yang aku katakan, aku sangat unik. Mudah saja untuk menemukan aku bila orang tuaku benar-benar mencari aku. Karena itu cerita Hadi lebih masuk akal. Wajar saja keluargaku tidak bisa menemukan aku. Mereka tidak tahu aku berada di mana. Dan tidak mungkin orang sebanyak ini berbohong mengenai suatu peristiwa yang sama.” Aku menyapukan pandanganku.
Beberapa dari mereka menatap aku dengan sedih, iba, penuh harap, penuh cinta, tatapan yang biasa diberikan oleh mereka yang pernah mengenal kita. Bukan tatapan penuh intimidasi, menakut-nakuti, dan memaksa seperti yang dilakukan pria itu.
“Apa kamu ingat dengan wajah pria itu?” tanya pria yang duduk di dekat Aunt Claudia. Aku menatap dia dengan bingung. “Ah, aku Mason, suami Claudia.” Oh.
“Bila ada fotonya, aku bisa mengenali dia. Ng, dia bertubuh cukup tinggi, tetapi tidak setinggi Hadi. Rambutnya cokelat gelap, matanya berwarna hijau, hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan dia punya tato di leher kirinya. Aku tidak melihat dengan jelas gambar tatonya.” Aku mencoba untuk mengingat semua ciri fisiknya yang aku lihat pada malam itu.
__ADS_1
“Tato?” ucap Uncle Mason pelan. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu mencari-cari sesuatu dengan menggerakkan jempolnya di atas layar. “Apakah ini dia?” Pria itu memberikan ponselnya kepadaku.
Aku menerimanya dan melihat ada foto seorang pria pada layarnya. Wajah itu, matanya, aku tidak akan melupakannya, karena kami baru saja bertemu. Aku menoleh ke arah Uncle Mason sebelum memberikan respons. “Iya. Ini dia. Pria yang mengatakan aku mirip dengan mendiang istrinya.”
“Namanya bukan Colton Jones dan dia belum menikah.”
*******
Sementara itu di sebuah mobil~
“Aku benar-benar tidak mengerti,” ucap Will dengan wajah heran.
Colin menoleh ke arah ayahnya sesaat sebelum kembali melihat ke arah jalan di hadapannya. “Apa maksud Dad?” tanyanya.
“Kamu berpacaran dengan Mila, lalu sekarang gadis itu bersama Hadi. Permainan apa yang sedang kalian tunjukkan di depan kami para orang tua?” tanya Will bingung.
“Sayang, Colin tidak serius dengan Mila. Apa kamu masih perlu diberi tahu mengenai hal itu? Dia hanya menggunakan gadis itu untuk membuat Dira cemburu dan memutuskan hubungan mereka. Bila Colin serius dengan Mila, dia pasti sudah mengenalkan dia kepada kita sebelum kepada orang lain,” ucap Gista membantu putranya menjawab.
“Jadi, kamu akan terus berbohong kepadaku? Sampai kapan kamu akan terus mengaku bahwa Mila adalah pacarmu setiap kali aku menanyakan hubungan kalian?” protes Will.
“Maafkan aku, Dad.” Colin mendesah pelan. “Aku harus terus bersandiwara agar Dira percaya bahwa hubunganku dengan Mila itu serius.” Lily mendengus keras mendengarnya.
“Kamu sudah bicara baik-baik dengan Pak Mahendra mengenai hubungan kamu dan Dira, ‘kan? Apa beliau menerima permintaan maaf kamu?” tanya Gista ingin tahu. “Aku menyukai pekerjaanku dan aku tidak mau kehilangan itu karenamu, Colin.”
“Maafkan aku, Ma, Dad. Aku tidak meminta maaf kepada mereka untuk mengakhiri hubungan aku dengan Dira. Aku mengajak mereka bicara dan meminta maaf supaya mereka mengizinkan aku untuk mendekati putri mereka lagi.”
“APA??” seru mereka bertiga serentak.
__ADS_1